From: Fahmi Faqih [email protected]
Date: Monday, October 12, 2009, 11:13 AM


  



KESIMPULAN FORUM TABAYYUN DAN DIALOG TERBUKA
ANTARA JARINGAN ISLAM LIBERAL DAN FORUM KIAI MUDA JAWA TIMUR
DI PP BUMI SHOLAWAT, TULANGAN, SIDOARJO, JAWA TIMUR
AHAD, 11 OKTOBER 2009

Dewasa ini sedang berlangsung perang terbuka dalam pemikiran (ghazwul fikri) 
pada tataran global. Melalui sejumlah kampanye dan agitasi pemikiran seperti 
perang melawan terorisme dan promosi ide-ide liberalisme politik dan ekonomi 
neo-liberal, Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia berupaya menjinakkan 
ancaman kelompok-kelompok radikal, memanas-manasi pertikaian di antara kelompok 
radikal dan moderat dalam tubuh umat Islam, serta menyeret umat Islam dan 
bangsa ini ikut menjadi proyek liberal mereka.
Dengan memperhatikan perkembangan global tersebut, dan terdorong oleh 
kepentingan membela Tradisi Ahlussunnah Waljamaah yang dianut oleh Warga NU 
sebagai bagian dari identitas dan jatidiri bangsa ini, Forum Kiai Muda Jawa 
Timur memberikan kesimpulan tentang hasil-hasil dialog dengan Jaringan Islam 
Liberal (JIL) sebagai berikut:

1. Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang 
sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa 
kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai 
pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu 
(zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir 
masyarakat bangsa ini.

2. Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar kemapanan 
beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin. Cara-cara membongkar kemapanan itu 
dilakukan dengan tiga cara: (1) Liberalisasi dalam bidang aqidah; (2) 
Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran; dan, (3) Liberalisasi dalam 
bidang Syariat dan Akhlaq.

3. Liberalisasi dalam bidang aqidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua 
agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan aqidah Islam 
Ahlussunnah Waljamaah. Warga NU meyakini agama Islam sebagai agama yang paling 
benar, dengan tidak menafikan hubungan yang baik dengan penganut agama lainnya 
yang memandang agama mereka juga benar menurut mereka. Sementara ajaran 
pluralisme yang dimaksud JIL berlainan dengan pandangan ukhuwah wathaniyah yang 
dipegang NU yang mengokohkan solidaritas dengan saudara-saudara sebangsa. NU 
juga tidak menaruh toleransi terhadap pandangan-pandangan imperialis 
neo-liberalisme Amerika yang berkedok “pluralisme dan toleransi agama”.

4. Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran yang diajarkan JIL, misalnya 
al-Quran adalah produk budaya dan keotentikannya diragukan, tentu berseberangan 
dengan pandangan mayoritas umat Islam yang meyakini al-Quran itu firman Allah 
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan terjaga keasliannya.

5. Liberalisasi dalam bidang syari’ah dan akhlaq dimana JIL mengatakan bahwa 
Hukum Tuhan itu tidak ada, jelas bertolak belakang dengan ajaran Al Qur’an dan 
Sunnah yang mengandung ketentuan hukum bagi umat Islam. JIL juga mengabaikan 
sikap-sikap tawadhu’ dan akhlaqul karimah kepada para ulama, kiai. JIL juga 
tidak menghargai tradisi pesantren sebagai modal sosial bangsa ini dalam 
mensejahterakan bangsa dan memperkuat Pancasila dan NKRI.

6. Ide-ide liberalisasi, kebebasan dan hak asasi manusia (HAM) yang diangkat 
oleh kelompok JIL dalam konteks NU dan pesantren tidak bisa dilepaskan dari 
Neo-Liberalisme yang berasal dari dunia kapitalisme, yang mengehendaki agar 
para kiai dan komunitas pesantren tidak ikut campur dalam menggerakkan 
tradisinya sebagai kritik dan pembebasan dari penjajahan dan kerakusan kaum 
kapitalis yang menjarah sumber-sumber daya alam bangsa kita.. 

7. JIL cenderung membatalkan otoritas para Ulama Salaf dan menanamkan 
ketidakpercayaan kepada mereka, sementara di sisi lain mereka mengagumi 
pemikiran orientalis Barat dan murid-muridnya seperti Huston Smith, John Shelby 
Spong, Nasr Hamid Abu Zaid dan sebagainya. 

8. Menghadapi Pemikiran-pemikiran JIL tidak dilawan dengan amuk-amuk dan 
cara-cara kekerasan, tapi harus melalui pendekatan yang strategis dan taktis, 
dengan dialog-dialog dan pencerahan.

Forum Kiai Muda Jawa Timur,
Tulangan, Sidoarjo, 11 Oktober 2009 

[Non-text portions of this message have been removed]

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke