REPUBLIKA ONLINE -- Selasa, 08 September 2009 pukul 01:55:00
Doa Muslim untuk Amerika
Jika tak ada aral melintang, sejarah baru akan tertoreh di Amerika Serikat
(AS). Ribuan Muslim di negeri Paman Sam itu berencana menggelar doa bersama
bertajuk "Untuk Jiwa Amerika" di luar Gedung Kongres, Capitol, bulan ini.
Disebut menorehkan sejarah baru, karena aksi seperti itu akan menjadi peristiwa
pertama yang terjadi di negara adidaya itu.
Gelaran doa bersama yang akan dihadiri umat Muslim AS itu dikoordinasi oleh
Masjid Darul Islam di Elizabeth, New Jersey. Presiden Darul Islam yang juga
koordinator acara, Hassen Abdellah, mengungkapkan, acara itu tidak akan
memasukkan khotbah-khotbah bernuansa politis atau pamflet."Hanya berdoa saja,"
ujar Abdellah seperti yang dikutip Washington Post , akhir pekan lalu.
Rencananya, gelaran doa bersama umat Muslim untuk Amerika itu akan dilakukan
pada 25 September mendatang. "Hampir setiap saat, ketika Muslim pergi ke
Washington DC, pasti demi tujuan memprotes sesuatu," tuturnya.
Namun, kedatangan ribuan Muslim, pasca-Idul Fitri 1430 H ke Washington DC itu
bukan untuk melakukan aksi unjuk rasa. "Kali ini bukan protes. Tidak pernah
komunitas Islam berdoa di Capitol Hill untuk jiwa Amerika," ungkap Abdellah.
"Kami adalah warga Amerika. Kami butuh mengubah wajah Islam sehingga
orang-orang tidak berpikir Muslim meyakini Amerika sebagai 'setan besar',
karena kami mencintai Amerika."
Rencana aksi doa bersama itu pun telah mendapat izin dari Kepolisian Capitol.
Lewat surat izin yang diterbitkan pada 28 Juli 2009, polisi mengizinkan akses
masuk ke area hingga West Front, dari pukul 16.00 hingga 17.00, pada Jumat, 25
September mendatang. Namun, layanan shalat Jumat akan dijadwalkan pada siang.
Abdellah berharap, aksi doa bersama itu akan dihadiri sekitar 50 ribu orang
dari masjid-masjid di penjuru negara. Pihaknya juga mengajak non-Muslim untuk
bergabung. Acara tersebut diprediksi membutuhkan dana sebesar 200 ribu dolar AS
atau sekitar Rp 1,9 miliar.
Doa bersama itu akan dilakukan tak jauh dari tempat pelantikan para Presiden
AS, sejak tahun 1981. Abdellah mengaku, sambutan Presiden Obama saat pelantikan
pada Januari lalu dan pidatonya di Mesir pada Juni tahun ini, mendorong Hassen
dan para imam mendiskusikan gagasan doa bersama. Panitia doa bersama untuk
Amerika itu telah membuat laman web sehingga warga Amerika yang berminat dapat
mengaksesnya. Laman web itu memiliki logo tangan berwarna merah, putih, dan
biru berjabat dengan tangan cokelat terang. Pembukaan Undang-Undang AS dan
sebuah halaman bertuliskan teks Arab menjadi latar situs tersebut.
Anggota Darul Islam telah menyiapkan acara tersebut sejak Juli. Mereka
mengorganisasi lewat surat elektronik, telepon, dan mengunjungi masjid-masjid
serta beberapa perkumpulan siswa Muslim di berbagai negara bagian. "Orang-orang
tidak menunjuk Darul Islam untuk mengorganisasi ini," ujar Abdellah. "Tidak
ada seorang pun yang meminta dan menyuruh kami. Kami memutuskan melakukan ini
sendiri." Pihak penyelenggara menyatakan, mereka belum menentukan siapa yang
akan memimpin doa bersama dan memberi khotbah saat acara.
Namun, sepertinya bukan berasal dari figur terkemuka dunia Muslim di Paman Sam.
"Ini bukan masalah kepribadian, " ujar Abdellah. "Kami tidak ingin ada figur
yang terlibat, figur untuk acara ini hanyalah Rasul Muhamad," katanya
menegaskan. Presiden Masyarakat Islam New Jersey Tengah, Aly A Aziz, yang ikut
membantu mengorganisasi acara, mengungkapkan, terlalu banyak warga Amerika yang
kini secara otomatis mengasosiasikan Islam dengan terorisme. Dengan acara itu,
menurut Ally, adalah jalan membuka diri pada warga Amerika, bagaimana
sebenarnya Muslim berdoa.
Seorang warga Muslim, Shakoor Mustafa, penduduk yang saban hari mengunjungi
sebuah masjid di East Orange, New Jersey, mengatakan ia menyisihkan sebagian
uang meski mengaku tak seberapa, untuk acara tersebut. Ia berharap dapat pergi
ke Washington jika jam kerjanya memungkinkan.
"Ini sangat bersejarah," imbuhnya. Shakoor menuturkan, pemberian izin tanpa
berbelit untuk menyelenggarakan acara itu mencerminkan perubahan dramatis
Amerika, terkait pandangan terhadap Muslim setelah serangan teroris 11
September 2001. "Kemarin saya dilihat sebagai seorang teroris," tutur Shakoor.
"Dan, hari ini saya diizinkan untuk pergi ke Capitol Hill untuk datang dan
berdoa demi semangat persatuan." itz(-)
Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
[Non-text portions of this message have been removed]