Sumpah dalam Al-Qur'an [Cetak halaman
ini]
<http://alislamu.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=98&pop=1\
&page=0&Itemid=10> [Kirim halaman ini ke teman
via E-mail]
<http://alislamu.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=98&\
itemid=10> Farid Ahmad
Okbah, M.Ag. Monday, 29 January
2007
Kata al-aqsam jamak dari kata qasam. Berarti sumpah. Ungkapan sumpah
dalam bahan Arab berasal dari kata kerja, uqsimu kemudian disertai
huruf ba'. Jadi uqsimu billah artinya aku bersumpah atas nama
Allah. Seperti firman Allah SWT (yang artinya), "Mereka bersumpah dengan
nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: 'Allah tidak akan
membangkitkan orang yang mati'." (An-Nahl: 38).
Berhubung sumpah itu banyak digunakan orang, kata kerja sumpah
dihilangkan sehingga yang dipakai hanya huruf ba'nya saja. Kemudian
huruf ba' diganti dengan huruf wawu, seperti firman Allah, "Demi
malam apabila menutupi (cahaya siang)." (Al-Lail: 1). Kadang-kadang
digunakan huruf-huruf ta'. Firman Allah, "Demi Allah, sesungguhnya
aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu." (Al-Anbiya':
57). Tapi, huruf wawu paling banyak dipakai.
Urgensi Sumpah
Sumpah bagi manusia bertujuan untuk mengikat diri untuk tidak melakukan
sesuatu atau melakukan sesuatu. Tapi, sumpah bagi Allah adalah untuk
menekankan berita sesudahnya dan menguatkan kandungan ungkapan yang
dimaksud. Sebab, menurut Abul Qasim al-Qusyairi bahwa suatu hukum akan
menjadi lebih kuat kalau disertai saksi atau sumpah. Sumpah merupakan
penekanan yang terkenal untuk memantapkan jiwa dan menguatkannya.
Al-Qur'an turun kepada seluruh manusia. Mereka menyikapinya
bermacam-macam, di antaranya ada yang ragu, ada yang ingkar, dan ada
pula yang menentang habis-habisan. Maka, sumpah dalam Al-Qur'an dalam
rangka menghilangkan keraguan dan membatalkan syubuhat (kesamaran),
menegakkan hujjah (argumen) dan menguatkan berita, serta menekankan
hukuman dengan sebaik-baik gambaran, demikian pendapat Syaikh
Manna' al-Qaththan.
Macam-Macam Sumpah
Sumpah yang dilakukan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an berkisar antara dua
hal. Dia bersumpah dengan Diri-Nya yang menunjukkan kebesaran-Nya.
Dalam hal ini terdapat tujuh ayat dalam Al-Qur'an.
1. Pertama: "Orang-orang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali
tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: 'Tidak demikian, demi Tuhanku,
benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu
apa yang telah kamu kerjakan.' Yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah." (At-Taghabun: 7).
2. Kedua: "Katakanlah: 'Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui
yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu ...'."
(Saba': 3).
3. Ketiga: "Dan mereka menanyakan kepadamu: 'Benarkah (azab yang
dijanjikan) itu?' Katakanlah: 'Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu
adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)'."
(Yunus: 53).
4. Keempat: "Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan merka
bersama syaithan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling
Jahannam dengan berlutut." (Maryam: 68).
5. Kelima: "Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka
semua." (Al-Hijr: 92).
6. Keenam: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati
mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya." (An-Nisa': 65).
7. Ketujuh: "Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat
terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang; sesungguhnya Kami
benar-benar Maha Kuasa." (Al-Ma'arij: 40).
Dia bersumpah dengan makhluk-Nya. Pada bagian ini cukup banyak dalam
Al-Qur'an, seperti, "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari (1) dan
bulan apabila mengiringinya (2) dan siang apabila menampakkannya (3)
dan malam apabila menutupinya (4) dan langit serta pembinaannya (5) dan
bumi serta penghamparannya (6) dan jiwa serta penyempurnaannya
(ciptaannya)." (Asy-Syams: 1-7).
"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (1), dan siang apabila
terang benderang (2), dan penciptaan laki-laki dan perempuan (3)."
(Al-Lail: 3-1).
"Demi fajar (1) dan malam yang sepuluh (2) dan yang genap dan yang
ganjil (3) dan malam bila berlalu (4)." (Al-Fajr: 1-4).
"Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan (5), dan apabila lautan
dipanaskan (6), dan apabila roh-roh dipertemukan dengan tubuh (7),
apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya (8),
karena dosa apakah dia dibunuh (9), dan apabila catatan-catatan (amal
perbuatan manusia ) dibuka (10), dan apabila langit dilenyapkan (11),
dan apabila neraka Jahim dinyalakan (12), dan apabila surga didekatkan
(13), maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang dikerjakannya (14),
sungguh Aku bersumpah dengan bintang-bintang." (At-Takwir: 515).
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun (1), dan demi bukit Sinai (2)."
(At-Tin: 1-2).
Dan, sekali Allah bersumpah dengan Nabi Muhammad saw. karena kedudukan
dan kemuliaannya di sisi Allah (HR Ibnu Abbas), yaitu dalam surah
Al-Hijr ayat 72. Sementara, sumpah bagi hamba Allah tidak boleh,
kecuali dengan menyebut nama Allah, seperti sabda Rasulullah saw.
"Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka Dia telah
melakukan Syirik." (HR Ahmad).
Dari segi ungkapan, sumpah dalam Al-Qur'an terkadang menggunakan jumlah
khabariyah (bersifat berita) dan model ini terbanyak, seperti firman
Allah SWT, "Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang
dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) ...." (Adz-Dzariyat:
23). Terkadang juga menggunakan jumlah thalabiyah (bersifat
permintaan), seperti firman Allah SWT, "Maka demi Tuhanmu, Kami pasti
akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang mereka kerjakan dahulu."
(Al-Hijr: 92-93).
Terkadang sumpah itu menggunakan sesuatu yang ghaib seperti contoh di
atas. Terkadang pula menggunakan sesuatu yang nyata seperti sumpah
matahari, bulan, malam, siang, langit, bumi, dll. Sumpah itu terkadang
disampaikan tanpa jawaban karena agar lebih mantap, seperti firman
Allah SWT, "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Dan hari yang
dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan
terlaknatlah orang-orang yang membuat parit." (Al-Buruj: 1-4).
Dan, yang paling sering adalah sumpah dengan menyebutkan jawabannya,
seperti firman Allah SWT, "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari
.... Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya ...."
(Asy-Syams: 1-9). Demikian juga firman Allah, "Demi (buah) Tin dan
(buah) Zaitun .... Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin:1-4).
Referensi:
1. Manna al-Qaththan, Mabahits Fii Ulumil Qur'an (Beirut:
Ar-Risalah 1420 H/1999 M), Cet. II
2. Jalaluddin asy-Suyuthi, Al-Itqon fii Ulumil Qur'an, Tahqiq M.
Abul Fadhl Ibrahim (Beirut: Al-Maktabah Al-Ashrah, Th. 1408/1998 M),
tanpa Cetakan, Juz 4
3. Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa (Riyadh; Daar Alamul Kutub,
Th.1412 H/1991 M), tanpa Cet, Juz 3
Terakhir kali diperbaharui ( Wednesday, 12 December 2007 )
[Non-text portions of this message have been removed]