NB:

1. Artikel di bawah bersifat global, tidak menunjuk peristiwa, lokasi
apalagi waktu tertentu.

2. Saya sependapat dengan Bu Rahima, “kalau bencana alam dimana sajapun, itu
merupakan hukuman, bagi mereka yang menyalahi ajaran Islam, ujian bagi
mereka yang masih hidup, rahmat bagi mereka yang meninggal dalam kondisi
beriman dan berbuat baik, dan beramal shalih, serta peringatan bagi korban
yang masih hidup, dengan selamat, atau cacat sekalipun, serta buat semua
kita yang hidup ini dimana sajapun berada, untuk dijadikan ‘itibar.”

3. Dan sekali lagi, apa yang Allah kehendaki dari pengaku hamba-Nya adalah
jelas dan tidak samar-samar. Semua isi Al-Quran dan As-Sunnah itu adalah apa
yang Allah SWT inginkan dan kehendaki. Ingatlah Perintah-Nya, "Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah
(keseluruhannya), dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan.
Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu."(TQS Al-Baqarah : 208)



 Bertaubat Dengan Menjadikan Islam Sebagai Way Of Life



  Banyak fihak yang berpendapat bahwa negeri Indonesia, yang kita cintai
karena Allah, dilanda musibah demi musibah karena Allah hendak
memberikan ”*serious
warning*” (peringatan keras) kepada ummat Islam agar bertaubat dari berbagai
maksiat yang kian tampil secara terang-terangan.



Sejujurnya, kemaksiatan yang hadir dewasa ini di Indonesia, negeri
berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, sudah meliputi segenap aspek
kehidupan. Silahkan Anda renungkan...! Kemaksiatan alias kedurhakaan kepada
Allah dapat kita temukan dalam aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial,
budaya, media massa, pendidikan, hukum, militer dan pertahanan-keamanan.
Segenap aspek kehidupan tersebut telah dikembangkan dengan semangat
mengabaikan bagaimana sebenarnya Allah menuntut kita mengelolanya. Manusia
menyangka bahwa semua aspek hidup itu boleh dikembangkan seenaknya menurut
selera dan hawa nafsu manusia.

Meminjam bahasa saudara Adian Husaini beliau menulis sebagai berikut:



”*Kita menyaksikan, bagaimana sekelompok orang – dengan alasan kebebasan
berekspresi (**freedom of expression**) -- dengan terang-terangan menantang
aturan Allah dalam soal pakaian. Mereka menyerukan kebebasan. Mereka pikir,
tubuh mereka adalah milik mutlak mereka sendiri, sehingga mereka menolak
segala aturan tentang pakaian. Bukankah tindakan itu sama saja dengan
menantang Allah: ”Wahai Allah, jangan coba-coba mengatur-atur tubuhku! Mau
aku tutup atau aku buka, tidak ada urusan dengan Engkau. Ini urusanku
sendiri. Ini tubuh-tubuhku sendiri! Aku yang berhak mengatur. Bukan
Engkau!”  Memang, menurut Prof. Naquib al-Attas, ciri utama dari peradaban
Barat adalah ”Manusia dituhankan dan Tuhan dimanusiakan!” ((**Man is deified
and Deity humanised**). Manusia merasa berhak menjadi tuhan dan mengatur
dirinya sendiri. Persetan dengan segala aturan Tuhan!”*



Inilah ciri utama peradaban Barat alias peradaban masyarakat jahiliyah.
Kebebasan telah dituhankan sedemikian rupa sehingga Allah di-*kerdil-*kan
sedangkan manusia di-*Akbar*-kan...! Walaupun kutipan di atas hanya
menunjukkan satu contoh saja dari bentuk kemaksiatan, namun kita dapat
menemukan bahwa spirit utama ”*Manusia dituhankan dan Tuhan
dimanusiakan!” *berlaku
dalam segenap aspek hidup modern. Hal ini sedang terjadi secara global di
seluruh penjuru dunia. Indonesia tidak terkecuali. Mengingat bahwa Indonesia
dihuni oleh jumlah ummat Islam terbanyak di dunia, maka tanggung-jawab
kitapun menjadi lebih besar untuk menunjukkan di hadapan Allah bahwa kita
bukanlah ummat Islam yang sekedar bangga dengan kuantitas.



Apalah artinya jumlah yang besar dari populasi muslim dunia bilamana esensi
Islam sebagai Way of Life tidak difahami, dihayati, diamalkan apalagi
diperjuangkan? Bukankah hakikat seorang berpandangan hidup ”Islam” ialah
berserah diri kepada kehendak Allah? Bukankah misi utama da’wah Islam ialah
”membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia untuk menjadi hamba
Allah semata”?



Muhammad Qutub mengatakan bahwa di antara ciri utama suatu masyarakat layak
disebut *masyarakat jahiliyah* ialah bilamana di dalamnya tidak hadir iman
yang semestinya kepada Allah *Subhanahu wa Ta’ala*. Masyarakat tersebut
mengaku beriman, namun dalam beriman kepada Allah masyarakat itu sendiri
yang menentukan bagaimana mereka beriman kepada Allah. Mereka tidak mau
tunduk kepada bagaimana semestinya mereka beriman menurut Kehendak Allah.
Inilah yang dimaksud di dalam ayat:



 æóãóÇ ÞóÏóÑõæÇ Çááóøåó ÍóÞóø ÞóÏúÑöåö

”*Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya**...”
(QS Al-An’aam ayat 91)*



Dengan berlindung di balik faham-faham modern yang bersumber dari peradaban
Barat sebagian muslim di negeri ini telah meninggalkan Islam sebagai Way of
Life. Baik sadar maupun tidak sadar. Mereka meninggalkan berfikir dan
berperasaan menurut bagaimana yang Allah kehendaki karena mereka telah
termakan oleh faham Humanisme, Liberalisme, Sekularisme dan Materialisme.
Padahal Allah menyuruh setiap Muslim yang mengaku beriman agar men-*celup*-kan
dirinya ke dalam nilai-nilai Rabbani agar segenap fikiran dan perasaannya
senantiasa tunduk kepada Allah semata:



 ÕöÈúÛóÉó Çááóøåö æóãóäú ÃóÍúÓóäõ ãöäó Çááóøåö ÕöÈúÛóÉð æóäóÍúäõ áóåõ
ÚóÇÈöÏõæäó

”*Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik
shibghah(celupan)-nya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami
menyembah**.” (QS Al-Baqarah ayat 138)*



 Dan termasuk salah satu faham Barat yang telah menyebabkan kaum muslimin
meninggalkan Islam sebagai Way of Life ialah tentunya faham Demokrasi, suatu
faham yang secara makna bahasa saja sudah menunjukkan kesombongan manusia.
Demokrasi merupakan ringkasan dari gabungan dua kata: (*Demos*) yang berarti
rakyat dan (*kratos*) yang berarti hukum atau kekuasaan atau wewenang
membuat aturan (tasyrii’). Sedangkan ajaran Islam yang berlandaskan aqidah
Tauhid menegaskan bahwa wewenang membuat aturan (tasyrii’) ada di sisi Allah
Yang Maha Tahu dan Maha Adil.



 ãóÇ áóåõãú ãöäú Ïõæäöåö ãöäú æóáöíòø æóáóÇ íõÔúÑößõ Ýöí Íõßúãöåö ÃóÍóÏðÇ

”*...tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain daripada Allah; dan Dia
tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan**".
(QS Al-Kahfi ayat 26)*



Saudaraku, masihkah kita perlu heran mengapa bencana demi bencana Allah
tetapkan berlaku di tengah masyarakat berpenduduk muslim terbesar di dunia
dewasa ini? Sudah tiba masanya bagi kita semua untuk bertaubat dengan *Taubatan
Nasuhan* (taubat yang semurni-murninya), khususnya di dalam menjadikan Islam
sebagai satu-satunya Way of Life dalam kehidupan pribadi maupun kolektif.



Kata ”Taubat” bermakna ”kembali”, yakni kembali kepada Allah dalam segenap
hal. Maka sudah tiba masanya bagi ummat Islam terbesar jumlahnya di dunia
ini untuk kembali dan hanya kembali kepada aturan dan hukum Yang Maha Adil
lagi Maha Bijaksana, Allah *Subhaanahu wa Ta’aala*. Aturan dan hukum bikinan
manusia merupakan produk makhluk yang sarat sifat *zalim* dan *bodoh*.

Åöäóøåõ ßóÇäó ÙóáõæãðÇ ÌóåõæáðÇ



“*Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh**.” (QS Al-Ahzab ayat
72)*



Alangkah inkonsistennya bilamana dalam doa kita berkata: ”*Aku ridha Allah
sebagai Rabb, Islam sebagai Din dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul*”, namun
dalam keseharian kita masih saja mengakui dan mengagung-agungkan
faham/ajaran peradaban Barat yang sejatinya berprinsip mengingkari bahkan
mempersekutukan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Esa.



 Þõáú åõæó Çááóøåõ ÃóÍóÏñ Çááóøåõ ÇáÕóøãóÏõ áóãú íóáöÏú æóáóãú íõæáóÏú
æóáóãú íóßõäú áóåõ ßõÝõæðÇ ÃóÍóÏñ



 ”*Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia**". (QS
Al-Ikhlash ayat 1-4)*



http://eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologi/bertaubat-dengan-menjadikan-islam-sebagai-way-of-life.htm

9.10.2009.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke 
[email protected]! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke