Sahabat, Jangan lewat tulisan ini ya, Bagus sekali dibaca
MK
--- On Thu, 10/22/09, Yahya, Imas (BECA)
<imas.ya...@valeinco .com> wrote:
Menengok Keserakahan Indonesia dari Bumi India
oleh Syaifoel Hardy Jumat, 09/10/2009 08:05 WIB
Dalam sebuah ceramah akbar di Dubai-UAE beberapa tahun lalu, saya sempat
bertanya kepada Dr. Zakir Naik, ulama besar asal India, ahli perbandingan agama
yang tersohor namanya. Subyek pertanyaan saya adalah mengapa Islam boleh dikata
tidak berhasil di India padahal India pernah di bawah sebuah kerajaan besar
Islam, misalnya kekaisaran Mughal yang terkenal dengan Taj Mahal, atau Kerajaan
Mysore yang terkenal pula dengan Isnata Maysore yang terindah didunia, bahkan
melebihi Istana Birmingham. Dr. Zakir Naik menjawab, bahwa petinggi-petinggi
kerajaan Islam di India waktu itu lebih memfokuskan kepada bangunan-bangunan
fisik ketimbang dakwah Islam. Itulah salah satu faktor utama mengapa Islam
malah menjadi minoritas di sana .
Ingin mengetahui lebih dekat jejak-jejak kebesaran Islam di India inilah yang
menjadi salah satu motivasi saya untuk ingin melihat dari dekat apa dan
bagaimana sebenarnya India . Disamping tentu saja banyak hal yang
melatar-belakangi kunjungan saya, misalnya silaturahim dengan rekan-rekan kerja
saya yang sudah mengundurkan diri, melihat institusi pendidikan serta mencari
buku-buku India sesuai dengan profesi saya.
Banyak hikmah yang bisa dipetik dari rangkaian perjalanan saya selama dua
minggu di India , di empat negara bagian: Karnataka, Kerala, Delhi dan Uthar
Pradesh. Jika dijabarkan satu persatu, terlalu panjang untuk diungkap di sini.
Yang saya ingin soroti, dan semoga membawa hikmah bagi kita adalah, bahwa
meskipun India kelihatannya miskin (padahal pertumbuhan ekonominya di atas
Indonesia ), nyatanya tidak semiskin yang kita sangka. Malah bumi kita yang
dari kacamata saya, yang mestinya amat kaya raya ini, dihuni oleh orang-orang
serta kepemimpinan bangsa yang serakah.
*****
Saya mendarat di Bandara Internasional Bajpe-Karnataka, dua hari sebelum Hari
Raya Idul Fitri. Tidak ada kesan bahwa bulan itu adalah Bulan Suci Ramadan.
Maklum , India mayoritas penghuninya adalah umat Hindu. Saya sendiri berbuka
puasa di atas pesawat, dengan suguhan Upuma dan Wadha. Dua makanan tradisional
India yang amat murah harganya. Itu pun, sebenarnya jatah makan siang yang saya
taruh di depan kursi pesawat untuk bekal berbuka. Saya tahu, mereka tidak akan
menyiapkan untuk yang berpuasa. Lagi pula, budget airline seperti Air India
Express yang kami tumpangi tidak memberikan pelayanan istimewa kepada
penumpang.
Bandara Internasional Mangalore ini amat sederhana. Orang-orangnya tertib antri
menunggu giliran pengecekan Flu Babi oleh petugas kesehatan. Tidak terlalu lama
prosesnya. Saya segera keluar menuju kota Karkala, sebuah kota kecil sekelas
kecamatan di negeri kita, sekitar 75 km dari bandara. Seorang rekan lama
bersama keluarganya menjemput saya. Malam itu bandara diguyur gerimis.
Zahoor Ahmad, nama rekan saya, bersama keluarganya, begitu ramah menyambut
kedatangan saya diteruskan dengan hari-hari berikutnya menjamu saya sebagai
tamu. Mulai dari makanan, diantarkannya saya ke sejumlah tempat bersejarah
serta wisata, menikmati suasana Lebaran di daerahnya, serta tentu saja
mengunjungi sanak familinya di sejumlah kota .
*****
Kekaguman di hari pertama saya terhadap orang-orang India (setidaknya itu yang
saya temui di rumah Zahoor) adalah, binatang-binatang sekelas Burung Merak,
berterbangan di halaman rumah. Bahkan masuk ke ruang tamu serta dapur. Padahal
burung-burung indah ini tidak dipelihara alias liar. Orang India sepertinya
tidak terbiasa memiliki burung-burung dalam sangkar. Atau pemerintah memang
tidak mengijinkan, wallahu a’lam!
Di kota-kota lain yang saya kunjungi, seperti Kannur, Calicut, Mangalore,
Maysore, Agra, Bangalore hingga Ibu Kota Delhi, juga saya tidak melihat
orang-orang yang memelihara binatang-binatang langka di rumahnya. Barangkali
hal ini yang membuat binatang-binatang atau burung-burung ini akrab dengan
manusia-manusia India . Anak-anaknya Zahoor bahkan dengan akrabnya memberikan
makanan pada Burung Merak. Padahal rumah indahnya tidak terletak di tengah
hutan belantara seperti Papua. Burung-burung seperti Jalak, Merpati, Camar
hingga Tupai yang beragam warnanya, saya temui di banyak tempat berkeliaran
yang membuat lingkungan kita merasa asri.
Saya sering mendengar atau membaca di Koran tentang keburukan politisi India .
Tapi rasanya tidak sebanding dengan di negeri kita utamanya dalam soal
pemeliharaan lingkungan hidup. Saya pernah melihat sungai kotor di Delhi . Tapi
pemandangan yang sama tidak saya temukan di kota-kota lainnya. Di Kannur
misalnya, sungai masih hijau dan jernih. Padahal sungai besar, lebarnya tidak
kurang dari 200 meter. Bau selokan di kota-kota India , tidak seperti yang saya
temui di Jakarta atau Surabaya .
Hal ini pertanda bahwa orang-orang India tidak serakah terhadap kekayaan alam
atau ingin memilikinya. Hutan Papua milik kita, gunung emas di sana ‘dirampok’
dan digadaikan ke orang asing. Orang kita secara sembunyi-sembunyi atau
terang-terangan juga memeliharan binatang atau burung-burung langka, sebagai
bagian dari kebanggaan mereka. Saya tidak melihat, jangankan pasar burung,
orang jualan sangkar saja sulit ditemui, meski mungkin saja ada di sana .
Pabrik-pabrik di negeri kita banyak yang (Baca: dengan ‘seijin’ penguasa)
seenaknya membuang limbah.
*****
Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah cara berpakaian orang India . Kita
memang tahu, orang India suka mengenakan Sari, pakaian tradisional kaum Hawa
yang melingkar di tubuh. Bagi kaum Hindu, memang tidak seluruh tubuh tertutup.
Sebagian (maaf) perut, terbuka. Namun tidak semua orang Hindu mengadopsi cara
mengenakan Sari seperti ini, terutama kaum mudanya. Apalagi Muslimah India .
Tertutup. Laki-laki India juga bangga mengenakan Shalwar Gameez atau Kurta atau
Dhoti dan lain-lain pakaian tradisional. Zahoor member saya Kurta yang saya
kenakan pada saat Lebaran.
Perempuan India , betapapun dari kalangan modern di tengah kota , bangga dengan
pakaian tradisional mereka. Sutera di India jauh lebih murah dibanding
Indonesia . Kekayaan tekstil yang dimiliki India menjadikan salah satu modal
mereka tidak tergoyah ingin meniru dengan pola berpakaian ala Barat. Sekalipun
kita tahu di film-film India banyak yang berpakaian seronok. Tapi dalam
kehidupan sehari-hari, tidak demikian yang saya temui. Apalagi pakaian mini
seperti yang kita temui di negeri ini. Sepertinya tabu, jika anak-anak atau
perempuan-perempuan mereka mengenakan rok mini atau celana ketat. Padahal dalam
segi pendidikan dan pergaulan, keponakan-keponakan atau saudara Zahoor
misalnya, banyak yang berpendidikan tinggi setingkat dokter dan insinyur,
mereka tidak tergiur dengan pola pakaian Barat yang mati-matian kita adop di
negeri kita.
*****
Budaya konsumsi orang India juga tidak seperti yang kita lihat dalam film-film
mereka. Di Karkala, di tengah pasar, saya sulit mendapatkan kertas Tissue.
Setelah mengunjungi 10 toko, baru saya mendapatkannya. Itupun sudah usang dan
kartun pembungkusnya pun robek. Orang sana tidak tergiur dengan budaya
menggunakan tissue. Mereka lebih senang mengantongi sapu tangan. Lagi pula di
rumah-rumah, apakah itu di bagian depan, samping atau belakang, umumnya
tersedia pipa air untuk cuci tangan atau kaki. Di ruang makan juga tersedia
wastafel atau tempat cuci tangan. Jadi mengapa harus menyediakan tissue?
Barangkali begitulah pola pikir mereka.
Pasar India tidak seterbuka pasar kita memang. Barang-barang yang ada di sana
mayoritas buatan dalam negeri. Sepanjang perjalanan saya di empat negara bagian
ini, jarang sekali saya menemui kendaran Toyota . Sesekali saya memang jumpai
Innova. Selebihnya, entahlah, orang India lebih bangga mengendarai Maruti, Tata
serta Bajaj, hasil rakitan mereka sendiri yang tidak semewah Corolla atau BMW.
India begitu bangga dengan hasil karya mereka sendiri serta tidak silau dengan
buatan orang lain, apakah itu Jerman, Amerika hingga Jepang. Mulai dari
pakaian, makanan, bahan bangunan, hingga gaya hidup. India tidak serakah dengan
gemerlap dari luar pagar negara di anak benua Asia bagian Selatan ini.
*****
Saya menyempatkan melihat buku-buku pelajaran milik dua anak rekan saya,
bernama Zaman (kelas dua SMP) dan Zeeshan (kelas 2 SMA). Buku-buku mereka
nampak sederhana sekali. Kualitas kertas nya tidak sebagus sebagian besar
anak-anak sekolah kita. Saya menemui seorang Dekan di Universitas Manipal
dengan mudah. Pula diterima oleh sekretarisnya penuh keramahan. Padahal saya
hanyan ingin mmendapatkan sekedar informasi. Di perguruan tinggi kita, jangan
harap diterima seorang dekan untuk urusan yang satu ini.
Saya mengunjungi sebuah perguruan tinggi terkenal, Manipal University di kota
Manipal. Gedungnya tidak mentereng. Ruang-ruang kuliahnya tidak ber-AC, padahal
jika musim panas tiba, suhunya bisa mencapai lebih dari 40 derajat. Berarti
panas sekali. Bangku-bangku kayu juga sudah tua untuk ukuran kita, yang bisa
diduduki oleh 4 mahasiswa. Dosen-dosen mereka juga kelihatan sederhana. Hal ini
bisa saya ketahui lewat pola pakaian mereka serta tentu saja kendaraannya.
Biaya sekolah hingga kuliah tergolong murah sekali. Mengantongi MBA dalam dua
tahun hanya menelan biaya sekitar Rp 10 juta, sebuah jumlah yang amat sedikit
di negeri kita untuk program pasca sarjana. Uang saku Zaman, ketika saya tanya,
dia bilang hanya diberi Ibunya Rupees 150 (tidak lebih dari Rp 40 ribu) per
bulan. Berarti hanya Rp 1000 per hari. Apa artinya Rp 1000 di negeri ini? Dia
juga berangkat ke sekolah dengan sandal saja. Tapi kemampuan Bahasa Inggrisnya
‘ngewes’, selancar anak-anak kita berbicara Bahasa Jawa saja di
kampung-kampung.
Buku-buku India murah sekali. Saya belanja tidak kurang dari 18 kg untuk
buku-buku yang sulit mendapatkannya di Tanah Air. Buku-buku profesi yang saya
dapatkan dari sana hanya tersedia kalau mau ke Amerika Serikat atau Inggris
saja. Buku terbitan India terkesan tidak serakah mengambil keuntungan. Saya
jadi heran, kebijakan apa yang diambil oleh generasi-generasiny a Jawaharal
Nehru ini, sehingga pendidikan tinggi mudah terjangkau serta buku yang teramat
murah, tapi kualitas lulusannya bisa duduk di NASA-USA, terbang ke bulan dan
jadi dosen-dosen di banyak universitas ternama di Negeri Paman Sam.
*****
Tempat rekreasi rata-rata murah sekali tiketnya. Padahal kelasnya tidak
tanggung-tanggung. Taj Mahal, biaya masuknya hanya Rupees 20 atau hanya sekitar
Rp 5 ribu. Coba kalau kita mau masuk Taman Mini atau Ancol? Bandingkan kelasnya
dengan Taj Mahal!
Pemerintah India tidak rakus terhadap perolehan hasil pajak dari pariwisata
sebagaimana di negeri kita. Travel package pula itungannya murah sekali. Di
Delhi, mengunjungi 10 tempat wisata, hanya bayar tidak lebih dari Rp 100 ribu,
naik bis Volvo ber-AC. Travel agent tidak terkesan serakah mengambil keuntungan
banyak dari pelanggan. Padahal, kami diantar oleh guide-guide professional.
Sebagian tempat wisata malah tidak ditarik iuran (karcis) masuk sama sekali.
Saya jadi heran, bagaimana dengan biaya pemeliharaan tempat-tempat ini? Padahal
mereka punya tukang-tukang pembersih atau tukang sapu yang kebanyakan
perempuan-perempuan bersari. Meski keamanan amat ketat di banyak tempat, tapi
petugas keamanan India tersekan ramah terhadap pengunjung. Saya tidak menemui
pengalaman yang kurang atau tidak mengenakkan sama sekali selama mengunjungi
tempat-tempat wisata ini.
*****
India memang bukan negara kaya. Orang miskin banyak sekali. Banyak tempat juga
kurang terpelihara. Jalan-jalan juga banyak yang berlubang. Bangunan di Delhi
juga tidak semegah di Jakarta . Komunal konflik juga acapkali marak. India
barangkali bukan sebuah percontohan. Maklum, jumlah penduduknya lebih dari 5
kali jumlah penduduk Indonesia . Meski demikian, saya tidak melihat pengemis
yang berkeliaran di sana-sini. Saya tidak melihat satu pengemis pun datang ke
rumah Zahoor, Abdul Karim Mohammad Koya atau Abdul Azeem. Saya melihat ada
pengemis di kota-kota. Tapi juga tidak ‘gentayangan’ seperti di negeri kita
yang acapkali mengganggu pengguna jalan, masuk bis-bis, mengetuk jendela mobil
hingga ngebel rumah kita yang bisa jadi lebih dari 5 kali sehari.
Tukang amen atau pemusik jalanan? Meski India amat terkenal dengan musik,
lagu-lagu dan tarian-tariannya, saya tidak melihat tukang amen atau pemusik
atau penyanyi jalanan ini di mana-mana. Tidak pula saya temui satu kali pun
mareka masuk di dalam bis atau kereta api. Apalagi mereka yang naruh kotak amal
di tengah jalan, tidak pernah saya jumpai.
Di negeri kita? Dalam perjalanan Malang-Surabaya, yang sepanjang 70 km, anda
bisa menemui sebanyak angka itu pula yang namanya pemusik dan pengemis. Saya
tidak membela pemusik atau pengemis atau penjaja makan di India . Tapi itulah
kenyataannya. Mereka tidak serakah mencari pasar. Saya tidak pernah merasa
terganggu dengan kehadiran meraka di tempat-tempat wisata atau rumah-rumah
rekan yang kami kunjungi.
*****
Pembaca….
Saya tidak mau disebut sebagai orang Indonesia yang kufur akan nikmat Allah.
Tapi bencana di Sumatera Barat, banjir si sejumlah daerah, mahalnya bahan-bahan
pokok, sulitnya mencari minyak tanah dan gas, tidak terjangkaunya biaya
pendidikan dan layanan kesehatan (yang ini di India juga murah sekali),
semuanya jadi membuat saya iri dengan apa yang terjadi di India, sebuah negara
besar yang mampu melahirkan manusia-manusia besar seperti Mahatma Gandhi,
Nehru, Rabindranath Tagore hingga India Gandhi.
Ada banyak PR yang harus digarap oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini. Jumlah
masjid yang bertebaran di negeri ini (sulit mendapatkan hal yang sama di
India), berjimbunnya jumlah majelis taklim serta kajian Agama Islam di
televise-televisi, maraknya Da’i-da’i yang bersemangat sekali dalam berceramah
memikat umat, sepertinya jauh dari cukup tanpa ada langkah konkrit: bagaimana
mengelola sumber daya alam dan potensi manusia Indonesia yang konon sering
meraih prestasi di berbagai momen olimpiade ini, agar menjadikan negeri ini
lebih baik.
India memang bukan segalanya. Tapi melihat Indonesia dari jendela India , saya
jadi bertanya-tanya. Ada apa dengan negeri ini?
Oh ya, pada hari terakhir kunjungan saya di India , di Bandara Mangalore, saya
tidak perlu membayar pajak sepeserpun. Sementara di Cengkareng, saya yang asli
orang Indonesia, harus bayar Rp 150 ribu, itu belum termasuk biaya fiscal yang
konon ‘hanya’ Rp 1 juta, jika anda harus ke luar negeri.
Ah, Indonesia !
Doha , 8 October 2009
Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis.
Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/
[Non-text portions of this message have been removed]