Berbekal Untuk Hidup Setelah Mati

Written by Abu Umar Abdillah on 24/07/2009



 *“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan.”* (QS. Al-Hasyr 18)



 Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa mengingat dan meneliti kembali
bekal yang kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian. Faedah besar
akan kita dapatkan jika kita melihat sisi kurang perbekalan yang mesti kita
siapkan. Karena ini akan memacu kita untuk menutup kekurangan dan
memperbanyak amal ketaatan. Tapi jika kita ujub, merasa telah mencapai
derajat tertentu dalam keimanan, merasa telah memiliki bsnyak tabungan
kebaikan, maka hal ini akan membuat kita terpedaya.



 *Tiga Cara Mengusir Ujub*

Imam Syafi’i memberikan tips kepada kita supaya tidak lekas berbangga dengan
amal yang berhasil kita tunaikan, atau dosa yang mampu kita tinggalkan.
Beliau berkata, “Jika kamu khawatir terjangkiti ujub, maka ingatlah tiga
hal; ridha siapa yang kamu cari, kenikmatan manakah yang kamu cari, dan dari
bahaya manakah kamu hendak lari. Maka barangsiapa merenungkan tiga hal
tersebut, niscaya dia akan memandang remeh apa yang telah dicapainya.”



 Alangkah dalamnya nasihat beliau. Mari kita jawab tiga pertanyaan tersebut,
lalu kita selami kedalaman makna dari nasihat tersebut.



 Pertama, ridha siapa yang kamu cari? Jawaban idealnya tentu ridha Allah
yang kita cari. Tapi  bagaimana dengan aplikasinya? Kita tengok apa yang
kita lakukan setiap hari, adakah setiap langkah, gerak-gerik kita, diam dan
bicara kita, terpejam dan terjaganya mata kita selalu demi meraih ridha-Nya?
Bahkan kegigihan dan pengorbanan manusia untuk mendapatkan ridha atasan,
kekasih, atau untuk mendapat kewibawaan di kalangan masyarakat seringkali
lebih hebat dari usaha dia untuk menggapai ridha Allah.



 Kedua, Kenikmatan manakah yang kamu cari? Tentu kita akan menjawab,
“kenikmatan jannah.” Sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan,

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jannah.” (HR Abu Dawud)



 Tapi, sudahkah layak usaha yang kita lakukan sehari-hari itu diganjar
dengan pahala jannah yang identik dengan kenikmatan tiada tara dan tak ada
sesuatupun yang identik dengan kesengsaraan dan penderitaan? Berapa
kalkulasi waktu yang kita pergunakan untuk beribadah kepada Allah, lalu
bandingkan dengan keinginan kita untuk mendapatkan kenikmatan jannah.



 Banyak orang rela bekerja sehari 8 jam, untuk mendapatkan rumah mewah
sepuluh atau belasan tahun kemudian. Tapi, adakah rumah itu lebih mewah dari
rumah dijannah yang digambarkan oleh Nabi, “batu-batanya dari emas dan
batu-bata dari perak?” Manakah yang lebih luas, rumah dambaannya, ataukah
rumah di jannah yang disebutkan Nabi saw,

“Panjangnya sejauh 60 mil.” (HR Muslim)



 Maka pikirkanlah, berapa waktu yang mesti kita pergunakan setiap harinya,
agar kita mendapatkan rumah sebesar dan seindah itu? Barangsiapa merenungkan
hal ini, niscaya akan menganggap bahwa amalnya belum seberapa. Belum sepadan
antara usaha yang dia lakukan dengan ‘hadiah’ yang dijanjikan oleh Allah
bagi orang mukmin di jannah.



 Ketiga, dari bahaya manakah kita hendak lari? Tentu kita akan menjawab,
“Dari siksa api neraka”, sebagaimana hal ini juga menjadi permohonan yang
senantiasa kita panjatkan kepada Allah,

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” (HR Abu
Dawud)



 Masalahnya, adakah perbuatan yang kita lakukan setiap harinya sudah
mencerminkan kondisi orang yang menghindar dari bahaya neraka yang amat
dahsyat? Ataukah keadaan kita seperti yang digambarkan oleh seorang ulama
salaf ketika memperhatikan banyak orang terlelap di waktu malam tanpa
shalat, “Aku heran dengan jannah, bagaimana manusia bisa tidur lelap
sedangkan katanya ia sedang memburunya. Dan aku heran terhadap neraka,
bagaimana bisa manusia tidur nyenyak, sementara ia mengaku tengah lari dari
bahayanya?”



 Mungkin kita pernah melihat orang yang takut ditimpa suatu penyakit, takut
ditangkap aparat, takut di PHK dari suatu perusahaan, takut dirampok dan
lain-lain. Merekapun bertindak ekstra hati-hati dan waspada terhadap segala
kemungkinan yang terjadi. Padahal itu semua bukan apa-apanya bila
dibandingkan dengan ancaman neraka. Tapi adakah kita yang mengaku takut
neraka lebih takut dan waspada dari keadaan mereka?



 Tidak diragukan lagi, jika kita memikirkan ketiga perkara di atas, kita
akan merasa, betapa amal kita masih jauh dari sempurna, masih jauh dari yang
semestinya. Sehingga kita tak layak untuk ujub dan berbangga. Selayaknya
kita menghitung kembali perbekalan kita, meneliti agar tak satupun tercecer,
dan kita memilah dan memilih, mana yang harus dibawa, dan mana pula yang
harus ditinggal.



 *Jangan Keliru Membawa Bekal*

Semangat untuk beramal adalah baik. Namun setiap amal harus di dahului
dengan ilmu yang benar. Jika tidak, bisa jadi bekal yang dibawa keliru.
Ibarat seorang musafir yang membawa onggokan kerikil dalam perjalanan,
disangkanya itu bekal yang membantunya dalam perjalanannya, tidak tahunya
justru menjadi beban yang memberatkan perjalanannya. Ini perumpamaan bagi
orang yang beramal tanpa dilandasi ilmu yang benar, sehingga ia terjerumus
kepada bid’ah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maupun diajarkan oleh
syariat. Allah mengabarkan nasib tragis di akhirat yang dialami oleh orang
yang keliru membawa bekal,

*“Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang
paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka
berbuat sebaik-baiknya*. (QS. Al Kahfi :104)



 Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini,

“Ini adalah kondisi orang memiliki banyak amal, akan tetapi dia lakukan
bukan untuk Allah atau tidak mengikuti sunnah Rasulullah saw.”

Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan tujuan dan tindakan...


http://arrisalah.net/2009/07/kolom/abu-umar-abdillah/berbekal-untuk-hidup-setelah-mati.html


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke 
[email protected]

Bagi yang ingin membantu dakwah milis Syiar Islam dan situs Media Islam bisa 
transfer ke: Rekening BCA Wisma GKBI 0061947069 a/n A Nizami

Nama (jika tak ingin disebut tulis Hamba Allah) dan besar sumbangan bisa 
dikonfirmasikan melalui email ke: [email protected]! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke