بسم
الله الرحمن الرحيم

 

السلام
عليكم ورحمة الله وبركاته

 

 

 

Kemanakah kita akan
lari, sementara padang sahara terbentang luas, menutupi Goa?

 

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata'ala yang
di dalam genggaman Nyalah semua apa yang ada dilangit dan dibumi, yang maha
kuasa serta pemberi kuasa, dimana tidak ada seorang makhlukpun dapat
mengalahkanNya, baik makhluk itu berada dibumi, ataupun dilangit, dan apabila 
Allah
berkehendak, maka, Ia hanya mengatakan "Jadilah, maka jadilah ia".

 

Shalawat beriring salam teruntuk manusia
pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Nabi Muhammad bin Abdillah,
beserta keluarga dan para sahabatnya.

 

Pada umumnya 
kondisi ummat Islam zaman sekarang dipenjuru dunia manapun ia berada,
sepakat, betapa ummat Islam kini berada pada posisi yang luar biasa sulit dan
beratnya, fitnah kian hari kian bertambah, dalam bentuk yang bervariasi.

 

Realitas, atau waqi'iyyah yang pahit ini,tidak
dapat tidak harus kita telan dengan air ludah kita sendiri. Betapa ummat Islam
kian hari, kian jauh dari tuntunan AlQuran dan Assunnah, penyakit paling parah
dan kronis telah menjangkiti disebahagian besar ummat Islam diseantero dunia
ini, yakni lemahnya keimanan.

 

Kian hari, kian bertambah, ummat Islam memasuki
tahap kelemahan, sejengkal demi sejengkal, setapakt demi setapak, sehasta
lanjut sehasta. Tradisi-tradisi, tata cara, baik prilaku, cara pandang hidup
ummat islam, banyak dipengaruhi oleh tradisi jahiliyyah,  animisme, tradisi 
Nasrani dan Yahudi. 

 

Mulai dari tradisi adat, perayaan-perayaan,
praktik ribawiya, kapitalis, liberalis, yang hampir kita semua sangat sulit
menghindarinya, karena dia ada dalam lingkungan kita, depan mata kita, bahkan
tradisi yang sudah sekian lama bersemayam dalam tatanan prilaku, adat istiadat
dan hukum masyarakat, sehingga sangat sulit melepas, antara benang merah dan
putih yang telah bercampur baur menjadi satu, sehingga warnanya menjadi warna
benang merah muda, atau pink, atau warna hitam bercampur putih, menjadilah ia
keabu-abuan, nggak jelas lagi.

 

Ummat Islam sudah semakin jauh dengan sikap
yang diambil oleh pelopor tiga sekawan dalam sebuah Goa, dimana tatkala mereka
sedang musafir, mereka berada ditengah padang pasir nan tandus, mereka
keletihan dan beristirahat sejenak, untuk melepas lelah, dan berlindung dari
sengatan matahari, serta terpaan angin yang kencang. Namun, tiba-tiba, justru
pintu Goa itu tertutup oleh padang pasir yang dibawa angin, dengan seizin Allah
Ta'ala, mereka terkurung didalamnya, tak ada seorangpun yang dapat
menyelematkan mereka dari musibah dan cobaan itu.

 

Apakah yang dilakukan oleh ketiga pemuda
tersebut? patah semangatkah mereka, , pesimiskah, marahkah mereka, pada siapa
mereka marah? Pada orang yang lalu lalang menasehati mereka agar bersabarkah,
ataukah mereka marah pada bukit-bukit itu, putus asakah mereka akan rahmat
Allah Ta'ala?

 

Tidak, sama sekali tidak!!. Keimanan mereka
justru semakin bertambah, kesabaran semakin menguat. Keyakinan kepada Allah
Ta'ala semakin besar, bahwa semua atas izin dan kehendak Allah Ta'ala, dan
hanya Allah sajalah yang dapat menolong dan menyelamatkan mereka, tidak ada
siapapun selain Allah yang dapat mengeluarkan mereka dari lembah kegelapan,
kesempitan goa. Semua diatasi dengan apa? Dengan keyakinan do'a, keimanan yang
kuat dan usaha memohon terus menerus, agar Allah dapat melepaskan mereka dari 
padang sahara yang
menutupi mereka dalam goa itu. Dengan izin Allah ta'ala, padang pasir itu 
bergerak perlahan demi
perlahan, sehingga dapatlah mereka keluar dari lobang kegelapan dan kesempitan
itu.

 

Ummat Islam zaman sekarang, sangat jauh dari
sikap, sebagaimana sikapnya penghuni goa tersebut. Semakin besar ujian yang
dihadapkan kepada kita, semakin jauh dari tuntunan AlQuran dan Assunnah. Kita
terlena dan terbawa arus globalisasi dan krisis multidimensi dunia. Ekonomi
yang semakin miris, membuat manusia sudah hampir kehilangan arah melangkah,
bagaikan burung yang telah hilang sebelah sayapnya, tak kuat lagi menatapi
kehidupan dunia yang semakin ganas dan kejam ini.

 

Jangan kita salahkan korupsi terjadi hanya pada
jajaran pemerintah saja. tanpa kita sadari, diri kita bisa saja korupsi tapi
dalam bentuk dan kapasitas yang lain dan berbeda. Cobalah kita tanyakan pada
diri kita masing-masing, tatkala kita mengcopy dan mengirimkan sebuah tulisan
dari seseorang, dengan tanpa merasa bersalah dan berdosa, kita hilangkan nama
sipenulis, agar dikira orang artikel itu berasal dari otak kita. Apakah ini
tidak dikatakan korupsi dan kebohongan kecil-kecilan, kalau tidak mau dikatakan
besar-besaran, begitupun kebohongan saat kita berinteraksi dengan sesama,
perdagangan, penjualan, atau apa saja sisi kehidupan yang sedang dan akan kita
jalani, cobalah mari sama-sama kita fikirkan dan renungkan sejenak dan mari
kita jawab dengan jujur!

 

Kita katakan pejabat disana tidak amanah,
padahal tanpa kita sadari, kita juga sering tidak amanah. Tugas dan wewenang
yang diberikan atasan dimana kita bekerja, atau oleh orang tua kita sebagai
pelajar, mahasiswi, dimana seharusnya hal ini kita pergunakan dengan belajar
dan membaca, namun teramat disayangkan, kita berleha-leha dengan banyak
chatting, FB, nonton, dsbnya.

 

Atau kita sebagai bagian dari keluarga,
masyarakat, yang memiliki tugas dan tanggung jawab atas segala perkataan,
perilaku kita, kita cuekin seakan segala perbuatan, perkataan itu tak akan 
pernah
dipertanggungjwabkan kelak dihadapan illahi, dengan menganggap semua yang kita 
katakan
dan lakukan hanyalah angin lalu, atau angin sepoi-sepoi yang datang untuk
menina bobokkan kita saja? Ataukah kita menantikan sampai akan datang gelombang
besar berupa bencana banjir, gempa, longsor, kebakaran, kecelakaan dan
sebagainya itu?

 

Terlalu banyak beban dan tugas berat yang tanpa
kita sadari, kitapun masuk dalam kategori orang didalamnya, namun dengan
sombong dan angkuhnya kita merasa, bahwa diri kita sudah terlepas dari semua
dosa dan kesalahan itu.

 

Watak Iblis yang sombong dan angkuh, merasa
"Aku lebih baik, lebih alim, lebih pintar, dan lebih segala-galanya dari
dia", sering merasuk sukma dada kita.

 

Sikap menjauh dari tuntunan yang ada dalam
AlQuran dan Assunah, mendekati bid'ah-bid'ah, meninggalkan sunnah, merupakan
sikap dari Yahudi dan Nasrani, tanpa kita sadari kita masuk didalamnya perlahan
demi perlahan tanpa terasa. Keimanan kita semakin tipis, bagaikan air dalam
botol yang bocor, perlahan tapi pasti, air yang berada dalam botol yang bocor,
akan habis juga akhirnya dari tempat botol tersebut, ia akan keluar tanpa
dirasakan bagaimana, dan kapan keluarnya.

 

Kemanakah kita lari, kalau kondisi keimanan
kita semakin menipis, cobaan semakin berat, ujian semakin besar, keganasan,
kejahatan manusia semakin merajalela?

 

Tidak ada jalan keluar yang paling aman, selain
kembalilah kepada Allah sang maha pencipta dan pengatur bumi ini. Bagaimana dan
dengan cara apa kita kembali kepadaNya?

 

Hanya dengan tuntutan AlQuran dan Assunnahnya
kita selamat dari semua malapetaka, marabahaya dan ujian yang menimpa kita saat
ini, juga yang akan datang.

 

Mari sama-sama kita kembali kepada AlQuran dan
Assunnah. Mari kita sering-sering membaca, memahami, menghayati dan mengamalkan
isi kandungannya, dengan mencoba memulai dari diri kita sendiri untuk tanpa
pernah hari-hari kita terlewati tanpa membaca seayat demi seayat, selembar demi
selembar, sejuz demi sejuz, satu persatu ayat, kita mencoba memahaminya,
mentadabburinya. 

 

Kenapa tidak sikap para sahabat Rasulullah yang
kita petik dan pegang, kalau beliau-beliau itu, tidak akan menambah hafalan
AlQurannya, kecuali setelah mereka memahami, membaca mentadabburi dan
mengamalkan isi kandungan yang sudah mereka baca tersebut. Sebagaimana
dikatakan oleh Abi Abdirrrahman Assullami, beliau berkata, telah diceritakan
kepada kami akan sikap dari sahabat Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas'ud Ra.
Mereka itu, apabila belajar AlQuran dari Rasulullah 10 ayat, mereka tidak
menambah ayat tersebut, sampai mereka benar-benar mempelajari, memahami dan
mengamalkan isi kandungan AlQuran tersebut ( maraji' Alquranulkarim, Mukaddimah
ushul tafsir, oleh Ibnu taimiyyah hal 74,75, 
maraji''ainal mukhrij, fasshahrah aglaqatil gaar oleh Imam majdi
alhilaali).

 

Wassalamu'alaikum. Rahima. Dokki, Cairo, 17 Nop 09

 

 

 Wasssalamu'alaikum. Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.(Doqqi,Cairo) 




 "Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi 
manusia lainnya".


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke