peranan ibu, mama atau bunda sama2 mulia nya
hendaknya penulis tidak menterminologikan kata ibu lebih rendah daripada 
kata bunda
(seperti yang telah dipertontonkan oleh banyak ibu yang meninggalkan bayi 
begitu saja)

apapun pilihan katanya baik ibu maupun bunda mempunyai posisi yg terhormat
pertanyaannya adlah kenapa ke dua kata yg baik dan terhormat ini di 
kotak2an oleh penulis

apakah hanya predikat bunda saja yg mengalami seperti kata2 "Menjadi
seorang bunda membutuhkan kebijakan, kematangan emosi, kedalaman maaf,
pengetahuan yang cukup, wawasan yang memadai, kesabaran yang takberbatas,
keringat takpupus dikeringkan, tatapan penuh kasih sepanjang waktu, 
belaian
tangan tulus (bukan lembut karena tidak semua tangan penuh kasih itu
berkulit halus), serta tegur empati sapa bersahabat"

dlm hal ini penulis memperlihatkan  kedangkalan penafsiran arti ibu atau 
bunda dgn 
mempertontonkan keberpihakan subyektif yg tdk jelas.

sy rasa banyak yg merasa sakit jg khususnya yg berpredikat ibu atau yg 
terbiasa di sapa
dgn panggilan ibu oleh putra-putrinya dan suaminya ketika membaca tulisan 
dangkal yang 
berusaha (memaksakan diri) utk  menjadi barometer terminologi kata ibu 
atau kata bunda oleh si penulis 

sy sebagai suami yg terbiasa menyapa isteri dgn sebutan ibu jg merasakan 
sedih dan prihatin




selamet minanto





Syarif Niskala <[email protected]> 
Sent by: [email protected]
12/11/2009 06:20 PM

To
[email protected]
cc

Subject
[syiar-islam] Ibu atau Bunda?






 
*Ibu atau Bunda?*

*Oleh Syarif Niskala (also blogged at syarifniskala.com)*

*Menurut pengertian baku yang disepakati oleh forum ahli Bahasa Indonesia,
kata ibu memiliki makna wanita yang telah melahirkan seseorang. Dengan 
itu,
seorang istri dapat secara otomatis menjadi seorang ibu manakala telah 
mampu
melahirkan seorang bayi. Jadi setiap wanita yang sehat organ reproduksinya
akan bisa menjadi seorang ibu, tentunya.*

*Ibu adalah peran logis dari seorang wanita yang mampu melahirkan bayi.
Tugas ibu adalah melahirkan bayi. Hal-hal lain terkait kebutuhan primer 
bayi
seperti memberikan susu, memandikan, menyuapi, memakai baju, bermain, dan
lain-lain, dapat sepenuhnya ditangani oleh seorang baby sitter.*

Dulu, sebelum teknologi kedokteran mampu mengenali dan mempersiapkan
kelahiran bayi dengan baik, prosesi melahirkan adalah benar-benar gerbang
antara dua alam (dunia dan kubur). Tingkat meninggal ibu-ibu akibat
melahirkan demikian tinggi. Beruntungnya, pelan-pelan teknologi telah 
mampu
mengantisipasi banyak hal seputar kelahiran sehingga pada masyarakat yang
terlayani medis dengan baik, prosesi kelahiran bisa menjadi momentum
perayaan yang direncanakan. Masih ingat tanggal 09-09-09? Banyak sekali
ibu-ibu yang memilih tanggal tersebut untuk kelahiran bayinya, tentu saja
dengan cara bedah *caesar*.

*--*

*Bagaimana dengan kata bunda? Menurut proses pembentukan kata, kata bunda
berasal dari kata ibunda. Entah apa latar belakang sejarahnya, tapi makna
terasa dari kata ibunda atau bunda adalah adanya keterkaitan antara ibu
dengan anak. Mungkinkah ibunda merupakan paduan dari kata ibu + ananda?
Entahlah. Yang pasti, seseorang menggunakan kata ibunda untuk merujuk 
sebuah
penghormatan yang besar antara hubungan anak dan ibu. Seseorang dapat 
tetap
mengklaim sebagai ibu seorang anak asalkan dapat membuktikan anak itu
terlahir dari rahimnya. Sedangkan untuk mengklaim seorang bunda, tentu 
tidak
semudah itu kan?*

*Menjadi seorang bunda tidak dapat diraih hanya dalam waktu setahun. 
Menjadi
seorang bunda membutuhkan kebijakan, kematangan emosi, kedalaman maaf,
pengetahuan yang cukup, wawasan yang memadai, kesabaran yang takberbatas,
keringat takpupus dikeringkan, tatapan penuh kasih sepanjang waktu, 
belaian
tangan tulus (bukan lembut karena tidak semua tangan penuh kasih itu
berkulit halus), serta tegur empati sapa bersahabat. Menjadi bunda adalah
aktualisasi kasih sepanjang hayat. Menjadi bunda adalah pilihan, bukan
keniscayaan logis kehamilan. Sebagai ibu, Anda dapat memutuskan jadi bunda
atau hanya menjadi ibu, seperti yang telah dipertontonkan oleh banyak ibu
yang meninggalkan bayi begitu saja.*

Menjadi bunda membutuhkan persiapan, latihan, dan pengetahuan, terutama
terkait keberhasilan proses pengasuhan (pendidikan + perawatan). 
Pendidikan
untuk membangun mental dan perilaku baik manusia baru yang dititipkan
melalui rahim ibu. Perawatan untuk memastikan hak-hak fisiknya terpenuhi
sehingga secara fisik memiliki badan sehat dan kuat. Dengan demikian, 
insan
(mental, perilaku, tubuh) paripurna menjadi kewajiban hukum sebab-akibat
untuk melahirkannya.

Sahabat-sahabat wanita yang budiman, apakah yang selama ini Anda 
persiapkan?
Menjadi ibu ataukah menjadi bunda?
Persiapan untuk apakah jadwal rutin ke salon (pedicure, medicure, hair 
care,
skin care), ke fitness center, atau ke cafe?
Sudah seimbangkah antara besaran anggaran persiapan ibu dan bunda?

--

Seperti yang disampaikan dengan lugas oleh Bunda Neno Warisman dalam
buku *Semua
Ayah Adalah Bintang*, "Belah jiwa ayah, kaum ibu ini, dengan semua
pemberdayaannya ... termehek-mehek sudah...! Itu bahasa yang paling jujur.
Kaum ibu yang sudah pontang-panting, baik yang setengah mati maupun satu
mati, atau 3 mati sekalipun, tetap tidak akan optimal mewujudkan generasi
yang berkwalitas dan seimbang tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik,
psikologis maupun ruhani." Benar. Benar sekali apa yang dikatakan Bunda
Neno. Peran pengasuhan adalah peran ayah dan bunda. Anak adalah hasil 
upaya
dan harapan bersama, maka keberhasilan pengembangannya menjadi tanggung
jawab bersama. Thus, kenapa sekarang menjadi kewajiban monopoli bunda!

Menjelang hari Ibu (saya lebih menyukai dengan istilah hari Bunda) ini, 
saya
ingin mengajak kaum lelaki untuk menjadi ayah (bukan bapak). Ayah adalah
bapak yang memainkan peran dirinya dengan optimal bagi terbangunnya 
karakter
keluarga (anak dan istri) yang baik. Juga bagi para calon bapak, adalah
sangat penting dan sangat menentukan segala persiapan atau abai Anda dalam
menyongsong hari jadi bapak. Saya menyaksikan, banyaknya kegagalan dalam
mewujudkan visi keluarga yang bahagia adalah karena abainya banyak 
pasangan
dalam mempersiapkan diri menjadi ayah-bunda. Bukankah gagal mempersiapkan
berarti mempersiapkan kegagalan?

Kegagalan menciptakan keluarga memiliki dampak pada lemahnya fondasi
masyarakat. Dan itu berarti kita sedang membangun bangsa ini pada fondasi
yang rapuh tak berkarakter.

Selamat Hari Bunda

Dari Ayah yang merindukan adanya hari Ayah

>From the note of Syarif Niskala

-- 
Seminar Ayah Edy Menyambut Hari IBU (pembicara tetap SmartFM 95.9): Smart
Team for Smart Parenting.
Topik: Bagaimana Membangun Kerjasama Yang Kompak Antara Ayah dan Bunda
Sebagai Kunci Sukses Mendidik Anak.
19 Desember 2009, 13.00 - 17.00 Balai Kartini - Jakarta. Biaya Rp. 150.000
(bonus buku harga 54.000 + discount biaya Finger Test Print seharga 
150.000)
Pendaftaran via sms: REG nama jumlah_peserta kirim ke 0813.9506.7878 atau
0813.9417.9560. Transfer ke BCA 437.0867.564 an Halfino Berry A.D.

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke