----- Forwarded Message ----
From: budi acong <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, January 5, 2010 2:45:47 PM
Subject: [Tauziyah] Gerakan Pemujaan Gus Dur…

  
Terus terang, akhir-akhir ini rasanya sumpek melihat berita-berita TV. Isinya 
didominasi pemujaan-pemujaan terhadap Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Banyak 
suara-suara yang mengusulkan agar Gus Dur diangkat sebagai pahlawan nasional.. 
Termasuk gerakan di DPR, facebook, dan sebagainya. Sementara pernyataan dari 
tokoh-tokoh Islam, seperti MUI, PP Muhammadiyyah, dan sebagainya “setali tiga 
uang”. Semua mengarah kepada upaya memuja Gus Dur. (Atau mungkin mereka ingin 
menempatkan Gus Dur sebagai “nabi jaman modern”? Entahlah). 
Jujur saja, sikap-sikap seperti inilah yang selama puluhan tahun telah 
mematikan cahaya kebenaran. Ummat Islam tidak diajari bersikap tegas, jelas, 
dan lurus. Para elit agamawan, tokoh sosial, dan politik berlomba-lomba mencari 
muka, dengan resiko mengundang kemurkaan Allah Al Aziz. Na’udzubillah min 
dzalik.
Bayangkan, saat tahun 2001 lalu, ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, mayoritas 
kekuatan politik di Indonesia menyerang dirinya dari berbagai sisi. Segala 
macam dalil-dalil untuk menjatuhkan Gus Dur, dikeluarkan semua. Termasuk foto 
Gus Dur memangku Ariyanti Sitepu, VCD Gus Dur dibaiat di gereja, dokumen 
keterlibatan Gus Dur dalam partai Ba’ats Irak, dan sebagainya. Tetapi lihatlah 
saat ini, setelah Gus Dur meninggal, semua orang berusaha memuja-muja Gus Dur. 
Seolah dia adalah ‘Tuhan’ yang berhak diagung-agungkan.
Ummat Islam mundur terus-menerus karena sejak lama ditipu terus oleh 
elit-elitnya. Mereka tidak diajari sikap yang benar, konsisten, tegas, dan 
pemberani. Semua elit rata-rata mencari muka, dengan alasan “sikap diplomatis”. 
Ya, ada kalanya “sikap diplomatis” bisa dipakai. Tetapi tidak dalam segala 
persoalan harus memakai “sikap diplomatis”. Dalam urusan akidah yang 
membahayakan Ummat, seperti dalam soal film “Kiamat 2012” lalu itu, kita harus 
bersikap tegas.
Baiklah, mari kita bahas kembali tentang Gus Dur. Siapakah Gus Dur ini? 
Siapakah dia, bagaimanakah ideologinya? Bagaimana perjuangannya?
Dari sekian banyak proses pembacaan dan analisis terhadap kiprah Gus Dur sejak 
dia memimpin PBNU, saya dapat menyimpulkan, bahwa: “Mengucapkan inna lillahi wa 
inna ilaihi raji’un ketika Gus Dur meninggal, adalah kesalahan. Kematian Gus 
Dur bukanlah musibah, tetapi bagian dari pertolongan Allah Al Aziz kepada kaum 
Muslimin di Indonesia.”
Ketika bicara tentang Gus Dur, maka kita harus berbicara tentang YAHUDI. Nah, 
inilah asas segala pembicaraan tentang Gus Dur. Siapapun yang berbicara tentang 
Gus Dur tanpa menyinggung gerakan Yahudi internasional, dia salah!!!
Coba kita runut masalah ini secara jernih, bi idznillah:
[01] Setiap hari kita membaca Surat Al Fatihah dalam Shalat. Disana ada doa, 
agar kita diberi petunjuk oleh Allah, yaitu mengikuti Shiratal Mustaqim. Shirat 
Al Mustaqim ini bukan jalan “al maghdhub ‘alaihim” (jalan orang yang dimurkai 
oleh Allah). Nabi Saw menjelaskan, bahwa kaum yang dimurkai itu adalah kaum 
Yahudi. Maka ketika kita bicara tentang Yahudi, otomatis kita bicara tentang 
suatu kaum yang dimurkai Allah Al Aziz. Ini bukan perkara sepele, tetapi amat 
sangat serius.
[02] Yahudi (Bani Israil) mengalami pasang-surut gerakan selama ribuan tahun. 
Awal gerakan mereka adalah di masa Nabi Ya’qub As dan anak keturunannya yang 
diberi tempat oleh raja Mesir di Kan’an. Di kalangan Bani Israil ada yang 
shalih-shalih, tetapi lebih banyak yang durhaka. Para Nabi-nabi, seperti 
Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan 
lain-lain ‘alaihimussalam, mereka termasuk bagian Bani Israil yang 
shalih-shalih.
[03] Di jaman modern, atau setidaknya setelah Eropa mengalami Renaissance, 
Yahudi mengalami transformasi gerakan keagamaan baru. Gerakannya berbeda dengan 
risalah Nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Gerakan mereka justru menginduk 
kepada inspirasi Samiri yang pernah membuat patung Al Baqarah (sapi betina) 
untuk pemujaan. Mereka mengambil ide-ide kemusyrikan dari bangsa Mesir, di 
jaman Fir’aun. Hampir semua simbol-simbol keagamaan yang dipakai Yahudi modern, 
itu digali dari peradaban kemusyrikan Mesir. Jadi, Yahudi modern bukanlah 
pengikut Musa, Dawud, atau Sulaiman, tetapi mengikuti Samiri yang membuat 
patung sapi betina untuk pemujaan. Hal itu dikuatkan dengan doktrin Talmud yang 
mengagung-agungkan etnis mereka, dan melecehkan Tuhan (Allah Ta’ala). Yahudi 
yang berpegang kepada Talmud bukanlah bagian dari Ahli Kitab, tetapi mereka 
adalah orang-orang musyrik yang mengikuti jalan Samiri.
[04] Secara umum, Yahudi modern terdiri dari dua komunitas besar, yaitu: Yahudi 
asli (original Jewish) dan Yahudi warna-warni (colored Jewish).. Yahudi asli 
maksudnya, orang-orang yang mewarisi darah Yahudi. Darah Yahudi ditentukan oleh 
silsilah keturunan dari jalur ibu. Inilah manusia yang benar-benar disebut 
Yahudi. Dan harus dicatat, kaum Yahudi ini amat sangat ketat dalam menjaga 
kemurnian etnis mereka. Mereka tidak tertarik melakukan asimilasi 
seluas-luasnya, sebab mereka merasa sebagai “etnis terbaik di dunia”, sementara 
etnis lain dianggap “budak” yang bebas dieksplotasi tanpa batas. Lalu yang 
disebut Yahudi warna-warni adalah siapa saja dari etnis apapun selain Yahudi 
yang bekerja mensukseskan misi Yahudi internasional. Mereka ini bisa disebut 
“budak-budak” Yahudi asli. Mereka bisa orang Jawa, bisa orang pesantren, bisa 
bergelar kyai haji, bisa asal Jombang, dan sebagainya. Mereka itu jelas-jelas 
tidak berdarah Yahudi, karena ibunya
 bukan Yahudi, tetapi mau suka-rela berjihad membela missi Yahudi internasional.
[05] Yahudi warna-warni itu biasanya tergabung dalam organisasi-organisa si 
mantel pendukung Zionisme internasional. Selama ini, mereka kita kenal sebagai 
“Freemasonry”. Tetapi menurut ahlinya, organisasi mantel itu bisa macam-macam. 
Freemasonry hanya satu bentuk saja. Rizki Ridyasmara menyebut mereka sebagai 
kelompok Luciferian, karena mereka mengabdi kepada “tuhan” yang bernama Lucifer 
yang disimbolkan dalam bentuk bintang, di dalamnya ada bentuk kepala kambing 
bertanduk dua. Bisa dikatakan, Lucifer adalah simbolisasi Iblis itu sendiri. 
Kaum Freemasonry ini bisa berasal dari berbagai etnis, dari berbagai negara, 
dari berbagai status, ikatan keagamaan, organisasi, dan sebagainya. Tapi mereka 
satu kata dalam simbol keagamaan, ideologi, dan missi memperjuangkan 
kepentingan Yahudi nternasional.
[06] Pertanyaannya, mengapa Yahudi asli harus membentuk organisasi mantel yang 
bermacam-macam? Atau mengapa Yahudi asli harus meminta bantuan “Yahudi abang 
ijo”? Jawabnya: Yahudi membutuhkan penetrasi ke berbagai negara/etnis di dunia, 
untuk mendukung missi mereka. Sedangkan cara terbaik penetrasi ialah dengan 
memakai tangan orang-orang dari negara/etnis masing-masing. Misalnya, Yahudi 
mengambil seorang kyai haji sebagai agen mereka. Maka diharapkan, semua jamaah 
kyai haji itu akan mudah dikendalikan untuk mendukung missi Yahudi. Kemudian, 
Yahudi sendiri merasa dirinya terlalu suci untuk berhubungan dengan 
manusia-manusia lain. Mereka tidak mau “kotor tangan”, maka dipakailah 
agen-agen dari setiap negara untuk menggarap negara masing-masing. Soal biaya, 
mereka bersedia memberikan dukungan penuh.
[07] Perlu dicatat, bahwa siapapun yang terlibat dalam gerakan mantel Yahudi 
seperti Freemasonry, mereka bukan orang Muslim. Mereka itu kafir. Tidak 
diragukan lagi. Mengapa? Sebab mereka berani mengkhianati agamanya sendiri 
dalam rangka mensukseskan missi Yahudi. Kemudian, mereka tidak meyakini lagi 
bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Ideologi mereka diganti dengan 
humanisme, pluralisme, dan demokratisme. Kemudian, mereka selama hidupnya 
selalu memusuhi missi perjuangan Islam.. Dan mereka ridha dengan ritual-ritual 
kekufuran yang berlaku di organisasi seperti Freemasonry itu.
[08] Untuk mengenali apakah seseorang terlibat Freemasonry atau tidak, sungguh 
tidak mudah. Mungkin hanya kerja intelijen negara yang bisa menyingkap hal itu. 
Tetapi seorang anggota Freemasonry bisa dikenali tanda-tandanya, misalnya: (1) 
Mereka bukan Yahudi asli, ibunya bukan berdarah Yahudi; (2) Selama hidupnya dia 
mengagung-agungkan slogan humanisme, pluralisme, dan demokrasi; (3) Dia sangat 
memusuhi misi perjuangan Islam, dan membenturkan misi tersebut dengan seruan 
Sekularisme atau Nasionalisme; (4) Dia memiliki sumbangan, sedikit atau banyak, 
bagi kemajuan Yahudi internasional; (5) Dia mendapat penghargaan resmi dari 
organisasi Yahudi internasional.
[09] Adalah sulit untuk memastikan bahwa Gus Dur adalah seorang Freemason, 
sebab kita tidak memiliki bukti validnya. Bisa jadi kalangan Muslim lain 
memiliki data tersebut, sehingga ia bisa dibuka. Namun untuk menyimpulkan, 
bahwa Gus Dur adalah seorang penyokong gerakan Yahudi internasional sangatlah 
mudah. Banyak tanda-tandanya. Misalnya, dia pernah terlibat mendirikan Shimon 
Perez Institute; dia pernah pergi ke Israel; dia pernah mendapat medali dari 
organisasi Yahudi karena keberaniannya membela kepentingan Yahudi di Indonesia; 
ketika menjadi Presiden RI, dia pernah hendak membuka hubungan dagang dengan 
Israel; Gus Dur secara formal pernah membela Yahudi di depan media massa. Dia 
mengatakan, “Yahudi itu orang beragama, bukan atheis. Kalau dengan Soviet yang 
komunis saja Indonesia mau menjalin hubungan, mengapa tidak dengan Israel?” 
Begitu kira-kira alasan dia ketika itu. Sangat jelas sekali bahwa Gus Dur 
adalah seorang Zionis (pembela Israel) dari
 kalangan bangsa Indonesia.
[10] Fakta kecil yang perlu disinggung, yakni kedekatan Gus Dur dengan Ahmad 
Dhani, dari band Dewa. Semua orang sudah tahu, bagaimana sikap Dhani kepada Gus 
Dur. Dhani sangat memuja-muja Gus Dur. Pendek kata, Gus Dur mau berbicara 
apapun, Dhani dijamin akan mendukung. Sementara Dhani ini sangat layak 
dicurigai sebagai bagian dari Freemasonry di Indonesia. Ada yang pernah 
membahas simbol-simbol yang dipakai Dhani dalam cover album-albumnya. Dhani 
pernah menginjak-injak kaligrafi Allah yang telah disamarkan, di atas panggung 
band. Kemunculan abum “Laskar Cinta” ditujukan sebagai anti-tessa “Laskar 
Jihad” (segala upaya Jihad untuk membela Islam). Dalam salah satu lagu 
hits-nya, Dhani melantunkan lirik yang kurang lebih isinya sebagai berikut, 
“Tak ada yang lain, selain diri-Mu yang selalu kupujaaa… Dengan mata-Mu aku 
melihat, dengan lidah-Mu aku bicara.” Di mata kita, mungkin lagu ini dianggap 
bentuk pujian kepada Allah. Maka ia dianggap
 sebagai lagu “pop religi” Dhani dan bandnya. Padahal bisa jadi, yang dimaksud 
diri-Mu, memuja-Mu, mata-Mu, lidah-Mu itu adalah Lucifer, dewa pujaan kaum 
Freemasonry. Sebab disana tidak ada disebutkan kata “Allah” sedikit pun. Malah 
kaligrafi Allah diinjak-injak oleh Dhani dan kawan-kawan. Ada sebuah informasi 
menarik, ketika Kraton Solo tiba-tiba menganugerahi Dhani dengan gelar “Raden”. 
Tidak ada angina, tidak ada hujan, tiba-tiba Dhani dianugerahi gelar itu. Dhani 
sendiri merasa heran dengan gelar itu, sebab dia bukan orang Jawa. Ini sangat 
janggal. Ada apa ini, tiba-tiba dia di-raden-kan oleh Kraton Solo? Hal lain 
yang tak kalah menarik, kasus Dhani dengan Mulan Jamila. Hampir tidak ada satu 
pun media infotainment yang menghujat sikap Dhani yang mengkhianati isterinya 
itu. Padahal ketika kasus yang sama menimpa pasangan artis-artis lain, media 
infotanment getol memberitakan hal itu. Saya juga masih ingat, betapa Dhani 
sangat ngefans
 dengan Manchester United yang dikenal dengan julukan “Setan Merah”. Ketika MU 
akan bertanding dengan FC Barcelona dalam Piala Champions, Dhani secara 
emosional mendukung MU. Malah ketika MU datang ke Malaysia, Dhani mengajak 
anak-anaknya datang kesana. Banyak sisi-sisi menarik seputar kiprah Dhani 
“Dewa” yang mencerminkan kedekatan manusia itu dengan gerakan Freemasonry.
[11] Patut diingat dengan jelas, bagaimana peranan media massa, terutama media 
TV dalam memuja-muja Gus Dur. Selama ini saya cukup bersimpati kepada MetroTV, 
sering mengakses TVOne, dan berita-berita lain. Tetapi dengan gerakan pemujaan 
Gus Dur, ini tampak nyata bahwa media-media itu seperti berlomba mencari 
keridhaan Yahudi internasional.. Caranya, dengan memuja-muja Gus Dur. 
Sejujurnya, sejak dulu Gus Dur itu tidak ada apa-apanya. Dia menjadi besar 
bukan karena dirinya, tetapi karena REKAYASA MEDIA. Media yang membuat Gus Dur 
besar, dan media pula yang membuat tokoh-tokoh lain kecil. Bayangkan, media 
massa tidak pernah peduli ketika Ketua PP Persatuan Islam, KH. Shiddiq Amin 
wafat. Begitu pula, ketika KH. Husein Umar wafat. Media tidak mau memberitakan, 
atau menghargainya secara layak. Tetapi ketika ada seorang icon Yahudi di 
Indonesia mati, mereka berlomba-lomba melakukan “ritual pemujaan”. Sangat 
menyedihkan! Kalau akhirnya nanti Gus Dur
 benar-benar ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”, sungguh kita patut 
memboikot semua media-media sekuler itu. Jangan lagi merasa memiliki media, 
selain media yang kita buat sendiri.
[12] Orang-orang yang mengklaim dirinya pro pluralisme, pro demokrasi, pro 
humanisme, lalu memuja-muja Gus Dur sebagai manusia yang berjasa besar dalam 
ketiga isu tersebut.. Pada dasarnya, mereka adalah orang-orang BODOH yang tidak 
mengerti ujung dari gerakan pluralisme, humanisme, dan demokrasi itu sendiri. 
Pluralisme adalah ideologi untuk mematikan keimanan kepada agama-agama (bukan 
hanya Islam). Seorang pluralis sejati tidak memiliki keyakinan yang kuat kepada 
suatu agama, selain agama pluralisme itu sendiri. Orang-orang yang berakidah 
humanisme, mereka mempertuhankan “kepentingan manusia”, sehingga manusia 
dianggap bebas merdeka, termasuk bebas dari aturan agama. Manusia yang 
berakidah demokrasi, mereka meyakini bahwa “suara rakyat suara Tuhan”. Artinya, 
cukuplah kesepakatan rakyat untuk menggantikan peranan aturan Tuhan. Ketiga 
prinsip (pluralisme, humanisme, demokrasi) ini adalah hakikat atheisme, 
sebagaimana prinsip-prinsip yang diajarkan
 oleh Freemasonry kepada para pengikutnya.
[13] Semua orang yang memuja-muja Gus Dur, pada dasarnya tidak keluar dari 3 
kemungkinan: Pertama, mereka orang bodoh yang tidak tahu informasi dan sempit 
wawasan. Mereka orang-orang fanatik yang tidak bisa membedakan hitam dan putih; 
Kedua, mereka orang oportunis yang merasa perlu mencari keridhaan umat manusia 
(khususnya investor Yahudi) agar mendapat keuntungan-keuntung an duniawi; 
Ketiga, mereka satu barisan dengan Gus Dur dalam rangka memadamkan cahaya agama 
Allah dan membesarkan missi Yahudi laknatullah ‘alaihim. Hanya ini 
kemungkinannya.
[14] Betapa banyak manusia takut kepada Gus Dur, selama hidupnya. Mereka tidak 
berani mengkritik Gus Dur, tidak berani berbeda pendapat, tidak berani 
membantah, tidak berani menentang pendapat-pendapatny a yang keliru. Termasuk, 
ketika Gus Dur mengatakan, bahwa Al Qur’an adalah kitab suci yang paling porno. 
Mereka tetap tidak berani mengingatkan Gus Dur. Mereka sangat takut kepada Gus 
Dur, karena takut kuwalat, takut celaka, takut mengalami kemalangan. Lihatlah, 
betapa banyak manusia sudah mempertuhankan Gus Dur. Kepada Allah mereka tidak 
takut, tetapi kepada Gus Dur begitu ketakutan. Realitas seperti itu adalah 
kemusyrikan dalam bentuk baru.
[15] Terakhir, betapa hinanya manusia yang mau membela, membantu, mendukung, 
menyokong, mempermudah gerakan Yahudi internasional. Padahal mereka semula 
adalah Muslim, orang Indonesia, orang pesantren, dan sebagainya. Sayang sekali, 
mereka mendukung Yahudi internasional yang terkenal dengan misi-misi kejahatan 
mereka untuk memperbudak seluruh manusia di dunia. Mereka mendukung gerakan 
yang tujuan akhirnya menjadikan semua manusia bersimpuh di telapak kaki Yahudi. 
Bahkan sangat disayangkan sekali, mereka lahir dari rahim wanita-wanita non 
Yahudi. Mengapa? Sebab selama mereka tidak memiliki darah Yahudi, statusnya 
tetap sebagai “budak”. Sangat menyedihkan, mereka bersusah-payah mendukung misi 
kerusakan di muka bumi.
Sulit bagi saya untuk memastikan, apakah Gus Dur seorang Freemason atau bukan? 
Tetapi setidaknya kita mendapat banyak bukti, bahwa dia adalah tokoh yang 
selama hidupnya banyak menolong missi-missi Yahudi internasional. Dalam Surat 
Al Maa’idah dikatakan, “Wan man yatawallahum, fainnahu minhum” [siapa yang 
loyal kepada mereka (Yahudi atau Nashrani), sesungguhnya dia bagian dari 
mereka].
Sekali lagi ditegaskan disini, Gus Dur bukan saja tidak pantas dianggap sebagai 
“pahlawan nasional”. Bahkan mengucapkan “innalillah wa inna ilaihi raji’un” 
saat dia mati, adalah sebuah kesalahan.
Saudaraku, Anda jangan takut kepada siapapun dalam rangka mentaati Allah dan 
Rasul-Nya. Sekaligus Anda jangan berani memuja-muja manusia yang tidak pantas 
dipuji, sehingga perbuatan Anda itu akan mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. 
Jadilah Muslim sejati yang bicara apa adanya; katakan benar jika benar, katakan 
salah jika salah. Demi Allah, orang-orang oportunis dimanapun tidak akan 
beruntung. Mereka takut dimusuhi manusia, tetapi tidak takut dimusuhi Allah 
Ta’ala.
Perhatikan nasib orang-orang yang saat ini berlomba-lomba memuja Gus Dur, 
kemudian mereka tidak bertaubat dari kesalahan-kesalahan nya. Lihatlah apa yang 
nanti akan menimpa mereka! Mari kita sama-sama menyaksikan!
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu Akbar, wallahu Akbar, wallahu Akbar 
walillahil hamdu.
Abu Muhammad Waskito.
(Dulu dibesarkan dalam kultur Nahdhiyin, di Malang).
http://www.muslimda ily.net/jurnalis /4773/gerakan- pemujaan- gus-dur
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke