Mungkin ini kombinasi antara bermegah2an dengan membangun menara2
tinggi dan mewah yang merupakan satu tanda kiamat dengan berbagai
kegiatan ekonomi yang (maaf) mungkin mengandung riba, spekulasi, dan
penumpukkan harta di antara orang2 kaya.

Padahal harta itu harus dijadikan modal usaha atau sedekah kepada kaum fakir 
miskin.

Bukan tidak mungkin Ketamakan/Keserakahan jadi penyebabnya. Bukan ingin 
menghina, tapi semoga kita bisa introspeksi diri.

Di Indonesia belasan juta orang kelaparan. Begitu pula di Palestina. Kok orang2 
Dubai hidup bermewah2an?

Bukan orang yang beriman jika dia tidur dengan perut kenyang sementara 
tetangganya kelaparan, begitu kata Nabi.


http://id.wikipedia.org/wiki/Nakheel_Tower

Nakheel Tower merupakan sebuah pencakar langit supertinggi yang direncanakan 
dibangun di Dubai, Uni Emirat Arab oleh perusahaan properti Nakheel. Proyek ini 
sebelumnya bernama Al Burj (bahasa Arab: البرج "Menara").[1]
Nakheel sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa kontraktor berpotensial 
termasuk Samsung Engineering & Construction dari Korea Selatan (yang juga 
membangun Burj Dubai), Shimizu Corporation dari Jepang dan Grocon dari 
Australia. Menara ini akan memiliki tinggi 1.400 m (4.593 ft)[2], menjadikannya 
struktur tertinggi di dunia bila selesai dibangun.

http://id.wikipedia.org/wiki/Burj_al-Arab
Burj al-Arab (bahasa Arab: برج العرب, "Menara Arab") adalah sebuah hotel mewah 
yang terletak di Dubai, Uni Emirat Arab. Bangunan Burj al-Arab, didesain oleh 
Tom Wright,
mencapai ketinggian 321 meter dan adalah bangunan tertinggi yang
sepenuhnya digunakan sebagai hotel. Bangunan ini berdiri di sebuah pulau buatan 
yang berada 280 m lepas pantai di Teluk Persia. Burj al-Arab dimiliki oleh 
Jumeirah.

 ===
Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id


>
>Dari: Zulfikar77 zulfikar <[email protected]>
>Kepada: [email protected]
>Terkirim: Sen, 30 November, 2009 14:54:11
>Judul: Bls: [ekonomi-syariah] Kasus Dubai World, subprime mortgage jilid 2?
>
> >
>
>
>
>
>  >
>>      
> 
>Assalamualikum Wr.Wb
>
>Menarik
>memang menyimak tentang kasus Dubai World, saya sepakat dengan kawan
>kita Dodik melihat kasus Dubai dengan apa yang terjadi dengan kasus
>Subprime morgage sebenarnya tidak separah keadaan subprime morgage,
>saya fikir persoalan utamanya adalah bahwa Dubai World ingin meminta
>kepada seluruh penyedia pembiayaan Dubai World dan Nakheel untuk menunda 
>pembayaran dan memperpanjang jatuh
>tempo menjadi paling tidak 30 Mei 2010,  >hal ini sangat berbeda dengan kasus 
>subprime morgage yang benar-benar
>tidak dapat membayar uang mereka kembali, namun Dubai World hanya
>menginginkan reschedulling pembayaran mereka dari 3 tahun menjadi 5
>tahun memang jika kita menganalisa cash flow  Dubai World seharusnya
>membayar obligasi sukuk mereka paling aman adalah 5-10 tahun disinilah
>kelemahan dari analis mereka kita mengathui bahwa asset protection
>lending harus dibayar dengan jangka panjang bukan dengan jangka pendek,
>kelemahan dari analisa mereka adalah menggunakan currency USD, dimana
>disaat USD melemah mengakibatkan para investor menginginkan uang mereka
>kembali dalam bentuk USD, sehingga terjadinya kebutuhan USD yang
>meningkat  dimana pada saat jatuh tempo USD benar-benar yang dicari.
>Kelemahan yang ketiga adalah Dubai terlalu sombong dengan gedung-gedung
>bertingkatnya, dimana pada saat booming seharusnya mereka melakukan
>saving besar-besar bukannya mengamburkan uang yang tidak perlu untuk
>kepentingan yang tidak jelas penggunaannya sehingga hal inilah yang
>melanggar syariah, kdepan yang perlu dikhawatirkan akan terjadi
>perubahan arah dimana para investor mulai memainkan harga minyak
>sehingga minyak menjadi naik kembali, dimana Dubai sebagai basis
>pendapatan dari minyak mendapatkan keuntungan tersebut
>
>Salam
>
>Zulfikar azharsyah
>
>--- Pada Sab, 28/11/09, D O D I K <kido...@yahoo. com> menulis:
>
>
>>Dari: D O D I K <kido...@yahoo. com>
>>Judul: [ekonomi-syariah] Kasus Dubai World, subprime mortgage jilid 2?
>>Kepada: benik...@yahoo. com
>>Tanggal: Sabtu, 28 November, 2009, 1:09 PM
>>
>>
>>>>
>>
>>
>>
>>  >>
>>
>> 
>>>>      
>> 
>>please visit my blog:
>>
>>http://staff. blog.ui.ac. id/dodik. siswantoro/
>>
>>
>>Kasus Dubai World, subprime mortgage jilid 2?
>>Posted 10 minutes ago at 12:48 pm. 0 comments
>>Cukup mengaggetkan ketika terjadi penundaan pelunasan bayar sukuk
>>oleh perusahaan Nakheel (anak perusahaan Dubai World) yang disampaikan
>>langsung oleh Pemerintah Dubai. Hal ini bersamaan dengan pesimistis
>>pasar modal global yang sedang dihantui oleh rendahnya PDB Amerika
>>(Cuma 2,8%) dengan tingkat pengangguran 10,2%. Sudah menjadi rahasia
>>umum, selama ini pertumbuhan ekonomi global ditopang oleh stimulus yang
>>sangat besar yang diharapkan dapat membangkitkan keterpurukan krisis
>>global yang menerpa akibat kasus subprime mortgage di Amerika.
>>
>>
>>Dubai World merupakan perusahaan milik Pemerintah Dubai yang
>>bergerak dalam berbagai bidang infrastruktur, salah satunya adalah
>>Nakheel. Proyek property Nakheel yang terkenal adalah The Palm Island, 
>>perumahan
>>yang berada di tengah laut berbentuk pohon kurma. Sumber pendanaannya
>>antara lain dengan menggunakan sukuk. Nilai sukuk yang ditunda
>>pembayaran pokoknya adalah sebesar 3,52 miliar USD. Tanggal jatuh
>>temponya adalah tanggal 14 Desember 2009, diusulkan ditunda hingga 30
>>Mei 2010. Penundaan ini tentunya memberikan efek negatif bagi pemegang
>>sukuk tersebut yang sangat membutuhkan likuiditas. Hal ini menyebabkan
>>jatuhnya harga sukuk tersebut hingga -31,11% (menjadi 62) dalam satu
>>hari pada tanggal 26 November 2009. Masalah sukuk Nakheel pada dasarnya
>>mulai muncul pada bulan Juli 2009 ketika Nakheel mengajukan revisi
>>struktur sukuk sebesar 750 juta USD.
>>
>>
>>Sukuk bukan utang!
>>Sukuk Nakheel menggunakan basisijarah (sewa) untuk skema pendanaannya. 
>>Sehingga pemilik sukuk pada dasarnya memiliki hak pada underlying asset 
>>>>yang disewakan tersebut. Di samping itu sukuk pada dasarnya bukan
>>merupakan instrumen utang seperti obligasi pada umumnya. Namun
>>demikian, dari kasus yang terjadi tersebut, banyak investor yang
>>mengidentikkan sukuk dengan obligasi. Sehingga investor merasa harus
>>diperlakukan sama seperti pemegang obligasi. Padahal secara langsung
>>pemilik sukuk mempunyai hak atas underlying asset apabila
>>terjadi gagal bayar sehingga ada jaminan yang dapat menjadi milik
>>investor apabila terjadi benar-benar gagal bayar. Hal ini biasanya
>>diatur pada setiap prospektus masing-masing sukuk.
>>
>>
>>Struktur sukuk Nakheel
>>Underwriter dari sukuk Nakheel adalah Barclay Capital dan Dubai
>>Islamic Bank PJSC, terbit mulai 14 Desember 2006 dan jatuh tempo 14
>>Desember 2009. Rate yang diberikan adalah 6,345% per tahun.
>>Di dalam prospektusnya sendiri disebutkan bahwa terdapat resiko dalam
>>sukuk tersebut misalnya:
>>1. Dubai World sendiri tidak mempunyai laporan konsolidasi, sehingga
>>laporan secara umum sebagai holding company tidak begitu jelas
>>2. Ketergantungan      pada proyek Nakheel cukup besar bagi Dubai World
>>3. Terdapat      resiko ketidaktepatan waktu dalam penyelesaian proyek 
>>property
>>4. Ketidakcukupan      dana untuk penyelesaian proyek
>>5. Penurunan      harga property dan tren ekonomi yang melemah
>>6. Likuiditas      sukuk di pasar sekunder
>>
>>
>>Dari resiko-resiko yang terdapat dalam prospektus tersebut
>>seharusnya investor menyadari resiko yang mungkin akan terjadi pada
>>sukuk Nakheel ini, disamping tenor yang ada relatif singkat (cuma 3
>>tahun). Kesulitan dalam restrukturisasi pendanaan dan pelunasan dapat
>>diprediksi diawal, ditambah apabila perusahaan tidak mempunyai
>>manajemen keuangan yang baik. Hal ini mengakibatkan sebenarnya outlook dari 
>>Nakheel tidak begitu baik jika investor cermat membaca prospektus yang ada.
>>
>>
>>Di samping itu, jika terjadi keterlambatan dalam pembayaran maka
>>investor akan diberitahu, akan diberikan tambahan fee sesuai waktu
>>penundaan. Kemudian jika terjadi gagal bayar maka underlying asset menjadi 
>>milik investor sesuai dengan prosedur hukum yang ada.
>>
>>
>>Pada saat sukuk ini akan diajukan, tingkat penjualan propertynya
>>baru laku sebesar 12% dari proyek yang akan dijual. Jumlah ini dapat
>>dikatakan relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan perusahaan
>>property yang ada di Indonesia. Sedangkan proyek yang diselesaikan baru
>>sebesar 6% dari yang direncanakan.
>>
>>
>>Laporan keuangan Nakheel sendiri mendapat opini wajar dengan
>>pengecualian dari Ernst & Young pada 5 November 2006. Sedangkan
>>laporan laba rugi pada 6 bulan pertama tahun 2006 mengalami kerugian
>>sebesar -98 juta AED. Sedangkan pada tahun 2005 sebesar -331,7 juta
>>AED, tahun 2004 sebesar -205,3 juta AED dan tahun 2003 sebesar
>>    -62,4 juta AED. Walaupun demikian, jumlah sukuk sebesar 3,52 miliar
>>USD pada dasarnya relatif kecil bila dibandingkan dengan modal Nakheel
>>yang sebesar sekitar 18 miliar USD. Sehingga masih dapat dikatakan
>>wajar jumlah nominal sukuk yang dikeluarkan.
>>
>>
>>Subprime Mortagage jilid 2?
>>
>>Hal yang menjadi concern adalah ketika harga sukuk tersebut itu jatuh atau 
>>mengalamidefault >>sehingga nilainya sangat jatuh. Ini menyebabkan jatuhnya 
>>investasi yang
>>terkait dengan sukuk Nakheel misalnya reksadana, unit link, dan dana
>>pensiun, bahkan bank (sudah ada beberapa bank yang diprediksi akan
>>menderita kerugian akibat kasus sukuk Nakheel ini). Ini dapat
>>mengakibatkan efek pada portofolio investasi tersebut. Apabila investor
>>merespon dengan cepat dan penarikan dana dilakukan secara besar dan
>>bersamaan, maka rush akan terjadi. Nilai portofolio dapat turun dengan 
>>drastis!
>>
>>
>>Namun demikian, hal ini berbeda dengan subprime mortgage yang terjadi di 
>>Amerika dimana tidak ada underlying asset-nya
>>sehingga nilainya bisa benar-benar hilang. Namun demikian, yang perlu
>>diperhatikan adalah nilai pasaran perumahan di Dubai mengalami
>>penurunan hingga 70%, hal ini tentunya akan berdampak pada jaminan atau
>>underlying asset yang diberikan oleh Nakheel (sumber
>>www.bloomberg. com).. Di samping itu banyak terjadi default dalam pembayaran 
>>property tersebut, ini akan berdampak pada likuiditas perusahaan property di 
>>Dubai pada umumnya.
>>Hal ini tersebut berdampak pada penurunan rating perusahaan property di Dubai 
>>oleh Moody hingga dibawah investment grade bahkan menjadi junk. Di samping 
>>itu, yang perlu dikhawatirkan adalah hal ini bisa berdampak pada harga 
>>obligasi lain yang sebenarnya punya outlook >>lebih baik (efek domino). 
>>Sehingga apabila hal ini terjadi secara
>>bersama-sama maka dapat berdampak pada goncangan ekonomi yang cukup
>>hebat apabila Pemerintah Dubai tidak segera mengantisipasi dengan baik.
>>Ditambah banyak analis yang menyamakan kasus ini mirip yang terjadi di
>>Argentina dimana Pemerintahnya harus membayar mahal atas kasus gagal
>>bayar obligasi. Namun demikian yang menjadi pertanyaan adalah apakah
>>hal ini merupakan puncak gunung es dari permasalahan yang ada atau
>>hanya sebagian kecil masalah yang sebenarnya dapat diantisipasi di
>>awal. Kita lihat saja 6 bulan kemudian, yang jelas pasar akan terus
>>mengamati kasus ini secara seksama. Di samping perlu adanya kajian yang
>>mendalam atas setiap penerbitan sukuk, atas dasar kelayakan proyek
>>bukan pada jaminan yang ada.
>> 
>> 
>
________________________________
 Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang! > 
> 


      __________________________________________________________
Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru. Kini dengan update real-time, 
panggilan video, dan banyak lagi! Kunjungi http://id.messenger.yahoo.com/

Kirim email ke