Assalamu'alaikum wr wb,

Amar Ma’ruf Nahi Munkar - Memerintahkan Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran

Islam bukanlah agama individual/nafsi-nafsi yang hanya mementingkan diri 
sendiri. Namun juga merupakan agama sosial di mana setiap anggota masyarakat 
harus melakukan kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar terhadap sesama. Menyuruh 
mengerjakan kebaikan dan Mencegah perbuatan mungkar.
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,  kecuali 
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati 
dengan kebenaran dan nasihat menasihati dengan kesabaran.” [Al ‘Ashr 2-3]
Dari surat Al ‘Ashr di atas jelas. Selain beriman dan mengerjakan perbuatan 
baik, kita juga harus nasehat-menasehati dengan kebenaran dan kesabaran. 
Artinya kita tidak bisa diam saja melihat kemungkaran, namun dengan sabar terus 
menasehati agar orang-orang lain juga ikut berbuat baik dan benar dan 
menghentikan perbuatan mungkar.
Allah menyebut orang yang shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat 
kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagai penolong agamaNya
“Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya 
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan 
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala 
urusan.” [Al Hajj 41]
Luqman juga menyuruh anaknya untuk menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah 
perbuatan mungkar dan bersabar terhadap resiko yang mungkin dihadapi karena itu.
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan 
cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang 
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan 
(oleh Allah).” [Luqman 17] 
Jika kita tidak mau melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, maka Allah akan 
menyiksa kita dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan tidak 
mengabulkan segala doa kita:
 Hendaklah kamu beramar ma'ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar 
(melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu 
orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang 
baik-baik di antara kamu berdo'a dan tidak dikabulkan (do'a mereka). (HR. Abu 
Zar)
Allah mengutuk para pendeta Yahudi dan Nasrani karena mereka meninggalkan amar 
ma’ruf dan nahi munkar dan menyiksa mereka dengan bencana dan malapetaka.
 Wahai segenap manusia, menyerulah kepada yang ma'ruf dan cegahlah dari yang 
mungkar sebelum kamu berdo'a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum 
kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar ma'ruf tidak mendekatkan ajal. 
Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib Nasrani ketika mereka meninggalkan amar 
ma'ruf dan nahi mungkar, dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka. 
Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka. (HR. Ath-Thabrani) 

Kita wajib melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta saling 
nasehat-menasehati. Tidak ada yang maksum selain Nabi. Oleh karena itu, manusia 
biasa, ustadz, ulama, atau murobbi dan sebagainya, jika keliru, kita wajib 
mengkoreksinya. Jika tidak, maka nasib kita seperti para Rabi Yahudi dan Rahib 
Nasrani yang dilaknat Allah. Jika kemaksiatan dan kemungkaran merajalela, maka 
Allah menurunkan siksa yang tidak hanya menimpa orang yang zalim saja. 
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang 
yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras 
siksaan-Nya.” [Al Anfaal 25]
Bahkan pada shalat pun meski kita telah memilih Imam (pemimpin) yang paling 
alim dan paling saleh misalnya seperti Nabi Muhammad, tetap saja kita 
berkewajiban mengingatkan Imam jika mereka salah atau lupa dalam shalat. 
Apalagi jika manusia itu di bawah level Nabi seperti wali, ulama, murobi, dan 
sebagainya. Ini Nabi sendiri yang memerintahkan.
Bahkan Nabi menyatakan bahwa jihad paling utama adalah menyampaikan kebenaran 
di depan penguasa yang zalim dan kejam meski dia menanggung resiko hukuman yang 
amat berat. 
Jihad paling afdhol ialah menyampaikan perkataan yang adil di hadapan penguasa 
yang zalim dan kejam. (HR. Aththusi dan Ashhabussunan)
Nabi menyatakan bahwa jika kita melihat kemungkaran, hendaknya kita merubah 
dengan tangan kita. Jika tidak mampu dengan lisan (ucapan) atau pun tulisan 
kita. Jika tidak mampu juga dengan hati (diam dan membenci dalam hati). Namun 
itu adalah selemah-lemahnya iman. Dengan hati ini artinya membenci dalam hati. 
Jika mampu dia akan merubahnya dengan lisan atau pun tangan.
“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendalah ia merobah dengan tangannya. 
Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak 
mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah. (HR. 
Muslim)
Sayang saat ini sebagian ummat Islam yang untuk diam saja tidak mampu. 
Melainkan turut serta mendukung kemungkaran baik dengan lisan/tulisan mau pun 
tangan.. Sebagai contoh meski Neoliberalisme yang diusung kaum kapitalis Yahudi 
dan Nasrani bertentangan dengan Islam,  sebagian ummat Islam justru 
mendukungnya karena kebodohannya. Begitu juga aliran sesat banyak yang 
berkembang dan didukung keberadaannya oleh sebagian Muslim. 
Ashobiyyah/fanatisme golongan/nasionalisme kebablasan yang memecah-belah ummat 
Islam di seluruh dunia hingga saling bunuh satu sama lain juga harus dicegah 
sekuat kita.
Seandainya seseorang dapat hidayah melalui kita, maka itu sangat baik bagi kita.
“Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik 
bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.(HR. 
Bukhari dan Muslim)
Nabi berkata bahwa bukanlah dari golongan Nabi orang yang tidak mau beramar 
ma’ruf nahi munkar.
Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak mengasihi dan menyayangi yang 
lebih muda, tidak menghormati orang yang lebih tua, dan tidak beramar ma'ruf 
dan nahi mungkar. (HR. Tirmidzi)
Tentu saja dalam beramar ma’ruf nahi mungkar kita harus melakukannya dengan 
cara sebaik-baiknya sehingga tidak menyebabkan orang banyak menjauh. 
Permudahlah (segala urusan), jangan dipersulit dan ajaklah dengan baik, jangan 
menyebabkan orang menjauh. (HR. Bukhari)
Allah mengajarkan kita untuk berdebat dengan cara yang paling baik.
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang 
paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka..” [Al ‘Ankabuut 
46]
“Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik 
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...” [An Nahl 125]
Bahkan jika perlu, karena menolaknya dengan cara yang sangat baik, akhirnya 
orang yang kita cegah itu berubah jadi teman yang setia.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.. Tolaklah (kejahatan itu) dengan 
cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada 
permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. 
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang 
sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai 
keuntungan yang besar.” [Fushshilat 34-35]
Tentu saja jika kita diserang, kita wajib membela diri. Namun dengan cara-cara 
yang baik sehingga orang banyak yang simpati. Bukan dengan cara yang 
menimbulkan kebencian orang banyak. Nabi Muhammad SAW sudah membuktikannya 
sehingga orang yang dulu jadi musuhnya seperti Umar ra, Khalid bin Walid, 
Wahsyi, Abu Sofyan, dan sebagainya berubah menjadi sahabatnya.
Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar 
kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah-lembut dalam menyuruh dan dalam 
melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang dan adil terhadap apa 
yang harus dilarang. (HR. Ad-Dailami)
Tapi untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kita harus melaksanakannya dulu. 
Ibda bi nafsik! Mulailah dari diri kita sendiri, kemudian baru menyuruh orang 
lain. Jika tidak, resikonya adalah dilempar ke neraka.
Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang 
bertanya, "Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang 
yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah perbuatan mungkar?" Orang tersebut 
menjawab, "Ya benar, dahulu aku menyuruh berbuat ma'ruf, sedang aku sendiri 
tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku sendiri 
melakukannya." (HR. Muslim)
 Dalam memberi nasehat juga harus ada hari liburnya agar mereka tidak 
jenuh/bosan.
Nabi meniadakan pemberian pelajaran untuk beberapa hari karena khawatir 
kejenuhan kami. (HR. Ahmad)
Allah baru menyiksa manusia jika mereka sudah tidak mau mencegah kemungkaran 
yang ada di hadapannya. 
Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla tidak menyiksa orang awam karena perbuatan 
dosa orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat mungkar di hadapan mereka 
dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya. Kalau mereka 
berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam seluruhnya. (HR. 
Ahmad dan Ath-Thabrani)
Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang paling 
banyak menasehati sesama (tentunya sesudah dia sendiri mengamalkannya).
Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah yang 
paling banyak berkeliling di muka bumi dengan bernasihat kepada manusia 
(makhluk Allah). (HR. Ath-Thahawi)
Perintah Allah jelas: Menyuruh orang berbuat baik dan mencegah perbuatan yang 
mungkar. 
Pada suatu hari Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya: "Kamu kini 
jelas atas petunjuk dari Robbmu, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari 
yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian muncul di kalangan kamu dua 
hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa diri) dan kebodohan. Kamu 
beralih kesitu dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi yang 
demikian kamu tidak akan lagi beramar ma'ruf, nahi mungkar dan berjihad di 
jalan Allah. Di kala itu yang menegakkan Al Qur'an dan sunnah, baik dengan 
sembunyi maupun terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang 
pertama-tama masuk Islam. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
Namun tidak jarang orang karena kemewahan hidup dan cinta dunia akhirnya tidak 
mau lagi beramar ma’ruf nahi munkar. Bahkan karena mendapat uang atau jabatan, 
tidak segan-segan mereka justru mendukung kemungkaran dan mencegah perbuatan 
baik.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah 
syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya 
syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar...” [An 
Nuur 21]
Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT sehingga bisa mengerjakan 
perbuatan baik dan menjauhi kemungkaran serta mengajarkannya kepada orang lain.
Sumber: 
1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema 
Insani Press
Al Qur’an Digitan dan Hadits Web yang bisa didownload di www.media-islam.or.id


===
Media Islam - Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id


      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke