NB:
Menurut saya istilah "Kelompok Islam Liberal" itu tidak ada...yang tepat
adalah "Kelompok Munafik", "Kelompok Fasiq", atau "Kelompok Murtad".
Tergantung amal perbuatan masing-masing...
*Sejarah & Bahaya Islam Liberal*
Oleh Abu Hamzah / Agus Hasan Bashari
Pendahuluan
§ Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah ta'ala kepada
Rasul-Nya yang terakhir Muhammad : "Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan
membawa petunjuk dan Dien yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua Dien.
Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (QS. 48: 28)
§ Sebagai rahmat bagi semesta alam : "Dan tiadalah Kami mengutus
kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS 21:107)
§ Dan sebagai satu-satunya *Dien* yang diridhai oleh Allah ta'ala:
"Sesungguhnya Dien (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." (QS 3:19)
§ Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber
dan pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ia
termasuk Al-Jama'ah atau Firqah Najiyah (kelompok yang selamat) dan yang
keluar atau menyimpang darinya maka ia termasuk firqah-firqah
(kelompok-kelompok) yang halikah (binasa).
*Sanad (asal-usul) Firqah Liberal *
Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala
kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada
digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan
gerakan permurnian, kembali kepada al-Qur'an dan sunnah. Pada saat ini
muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India,
1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai
dengan kebutuhan pcnduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi'ah. Ada
Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan
membukanya lebar-lebar.
Ide ini terus bergulir. Rifa'ah Rafi' al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873)
memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani
(Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata
pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam. (Charless Kurzman:
xx-xxiii)
Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-18%) yang membujuk kaum muslimin
agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada tahun
1877 ia membuka suatu kolese yang kemudian menjadi Universitas Aligarh
(1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The Spirit of Islam
berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di Inggris pada masa
Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad adalah Pelopor Agung
Rasionalisme. (William Montgomery Waft: 132).
Di Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran
mu'tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari pengaruh
salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan pelopor
emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar'ah. Lalu muncul Ali Abd. Raziq
(1888-1966). Lalu yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam tidak
memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu
diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatatan bahwa yang
dikehendaki oleh al-Qur'an hanyalah sistem demokrasi tidak yang lain.
(Charless: xxi,l8).
Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis,
ia menggagas tafsir al-quran model baru yang didasarkan pada berbagai
disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena
tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya Ia ingin menelaah
Islam berdasarkan ilmu­-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin
mempersatukan keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran
diluar Islam. (Mu'adz, Muhammad Arkoun Anggitan tentang cara-cara tafsir
al-Qur'an, Jurnal Salam vol.3 No. 1/2000 hal 100-111; Abd. Rahman
al-Zunaidi: 180; Willian M Watt: 143).
Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan
menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual,
satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan
al-Qur'an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang
dituju oleh al-Qur'an adalah ideal moralnya karena itu ia yang lebih pantas
untuk diterapkan. (Fazhul Rahman: 21; William M. Watt: 142-143).
Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago)
yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad
Wahid dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal
dan misinya menukil dari Greg Barton, Sabili no. 15: 88). Nurcholis
Madjidtelah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada
saat itu ia
telah menyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: "Rasanya toleransi
agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme)
bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu
nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya
merupakan inti setiap agama" (Nurcholis Madjid: 239)
Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang
mengusung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok
dengan pikirannya.
Demikian sanad Islam Liberal menurut Hamilton Gibb, William Montgomery Watt,
Chanless Kurzman dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita urut maka pokok
pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang rasionalis
dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis Ia'natullah
'alaih. (Ali Ibn Abi aI-'Izz: 395) karena itu JIL bisa diplesetkan dengan
"Jalan Iblis Laknat". Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan
bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh
gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar what The Caesar's and to
the God what the God's (Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada kaisar
dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada Tuhan). (Muhammad Imarah: 45) Karena
itu ada yang mengatakan: "Cak Nur Cuma meminjam pendekatan Kristen yang
membidani lahirnya peradaban barat"
Sedangkan paham pluralisme yang mereka agungkan bersambung sanadnya kepada
lbn Arabi (468-543 H) yang merekomendasikan keimanan Fir'aun dan
mengunggulkannya atas nabi Musa 'alaihis salam (Muhammad Fahd Syaqfah:
229-230)
*Misi Firqah Liberal*
Misi Firqah (kelompok) Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya:
menghancurkan) gerakan Islam fundamentalis (www.islamlib.com). mereka
menulis: "sudah tentu, jika tidak ada upaya-upaya untuk mencegah dominannya
pandangan keagamaan yang militan itu, boleh jadi, dalam waktu yang panjang,
pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militan ini bisa menjadi
dominan. Hal ini jika benar terjadi, akan mempunyai akibat buruk buat usaha
memantapkan demokratisasi di Indonesia. Sebab pandangan keagamaan yang
militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok-kelompok agama yang
ada. Sebut saja antara Islam dan Kristen. Pandangan-pandangan kegamaan yang
terbuka (inklusif) plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok
yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis."
Yang dimaksud dengan Islam Fundamentalis yang menjadi lawan firqah liberal
adalah orang yang memiliki lima ciri-ciri; yaitu:
-mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat,
-mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan
membangkitkan kembali masa lalu itu
-mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam
-mereka yang mempropagandakan bahwa Islam adalah agama dan negara,
-mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa
depan.
Demikian yang dilontarkan mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon
(Muhammad Imarah : 75)
*Agenda dan Gagasan Firqah Liberal *
Dalam tulisan berjudul "Empat Agenda islam Yang Membebaskan; Luthfi Asy
Syaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas
Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal.
Pertama, agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan dunia,
sistem kerajaan dan parlementer (demokrasi) sama saja.
Kedua, mengangkat kehidupan antara agama. Menurutnya perlu pencarian teologi
pluralisme mengingat semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di
negeri-negeri Islam.
Ketiga, emansipasi wanita dan
Keempat kebebasan berpendapat (secara mutlak).
Sementara dari sumber lain kita dapatkan empat agenda mereka adalah
(1) pentingnya konstekstualisasi ijtihad
(2) komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan
(3) penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama
(4) permisahan agama dari partai politik dan adanya posisi
non-sektarian negara
(lihat Greg Bertan, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pustaka Antara
Paramadina 1999: XXI)
*Bahaya Firqah (Kelompok) Liberal *
1. Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah ,
tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan
pan Thaghut lainnya.
2. Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada
gelar-gelar keimanan karena itu mereka benci kepada kata-kata jihad, sunnah,
salaf dan lain-lainnya dan mereka rela menyebut Islamnya dengan Islam
Liberal. Allah berfirman: "Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang
buruk sesudah iman". (QS. Al-Hujurat 11)
3. Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur'an dan
meragukan kemudian menolak sebagian yang lain, supaya penolakan mereka
terkesan sopan dan ilmiyah mereka menciptakan "jalan baru" dalam menafsiri
al-Qur'an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik,
Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal. Sebagai contoh, Musthofa Mahmud dalam
kitabnya al-Tafsir al-Ashri 1i al­Qur'an menafsiri ayat ( -Faq tho 'u
aidiyahumaa- ) dengan "maka putuslah usaha mencuri mereka dengan memberi
santunan dan mencukupi kebutuhannya." (Syeikh Mansyhur Hasan Salman, di
Surabaya, Senin 4 Muharram 1423).
4. Dan tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka
pantaslah mengapa Rasulullah bersabda: "Yang paling saya khawatirkan atas
adalah orang munafik yang pandai bicara. Dia membantah dengan Al-Qur'an."
Orang-orang yang seperti inilah yang merusak agama ini. Mereka mengklaim
diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal merekalah perusak Islam, mereka
mengajak kepada kepada Al-Qur'an padahal merekalah yang mencampakkan
Al-Qur'an. Mengapa demikian ? Karena mereka bodoh terhadap sunnah. (Lihat
Ahmad Thn Umar al-Mahmashani: 388-389)
5. Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad
yang ada dalam Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya
barat, maka mereka melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat.
6. Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi , para
sahabatnya dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi mereka pemahaman yang hanya
mengandalkan pada ketentuan teks-teks normatif agama serta pada
bentuk-bentuk Formalisme Sejarah Islam paling awal adalah kurang memadai dan
agama ini akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif (Syamsul Arifin;
Menakar Otentitas Islam LiberaL .Jawa Pos 1-2-2002). Mereka lupa bahwa sikap
seperti inilah yang diancam oleh Allah: "Dan barangsiapa yang menentang
Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan
orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah
dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruknya tempat kembali." (QS. An-Nisaa' 115).
7. Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu
ulama. Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri, sebab mereka mengaku
sebagai "pembaharu" bahkan "super pembaharu" yaitu neo modernis. Allah
berfirman: Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi," mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang
yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang
yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada
mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman," mereka
menjawab, "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah
beriman." Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi
mereka tidak tahu.(QS. Al-Baqarah 11-13).
8. Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu
menjadikan Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L.
Esposito menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh
negara-negara Islam tampil seperti Turki.
9. Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah
bid'ah dan setiap bid'ah pasti memecah belah.
10. Mereka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan
pemikir-pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan
internasional dan dana yang cukup.
11. Mereka tidak memiliki manhaj yang jelas sehingga gagasannya
terkesan "asbun" dan asal "comot" Lihat saja buku Charless Kurzman, Rasyid
Ridha yang salafi (revivalis) itupun dimasukkan kedalam kelompok liberal,
begitu pula Muhammad Nashir (tokoh Masyumi) dan Yusuf Qardhawi (tokoh Ihwan
al-Muslimin). Bahayanya adalah mereka tidak bisa diam, padahal diam mereka
adalab emas, memang begitu berat jihad menahan lisan. Tidak akan mampu
melakukannya kecuali seorang yang mukmin. "Barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkan yang baik atau hendaklah
ia diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
12. Ahlul batil selain itu menghimpun kekuatan untuk memusuhi ahlul
haq. Allah ta'ala berfirman: "Adapun orang-orang yang kafir, sebagian
mereka pelindung bagisebagian yang lain. JIka kamu (hai para muslimin) tidak
melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi
kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (QS. Al-Anfaal 73).
Sementara
itu Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menyebut mereka berbahaya sebab mereka itu
"sederhana" tidak memiliki landasan keilmuwan yang kuat dan tidak memiliki
aqidah yang mapan. (lihat Bahaya Islam Liberal: 40, 64-65)
[Non-text portions of this message have been removed]