Relativisme ala Kelompok Pluralis
oleh: Hamid Fahmi Zarkasy *
Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization
(INSISTS)
Untuk menguasai agama tidak perlu beragama, demikian kata kaum liberal. Itulah
sebabnya mereka membuat “teologi-teologi” baru. “Untuk menjadi wasit tidak
perlu menjadi pemain” itu logikanya
“Semua adalah relatif” (All is relative) merupakan slogan generasi zaman
postmodern di Barat, kata Michael Fackerell, seorang missionaris asal Amerika.
Ia bagaikan firman tanpa tuhan, dan sabda tanpa Nabi. Menyerupai undang-undang,
tapi tanpa penguasa. Tepatnya dokrtin ideologis, tapi tanpa partai. Slogan itu
memang enak didengar dan menjanjikan kenikmatan syahwat manusiawi. Baik buruk,
salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa
adalah nisbi belaka. Artinya tergantung siapa yang menilainya.
Slogan relativisme ini sebenarnya lahir dari kebencian. Kebencian Pemikir Barat
modern Barat terhadap agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat.
Generasi postmodernis pun mewarisi kebencian ini. Tapi semua orang tahu,
kebencian tidak pernah bisa menghasilkan kearifan dan kebenaran. Bahkan
persahabatan dan persaudaraan tidak selalu bisa kompromi dengan kebenaran.
Aristotle rela memilih kebenaran dari pada persahabatan.
Tidak puas dengan sekedar membenci, postmodernisn lalu ingin menguasai
agama-agama. “Untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain” itu mungkin
logikanya. Untuk menguasai agama tidak perlu beragama. Itulah sebabnya mereka
lalu membuat “teologi-teologi” baru yang mengikat. Kini teologi dihadapkan
dengan psudo-teologi. Agama diadu dengan ideologi. Doktrin “teologi” pluralisme
agama berada diatas agama-agama. “Global Theology” dan Transcendent Unity of
Religions mulai dijual bebas. Agar nama Tuhan juga menjadi global di
ciptakanlah nama “tuhan baru” yakni The One, Tuhan semua agama. Tapi bagaimana
konsepnya, tidak jelas betul.
Bukan hanya itu “Semua adalah relatif” kemudian menjadi sebuah kerangka
berfikir. “Berfikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar”, sebab kebenaran
itu relatif. “Jangan terlalu lantang bicara tentang kebenaran, dan jangan
menegur kesalahan”, karena kebenaran itu relatif. “Benar bagi anda belum tentu
benar bagi kami”, semua adalah relatif. Kalau anda mengimani sesuatu jangan
terlalu yakin keimanan anda benar, iman orang lain mungkin juga benar. Intinya
semua diarahkan agar tidak merasa pasti tentang kebenaran. Kata bijak Abraham
Lincoln, “No one has the right to choose to do what is wrong”, tentu tidak
sesuai dengan kerangka fikir ini. Hadith Nabi Idha ra’a minkum munkaran…dst
bukan hanya menyalahi kerangka fikir ini, tapi justru menambah kriteria Islam
sebagai agama jahat (evil religion) versi Charles Kimbal.
Jadi merasa benar menjadi seperti “makruh” dan merasa benar sendiri tentu
“haram”. Para artis dan selebriti negeri ini pun ikut menikmati slogan ini.
Dengan penuh emosi dan marah ada yang berteriak “Semuanya benar dan harus
dihormati”. Yang membuka aurat dan yang menutup sama baiknya. Confusing! Sadar
atau tidak mereka sedang men “dakwah”kan ayat-ayat syetan Nietzsche tokoh
postmodernisme dan nihilisme. “Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar orang
lain juga berhak mengklaim itu salah”. Kalau anda merasa agama anda benar,
orang lain berhak mengatakan agama anda salah.
Para cendekiawan Muslim pun punya profesi baru, yaitu membuka pintu surga Tuhan
untuk pemeluk semua agama. “Surga Tuhan terlalu sempit kalau hanya untuk ummat
Islam”, kata mereka. Seakan sudah mengukur diameter surga Allah dan malah
mendahului iradat Allah. Mereka bicara seperti atas nama Tuhan.
Slogan “Semua adalah relatif” kemudian diarahkan menjadi kesimpulan “Disana
tidak ada kebenaran mutlak” (There exists no Absolute Truth)”. Kebenaran,
moralitas, nilai dan lain-lain adalah relatif belaka. Tapi karena asalnya
adalah kebencian maka ia menjadi tidak logis. Kalau anda mengatakan “Tidak ada
kebenaran mutlak” maka kata-kata anda itu sendiri sudah mutlak, padahal anda
mengatakan semua relatif. Kalau anda mengatakan “semua adalah relatif” atau
“Semua kebenaran adalah relatif” maka pernyataan anda itu juga relatif alias
tidak absolut. Kalau “semua adalah relatif” maka yang mengatakan “disana ada
kebenaran mutlak” sama benarnya dengan yang menyatakan “disana tidak ada
kebenaran mutlak”. Tapi ini self-contradictory yang absurd.
Menghapus kepercayaan pada kebenaran mutlak ternyata bukan mudah. Di negeri
liberal seperti Amerika Serikat sendiri 70% Krsiten missionaries dan 27% atheis
dan agnostik percaya pada kebenaran mutlak. Bahkan 38% warga Negara dewasanya
percaya pada kebenaran mutlak. (Seperti dilaporkan William Lobdell di the Los
Angeles Times dari hasil penelitian Barna Research Group). Karena itu doktrin
postmo pun berubah:“Anda boleh percaya yang absolut asal tidak mencoba
memaksakan kepercayaan anda pada orang lain”. Artinya tidak ada siapapun yang
boleh menyalahkan siapa dan melarang siapa. Tapi pernyataan ini sendiri telah
melarang orang lain. Bagi kalangan Katholik di Barat ini adalah sikap pengecut,
pemalas dan bahkan hipokrit. Bagi kita pernyataan ini menghapuskan amar ma’ruf
nahi munkar.
Slogan “Semua adalah relatif” pun menemukan alasan baru “yang absolut hanyalah
Tuhan”. Aromanya seperti Islami, tapi sejatinya malah menjebak. Mulanya seperti
berkaitan dengan masalah ontologi. Selain Tuhan adalah relatif (mumkin
al-wujud). Tapi ternyata dibawa kepada persoalan epistemologi. Al-Qur’an yang
diwahyukan dalam bahasa manusia (Arab), Hadith yang disabdakan Nabi, ijtihad
ulama dsb. adalah relatif belaka. Tidak absolut. Sebab semua dihasilkan dalam
ruang dan waktu manusia yang menyejarah. Padahal Allah berfirman al-haqq min
rabbika (dari Tuhanmu) bukan ‘inda rabbika (pada Tuhanmu). “Dari Tuhanmu”
berarti berasal dari sana dan sudah berada disini di masa kini dalam ruang dan
waktu kehidupan manusia. Yang manusiawi dan menyejarah sebenarnya bisa mutlak.
Thomas F Wall, penulis buku Thinking Critically About Philosophical Problem,
menyatakan percaya pada Tuhan yang mutlak berarti percaya bahwa nilai-nilai
moral manusia itu dari Tuhan. Demikian sebaliknya kalau kita tidak percaya
Tuhan (hal 60). Jika ada yang percaya bahwa nilai moral manusia itu adalah
kesepakatan manusia,…tentu ia tidak percaya pada yang mutlak. “Semua adalah
relatif” bisa berarti semua tidak ada yang tahu Tuhan yang mutlak dan kebenaran
firmanNya yang mutlak. Jika begitu benarlah pepatah para hukama ’al-Nas a‘da ma
jahila, manusia itu benci terhadap apa yang tak diketahuinya.
(dikutip dari sebuah posting di Multiply)
[Non-text portions of this message have been removed]