Intifadhah: Bukan Hanya Perjuangan Palestina
 Selama beberapa hari kemarin, sepertinya para pemimpin Palestina akan
 segera melepaskan intifadhah ketiga. Kondisi Al-Quds, jika tidak hendak
 dikatakan berada dalam situasi siaga tiga, maka sudah “cukup” genting.
 Al-Quds dikepung dimana-mana dan Israel disinyalir akan segera
 menduduki Yerusalem Timur. Kondisi yang membuat rakyat Palestina
 mungkin harus segera turun lagi ke jalan, dalam satu hati dan gerakan:
 intifadhah.Sebenarnya apa intifadhah ini? Apa artinya bagi orang
 Palestina dan umat Islam sedunia?
 Sejarah Intifadhah
 Tanggal 9 Desember 1987 menjadi hari yang tak terlupakan di bumi
 Palestina. Hari itu, meletuslah sebuah perang perlawanan terhadap
 Zionis Israel. Semua yang ada di Palestina merapatkan barisan, menjadi
 satu shaff, tua muda, laki-laki dan sebagian perempuan. Media menyebut
 waktu itu sebagai “Pertempuran terdahsyat sejak proklamasi negara
 Zionis Israel tahun 1948.”
 Intifadhah sendiri dalam bahasa Arab berarti “bangun mendadak dari
 tidur atau dari keadaan tak sadar”. Hebatnya, pada Intifadhah yang
 pertama kali meletus, Palestina berperang tanpa persenjataan dan tanpa
 dibantu negara-negara Arab tetangganya. 
 Satu-satunya senjata yang kemudian menjadi legenda dan terkenal
 bahkan sampai kini, juga dijadikan sebagai salah satu ikon perlawanan
 Palestina terhadap penjajah Yahudi, adalah batu. Tidak heran jika
 anak-anak Palestina kemudian selama bertahun-tahun sampai kini dikenal
 dengan sebutan “Children of Stone” atau anak-anak batu. 
 Sehari sebelum meletus Intifadhah pertama, sebuah truk militer
 Israel masuk ke wilayah pengungsi Palestina di Jabalya, di Gaza.
 Seperti layaknya semua hal yang berbau Israel, truk ini masuk tanpa
 tujuan yang jelas, kecuali menyerang orang Palestina. Empat orang
 terbunuh. Bersamaan dengan itu, Yahudi pun bersikeras merebut Masjidil
 Aqsa atau Yerusalem Timur. 
 Karena kebiadaban Israel yang sudah mengakumulasi, semua orang
 Palestina berdiri saat itu. Ada momen yang membuat mereka harus segera
 menyelesaikan urusannya dengan Israel yang tak punya rasa kemanusiaan.
 Pada 9 Desember, pagi yang sepi dan dingin, kemudian berubah menjadi
 teriakan takbir di seantero Palestina. 
 Di Gaza, Israel memperparah keadaan, karena di tanggal 18 Desember,
 serdadu-serdadunya membunuh 2 orang dan melukai 20 orang Muslim yang
 baru selesai shalat Jumat. Para serdadu itu kemudian melanjutkan
 keganasannya dengan menyerbu Rumah Sakit Syifa, memukuli para doktor
 dan perawat dan menyeret orang-orang Palestina yang dirawat karena
 terluka dalam insiden shalat Jumat. Beberapa stasiun televisi
 menyiarkan gambar tetnara Israel bersenjata berat memukuli dan
 membunuhi warga Palestina. Dunia internasional mengecam tindakan kejam
 Israel, namun tidak ada yang berbuat kongkret dalam menyikapi negara
 Zionis itu.
 19 Januari 1988 Menhan Rabin mengumumkan kebijakan baru yang dinamai
 “Tulang-tulang Patah”. Yitzhak Shamir, perdana menteri Israel waktu
 itu, menyatakan, “Tugas kita sekarang adalah untuk membangun lagi
 dinding ketakutan antara orang-orang Palestina dan militer Israel.”
 Dalam waktu tiga hari sesudah pengumuman itu, 197 warga Palestina
 dirawat di beberapa rumah sakit karena mengalami patah tulang yang
 parah. Kelompok-kelompok HAM Palestina melaporkan, sejak dimulainya
 Intifadhah sampai akhir tahun 1993, para serdadu Israel dan pemukim
 Yahudi telah membunuh rakyat Palestina sebanyak 1.283 orang.
 Diperkirakan 130.472 mengalami luka-luka, 481 orang diusir, 22.088
 dipenjara tanpa pengadilan, 2.533 rumah dihancurkan atau diambil alih,
 serta 184,257 batang pohon di kebun-kebun rakyat Palestina ditebang
 oleh serdadu Israel.
 Intifadhah Pertama dianggap selesai pada 13 September 1993, ketika
 Perjanjian Oslo ditandantangani dalam sebuah upacara meriah di
 pekarangan selatan Gedung Putih. PM Israel Yitzhak Rabin dan Ketua PLO
 (Palestine Liberation Organisation) Yasser Arafat bersalaman disaksikan
 Presiden AS Bill Clinton.
 Belum genap tiga tahun, Perjanjian itu sudah dianggap mati, ditandai
 kebijakan agresif perdana menteri Israel yang waktu itu terpilih,
 Benyamin Netanyahu. Ketika Perdana Menteri Ariel Sharon, menginjakkan
 kaki ke Masjidil Aqsa tahun 2000, dunia menyaksikan Intifadhah Kedua
 meletus. 
 Bukan Hanya Persoalan Palestina
 Sesungguhnya, apa yang terjadi di Palestina sekarang bukan hanya
 persoalan bangsa Palestina belaka. Jika berhubungan dengan Islam, maka
 jelas umat sudah seharusnya memperhatikan apa yang ada di sana. Al-Quds
 adalah rumah bagi Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama kaum Muslimin dan
 bangunan paling suci ketiga setelah Ka'bah di Makkah dan Mesjid Nabi
 Muhammad di Madinah, Arab Saudi. Maknanya telah diperkuat oleh kejadian
 Al Isra'a dan Al Mi'raj.
 Jika lebih luas lagi, jika menyangkut isyu HAM, maka dunia
 internasional sudah seharusnya melihat dengan mata bersih: bahwa
 penjajahan di atas dunia ini masih berlaku, yaitu Israel terhadap
 Palestina. Bukti apa lagi yang kurang? Sekarang, Palestina hanya
 tinggal mempunyai semangat dan batu untuk melawan Israel. 
 Lantas, sekarang apakah Intifadhah ketiga akan segera hidup? Rakyat
 Palestina sudah terlalu lama menderita dalam penjajahan, sementara
 dunia Islam dan negara-negara Arab bungkam seribu bahasa.
 (sa/berbagaisumber)
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke 
[email protected]! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke