Saya copykan pendapat dari Bapak Komaruddin Hidayat dalam masalah gempa ini.ada
di kompas, Selasa 6 oktober 2009
Saya masih bingung, kenapa sebahagian kita bangsa yang takut sekali mendengar
kata-kata peringatan, hukuman Allah Ta'ala ini.
Kata-kata apalagi yang pantas diucapkan untuk orang yang terkena gempa, atau
musibah, sementara dia meninggalnya dalam kondisi tidak beriman, atau syirik,
atau berbuat maksiat lainnya, dia meninggal dalam musibah gempa atau bencana
alam tersebut, sementara dia belum sempat bertaubat, selain kata :Hukuman"
Allah ta'ala atasnya?
Kalau kita takut akan kata-kata tersebut, saya justru khawatir, kalau-kalau
kita kurang meyakini akan adanya azab Allah Ta'ala, adanya pembalasan atas
segala perbuatan jelek atau maksiat kita, sementara kita belum bisa bertaubat,
maut telah menyapa kita. Taubat yang sedang sakratul maut, mana diterima lagi
bukan, taubat itu diterima sebelum maut akan mencabut nyawa dari jasad kita?,
jadi kata-kata yang tepat atas orang yang meninggal sedang kondisi ia meninggal
kala itu sedang berbuat maksiat, atau belum beriman, atau hidupnya selama ini
dipenuhi dengan kesalahan dan menyalahi ajaran islam, selain kata hukuman, atau
istilah dalam AlQurannya adzab.
Saya justru khawatir, kalau kita takut akan kalimat adzab atau hukuman Allah
Ta'ala ini, justru membuat kita jadi santai dan lengah, seakan Allah Ta'ala tak
memiliki pembalasan atas segala perbuatan jelek kita. Padahal setiap perbuatan
baik dan jelek, sekecil dan sebesar apapun, ada balasan atau ganjarannya. Ada
yang dipercepat balasan itu, ada yang diperlambat, atau ditangguhkan sampai
hari akhir kelak.
Kalau saya pribadi sih, lebih mau di balasi dosa saya didunia ini, semampu
saya, ketimbang harus menerimanya diakhirat sana. Saya salut dan kagum akan
zaman sahabat dulu, atau ulama dulu, justru mereka meminta di cambuk, direjam,
diadili didunia ini, mendapat hukuman atas kesalahan dan perbuatan dosa mereka,
asalkan semuanya beres didunia, selesai urusan didunia ini, diakhirat tinggal
menerima ganjaran surga saja lagi.Tapi, kalau masih ada kata maaf, taubat,
tentu jalan itu yang saya pilih. Mana ada sih, manusia yang hidupnya menderita.
Makanya justru perbuatan mendzalimi sesama manusia, hutang dan janji sesama
manusia yang paling saya takuti. Karena tidak hanya kata maaf saja yang saya
harus lakukan pada orang yang saya dzalimi itu, kalau kejahatan itu berupa
benda material, tentu harus pula saya bayar, kalau uangnya yang saya curi, atau
korupsi, atau hutang yang belum terbayar, harus saya bayar dulu hutang itu,
atau saya gantikan dulu uang yang saya korupsikan itu, dan sebagainya. kalau
janji, saya harus tepati dulu janji itu..
Kejahatan, balasannya adalah kejelekan juga. Masak orang membunuh orang lain
kerjanya didunia ini, atau korupsi aja, atau makan harta yang haram, makan
harta orang lain dengan secara bathil, dzalim pada sesama dan perbuatan jelek
lainnya yang dia lakukan selama didunia ini, lantas dia mati saat bencana alam
tiba dan dia belum bertaubat, dibalasi dengan kebaikankah? kenapa kita harus
takut kalau mengatakan itu adalah hukuman Allah Ta'ala. Bukankah Allah Ta'ala
memang menghukum/membalasi segala kejahatan?
Menggenelarisir semua korban gempa yang meninggal juga sebagai hukuman, juga
salah. Kitakan tidak tau masing-masing pribadi dari ribuan orang yang meninggal
dalam korban itu hidupnya ketika didunia ini semacam apa. Yang kelihatan baik
saja, belum tentu hatinya baik. Atau kelihatan kasar saja, belum tentu hatinya
jelek. masalah hati, keikhlasan hanya Allah yang maha tahu.
Itu sebabnya, kurang tepat rasanya menggeneralisir sikap atas semua korban
gempa, baik yang telah meninggal dengan mati mereka mati syahid, ataupun yang
meninggal sebagai hukuman, atau yang masih hidup dengan hukuman, ujian,
peringatan, atau cobaan.
Bagi saya pribadi, untuk yang masih hidup lebih ditekankan pada "Peringatan,
ujian, cobaan, serta rahmat sebagai penghapus, atau pencabut dosa-dosa yang
ada, bila cobaan itu dihadapi dengan ketabahan dan kesabaran", sementara yang
meninggal. ada yang merupakan hukuman baginya, apabila meninggalnya dia saat
itu sedang berbuat maksiat, atau tidak beriman, atau sering berbuat kejahatan
dan belum bertaubat, karena balasan orang yang menyalahi ajaran Islam tentu ada
hukumannya, kita harus meyakini bahwa hukuman Allah itu memang ada. Apa gunanya
timbangan, kalau semua tak ditimbang. Apa gunanya pengadilan, kalau semua
perbuatan tak diadili. dan Rahmat Allah Ta'ala bagi mereka yang meninggal dalam
keadaan beriman dan shalih, karena mereka husnul khatimah, dan meninggalnya
mereka matinya syahid.
"I'tibar bagi semua kita manusia didunia ini atas musibah yang terjadi dimana
sajapun bencana itu terjadi. Kalau Allah selalu menganjurkan kita agar selalu
mengambil pelajaran, i'tibar bagi setiap kejadian yang kita lihat. Allah
berfirman fiima ma'na Maka berjalanlah kamu dimuka bumi Allah ini, maka ambil
pelajaranlah oleh kamu.Maka berjalanlah kamu dimuka bumi Allah ini, kelak Allah
akan memperlihatkan segala amalan kamu...
Allahu Ta'ala 'alam
Komaruddin Hidayat : Jangan Buru-Buru Anggap Gempa Hukuman
TRIBUN PEKANBARU/DODDY VLADIMIR
Desa Lubuk Laweh, Kecamatan Patemuan, Kabupaten Padang Pariaman, rata dengan
tanah disapu tanah longsor pada saat terjadi gempa. Diperkirakan ratusan warga
tewas tertimbun tanah dan belum bisa dievakuasi.
/
SELASA, 6 OKTOBER 2009 | 23:04 WIB
BANDUNG, KOMPAS.com- Masyarakat diminta untuk tidak terburu-buru menganggap
gempa yang terjadi belakangan ini sebagai hukuman Tuhan. Gempa lebih banyak
menelan korban di pedesaan, sementara masyarakat yang banyak berbuat dosa
umumnya dekat dengan pusat pemerintahan.
Demikian dikatakan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Komaruddin Hidayat di Bandung, Selasa (6/10). Jika gempa dikaitkan dengan kuasa
Tuhan, itu bisa dibenarkan, tapi dosa apa mereka yang ada di Kabupaten Bandung,
Jawa Barat misalnya," katanya.
Menurut Komaruddin, masyarakat Indonesia memiliki sikap gotong royong yang
tinggi. Perilaku dermawan pun semakin banyak diterapkan. Tradisi tolong
menolong itu harus lebih ditingkatkan. Jangan sampai kebocoran bantuan terjadi.
"Itu salah satu akuntabilitas masyarakat Indonesia. Jika terjadi kebocoran,
animo masyarakat untuk membantu sesamanya akan turun," katanya. Sejuah ini,
sudah banyak masyarakat yang bersedia menyalurkan bantuan untuk korban gempa.
Wasssalamu'alaikum. Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.(Doqqi,Cairo)
"Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia
lainnya".
[Non-text portions of this message have been removed]