Jiwa yang Condong kepada 
Kejahatanhttp://abinyaazka.wordpress.com/2009/10/22/jiwa-yang-condong-kepada-kejahatan/


 
Musuh lain yang harus kita perangi adalah diri kita sendiri. Allah mengilhami 
manusia dengan
kebaikan dan keburukan. Keburukan dalam diri kita selalu bekerja untuk setan. 
Al-Qur`an
menjelaskan kedua sisi jiwa kita tersebut,
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang 
yang
menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” 
(asy-Syams: 7-
10)
Kita harus waspada terhadap sisi keburukan yang ada dalam diri kita sendiri dan 
selalu
menjaga hati dalam menentang bahaya. Mengabaikan sisi keburukan jiwa kita tidak 
akan menolong
kita lepas dari keburukannya. Akan tetapi, kita harus menyucikan jiwa seperti 
yang diajarkan dalam
Al-Qur`an.
Dengan demikian, kaum mukminin tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka suci, 
tetapi
tetap berhati-hati terhadap hasutan dan kesia-siaan jiwa mereka. Pengakuan 
Yusuf a.s., “Dan aku
tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu 
menyuruh
kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya, 
Tuhanku
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,“ (Yusuf: 53) harus selalu diingat sebagai 
contoh yang
baik untuk bersikap dengan tepat.
Manusia seharusnya mengawasi kelemahan jiwanya dan berbuat kebaikan serta 
mengekang
nafsu, sebagaimana sebuah ayat tegaskan, “… manusia itu menurut tabiatnya 
kikir….” (an-Nisaa`:
128) Ke arah mana keserakahan mengarahkan manusia, juga tercatat dalam 
Al-Qur`an. Hawa nafsu
adalah yang mendorong salah satu anak Adam membunuh saudaranya, “Maka hawa 
nafsu Qabil
menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, 
maka
jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.” (al-Maa`idah: 30) 
Kecenderungan yang
sama yang menyebabkan Samiri menyesatkan pengikut Musa ketika beliau tidak ada. 
Samiri berkata,
“… dan demikianlah nafsuku membujukku.” (Thaahaa: 96)
Satu-satunya cara mencapai keselamatan adalah dengan mengekang nafsu,
“… Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang 
yang
beruntung.” (al-Hasyr: 9)
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri
dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” 
(an-
Naazi’aat: 40-41)
Perjuangan melawan hawa nafsu adalah pertempuran yang terbesar bagi seorang 
muslim.
Mereka harus membatasi emosi dan keinginannya, yang mana yang dapat diterima 
dan yang mana
yang tidak dapat diterima. Ia harus melawan dorongan nafsu dalam jiwanya, 
seperti keegoisan, iri
hati, sombong, dan serakah.
Jiwa kita mempunyai kecenderungan untuk menyenangi hasrat dan keinginan yang 
sia-sia.
Mereka membisikkan kepada kita bahwa kita akan merasa puas ketika kita 
memperoleh harta lebih
dan mendapatkan status yang lebih tinggi dalam masyarakat. Walaupun demikian, 
semua kesenangan
ini tidak pernah memuaskan orang-orang yang beriman dalam arti yang sebenarnya. 
Semakin banyak
harta yang kita miliki, semakin besar keinginan untuk memiliki yang lebih 
banyak lagi. Dengan
beragam cara, jiwa kita mengarahkan kita agar berbuat seperti halnya binatang 
buas yang tidak
pernah merasa puas.
Jiwa kita akan merasa puas jika menyerahkan diri kita sepenuhnya hanya kepada 
Allah, tidak
kepada hawa nafsu yang rendah. Kita diciptakan untuk menyembah Allah, “ … 
Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allahlah hati kita menjadi tenteram.” (ar-Ra’d: 28) Tidak ada 
lagi yang dapat
memberikan ketenangan dan kepuasan pada diri setiap muslim selain itu.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke