Adian Husaini Bicara Makna Gempa Sumatera 

Oleh: Dr. Adian Husaini

Bumi Indonesia, negeri kita,  lagi-lagi dihantam gempa. Kali ini, 30 September 
2009,  wilayah Sumatra Barat, khususnya kota Padang dan Pariaman menerima 
pukulan berat. Bumi digoncang keras dengan gempa berkekuatan 7,6 skala Richter. 
Hampir semua gedung bertingkat di Kota Padang runtuh atau rusak berat. Ratusan 
orang tertimbun dalam reruntuhan gedung. Ratusan lainnya tertimbun tanah. 
Bahkan ada puluhan anak yang sedang belajar di satu gedung bimbingan belajar 
tertimbun reruntuhan bangunan. 
Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa bumi Minang yang 
terkenal dengan semboyan Adat bersendi syara' dan syara' bersendi Kitabullah. 
Dan Mengapa ini terjadi?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, 
tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian 
selatan,  dihantam gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang 
jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra 
kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. 
Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan. 

Seperti biasa, setiap terjadi gempa, para ilmuwan selalu menjelaskan, bahwa 
gempa terjadi karena bergeser atau pecahnya lempengan tertentu di bumi. Bagi 
orang sekular, gempa dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada 
hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Tapi, sebaliknya, orang mukmin yakin benar 
bahwa gempa ini bukan sekedar peristiwa alam biasa. Hubungan kausalitas 
tidaklah bersifat pasti, tetapi tergantung kepada kehendak (Iradah) Allah. Api 
yang mestinya membakar tubuh Nabi Ibrahim, bisa kehilangan daya bakarnya, 
karena kehendak Allah. Biasanya, dalam berbagai bencana muncul berbagai 
keajaiban yang di luar jangkauan manusia. 

Allah SWT menjelaskan dalam al-Quran (yang artinya):

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu 
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami 
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami 
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang 
luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang 
diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi 
membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat 
kikir. dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) Maka 
Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS Al-Hadid:22-24)

Sebuah ayat al-Quran juga menjelaskan terjadinya peristiwa semacam gempa bumi 
di masa lalu, (yang artinya): "Orang-orang sebelum mereka telah melakukan makar 
kepada Allah, maka Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari 
pondasi-pondasinya, dan Allah menjatuhkan atap-atap (bangunan) dari atas 
mereka, dan Allah menurunkan azab dari arah yang tidak mereka perkirakan. (QS 
an-Nahl: 26). 

Entah rahasia apa yang terkandung dalam Gempa Sumatra kali ini. Setiap musibah 
mengandung banyak makna. Akal kita terlalu terbatas untuk memahami hakekat 
segala sesuatu dalam kehidupan. Kita tidak mudah paham, mengapa dalam gempa 
kali ini, begitu banyak anak-anak yang tertimbun reruntuhan gedung. Anak-anak 
itu sedang belajar. Bukan sedang bermaksiat. Hikmah apa yang terkandung dalam 
peristiwa semacam ini? Tidak mudah memahami semua itu, sebagaimana juga Nabi 
Musa a.s. sangat sulit memahami berbagai tindakan Chaidir a.s. 

Memang, suatu musibah bisa bermakna sebagai hukuman Allah bagi orang-orang yang 
berdosa. Musibah juga bisa bermakna ujian bagi orang-orang yang beriman. 
Musibah pun bermakna peringatan Allah bagi orang-orang yang selamat.  Kita yang 
selamat dari musibah, sejatinya sedang diberi peringatan oleh Allah, agar kita 
segera ingat kepada Allah, agar segera melakukan evaluasi dan segera melakukan 
perbaikan diri. Biasanya, manusia memang cenderung mendekat kepada Allah ketika 
berada dalam bahaya. Kita biasanya berdoa dengan tulus ikhlas ketika pesawat 
yang kita tumpangi dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Ketika itu kita 
berjanji, berdoa dengan tulus, bahwa kalau kita selamat, maka kita akan berbuat 
baik di dunia. Tapi, ketika pesawat mendarat dengan selamat, maka biasanya 
manusia kembali melupakan Allah dan sibuk dengan urusan dunia. Sejumlah ayat 
al-Quran menggambarkan sifat manusia kebanyakan semacam itu: 

Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di 
lautan; sehingga ketika kamu berada di dalam bahtera, lalu meluncurlah bahtera 
itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan 
mereka bergembira karenanya, maka datanglah angin badai; dan ketika gelombang 
dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka tengah terkepung 
(bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta'atan 
kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): Sesungguhnya jika Engkau 
menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang 
yang bersyukur.  
Maka, tatakala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman 
di muka bumi, tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu 
akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) hanyalah kenikmatan hidup 
duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu; lalu Kami kabarkan kepadamu apa 
yang telah kamu kerjakan. (QS Yunus: 22-23). 

Bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah, Insyaallah ini adalah ujian 
bagi mereka. Jika mereka sabar, maka pahala besarlah bagi mereka. Ujian adalah 
bagian dari kehidupan orang mukmin, baik ujian senang maupun ujian susah. 
Manusia selalu diuji imannya. Dengan ujian itulah, maka tampak, siapa yang 
imannya benar dan siapa yang imannya dusta. 

Apakah manusia menyangka b ahwa mereka akan dibiarkan mengatakan Kami beriman, 
sedangkan mereka tidak diuji?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang 
sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan 
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta. (QS al-Ankabut: 2-3). 

Lihatlah di dunia ini! Ada orang-orang yang diuji oleh Allah dengan segala 
macam kekurangan. Ada yang diuji dengan kecacatan, kebodohan, dan kemiskinan. 
Ada yang diuji dengan harta melimpah, kecerdasan, dan kecantikan. Ada yang 
diuji dengan musibah demi musibah. Semua itu adalah ujian dari Allah.   Hidup 
di dunia ini adalah menempuh ujian demi ujian. Jika kita lulus, maka kita akan 
selamat di akhirat. Karena itu, apa pun hakekat dari musibah gempa Sumatra kali 
ini, maka mudah-mudahan ujian itu mampu mendorong saudara-saudara kita di sana 
untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin aktif berdakwah 
memberantas segala bentuk kemunkaran yang mendatangkan kemurkaan Allah. Kita 
diingatkan, bahwa manusia mudah lupa. Sampai beberapa hari setelah musibah, 
biasanya masjid-masjid masih dipenuhi jamaah. Tapi, setahun berlalu, biasanya 
manusia sudah kembali melupakan Allah dan lebih sibuk pada urusan duniawi. 

Bagi yang meninggal dalam musibah, kita doakan, semoga mereka diterima Allah 
dengan baik; amal-amalnya diterima, dan dosa-dosanya diampuni. Musibah tidak 
pandang bulu. Manusia yang baik dan buruk juga bisa terkena. Allah SWT sudah 
mengingatkan, Dan takutlah kepada fitnah (bencana, penderitaan, ujian) yang 
tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, 
Allah sangat keras siksanya. (QS an-Anfal:25). 

Kita yang selamat baiknya segera menyadari, bahwa di mana pun kita berada,  
kematian akan selalu mengintai. Dalam surat an-Nahl:26, kita diingatkan, bahwa 
hukuman Allah ditimpakan kepada umat manusia, karena melakukan makar kepada 
Allah. Mereka berani menentang Allah secara terbuka, secara terang-terangan. 
Kita tidak perlu ikut-ikutan tindakan makar kepada Allah yang dilakukan 
sebagian orang. Misalnya, Allah jelas-jelas menghalalkan pernikahan dan 
mengharamkan zina. Tetapi yang kita saksikan, di negeri kita, ada orang nikah 
malah masuk penjara dan para pelaku zina tidak mendapatkan sanksi apa-apa. 
Bahkan, di negeri yang harusnya menjunjung tinggi paham Tauhid (Ketuhanan Yang 
Maha Esa) ini, sejumlah media massa berani menghujat hukum-hukum Allah secara 
terbuka. Padahal, yang berhak menentukan halal dan haram adalah Allah. Adalah 
tindakan yang tidak beradab jika maanusia berani merampas hak Allah tersebut. 

Kita menyaksikan, bagaimana sekelompok orang  dengan alasan kebebasan 
berekspresi (freedom od expression) -- dengan terang-terangan menantang aturan 
Allah dalam soal pakaian. Mereka menyerukan kebebasan. Mereka pikir, tubuh 
mereka adalah milik mutlak mereka sendiri, sehingga mereka menolak segala 
aturan tentang pakaian. Bukankah tindakan itu sama saja dengan menantang Allah: 
Wahai Allah, jangan coba-coba mengatur-atur tubuhku! Mau aku tutup atau aku 
buka, tidak ada urusan dengan Engkau. Ini urusanku sendiri. Ini tubuh-tubuhku 
sendiri! Aku yang berhak mengatur. Bukan Engkau!  Memang, menurut Prof. Naquib 
al-Attas, ciri utama dari peradaban Barat adalah Manusia dituhankan dan Tuhan 
dimanusiakan! ((Man is deified and Deity humanised). Manusia merasa berhak 
menjadi tuhan dan mengatur dirinya sendiri. Persetan dengan segala aturan 
Tuhan! 

Para ulama sering menyerukan agar tayangan-tayangan di TV yang merusak akhlak 
dihentikan. Banyak laki-laki yang berpakaian dan berperilaku seperti wanita. 
Padahal itu jelas-jelas dilaknat oleh Rasulullah saw. Tapi, peringatan 
Rasulullah saw yang disampaikan para ulama itu diabaikan, bahkan dilecehkan. 
Kaum wanita yang tercekoki paham kesetaraan gender didorong untuk semakin 
berani menentang suami, menolak kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, dan 
menganggap wanita sama sederajat dengan laki-laki.  Bahkan, di zaman seperti 
sekarang ini, ada sejumlah dosen agama yang secara terang-terangan berani 
menghalalkan perkawinan sesama jenis. Manusia seperti ini bahkan dihormati, 
diangkat sebagai cendekiawan, disanjung-sanjung, diundang seminar ke sana 
kemari, diberi kesempatan menjadi dosen agama. Jika manusia telah durhaka 
secara terbuka kepada Allah, maka Sang Pencipta tentu mempunyai kebijakan 
sendiri. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila perzinaan dan riba telah melanda 
suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah 
atas mereka sendiri". (HR Thabrani dan Al Hakim). 

Dalam soal homoseksual, Allah sudah memperingatkan: 

Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu 
benar-benar mengerjakan perbuatan yang Amat keji yang belum pernah dikerjakan 
oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu". (QS al-Ankabut:28).
Rasulullah saw juga memperingatkan:  

Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth 
(homoseksual) maka bunuhlah pelaku dan pasangannya. (HR Ahmad). 

Pada setiap zaman, manusia selalu terbelah sikapnya dalam menyikapi kebenaran. 
Ada yang menjadi pendukung kebenaran dan ada pendukung kebatilan. Yang ironis, 
di era kebebasan sekarang ini, ada orang-orang yang sebenarnya tidak memahami 
persoalan dengan baik, ikut-ikutan bicara. Pada 29 September 2009 lalu, dalam 
perjalanan kembali ke Jakarta, di tengah malam, saya mendengarkan  pro-kontra 
masyarakat tentang rencana kedatangan seorang artis porno dari Jepang ke 
Indonesia. Si artis itu kabarnya akan main film di Indonesia. Yang ajaib, 
banyak sekali pendengar radio tersebut yang menyatakan dukungannya terhadap 
kedatangan artis porno tersebut. Kata mereka tidak ada alasan untuk 
melarangnya, karena dia bukaan teroris. Suara MUI yang keberatan dengan rencana 
kedatangan artis tersebut, menjadi bahan ejekan. Sungguh begitu sukses setan 
dalam menipu manusia, sehingga perbuatan-perbuatan bejat dipandang indah; 
sebaliknya perbuatan baik malah dipandang jahat. 

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat 
sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan 
mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi 
mereka azab yang sangat pedih. (QS an-Nahl: 63).  

Mudah-mudahan segala macam musibah yang menimpa kita dan saudara-saudara kita 
mampu melecut kita semua untuk sadar diri dan mengenali mana yang baik dan mana 
yang buruk. Allah SWT senantiasa membukakan pintu taubat-Nya untuk kita semua. 
Dunia ini hanyalah kehidupan yang penuh dengan tipuan dan ujian. Akhirat adalah 
kehidupan yang sebenarnya. Banyak manusia meratapi bencana fisik, tapi 
mengabaikan bencana iman berupa meluasnya kekufuran.  Kita wajib menolong 
saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, semampu kita. Pada saat yang sama, 
kita berdoa, mudah-mudahan Allah masih mengasihani kita semua, menunda azab 
atau hukumannya, dan memberikan kesempatan kepada kita untuk berbenah dan 
memperbaiki diri. Amin. 

_________________________
لا اله الا الله مجمد الرسول الله 

Kirim email ke