Dari milis sebelah

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Abu Abdillah <[email protected]>
Date: Fri, 18 Dec 2009 05:47:36 
To: assunnah assunnah<[email protected]>
Subject: [assunnah] >>Muharram (Suro) Bulan Keramat?<<

MUHARRAM (SURO) BULAN KERAMAT ?

Oleh
Ustadz  Abu Nu’aim Al-Atsari
http://www.almanhaj.or.id/content/2036/slash/0

Muharram (Suro) dalam kacamata masyarakat, khususnya Jawa, merupakan
bulan keramat. Sehingga mereka tidak punya keberanian untuk
menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Bila tidak
di indahkan akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai
berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hal ini diakui oleh seorang
tokoh keraton Solo. Bahkan katanya : “Pernah ada yang menyelenggarakan
pernikahan di bulan Suro (Muharram), dan ternyata tertimpa musibah!”.
Maka kita lihat, bulan ini sepi dari berbagai acara. Selain itu, untuk
memperoleh kesalamatan diadakan berbagai kegiatan. Sebagian masyarakat
mengadakan tirakatan pada malam satu Suro (Muharram), entah di tiap
desa, atau tempat lain seperti puncak gunung. Sebagiannya lagi
mengadakan sadranan, berupa pembuatan nasi tumpeng yang dihiasi aneka
lauk dan kembang lalu di larung (dihanyutkan) di laut selatan disertai
kepala kerbau. Mungkin supaya sang ratu pantai selatan berkenan
memberikan berkahnya dan tidak mengganggu. Peristiwa seperti ini dapat
disaksikan di pesisir pantai selatan seperti Tulungagung, Cilacap dan
lainnya.

Acara lain yang menyertai Muharram (Suro) dan sudah menjadi tradisi
adalah kirab kerbau bule yang terkenal dengan nama kyai slamet di
keraton Kasunanan Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga Solo
dan sekitarnya, bahkan yang jauhpun rela berpayah-payah. Apa tujuannya
? Tiada lain, untuk ngalap berkah dari sang kerbau, supaya rizki
lancar, dagangan laris dan sebagainya. Naudzubillahi min dzalik.
Padahal kerbau merupakan symbol kebodohan, sehingga muncul peribahasa
Jawa untuk menggambarkannya : “bodo ela-elo koyo kebo”. Acara lainnya
adalah jamasan pusaka dan kirab (diarak) keliling keraton.

Itulah sekelumit gambaran kepercayaan masyarakat khususnya Jawa
terhadap bulan Muharram (Suro). Mungkin masih banyak lagi tradisi yang
belum terekam disini. Kelihatannya tahayul ini diwarisi dari zaman
sebelumnya mulai animisme, dinamisme, hindu dan budha. Ketika Islam
datang keyakinan-keyakinan tersebut masih kental menyertai
perkembangannya. Bahkan terjadi sinkretisasi (pencampuran). Ini bisa
dicermati pada sejarah kerajaan-kerajaan Islam di awal pertumbuhan dan
perkembangan selanjutya, hingga dewasa ini ternyata masih menyisakan
pengaruh tersebut.

Namun kepentingan kepada Muharram (Suro) ini tidak dimonopoli oleh suku
atau bangsa tertentu. Syi’ah umpamanya, -mayoritas di Iran, meskipun di
Indonesia sudah meruyak di berbagai sudut kota dan desa-, memiliki
keyakinan tersendiri tentang Muharram (Suro). Terutama pada tanggal 10
Muharram, mereka mengadakan acara akbar untuk memperingati dan menuntut
bela atas meninggalnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala.
Seperti dikatakan oleh Musa Al-Musawi tokoh ulama mereka : “Belum
pernah terjadi sepanjang sejarah adanya revolusi suci yang dikotori
kaum Syi’ah dengan dalih mencintai Husain” Perbuatan buruk itu setiap
tahun masih terus dilakukan kaum Syi’ah, terutama di Iran, Pakistan,
India dan Nabtiyah di Libanon. Peritiwa ini sempat menimbulkan
pertikaian berdarah anyara Syi’ah dan Ahlus Sunnah di beberapa daerah
di Pakistan yang menelan korban ratusan jiwa yang tidak bersalah dari
kedua belah pihak. [Lihat Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI hal. 85]

Dikatakan pula : “Orang-orang Syi’ah setiap bulan Muharram memperingati
gugurnya Imam Husain di Karbala tahun 61H, peringatan tersebut
dilakukan dengan cara berlebih-lebihan. Dari tanggal 1 Muharram sampai
9 Muharram diadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju ke
Al-Husainiyah. Peserta pawai hanya mengenakan sarung saja sedang
badanya terbuka. Selama pawai mereka memukul-mukul dada dan punggungnya
dengan rantai besi sehingga luka memar. Acara puncak dilakukan dengan
melukai kepala terutama dahinya sehingga berlumuran darah. Darah yang
mengalir ke kain putih yang dikenakan sehingga tampak sangat mencolok.
Suasana seperti itu membuat mereka yang hadir merasa sedih, bahkan
tidak sedikit yang menangis histeris. [Lihat Mengapa Kita Menolak
Syi’ah, LPPI, hal. 51]

Mengapa mereka begitu ekstrim ? Karena ziarah ke kuburan Al-Husain
merupakan amalan yang mereka anggap paling mulia. Dalam kitab mereka
semisal Furu’ul Kafi oleh Al-Kulani, Man La Yahdhuruhul Faqiihu oleh
Ibnu Babawih dan kitab lainnya, diriwayatkan : “… Barangsiapa
mendatangi kubur Al-Husain pada hari Arafah dengan mengakui haknya maka
Allah akan menulis baginya seribu kali haji mabrur, seribu kali umrah
mabrur dan seribu kali peperangan bersama Nabi yang diutus dan imam
yang adil”. Dalam kitab Kamiluzaroot dan Bahirul Anwar disebutkan “
Ziarah kubur Al-Husain merupakan amalan yang paling mulia”, riwayat
lainnya, “Termasuk amalan yang paling mulia adalah ziarah kubur
Al-Husain”. Bahkan Karbala itu lebih mulia dibanding Makkah
Al-Mukaramah. Karena Al-Husain dikuburkan di disana. [Lihat Ushul
Madzhab Asy-Syiah Al-Imamiyah Al-Itsna Asyriyah Dr Nashir Al-Qifari,
hal. 460-464]

MUHARRAM DALAM PANDANGAN ISLAM
[1]. Muharram Adalah Bulan Yang Mulia
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Artinya : Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas
bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi,
diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus,
maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”
[At-Taubah : 36]

Imam Ath-Thabari berkata : “Bulan itu ada dua belas, empat diantaranya
merupakan bulan haram (mulia), dimana orang-orang jahiliyah dahulu
mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada
bulan tersebut. Sampai seandainya ada seseorang bertemu dengan orang
yang membunuh ayahnya maka dia tidak akan menyerangnya. Bulan empat itu
adalah Rajab Mudhor, dan tiga bulan berurutan, yaitu Dulqqo’dah,
Dzulhijjah dan Muharram. Dengan ini nyatalah khabat-khabar yang
disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 

------------------------------------


===
http://media-islam.or.id

Anda bisa mendapatkan Busana Muslim secara online di:
http://rumahmadina.com
http://www.butikaqilla.com
http://wearmuslim.com
Toko buku Islam online:
http://rumahpensil.webuang.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke