Smg tulisan saya ini bs menambah ilmu dan jg membawa manfaat, amiin.. 

Namun bila ada yg berkeberatan dgn materi tulisan ini, maka saya mohon 
dimaafkan. 
Dan bila ada yg tdk setuju kemudian mengajak saya berdebat, maka tdk akan saya 
respon, krn milis2 yg saya forward ini adalah milis2 ukhuwah islamiyah dgn 
semangat amar ma'ruf nahi munkar, bukan milis2 perdebatan yg dpt berujung pd 
perselisihan dan perpecahan, di antara umat Islam sndr. 
Syukron.

AEC


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Alexander Edbert <[email protected]>

Date: Fri, 28 Aug 2009 02:11:19 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>
Cc: <[email protected]>
Subject: [hakekatku] Tuhan itu jamak?


Dlm milis2 ini telah bbrp kali
muncul tulisan2 yg menyatakan bhw Tuhan adalah jamak; Tuhan terdiri lebih dr
satu. Bapa adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan (bukan manusia) dan Roh Kudus
adalah Tuhan (bukan malaikat). Bahkan kemudian berusaha membentuk opini bhw
Al-Qur’an –pun mengisyaratkan hal yg serupa. Mereka menyatakan bhw penggunaan
kata “Kami” di dlm Al-Qur’an yg mengacu kpd Tuhan, merupakan bukti bhw Tuhan itu
jamak. 
Benarkah hal itu??
Dlm forum yg terbatas ini saya akan
mencoba utk mengkupasnya secara ringkas, baik dr sisi agama Kristen maupun dr
sisi agama Islam.
1). Dari agama Kristen.
Umat Kristiani sbnrnya tdk ada
kesepakatan yg baku dan final utk menyebut nama Tuhannya dan tdk ada
kesepakatan yg baku dan final utk menyebut siapa Tuhan yg disembahnya. Ada yg
meyakini bhw nama Tuhan mereka adalah YHWH, Yahweh, Elohim, Yesus, Allah, dll.
Ada yg meyakini bhw Tuhan yg mereka muliakan dan mereka sembah adalah
Tritunggal, Elohim, Yesus, Roh Kudus (aliran kharismatik), Tuhan Allah, Tuhan
Bapa atau Bapa surgawi, dll. Bahkan penulisan TUHAN dan Tuhan-pun membingungkan
umat Kristiani sndr.
Dari hal tsb di atas sbnrnya sdh dapat
menjadikan dahi kita berkernyit dan berkerut2. Bagaimana mngkn sebuah agama
tidak mempunyai konsep yg jelas ttg ketuhanan, dan pd saat berbicara ttg Tuhan,
justru secara telak telah menabrak logika manusia yg sehat. Manusia dipaksa utk
menerima bhw 3 adalah 1, dan 1 adalah 3 ((tiga tapi sehakekat dan sederajat).
Rumusannya disebut Tritunggal. Rumusan ini sgt lemah skl, dan tidak akan pernah
bs disebut secara terbalik, yaitu Tunggaltri. Seharusnya, kalau dinyatakan
sehakekat dan sederajat, rumusannya disebut secara terbalik-balik jg tdk ada
mslh, dan tidak harus selalu urut: Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Selain itu, meski diyakini bhw
Tuhannya adalah Tritunggal, namun tidak ditemukan di dlm Alkitab bahwa Tuhan
umat manusia dituliskan dgn kata “Tuhan-Tuhan”. Kata “Elohim” yg dianggap sbg
Tuhan-pun (dlm makna jamak), tidak pernah kemudian diterjemahkan menjadi 
“Tuhan-Tuhan”.
Umat Kristiani sndr, ada yg telah secara terbuka mengatakan bhw Tuhannya adalah
ada tiga, yaitu Bapa, Yesus dan Roh Kudus, namun tidak ada yg menyebutnya 
“Tuhan-Tuhan
yg disembahnya”. Mereka keberatan disebut Politeis - mngkn tdk keberatan bila
disebut Poters (Politeis Terselubung). 
Semestinya, yg namanya aqidah
(ketuhanan) itu akal/logika akan mendahului iman. Berbeda dgn syariat
(petunjuk/aturan pelaksanaan) yg seringkali iman-lah yg akan mendahului 
akal/logika. 
Konsep Tritunggal dan praktek
pemyembahan Yesus ini baru muncul setelah Yesus tiada. Di sepanjang hidupnya,
Yesus sama sekali tidak pernah mengajarkan agar umatnya menganggap dia adalah
Tuhan, dan kemudian menyembahnya. Di dlm Alkitab bertebaran ayat-ayat yang
menyebutkan bhw Yesus itu bukanlah Tuhan. Yesus justru mengajarkan utk
mengenali bhw satu2nya Tuhan yang perlu disembah adalah Tuhan Bapa, dan
mencontohkan bagaimana cara beribadah kepadanya, yaitu dengan mentaati hukum
Taurat. Bahkan disebutkan di dlm Alkitab, bhw rumah ibadat yg digunakan Yesus
namanya Sinagoge, bukan Gereja! 
Yesus dianggap sbg Tuhan, sebab
utamanya adalah karena kelahirannya yang  ajaib, yaitu tanpa Bapak. Hal ini 
kemudian diyakini bahwa bapaknya
adalah Allah itu sendiri, shg Yesus disebutlah sbg Anak Allah. 
Sebenarnya kejadian Yesus itu adalah semata-mata bukti kekuasaan
Allah Yang Maha Berkehendak (dan bila Allah berkehendak utk membinasakan 
seluruh umat manusia termasuk para nabi/rasul dan tentu termasuk Yesus,
seluruh malaikat termasuk Roh Kudus, dan jin setan termasuk iblis, maka itu 
adalah hal yg sgt mudah skl bagi Allah). Banyak mahluk yang diciptakan
Allah tanpa bapak dan ibu, yaitu: nabi Adam as dan Hawa, para malaikat, unta 
nabi
Shaleh as dan kambing nabi Ibrahim as. Di dalam Alkitab jg ada seorang yang
lahirnya tanpa bapak dan ibu, dan bahkan tanpa silsilah, namanya adalah 
Melkisedek.
Namun, jgn-kan diTuhankan, Melkisedek ini justru seakan ingin dilupakan oleh
umat Kristiani. 
Yang pasti, Tuhan itu Maha Kuasa dan
Maha Sempurna. Apakah Yesus itu jg Maha Kuasa dan Maha Sempurna? Jika ia tetap
saja diimani sbg Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna, apakah ia perlu menyediakan
diri untuk dicaci, diludahi, dianiaya dan disalib hanya gara-gara ingin
mengampuni dosa manusia? Jika ia harus menebus dosa, menebusnya kepada siapa???
 
2). Dari agama Islam.
Konsep keTuhanan dalam agama Islam
sangat jelas dan tegas sekali. Umat Islam hanya mengenal dan menyembah Tuhan Yg
Esa. Tunggal. Tiada sekutu. Tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, yaitu: 
Allah
Swt. Semua nabi/rasul, termasuk Yesus, diutus Allah Swt untuk mengajarkan hal
tsb, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Laa Ilaha Illallah).. Barangsiapa
mempunyai kalimah tsb pd dirinya, dan lalu ia teguh dgn kallimah itu hingga
akhir hayatnya, maka keridhaan Allah dan surga-lah jaminannya. Tiada keraguan
sm skl di dlmnya.
Di dlm kitab mulia Al-Quran, memang
byk terdapat kata “Kami” sbg kata ganti untuk menyebut Allah Swt. Namun hal itu
tentu saja bukan berarti bhw Tuhan adalah jamak. Hal ini sbnrnya telah saya
urai juga dlm buku saya yg berjudul: “Show Us The Straight Path (menemukan 
kebenaran iman yang
sejati)”. Berikut sedikit
kutipannya:
Kata
‘Kami’ digunakan untuk menunjukkan kehalusan
bahasa yang digunakan di dalam Al-Qur’an. Selain itu, juga mengandung
pengertian bahwa Allah Swt telah mendelegasikan penyelesaian suatu urusan 
kepada pihak tertentu sesuai dengan kehendakNya. Hal
ini sekaligus menunjukkan kekuasaan Allah Swt, Tuhan Yang Maha Berkehendak.
Karena itu, kata “Kami” tidak digunakan dalam ayat-ayat yang menyatakan
hubungan langsung antara Allah Swt dengan mahlukNya. Dalam ayat-ayat yang
seperti itu, maka yang selalu digunakan adalah kata “Aku”, misalnya dalam
ayat-ayat berikut ini:
 
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(QS. Adz-Dzariyaat:56)
”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,
tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat
untuk mengingat Aku”. (QS.
Thaahaa: 14)
Dlm kisah tentang turunnya
Al-Qur’an, kata “Kami” digunakan adalah karena di dlm proses turunnya ayat-ayat
suci tsb, ada keterlibatan pihak lain selain Allah, yaitu: malaikat Jibril. 
Contoh lain adalah tentang
penciptaan manusia. Pd penciptaan nabi Adam as, kata yang digunakan adalah 
“khāliqum” yg diterjemahkan menjadi “Aku
akan ciptakan”, karena tidak ada pihak lain yang terlibat, spt tercantum di dlm
QS. Ash-Shad: 71-72 berikut ini:
 (Ingatlah) ketika
Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan
manusia dari tanah". Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan
Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan
bersujud kepadanya". (QS. Ash-Shad:
71-72).
Akan menjadi berbeda pada saat Allah
berfirman untuk memberitahukan tentang penciptaan manusia selain nabi Adam as.
Kata yang digunakan adalah “khalaqnā” yg diterjemahkan menjadi “Kami ciptakan”, 
karena adanya keterlibatan pihak lain
selain Allah, yaitu ibu dan bapak, spt yang tercantum dlm ayat mulia berikut:
Dan di antara orang-orang yang telah Kami ciptakan ada
umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran, dan dengan itu (pula)
mereka berlaku adil. (QS. Al-A’raf: 181)
 
Kemudian, bagaimana
tentang Ruhul Qudus itu? Apakah ia Tuhan Roh Kudus, ataukah malaikat Jibril?
Sebenarnya jika kita membaca
Al-Qur’an secara komprehensif dan obyektif, maka kita akan mengetahui dgn yakin
bhw yang dimaksud dgn Ruhul Qudus adalah malaikat Jibril.
Marilah kita cermati contoh ayat yg
mengindikasikan bhw Ruhul Qudus itu adalah malaikat Jibril. Penjelasan ini
mngkn akan terasa agak rumit bagi yg tdk mengetahui ttg Al-Qur’an sm skl. Aplg
bila pengetahuan bahasanya dangkal, shg kata2 yg terdapat dlm tanda kurung-pun
ia tdk bs mengerti, namun kemudian justru mempermasalahkannya.
Qul Mang kāna ‘aduwwal li jibrīla fa innahū Nazzalahū ‘alā qalbika
Bi idz-nillāhi Mushaddiqan Limā baina yadaihī Wa hudan. (QS. Al-Baqarah: 97)
Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril,
Maka Jibril itu Telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin
Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta
berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah: 97)
Ayat suci tsb dgn jelas menyebut
nama “Jibril”, namun tidak ada kata “Al-Qur’an”, yang ada hanya kalimat 
Nazzalahū ‘alā qalbika yang
artinya adalah: (dia [Jibril] telah
menurunkannya ke dalam hatimu), yakni Allah Ta‘ala telah Mengutus Jibril a.s.
dengan membawa al-Quran kepadamu. Tasydid pada lafazh nazzala menunjukkan bahwa 
al-Quran diturunkan berkali-kali (tidak
sekaligus dlm bentuk sebuah surah yg panjang, atau sebuah kitab). Tasydid itu
penjelasannya kira2 semacam huruf yg dibaca spt nyambung dgn huruf di depannya.
Kemudian bandingkan
dgn ayat suci berikut ini:
Qul Nazzalahū rūhul qudusi Mir rabbika Bil haqqi Li yutsabbita
Alladzīna āmanū Wa hudan Wa busyrā lil muslimīn (QS. An-Nahl:102)
Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran
itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang Telah
beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)". (QS.
An-Nahl:102)
Di dlm ayat suci tsb, tidak disebut
nama “Jibril”, yg disebut adalah “Ruhul Qudus”. Namun karena ayat suci tsb 
menyebutkan
ttg turunnya Al-Qur’an, Nazzalahū rūhul qudusi, maka kita dpt mengetahui bhw yg 
dimaksud dgn Ruhul Qudus itu
adalah Jibril. Malaikat Jibril, sm skl bukan Tuhan Roh Kudus. 
Sekarang perhatikan jg
ayat suci berikut ini:
Qāla innī ‘abdullāh, ātāniyal kitāba Wa ja‘alanī nabiyyā. (QS. Maryam: 30)
Berkata Isa: "Sesungguhnya Aku Ini hamba Allah, dia
memberiku Al Kitab (Injil) dan dia menjadikan Aku seorang nabi, (QS. Maryam: 30)
Di dlm ayat suci tsb tidak ada kata
“Isa” dan tidak ada kata “Injil”, namun tidak ada keraguan sm skl bhw yg 
dimaksudkan
pd ayat suci tsb adalah nabi Isa as dan kitab suci Injil, dan nabi Isa as
(Yesus) adalah seorang nabi utusan Allah.
Demikian sedikit uraian saya ttg
kata “Kami” di dlm Al-Qur’an yang digunakan oleh umat Kristiani sbg pembenar
doktrin Trinitasnya. Smg tulisan saya ini dpt membawa manfaat, baik bagi umat
Islam, maupun bagi umat lainnya. 
Sesungguhnya kafirlah orang2 yg mengatakan
bhw Tuhan mempunyai sekutu. Kafir (kufur) adalah orang2 yang ingkar, yg tiada
pernah ada rasa syukurnya kpd Allah Swt, dan menutup diri dr kebenaran. Smg
umat Islam, khususnya pembaca tulisan ini, akan sll istiqomah dgn kalimah Laa 
Ilaha Illallah smp akhir hidupnya,
amiin.
Sincerely,
AEC


      


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke