---------- Forwarded message ---------- From: usamah
Menjawab artikel Dr. M. Syafii Anwar Dzikrullah W. Pramudya* Di penghujung film The Last Samurai, Kaisar Jepang yang masih belia bertanya kepada Kapten Nathan Algren tentang kematian gurunya, Samurai Katsumoto, Ceritakan kepadaku bagaimana dia mati. Algren menjawab, Akan kuceritakan kepadamu bagaimana dia hidup. Katsumoto adalah pemimpin samurai yang mengakhiri 900 tahun tradisi ksatria spiritual pengawal kekaisaran. Dia dan pasukannya memang mati ditembus timah panas senjata bikinan Amerika Serikat. Tetapi yang sebenarnya membunuhnya adalah kerakusan Omura, perdana menteri yang juga saudagar yang mengeruk keuntungan finansial dari proses westernisasi dan sekularisasi Jepang, namun ditentang hebat oleh Katsumoto. Hidupnya mulia, matinya pun mulia, setidaknya di mata pembuat film itu. Sayangnya, Katsumoto bukan Muslim. Meskipun secara kemanusiaan dia hidup dan mati secara mulia, dia tidak mati syahid. Karena mati syahid mensyaratkan syahadah, kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah yang diikuti tuntunan hidupnya. Kalau saja cara Dr. M. Syafii Anwar menjelaskan doktrin Isy Kariman au Mut Syahidan seindah film itu, tentu artikel beliau akan jauh lebih bisa dinikmati daripada dipenuhi oleh kecemasan-kecemasan dari awal sampai akhirnya. Satu-satunya kalimat yang relevan dengan inti pembahasan dan layak untuk diambil sebagai hikmah dari artikel Dr. Syafii adalah kalimat terakhir yang berbunyi, Wallahu Alam bish-Shawab (Dan Allahlah yang lebih mengetahui sebenar-benarnya). Kenapa? Karena kalimat Isy Kariman au Mut Syahidan yang berarti Hidup Mulia atau Mati Syahid berasal dari Allah dan diformulasikan oleh para Sahabat terdekat Muhammad Saw, utusan Allah, sebagai tafsir terhadap kalimat Allah di dalam Al-Quran yang memerintahkan semua orang beriman termasuk Dr. Syafii-- untuk memilih Ihdal Husnayain, salah satu dari dua kebaikan. Begini terjemahan lengkap firman Allah Ta'ala, "Katakanlah: 'Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (Ihdal Husnayain). Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu (orang-orang kafir yang memusuhi Islam) bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu." (Al-Quran surah At-Taubah: 52) Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa ulama-ulama yang secara disiplin mengikuti manhaj (metode) Rasulullah Saw seperti 'Abdullah Ibn 'Abbas, Mujahid, Qatadah menegaskan, "salah satu dari dua kebaikan" yang dimaksud adalah kehidupan mulia berupa kemenangan atau mati syahid (Isy Kariman au Mut Syahidan). Tentu saja yang dimaksud dengan kehidupan mulia di sini adalah Al-Islam dan perjuangan menebarkan rahmatnya di muka bumi. Kalau ada yang mengancam perjuangan ini lalu membunuh para pejuangnya, maka Mut Syahidan lah, mati syahidlah mereka. Justru, di sepanjang artikelnya, Dr. Syafii telah melakukan reduksi yang memerlukan pelurusan. Meskipun ajakan "dekonstruksi" (penghancuran) yang diserukan Dr. Syafi'i hanya mengarah kepada tafsir atas doktrin itu, kesan umum yang ditekankan berkali-kali adalah, bahwa doktrin Isy Kariman au Mut Syahidan merupakan anjuran untuk mati yang berakar dari sikap fatalistik. Jika diletakkan dalam ajaran dan sejarah Islam yang panjang dan agung, teriakan Dr. Syafii ini ibarat orang yang berteriak kepada seluruh jamaah haji di Masjidil Haram, Wahai para jamaah haji, jangan menyembah Kabah karena itu cuma bangunan batu, sembahlah Allah saja! Tentu saja teriakan ini absurd dan jenaka, karena semua orang yang hadir di Masjidil Haram tahu, bahwa mereka sedang menyembah Allah, bukan Kabahnya. Kalau orang membaca ayat Al-Quran tentang Ihdal Husnayain, serta menelaah dengan baik tafsir ayat itu, orang segera faham bahwa perintah Allah untuk memilih Ihdal Husnayain sama sekali tidak mengandung perintah untuk hidup fatal dan mencari gara-gara untuk cepat mati. Kalau pun benar, ada orang yang meledakkan dirinya karena doktrin ini (sayang kita tidak bisa mewawancarai mayat-mayatnya), pun kecemasan Dr. M. Syafii Anwar masih bisa diibaratkan orang yang meributkan kotak korek api yang terbakar, padahal sudah ada lima rumah yang hangus karena korsleting listrik. Kenapa? Karena jumlah manusia yang dibunuh oleh manusia lain yang tidak menganut doktrin Isy Kariman au Mut Syahidan jauh lebih banyak, daripada yang sudah dibunuh (kalau benar, Allah Yang Maha Tahu kejadian sesungguhnya) oleh pelaku peledakan yang mengaku terinspirasi doktrin itu. Presiden Harry S. Truman tidak kenal doktrin Isy Kariman au Mut Syahidan tapi tega secara resmi membunuh jutaan warga sipil Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom. Lyndon B. Johnson tidak pernah baca surat At-Taubah, tapi tega membunuh jutaan rakyat sipil Vietnam dengan bom napalm dan bom fosfor. Adolf Hitler tidak pernah jadi anggota organisasi Islam, bahkan di lehernya ada salib, tapi tega membunuh puluhan juta orang baik Yahudi maupun non-Yahudi di seantero Eropa. Cornelis de Houtman tidak pernah jadi Muslim "militan", tapi begitu teguh memulai 350 tahun penjajahan, penjarahan, pemerkosaan, pembodohan dan pembunuhan di bumi nusantara yang kemudian merdeka sebagai Indonesia ini. Di depan semua itu, kecemasan Dr. M. Syafi'i Anwar hampir setaraf dengan mengada-ada. Karena ayat 52 surah At-Taubah itu dibaca oleh jutaan kaum Muslimin Indonesia dan jutaan lebih banyak lagi kaum Muslimin di seluruh dunia, dari Maroko sampai Merauke, dari New York sampai Gadog. Kalau benar tafsir itu segitu berbahayanya, maka 1,6 miliar Muslimin dunia yang setiap hari baca Al-Quran sejak Dr Syafi'i belum lahir sudah jadi teroris semua. Jadi apanya yang perlu didekonstruksi? Apakah Dr. Syafi'i pernah mengkampanyekan "dekonstruksi" ideologi maut Harry S. Truman dan presiden Amerika Serikat yang lain. Tunggu bukti apa lagi sesudah Vietnam, Afghanistan, Iraq, Palestina dan sederet korban invasi AS lainnya. Sebagai sesama saudara Muslim, kita khawatir, jangan-jangan kecemasan Dr. Syafii adalah kecemasan orang yang terlalu banyak bergaul dengan lingkungan imperialistik anti-agama yang menginginkan Islam berubah menjadi agama yang sama mandulnya dengan agama-agama lain, yang sudah berhasil dimandulkan oleh faham agnosisme yang dikemas rapi sebagai faham Islam substantif. Dari pada sibuk dengan PR baru dari Dr. Syafi'i untuk mendekonstruksi tafsir dan ayat Al-Quran tentang Ihdal Husnayain, lebih baik para ulama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah diserukan untuk meneruskan pekerjaan berat dan mulia, membimbing umat Islam Indonesia menjadi umat yang berwibawa, yang kelak dari keislamannya lahir istilah-istilah dan kosakata yang memperbaiki cara hidup bangsa Indonesia. Bukan sebaliknya, dari waktu ke waktu umat Islam selalu dipaksa mematut-matut diri supaya tidak ditempeli istilah-istilah baru yang tidak berasal dari Islam seperti militan, "hermeneutika", teologi maut, fatalistik, parokial yang, it goes without saying, semua istilah itu memang bukan berasal dari khazanah Islam. Sehingga seharusnya kita tidak perlu dibuat sibuk olehnya. Dari pada sibuk mengurusi istilah-istilah itu, lebih baik para ulama NU dan Muhammadiyah diserukan agar semakin menyibukkan diri membimbing bangsa ini menjadi bangsa yang aqidahnya bersih, ikhlas, taat dan patuh sepenuhnya hanya kepada Allah, tidak mengagungkan simbol-simbol lain selain Allah. Agar para ulama ini tetap sabar berdiri di tengah rakyat yang kebanyakan miskin (sambil menggandeng para orang kayanya) dan mengajak mereka untuk semakin gigih beramal dan berjihad mengorbankan harta, waktu dan nyawa untuk dawah dan jihad fii Sabilillah, supaya bangsa ini tidak tergolong menjadi bangsa pembangkang yang Maghdhub (dimurkai Allah) dan bukan juga menjadi bangsa yang Dhalal (sesat). Jauh lebih produktif kalau para cendekiawan seperti Dr. Syafi'i lebih berkonsentrasi pada kerja keras menjadikan kehidupan bangsa ini menjadi Isy Kariman hidup yang mulia, dan memastikan bahwa bangsa ini menuju kematian yang baik di jalan Allah, Mut Syahidan, daripada mengkampanyekan dekonstruksi untuk hal-hal yang hanya merupakan isu-isu politik-keamanan sesaat, yang timbul tenggelam sesuai berjalannya waktu. Al-Islam dan seluruh cabang ajaran tauhidnya di dalamnya sudah ada jauh sebelum NU, Muhammadiyah dan Indonesia ada, dan akan terus ada sesudah NU, Muhammadiyah dan Indonesia tiada. Mudah-mudahan Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang hidup mulia dan mati syahid di jalan Allah, Isy Kariman au Mut Syahidan. * Wartawan dan guru madrasah [Non-text portions of this message have been removed] -- Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang. now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest. N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs. im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können. >> al-Ra'd [13]: 28 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ === http://media-islam.or.id Anda bisa mendapatkan Busana Muslim secara online di: http://rumahmadina.com http://www.butikaqilla.comYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

