----- Forwarded Message ----
From: wirawan <[email protected]>
To: Tauziyah <[email protected]>
Sent: Thu, December 31, 2009 6:46:14 AM
Subject: [Tauziyah] Tahun Baru Masehi: Sejarah Kelam Penghapusan Jejak Islam

  
Tahun Baru Masehi: Sejarah Kelam
Penghapusan Jejak Islam
Selasa,
29/12/2009 12:18 WIB
 
Dalam beberapa
hari ke depan, tahun 2009 akan segera berganti, dan tahun 2010 akan menjelang.
Ini tahun baru Masehi, tentu saja, karena tahun baru Hijriyah telah terjadi
satu pekan yang lalu. Bagi kita orang Islam, ada apa dengan tahun baru Masehi?
 
Sejarah Tahun Baru Masehi
 
Tahun Baru
pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius
Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti
penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM.
Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes,
seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan
baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan
orang-orang Mesir.
 
Satu tahun dalam
penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar
menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1
Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari
ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari
penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di
tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius
atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius
Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
 
 
Perayaan Tahun Baru
 
Saat ini, tahun
baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun
kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya
sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.
 
Pada mulanya
perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru
pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi
dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1
Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal
tersebut.
 
Perayaan Tahun Baru Zaman Dulu
 
Seperti kita
ketahu, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual
keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan
Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari,
orang-orang Brazil
berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan
bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai
tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam
legenda negara Brazil.
 
 
Seperti halnya
di Brazil,
orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk
merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau
koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut
sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka
menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).
 
 
Sedangkan
menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta
perayaan New Year's Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan
kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas
menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran
Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama
Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan
sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.
 
Pada tanggal 1
Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau
nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika
Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl
di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan
dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana
orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di
jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah
malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang
menerikkan "Selamat Tahun Baru" dan menyanyikan Auld Lang Syne.Di
negara-negara lain, termasuk Indonesia?
Sama saja!
 
 
Bagi kita, orang
Islam, merayakan tahun baru Masehi, tentu saja akan semakin ikut andil dalam
menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Sementara beberapa pekan yang
lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh
apapun. (sa/berbagaisumber)
 
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/tahun-baru-masehi-sejarah-kelam-penghapusan-islam.htm
12/31/2009 6:43
AM

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke