Mengapa Siti Fadilah Disingkirkan? [image: Print]<http://indonesian.irib.ir/index2.php?option=com_content&task=view&id=16201&pop=1&page=0&Itemid=48> [image: E-mail]<http://indonesian.irib.ir/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=16201&itemid=48> Monday, 26 October 2009 Ketua Komisi Kesehatan Dewan Perwakilan Rakyat Ribka Tjiptaning mencurigai ada intervensi asing dalam pemilihan Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan. Tjipaning sebagaimana dikutip Situs Tempo mengatakan, "Jangankan menteri, pemilihan presiden pun ada intervensi."
Ribka mengaku kaget ketika mengetahui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya memilih Endang. Soalnya, nama Endang tak pernah disebut-sebut dalam bursa calon anggota Kabinet Indonesia Bersatu II. Sebelumnya, Nila Djuwita Moeloek adalah sosok yang diproyeksikan menggantikan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Yudhoyono pun telah memanggil Nila, yang dikenal sebagai tokoh anti-rokok, ke Cikeas. Muncul sebuah pertanyaan; Mengapa Siti Fadilah tidak dimasukkan dalam susunan kebinejt jilid II? Para analis menduga bahwa hal itu disebabkan oleh sepak terjang Siti selama menjabat, yang sempat mengusik kepentingan Negeri Paman Sam. Bahkan, dia bersuara lantang menolak proyek Naval Medical Research Unit 2 (Namru 2) yang dilakukan Angkatan Laut AS di Indonesia. Dia menegaskan keberadaan Namru 2 menggangu kedaulatan Indonesia. Siti yang dikutip Detik.Com, edisi Kamis 22 Oktober 2009 mengatakan, "Saya tidak akan rela kalau di wilayah yang berdaulat ini ada penelitian tapi ada militernya, tapi kok tidak jelas. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi." Selain itu, Siti juga keras menolak dominasi WHO terhadap Indonesia. Menurutnya lembaga tersebut justru memfasilitasi lingkaran setan, yang menyebabkan Indonesia tetap di bawah garis kemiskinan dan standar kesehatan yang rendah. Lembaga tersebut merestui negara-negara kaya mengambil keuntungan dengan memproduksi vaksin dari virus yang berkembang di negara berkembang. Vaksin itu dijual mahal di negara berkembang. Menurut Siti, bukan tidak mungkin negara kaya tersebut menyebarkan virus dan juga menjual penangkalnya sekaligus. Siti menolak memberikan sampel untuk memproduksi vaksin . Dia membuat gerah WHO dan negara-negara kaya. Siti menandaskan, "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada, kita sudah kaya." Sikap tegas Siti menolak intervensi asing ditunjukkan dengan memutasi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Bio Medis dan Farmasi, Balitbangkes Endang Rahayu Sedyaningsih. Pasalnya, Endang memberikan 12 sampel virus flu burung kepada Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Kontrol Penyakit Amerika Serikat (USCDCP). Hal itu bertentangan dengan sikap Siti yang menolak memberikan sampel karena berpandangan pemberian itu hanya menguntungkan pihak asing. Namun uniknya, Endang, pemasok flu burung ke USCDPC malah dipilih sebagai Menkes. Tak diragukan lagi, pemilihan Endang itu kian mengindikasikan intervensi asing dalam susunan kabinet jilid II. Semoga Allah Swt menjauhkan makar-makar musuh terhadap bangsa ini. -- Salam min Batam Fahmi Syahab +62 811 700 9852 [Non-text portions of this message have been removed]

