Pengantar Studi Ilmu Hadis : Hadis maudhu' maknanya adalah sesuatu yang diciptakan dan dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara dusta. Disebut juga hadis palsu.
Ini adalah yang paling buruk dan jelek di antara hadis-hadis dhaif. Bahkan sebagian ulama mengeluarkannya dari kelompok hadis dhaif, dan membuatkan kelompok sendiri, hadis maudhu'. Para ulama sepakat bahwasannya haram hukumnya meriwayatkan hadis dhaif yang maudhu' bila mengetahui kepalsuannya, kecuali disertai dengan penjelasan akan ke-maudhu'-annya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam "Barangsiapa menceritakan hadis dariku sedangkan dia mengetahui bahwa itu dusta, maka dia termasuk pendusta" (HR. Muslim, shahih) Dari Abu Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: "Barangsiapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka." (HR. al-Bukhari dan Muslim, shahih) Di antara motivasi yang mendorong terjadinya hadis maudhu' adalah 1. Membela mazhab/kelompoknya 2. Mendekatkan diri pada penguasa 3. Cerita dan nasehat Para tukang cerita ingin menarik perhatian orang awam untuk mengajak mereka kepada kebaikan dan menghindari kemungkaran. Padahal salah satu kaidah fiqh yang terkenal adalah "al-ghoyah la tubarrirul washilah", tujuan tidak menghalalkan (segala) cara. Contoh hadis maudhu' adalah, "Barangsiapa yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illa Allah, maka Allah menciptakan dari setiap kata itu seekor burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari marjan." Di antara perawi hadis maudhu' adalah Maisarah bin Abdu Rabbih. Ketika ditanya, "Dari mana Anda dapatkan hadis-hadis ini?" Dia menjawab, "Aku memalsukannya untuk menggembirakan orang." Hadis maudhu' bisa saja ikut terbawa dalam kitab-kitab ulama yang dikenal keshalehannya karena ketidaktahuan mereka, atau mereka belum sempat memeriksa hadis tersebut ketika mengutipnya. Wallahu a'lam [Diringkas dari "Pengantar Studi Ilmu Hadis", Manna Khalil al-Qaththan, Pustaka al-Kautsar] --------------------- Sssst.... Adapun yang berikut, bukanlah hadis maudhu', melainkan shahih :) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Tidak ada hari di mana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun". Klo pake tanggalan republika, 2 hari lagi (tgl 18 nov) mulai, lho... Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan, "Sepuluh hari (pertama) Dzul Hijjah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Dan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam (pertama) bulan Dzul Hijjah." (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah) Muridnya Ibnul Qoyyim rahimahullah juga menyatakan," Ini menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan menjadi lebih utama karena adanya Laitatul Qadr, dan Lailatul Qadr ini merupakan bagian dari waktu-waktu malamnya, sedangkan sepuluh hari (pertama) Dzul Hijjah menjadi lebih utama karena hari-harinya (siangnya), karena didalamnya terdapat yaumun Nahr (hari berkurban), hari `Arafah dan hari Tarwiyah (hari ke delapan Dzulhijjah). (Zadul Maa'ad) Ready..... Go! :D s...@kl http://muqorrobin.multiply.com [Non-text portions of this message have been removed]

