Kiat Masuk Surga Tanpa Lewat Neraka



















































Oleh
: Muhammad Farid























Ada sebuah kabar gembira dari Allah swt. yang harus saya
sampaikan. Kabar gembira tersebut adalah:










 

“Dan adapun
orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka dia berada dalam
kehidupan yang diridai.” (Q.S. Al Qoriah: 6-7)










 

Di manakah kehidupan
yang diridai tersebut? Dalam Alquran diterangkan bahwa kehidupan yang diridai
adalah surga. 










 

(21). Maka orang
itu berada dalam kehidupan yang diridai. (22). Dalam surga yang tinggi.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 21-22)










 

Kemudian Allah
mengulangi kembali pesan atau kabar gembira ini.










 

“Timbangan pada
hari itu ialah kebenaran. Maka barang siapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka
mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 8)










 

                Sedemikian
pentingnya pesan ini hingga Allah swt. mengulanginya sebanyak 3 kali.










 

                “Barangsiapa
yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (Q.S. Al-Mukminun [23]: 102)










 

                Lebih
jelasnya, dalam Alquran Surat Al-Mujaadilah (58) ayat 22, Allah menyediakan
surga bagi orang-orang yang diridai-Nya sehingga mereka termasuk golongan
orang-orang yang beruntung.










 

                “...Dan
dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa rida
terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya golongan Allah itu adalah golongan yang beruntung.”
(Al-Mujaadilah [58]: 22)










 

                Dalam
perdagangan, orang yang beruntung ialah mereka yang pemasukannya lebih banyak
dari pengeluaran. Dalam bahasan kita kali ini, orang yang beruntung ialah orang
yang lebih banyak kebaikan daripada keburukannya. Jika seseorang harus masuk ke
neraka dulu untuk membakar dosa-dosanya, tentu ia tidak bisa dikatakan sebagai
orang yang diridai Allah dan beruntung. 










 

                Jadi,
kabar gembiranya ialah ternyata tidak hanya para nabi yang bisa langsung masuk
surga. Kita pun bisa langsung masuk surga tanpa harus mampir ke neraka asalkan
kebaikan (pahala) lebih banyak dari keburukan (dosa). 










 

                Namun,
kemudian muncul sebuah pertanyaan, bukankah orang yang berat timbangan
kebaikannya tetap saja masih mempunyai dosa yang harus dipertanggung-jawabkan
walaupun sedikit? 










 

                Jawabannya
ada pada Alquran, 










 

                “(Ingatlah)
hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan. Itulah hari
ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barang siapa yg beriman kepada Allah dan
beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan
memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka
kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q.S. At Taghabun
[64]: 9)










 

                Allah
akan menutupi kesalahan-kesalahan kita karena keimanan serta amal saleh yang
kita kerjakan. Jadi, bukan dimasukkan ke neraka dahulu untuk membersihkan
dosa-dosa baru kemudian masuk surga. Semua orang mempunyai kesalahan tetapi
orang yang beriman dan beramal saleh tidak akan diseret ke neraka karena mereka
telah dibersihkan dari dosa. 










 

Maka mereka
mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka). Kecuali
hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (Q.S. As Shaffat [37]:
127-128)










 

                Menurut
ayat tersebut, dosa tidak dibersihkan di neraka. Orang yang beranggapan bahwa
semua orang akan masuk neraka untuk membersihkan dan mempertanggungjawabkan
dosanya, mendasarkan pendapatnya pada Alquran surat Maryam,










 

“Dan tidak ada
seorang pun dari kamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu
adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Q.S. Maryam [19]: 71)










 

                Padahal
jika mereka teliti, ada pengecualian di ayat berikutnya yaitu ayat 72,










 

“Kemudian Kami
akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang
zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Q.S.Maryam [19]: 72)










 

                Yang
dimaksud “kamu” pada Surat Maryam ayat 71 bukan semua manusia karena ada
pengecualian bagi orang-orang yang dibersihkan Allah. Penjelasan ayat tersebut
ada di ayat  lainnya,










 

Sesungguhnya kamu
pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan
melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan, Tetapi hamba-hamba Allah
yang dibersihkan (dari dosa). Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu,Yaitu
buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan,Di dalam surga-surga
yang penuh kenikmatan. (Q.S.Ash Shaffaat [38]: 38-43)










 

                Jadi,
dosa tidak dibersihkan di neraka. Lalu, dengan apa Allah membersihkan kita dari
dosa? Allah akan menghapus dosa dengan kebaikan yang pernah kita kerjakan
asalkan kebaikan lebih banyak dari keburukan sehingga mencukupi untuk menghapus
semua dosa tersebut.










 

                “....Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.
Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Q.S. Huud [11]:
114)










 

                Misalnya
kita mempunyai timbangan kebaikan 70 dan timbangan keburukan 20. Maka,
keburukan kita akan dihapus oleh kebaikan yang kita miliki. Dosa 20 dikurangi
pahala 70. Hasilnya tidak ada lagi sisa dosa, sedangkan sisa pahala tinggal 50.
Jadilah kita sekarang bersih dari dosa dan masih memiliki tabungan 50 kebaikan.
Dengan begitu wajarlah jika kita bisa langsung masuk surga tanpa harus
terjerumus ke neraka karena kita tidak memiliki sisa keburukan sedikit pun.










 

                Kenikmatan
surga bagi orang yang punya sisa pahala 50 akan berbeda dengan seseorang yang
mempunyai sisa pahala 5.000. Bisa jadi mereka tinggal di surga yang sama, namun
rasa atau kenikmatannya berbeda-beda. Seperti halnya kita tinggal di bumi yang
sama namun masing-masing merasakan kenikmatan yang berbeda-beda. Di sebuah
rumah makan, beberapa orang menyantap hidangan yang sama tetapi setiap orang
merasakan kenikmatan yang berbeda. Ada yang kepedasan,  keasinan dan ada pula 
yang kemanisan. Ada
orang yang tinggal di rumah mewah tapi tidak bahagia karena tidak bersyukur.
Namun, ada orang yang tinggal di rumah yang sederhana dan bahagia karena pandai
bersyukur. Setiap orang mempunyai derajat yang berbeda-beda di dunia dan
akhirat sesuai dengan amal salehnya.










 

                “Dan
masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan apa yang
dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Al-An’am
[6]: 132)










 

                Allah
telah menyediakan empat surga bukan tujuh seperti yang kita pahami selama ini.










 

                (46).
Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. 










 

                (62).
Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi. (Q.S. Ar Rahman [55]:
46 dan 62) 










 

                Semoga
tulisan ini dapat memotivasi kita untuk terus mengejar bola-bola kebaikan
dimana saja demi meraih piala surga. 










 

            “Berlomba-lombalah
kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi,
yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.
Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.” (Q.S. Al-Hadiid [57]: 21)










 

                Ada
orang yang berkata, “Kita hendaknya beribadah hanya mengharap keridaan Allah
bukan pahala dan surga. Jika kita beribadah karena mengharap pahala dan surga,
berarti ibadah kita tidak ikhlas karena masih mengharap pamrih.”










 

                Selintas
kalimat itu terdengar indah dan benar tetapi ternyata tidak demikian. Pahala
dan surga serta keridaan Allah merupakan satu paket yang tidak bisa
dipisah-pisahkan. Allah menyuruh kita berlomba-lomba meraih piala surga. Jika
kita tidak peduli dengan pahala surga sama artinya kita tidak peduli dengan
perintah Allah tersebut.










 

                “Sesungguhnya
(surga) ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini
hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja” [QS. Ash shaffaat (37) :60-61]










 

                “Sesungguhnya
orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar
(syurga). Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat
mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka
diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya adalah kesturi;
Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”. [Al Mutaffifin 
(83):26]










 

  










 

  Disarikan dari buku "ALLAH pun TAUBAT" karya Muhammad Farid.























 

 

DAFTAR
ISI :  (1) Kiat-kiat memahami Alquran, (2) Kiat
masuk surga tanpa mampir di neraka, (3) Kematian itu indah, (4) Berislam tapi
kekal di neraka, (5) Hidup itu Indah, (6) Korupsi dan Zina tidak diampuni
Allah, (7) Maksiat yang mengantarkan ke surga dan ibadah yang menjerumuskan ke
neraka,  (8) Allah pun Taubat, (9) 3
keanehan jilbab, (10) Nabi Ibrahim pun “kafir”, (11) 7 kerancuan dlm memandang 
poligami, (12) Cara Nabi
Muhammad menghadapi penghinaan,(13) Rahasia jepang, China, Zulkarnain, ya’juj 
dan ma’juj
dalam Alquran, (14) Mukjizat Alquran.










 

  










 




 

Bab 1 sampai 5 bisa di download gratis
di www.masfarid.blogspot.com



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke