----------------------------------------------------------------
Hari-hari Mendatang Anak Kita


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Kalau hari ini kita masih ingat agama, dan merelakan keringat kita di
jalan-Nya, maka itu boleh jadi bukan keberhasilan kita. Kalau hari
ini kita ingat tentang tanggung jawab sesudah mati, sangat mungkin
bukan karena kebaikan yang sepenuhnya lahir dari kesadaran kita.
Boleh jadi itu semua bukan merupakan prestasi kita sendiri, melainkan
orangtua kita. Mereka menanam benih-benihnya, lalu tumbuh mengakar di
dada kita. Atau para guru kita yang tulus menyemainya! , lalu Allah
kokohkan dalam hati kita.

Historia vitae magistra, begitu kata pepatah. Sejarah atau pengalaman
adalah guru terbaik kehidupan. Orang-orang yang mengambil pelajaran
dari mereka yang telah mendahului kita, insya Allah akan tahu
bagaimana memaknai tugas hidup sebagai orangtua. Dari perjalanan saya
ke Timur dan ke Barat, saya melihat betapa tak bergunanya kebanggaan
terhadap kreativitas dan kecerdasan anak, ketika mereka tidak tahu
jalan hidup yang harus ditempuh. Bahkan ilmu agama yang tinggi pun
akan sia-sia kalau mereka tidak mempunyai harga diri yang bersih
serta tujuan hidup yang pasti. Betapa banyak anak-anak yang memiliki
keluasan ilmu agama, tetapi karena kita salah menanamkan tujuan,
mereka justru menjadi pembawa kesesatan dengan ilmu yang ada pada
dirinya.

Ada hadis yang sangat sering kita ingat, tetapi sangat jarang menjadi
landasan kita dalam berbuat. Rasulullah shallaLlahu alaihi wasallam
pernah mengingatkan kita, "Sesungguhnya setiap ama! l tergantung dari
niatnya -dalam riwayat lain: tergantung dari niat-ni atnya-dan
sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan.
Barangsiapa yang hijrahnya (diniatkan) kepada Allah dan rasul-Nya,
maka hijrahnya adalah kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa
hijrahnya (diniatkan) kepada dunia yang ingin diraihnya atau
perempuan yang ingin dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya adalah
kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya itu." (HR. Bukhari, Muslim,
Abu Dawud, Turmudzi & An-Nasai).

Banyak orangtua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena
kepandaiannya mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus.
Banyak orangtua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut
pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata
yang membawa kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orangtua.
Di antara mereka ada yang selalu membasahi penghujung malam dengan
airmata untuk merintih kepada Allah Azza wa Jalla. Di antara mereka
ada pula yang menyertai langkah-langkahnya dengan niat yang lurus dan
be! rsih.

Kadang seperti tak berkait langsung. Tetapi amal bergantung pada
niatnya. Seorang ibu menyedekahkan hartanya karena mengharap ridha
Allah dan penjagaan iman atas anak-anaknya, lalu Allah tegakkan
dinding di hati anak sehingga tak terjangkau oleh kerusakan yang ada
di sekitarnya. Boleh jadi seorang istri bersikeras meminta suaminya
mensucikan harta, lalu Allah sucikan hati anak-anak mereka dari
keruhnya hati dan kotornya pikiran. Boleh jadi pula ada bapak-bapak
yang sibuk dengan perkara yang seakan tak bersentuhan dengan agama,
tetapi sesungguhnya ia sedang menolong agama Allah, sehingga Allah
berikan pertolongan kepada mereka. Allah datangkan pertolongan kepada
mereka dengan jalan yang tak terduga.

Teringatlah saya dengan firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman,
jika kamu menolong (agama) Allah, pasti Dia akan menolongmu dan
meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7).

Ya Allah, alangkah masih sering lalai hati kita. Kita berbuat, tapi
tanpa berniat. Bahkan di saat kita sedang sibuk berbicara agama
pun, yang memenuhi hati seringkali bukan niat yang bersih. Akibatnya
hati kita risau dan jiwa kita gelisah. Alih-alih membincangkan agama,
yang ada justru perdebatan yang mengeraskan hati. Inilah antara lain
yang menyebabkan sebagian ulama hilang kharismanya.

Astaghfirullahal adzim. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
Di zaman ketika wibawa sebagian ulama semakin rapuh, rasanya kita
perlu menguatkan hati anak-anak kita. Di masa ketika masjid-masjid
justru sibuk mengundang artis, kita perlu memperbanyak amal untuk
memohon barakah Allah bagi kebaikan hidup kita dan anak-anak kita.
Sesungguhnya Allah yang menggenggam hati manusia.

Semoga Allah mengampuni kelalaian kita. Semoga pula Allah
menggerakkan hati kita untuk lebih mengingat-Nya, sehingga apa pun
yang kita kerjakan mempunyai nilai di hadapan Allah.

Telah berlalu masa orang-orang terdahulu. Setiap saat masa beralih
dan zaman bertukar. Orang-orang yang dahulu berteriak lantang,
sekarang mungkin sudah tinggal tulang belulang. Anak-anak yang dulu
lucu-lucu, sekarang mungkin sudah menjadi penyejuk kalbu yang membawa
haru karena tulusnya perjuangan mereka. Tetapi sebagian lagi mungkin
justru menjadi penyebab airmata pilu para orangtua. Anak-anak yang
dulu mengeja abatatsa, sekarang mungkin sedang aktif berdakwah.
Tetapi sebagian lagi mungkin justru sedang sibuk menjual agama...

Masa berganti, zaman bertukar. Hanya hukum Allah yang tak pernah
berubah, meskipun kita menggantinya setiap saat. Allah menyuruh kita
mengambil pelajaran dari mereka yang telah pergi; baik mereka yang
meninggalkan kebaikan maupun mereka yang membawa keburukan. Di
dalamnya, ada hukum sejarah yang patut kita catat.

Ya... masa terus berganti. Kita tak bisa meminta anak-anak untuk
menjadi seperti kita. Seperti nasehat Ali bin Abi Thalib karamallahu
wajhahu, kita didik anak-anak kita untuk sebuah zaman yang bukan
zaman kita. Terserah mereka akan jadi apa, yang penting aqidah, iman,
dan komitmen mereka! sama dengan kita atau lebih teguh lagi.

Zaman bertukar dan dunia terus berubah. Pada masa kita kecil, alat
pengirim berita paling cepat adalah telegram. Sekarang, ketika kita
belum terlalu tua, telegram sudah tidak dipakai lagi. Telegram sudah
menjadi teknologi yang ketinggalan zaman. Sekarang melalui perangkat
kecil di tangan yang bernama komunikator, berita dari manca negara
lengkap dengan fotonya bisa kita akses setiap saat. Anak-anak yang
masih ingusan bisa mendapatkan ilmu-ilmu berharga lewat internet
dengan kecepatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tetapi
pada saat yang sama, lihatlah di bilik-bilik warnet itu, bagaimana
sejumlah anak kaum Muslimin sedang terombang-ambing di hadapan situs-
situs porno.

Kita mungkin bisa mencegah dengan kekuasaan atas anak-anak itu.
Tetapi apa yang sanggup kita kerjakan sesudah kita tiada? Tak ada.
Itu sebabnya kita mulai perlu berpikir tentang bekal buat anak-anak
kita sesudah jasad terkubur tanah. Allah subhanahu wa taala
mengingatkan, "Dan hendaklah orang-orang pada takut kal! au-kalau di
belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan
mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada
Allah dan berkatalah dengan qaulan sadidan (perkataan yang benar)."
(QS. An-Nisaa: 9).

Di tempat ini, kita sudah pernah berbincang tentang qaulan sadidan.
Adapun tentang takwa, rasanya tak ada yang dapat saya sampaikan. Iman
masih lemah, ilmu nyaris tak ada, sementara amal hampir-hampir tak
ada yang dapat dibanggakan. Ingin sekali saya berpesan tentang taqwa,
tetapi saya lihat hati ini masih amat keruh. Padahal ketika Allah
berpesan agar kita takut kalau-kalau di belakang hari meninggalkan
generasi yang lemah, hanya dua yang menjadi jalan keluarnya, yakni
taqwa dan berbicara dengan perkataan yang benar.

Inilah dua hal yang amat sederhana, tetapi butuh perjuangan yang tak
pernah usai. Seperti anak-anak kita kelak, setiap saat bertarung pada
diri kita bisikan-bisikan kepada kesesatan dan bisikan-bisikan taqwa.
Fa alhamaha fu! juraha wa taqwaha.

Dua hal itulah yang dapat kita harapkan menjadi bekal bagi anak-anak
kita kelak. Bukan psikologi. Bukan sosiologi.
 
Semoga Allah kuatkan iman kita. Semoga pula Allah memperjalankan kita
dalam taqwa kepada-Nya. Semoga setiap langkah kita membawa kepada
ridha-Nya dan meninggalkan bekas yang mantap di hati anak-anak dan
keturunan kita, sehingga mereka senantiasa memenangkan bisikan
taqwanya.

Selebihnya, ada yang harus kita benahi. Tentang iman kita. Tentang
ilmu kita. Juga tentang amal-amal kita.
Hari-hari mendatang anak kita, di tengah tantangan yang semakin
menakutkan, semoga dapat memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa
ilaaha illaLlah. Semoga Allah memperjalankan mereka sebagai penolong-
penolong-Nya. Allahumma amin
 
 
         

This e-mail is confidential and may contain legally privileged information. If 
you are not the intended recipient, you should not copy, distribute, disclose 
or use the information it contains. Please e-mail the sender immediately and 
delete this message from your system. E-mails are susceptible to corruption, 
interception and unauthorized amendment; we do not accept liability for any 
such changes, or for their consequences. You should be aware, that PT TITAN 
Petrokimia Nusantara might monitor your e-mails and their content.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke