Deradikalisasi

Strategi Global Menghancurkan Islam



Terorisme menjadi momok bagi per-adaban manusia. Sebagai *common **enemy*,
semangat untuk membera-ngus dan melenyapkan tampaknya mela-brak etika
kemanusiaan. Yang terjadi ada-lah pemberantasan terorisme menciptakan teror
baru.



Sebagian orang mungkin tidak akan setuju, bahkan akan membantah
habis-ha-bisan jika kita katakan bahwa arus perang melawan terorisme yang
kemudian berlan-jut dengan deradikalisasi (baca; menihil-kan nilai-nilai
Islam) sebagai sebuah *grand strategy* musuh-musuh Islam. Lebih tepat-nya
sebagai salah satu bagian dari strategi global orang-orang kafir untuk
menghan-curkan Islam. Penyangkalan ini wajar terja-di mengingat opini yang
berkembang bah-wa teroris lahir, tumbuh, berkembang dan seia sekata dengan
Islam. Akhirnya lahir generalisasi bahwa Islam adalah agama te-roris, secara
tidak sadar kita dibawa oleh stereotif negatif yang dibangun oleh kaum *
islamophobi*.



Jelas, arah dari opini tersebut mendiskreditkan Islam dan kaum muslim-in.
Tidak heran, nilai-nilai Islam ikut dirusak, makna dan defenisinya
dise-lewengkan; seperti:

*ta'rif **jihad*, dimaknai; bersungguh-sungguh dalam bekerja dan
berbakti kepada
negara. *Rahmatan lil **'alammin*, disinonimkan dengan hidup dalam pluralisme
dan keberagaman. Slogan *'isy kariman au mut **syahidan* diartikan sebagai
hidup penuh dengan toleransi yang di luar kewajaran dengan kebathilan, menerima
dan menghormati konsep keku-furan dan kesyirikan dan lain-lain.



Mayoritas muslimin tidak menyadari hal ini. Parahnya, ketika sebagian muslim
mengingatkan umat Islam lainnya tentang konspirasi ini, justru mereka salah
mema-hami, bahkan tidak jarang berakhir pada hujatan dan tuduhan miring
kepada para da'i dan aktifis dan dianggap sebagai pen-dukung terorisme itu
sendiri.



*Islam, Musuh Nomor Wahid Amerika dan Barat*



Setelah Uni Soviet runtuh, Barat khususnya Amerika menempatkan Islam sebagai
ancaman terbesar bagi dunia mereka. Mereka menjadikan Islam sebagai musuh
pertama yang harus dilibas setelah kehancuran Uni Soviet. Hal inilah yang
ditegaskan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya "Benturan Peradaban" (The
Clash of Civilizations).



Huntington adalah ilmuwan politik dari Harvard University yang juga dikenal
sebagai penasihat politik kawakan Gedung Putih. Di samping pernah menduduki
jabatan-jabatan prestisius di bidang akademis, Huntington juga aktif
terlibat dalam perumusan kebijakan luar negeri AS. Tahun 1977-1978 ia
bekerja di Gedung Putih sebagai Coordinator of Security Planning for the
National Security Council.



Jika di dalam The Clash of Civilizations Huntington masih tidak terlalu
tegas me-nyebut "Islam" sebagai alternatif musuh baru bagi Barat, maka dalam
bukunya, *Who Are We?* ia menggunakan bahasa yang lebih lugas, bahwa musuh
utama Ba-rat pasca Perang Dingin adalah Islam yang ia tambah dengan predikat
"militan". la menempatkan satu sub-bab berjudul Mili-tant Islam vs
America, yang
menekankan, bahwa saat ini, Islam militan telah meng-gantikan posisi Uni
Soviet sebagai musuh utama AS.



Nasihat Huntington memang telah di-jalankan. Pada awal Juni 2002,
doktrin *preemptive
strike* (serangan dini) dan *de-fensive intervention* (intervensi defensif)
secara resmi diumumkan. Melalui doktrin ofensifnya yang baru ini, AS telah
meng-ubah secara radikal pola "peperangan" melawan "musuh".



Negara dan kelompok yang dianggap oleh Amerika dan Barat sebagai ancaman
diserang lebih dini. Afghanistan dan Irak menjadi target utama dalam hal
ini. Tidak ketinggalan, beberapa kelompok Islam yang dicurigai akan
mengancam kepentin-gannya pun dihabisi. Di Indonesia, para da'i dan aktifis
yang dituduh sebagai anggota JI, juga harus merasakan kebijakan luar negeri
Amerika.

* *

*Awal Sebuah Konspirasi*

Cheryl Bernard - seorang feminis, so-siolog AS - pernah menulis dan
mengada-kan penelitian terhadap Islam untuk ke-pentingan Divisi Riset
Keamanan Nasional AS. Dalam rangka mempermudah dewan keamanan Amerika
menghadapi Islam, ia menulis sebuah laporan yang berisi strate-gi-strategi
dalam membumi hanguskan Is-lam fundamentalis dan radikalis yang di-anggap
sebagai musuh terbesar dan berba-haya bagi kepentingan Barat khususnya
Amerika.



Laporan itu membagi umat Islam dalam empat kelompok dan memberi masukan
bagaimana seharusnya pernerin-tah Amerika bersikap terhadap
kelompok--kelompok tersebut. Empat kelompok terse-but adalah;



a. *Fundamentalis / Radikalis*. Yaitu kebmpok yang menolak nila-nilai
demokrasi, dan kultur (budaya) Barat kontomporer. Mereka menginginkan sebuah
negara yang melindungi dan melaksanakan hukum serta nilai-nilai moral Islam,
tapi mereka mau menggunakan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka.

b. *Tradisionalis*. Kelompok yang menginginkan masyarakat curiga dan anti
terhadap pembaharuan, innovasi dar perubahan.

c. *Modernis / moderat*. Kelompok yang menginginkan agar dunia Islam menjadi
bagian dari masyarakat modern dunia. Mereka ingin Islam yang modern,
mengikuti zaman dan mengiyakan seluruh nilai-nilai yang datang dari Barat.

d. *Sekularis*. Kelompok Islam yang menginginkan pemisahan antara agama dan
urusan politik (baca: negara). Inginnya, agama adalah urusan pribadi yang
tidak boleh dicampuri oleh negara dan agama tidak boleh mengurus negara. Dan
negara tidak boleh disangkut-pautkan dengan agama.



Setelah membagi umat Islam menjadi empat kelompok, ia memberi saran-sarana
kepada pemerintah Amerika dalam me-manfaatkan dan menghadapi empat ke-lompok
tersebut demi kepentingan Amed-ka dan barat, di antara saran-sarannya:

a.                                       Pertama-tama mendukung moder-nis
dengan mengembangkan visi mereka tentang Islam sehingga mengungguli
ke-lompok taradisionalis. Caranya dengan memberikan arena seluas-lausnya
agar me-reka menyebarkan ide-ide dan pandangan-nya yang jelas-jelas
menyesatkan. Selain itu, mereka sengaja dididik dan dikloning serta diangkat
di hadapan public sebagai wakil Islam kontomporer.

b.                                       Mendukung dan mendanai kaum
sekularis.

c.                                       Mendukung kelompok tradision-alis
sebatas mengarahkan dan memben-turkan mereka melawan kelompok funda-mentalis
dan radikalis. Ini demi mencegah terjadinya hubungan yang erat di antara
keduanya, karena jika terjadi hubungan yang kuat maka keduanya akan menjelma
menjadi kekuatan yang sulit diberantas. Tetapi dalam mendukung tradisionalis
ini harus pilah-pilah dan selektif.

d.         Memusuhi dan menghapus kelompok fundamentalis / radikalis secara
aktif dengan rnenghantam piki-ran keIslaman dan ideologi mereka, yaitu
dengan mengeskpos hal-hal yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pada
umumnya. Seperti keradikalan mereka dalam mempraktekkan ajaran Islam, latar
belakang pendidikannya yang maha kuno.



Untuk pelaksanaan beberapa saran di atas, Cheryl memerincikan
langkah-lang-kah yang lebih dalam bentuk yang ia sebut "rekomendasi".
Rekomendasinya terdiri dari 5 poin:

a).        Hancurkan monopoli dan dominasi kaum fundamentalis, radikalis dan
tradisionalis          dalam mendefinisikan, menjelaskan dan menafsirkan
Islam. Sebaliknya, beri kesempatan, dukung dan publikasikan kaum sekuler dan
modemis untuk mendefenisi

kan, menjelaskan dan menafsirkan Islam.

b).       Tunjuk cendekiawan modemis yang tepat untuk membuat website yang
menjawab pertanyaan-pertanyaan keislam-an dan menawarkan pandangan hukum
Is-lam yang modemis,

c).        Dukung cendekiawan modernis untuk menulis buku, opini dan wacana
ke-Islaman serta dukung mereka dalam me-ngembangkan kurikulum.

d).       Terbitkan buku-buku pengantar memahami Islam dengan kaca mata
mo-dernis dan sekularis Ialu subsidikan ke orang-orang Islam.

e).                  Manfaatkan media-media infor-masi dalarn negeri untuk
memperkenalkan kaum modemis beserta pikiran-pikiran keisiaman mereka.

* *

*Deradikalisasi, Pesanan Musuh*

Demikianlah gambaran strategi yang disarankan Cherly Bernard kepada
kementerian Pertahanan Amerika melalui LSM yang bernama RAND Corporation.
Saran-saran strategis tersebut menjadi masukan penting bagi pemerintah AS
dan nampaknya dilaksanakan dengan baik di beberapa bagian dunia, khu-susnya
Indonesia.



Bagaimana ti-dak, lihatlah aliran dana yang membanjir dalam pem-berantasan
kaum radikal dan funda-mentalis yang dibe-ri label TERORIS. Di sisi lain,
media massa dengan ge-gap gempita meng-eskpos berita-berita yang sangat
me-mojokkan Islam dan aktivis Islam.



Alhasil, jika ideologi Jihad diar-tikan radikalisme dan radikalisme
di-artikan; kekerasan, atau pembunuhan, maka artinya Rasulullah pun
seorang-radikal, karena beliau lebih dari 70 kali melakukan operasi jihad
melawan orang-orang kafir dengan pedangnya. Demikian pula para sahabat,
ulama-ularna Islam dan para mujahidin. Bahkan negara Indonesia dimerdekakan
dengan cara radikal, karena untuk merebut kemerdekaan dan mengusir penjajah
salibis penuh pertumpahan darah.



Kata radikal harus didefenisikan ulang, jika menggunakan definisi Barat,
sama hal-nya dengan mengamini padangan negatif Barat terhadap Islam. n



Sumber : An-Najah Edisi 50 Dzulqo'dah 1430 H / November 2009


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke