Siswa SMP Jadi Incaran Liberalisasi Islam
Jan 9, '10 10:42 AM
by harianiua (dikutip dari Multiply)


Sebuah buku pengusung pluralisme agama telah terbit. Bukan untuk orang dewasa 
tetapi anak-anak. Kontroversi merebak, buku diduga menyesatkan. Buku itu 
berjudul “Pendidikan Perdamaian Berbasis Islam.”  Buku untuk pelajar SMP yang 
dicetak pada juli 2009 ini telah diawali dengan edisi try out yang berisikan 
tiga bab. Namun belum sempat diedarkan lebih luas, buku ini sudah menuai banyak 
kritikan pedas dari kalangan tokoh ulama di kota Solo, termasuk Majelis Ulama 
Indonesia kota Solo, yang akhirnya melayangkan surat ke pihak Universitas 
Muhammadiyah Surakarta untuk menarik peredaran buku tersebut.

Beberapa poin yang menjadi sumber konflik diantaranya pemahaman masalah tauhid 
yang dinilai mengarah ke pembiasan makna tauhid. Nilai-nilai pluralisme agama 
yang berarti kesamaan agama-agama, dijunjung tinggi di dalam buku ini.

Buku yang dicetak dengan ilustrasi ini, memunculkan persepsi berbeda di 
kalangan umat Islam, terutama di kalangan pelajar, bahwa murid yang mengenakan 
busana Muslim, akan mendapatkan nilai jelek dan pesimis. Sedangkan yang tidak 
berbusana Muslim akan optimis.

Munculnya kontroversi buku ini pun telah mendapat tanggapan dari pencetus 
sekaligus penanggung jawab buku tersebut, Yayah Khisbiyah. Dia mengatakan, pada 
mulanya buku ini dibuat sebagai, “Keprihatinan kami dan pihak-pihak lain akan 
meningkatnya ketegangan atau konflik antar penganut agama yang berbeda-beda, 
yang akhirnya mengarah kepada saling serang, yang sudah memakan korban jiwa. 
Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di Negara-negara lain.”

Dengan latar belakang demikian, Yayah dan tim perumusan buku ini, menjadikan 
wacana yang tersebar di dalam bidang pendidikan dapat mempengaruhi pencegahan 
terjadinya ketegangan antar kelompok agama. “Sebagai tenaga pendidik kami 
berupaya memberikan penanaman nilai-nilai perdamaian. Dan kami melihat 
pemberian nilai-nilai ini perlu diberikan ke anak di usia remaja, yang sedang 
mengalami karakter building. Jika sudah dewasa sulit untuk mengubah cara 
pandang,” ungkapnya.

Buku ini menuai protes dari beberapa kalangan. Tidak hanya dari kalangan tokoh 
ulama Solo saja, namun kecaman keras juga datang dari kalangan akademisi UMS 
sendiri.  Diantaranya dari dekan Fakultas Hukum UMS, Aidul Fitri Ciada Azhari.

Dekan Fakultas Hukum itu mengatakan, buku itu materinya terlalu tinggi untuk 
anak SMP. Mungkin penyebabnya karena buku ini menggunakan pendekatan filosofi. 
“Yang kedua,” ungkapnya, “buku itu seperti memposisikan Islam sebagai agama 
yang anti perdamaian. Buku ini mengarahkan anak-anak Islam untuk lebih toleran 
dan lebih mengarah pada pluralisme agama. Saya lihat mengarah ke situ.”

Adalagi bagian yang cukup fatal yang dia temukan.  “Dalam sebuah bagian buku 
itu tertulis manusia itu ‘berasal’ dari Allah dan akan kembali kepada Allah. 
Ini berbahaya. kalau dipahami orang dewasa dan paham filsafah tidak masalah. 
Tapi bagi anak SMP itu menjadi bermasalah dan bahaya, ini memberi paham yang 
pantheistik.”

Aidul Fitri menyarankan seharusnya tertulis, manusia itu ‘diciptakan’ oleh 
Allah. Itu saja.
“Pemilihan katanya salah. Ada kesan bahwa buku ini lebih selektif pada 
ayat-ayat yang diarahkan pada pluralisme.”

Aidul semakin kecewa ketika mengetahui buku itu akan dijadikan pegangan siswa 
SMP Muhammadiyah. Dia tidak setuju karena buku ini mencoba mendesain generasi 
Muhammadiyah menjadi liberal.

Tokoh Islam Solo, Mudzakkir, menemukan isi buku ini banyak menyimpang, dan 
bahkan mendidik anak untuk jadi sesat karena salah dalam memahami Islam. “Saya 
sangat menyesalkan, kok ada orang Islam yang membuat buku seperti itu. Yang 
jelas buku ini sangat merugikan Islam karena isinya mendidik orang untuk keluar 
dari keyakinan atau akidah Islam.”

Mudzakkir menambahkan, kesalahan utamanya ada pada pemberian makna tauhid. 
“Tauhid diartikan dari segi bahasa, bukan pengertian syariat. Pembaca akan 
beranalogi terbalik dan salah. Buku ini kata konsepnya berbasis Islam, tapi 
ternyata buku ini justru merugikan Islam.” 

Bukti yang dia temukan,  dikatakan berdamai berarti sudah bertauhid. “Padahal 
Islam tidak mengajarkan seperti itu, banyak orang yang cinta damai tapi dia 
sendiri musyrik.”

Dia menilai, “Isi buku ini sangat bodoh dan menjadi informasi yang salah.” 
Keberatan Mudzakkir sudah sampai ke Majlis Ulama Indonesia wilayah Solo. Segera 
muncul sebuah sikap, MUI menarik peredaran buku ini. 

“Bagi saya,” ungkapnya, “buku ini harus dibuang karena ini sampah dan akan 
merusak. Ini barang busuk, mengganggu. Harus dibuang!” 


SABILI, 5 januari 2010
Erdy Nasrul 
Laporan: Aef Abdullah 




==========================


ternyata tidak hanya NU, Muhammadiyah juga sudah disusupi pluralisme dan 
liberalisme.

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke