Kaleideskop Dunia Islam 2009 : Objek Imperialisme Barat

Tidak ada perubahan berarti nasib dunia Islam pada tahun 2009. Tanpa 
Khilafah , Dunia Islam masih menjadi objek kebijakan imperialisme 
negara-negara Barat dan sekutunya. 

Ideologi Kapitalisme yang diemban oleh negara secara konsisten menjadikan 
penjajahan  sebagai metode baku politik luar negeri mereka. Dunia Islam 
yang memiliki potensi politik dan ekonomi yang luar biasa menjadi objek 
penjajahan dunia Barat. Beberapa isu hangat yang mencerminkan itu antara 
lain:

Derita Irak, Afghanistan, Khasmir, India, dan Bosnia
Irak dan Afghanistan merupakan dua negara yang secara fisik langsung 
dijajah oleh AS dengan pendudukan militer. Di samping menghancurkan 
bangunan fisik di dua negeri ini dengan pemboman yang membabi buta, korban 
rakyat sipil pun berjatuhan.  Di Irak hingga kini sekitar satu juta orang 
terbunuh.  Ribuan orang terbunuh di Afghanistan.
Di Afghanistan serangan terhadap rakyat sipil berulang terjadi. Seperti 
biasa AS mengklaim mereka menyerang al Qaidah, meskipun banyak di antara 
korban adalah para wanita dan anak-anak.  Pada awal Desember 2009, 13 
warga sipil tewas provinsi Lagham terbunuh dalam serangan oleh NATO.

Janji Obama untuk membuka babak baru hubungan Islam dan AS yang saling 
menguntungkan kembali terbukti omong kosong. BBC online (30/11) melaporkan 
Presiden Obama mengirim tambahan pasukan 30 ribu personel ke Afghanistan.
Masih pada November, empat orang warga sipil meninggal akibat serangan 
rudal yang dilakukan oleh pesawat mata-mata tak berawak, yang diyakini 
pesawat itu milik Amerika. Serangan rudal itu menimpa rumah seorang 
pemimpin suku di utara Waziristan.Sumber tersebut mengatakan bahwa 
serangan yang terjadi di daerah Newark itu juga melukai empat orang 
lainnya.
Pada bulan September (4/9) lebih dari seratus orang, sebagian besar warga 
sipil, dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya terluka setelah 
pesawat-pesawat tempur pimpinan AS menyerang tanker bahan bakar di wilayah 
utara Afghanistan. Gubernur Provinsi Kunduz, Mohammad Omar, 
mengkhawatirkan jumlah korban tewas bisa mencapai 90 orang.

Serangan tidak hanya terjadi di Afghanistan, daerah perbatasan 
Afghanistan-Pakistan pun menjadi sasaran pembantaian masal AS dan 
sekutunya. Pada bulan Agustus enam orang tewas dalam serangan pesawat 
tanpa awak milik AS di wilayah Suku Waziristan selatan di Pakistan 
barat-laut, yang berbatasan dengan Afghanistan, demikian laporan stasiun 
televisi Kamis(6/8). Menurut saluran TV swasta Express News, pesawat tanpa 
awak itu menembakkan dua rudal ke satu rumah di Desa Kani Kuram di 
Waziristan selatan, menewaskan enam orang dan melukai sembilan orang lagi, 
sementara stasiun TV Geo News menyatakan serangan tersebut telah 
menewaskan delapan orang.
Negara teroris Amerika Serikat kembali membunuh rakyat sipil Afghanistan 
di pertengahan 2009. Kali ini yang menjadi korbannya adalah petani. 
Seperti yang dilaporkan Republika online (06/08), serangan udara yang 
dilancarkan pasukan Barat di Afghanistan Selatan menewaskan lima petani. 
Demikian diungkapkan seorang kepala kepolisian lokal. Para petani tersebut 
tengah memuat hasil panen mereka, mentimun, ke dalam sebuah taksi.

Di bulan Mei AS menyerang warga sipil. Sedikitnya 97 warga sipil tewas.. 
Kebanyakan anak-anak. Menurut Komisi Hak Asasi Independen Afghanistan, 
AIHRC, seperti dilansir situs straittimes, Rabu (27/5/2009), peristiwa 
penembakan terjadi pada 4-5 Mei lalu yang terjadi di barat daya Provinsi 
Farah. Selain menewaskan korban sipil, tak sedikit juga pasukan militer 
Afghanistan menjadi korban keganasan pasukan militer AS. Pemerintah 
Afghanistan menyebutkan, sekitar 140 warga sipil tewas.
Rakyat Afghanistan pun bangkit untuk menentang penjajahan AS dan 
sekutunya. Sekitar seribu warga Afghanistan, mayoritas para mahasiswa 
menunjukkan kemarahannya terhadap AS dengan membakar “orang-orangan” 
berbentuk Presiden AS Barack Obama. Rakyat bersama para mahasiswa 
Afghanistan itu turun ke jalan-jalan dan melakukan aksi long march di 
Kabul-ibukota Afghanistan hari Minggu (25/10) setelah mendengar kabar 
bahwa tentara-tentara AS membakar kitab suci Alquran. Para demonstran 
membakar sebuah “boneka” berbentuk Presiden AS Barack Obama, sambil 
meneriakkan pernyataan “Mati Kau Amerika, Hancurkan Israel !”, “Tolak 
demokrasi. Yang kami inginkan hanya Islam !”.

Tidak hanya Afghanistan dan Irak, darah umat Islam juga tertumpah karena 
tiada yang melindungi umat ini sejak runtuhnya Khilafah Islam. Sebuah 
kelompok hak asasi manusia di Kashmir menyatakan, Rabu (2/12), mereka 
telah menemukan sekitar 1.700 kuburan tanpa nama yang terkait dengan 
pembantaian di wilayah itu dan mendesak pihak berwenang melakukan 
penyelidikan. Kuburan-kuburan itu ditemukan di 55 desa dekat Garis 
Pengawasan, yang memisahkan wilayah-wilayah Kashmir antara India dan 
Pakistan, kata kelompok Pengadilan Rakyat Internasional mengenai Hak Asasi 
Manusia dan Keadilan di Kashmir India (IPTK). Pembantaian atas Muslim 
Kashmir oleh ekstrimis India mulai terjadi sejak tahun 1947, lebih dari 
70.000 syahid.

Sementara di India, kaum nasionalis Hindu yang merupakan kunci 
pemerintahan dan para tokoh oposisi pemerintah mengatur penghancuran 
Masjid Babri yang bersejarah pada tahun 1992 menurut sebuah investigasi 
yang berlangsung selama 17 tahun di India. Mantan Perdana Menteri Atal 
Bihari Vajpayee menjadi bagian dari “perencanaan cermat” penghancuran 
masjid yang dibangun pada abad ke-16 tersebut menurut bocoran dari 
investigasi yang diterbitkan oleh harian Indian Express pada hari Ahad 
(23/11). Pembongkaran Masjid Babri tersebut memicu kekerasan antara umat 
Hindu dengan umat Muslim yang terburuk. Hampir 2.000 lebih orang yang 
sebagian besar umat Islam meninggal akibat kekerasan tersebut

Tidak kalah menyedihkan adalah nasib umat Islam di Bosnia. Ketua Komite 
Pencarian Orang Hilang di Bosnia dan Herzegovina, Omar Machovic pada 
kesempatan Hari Orang Hilang Dunia, (30/8) mengungkapkan, lebih dari 30 
ribu orang masih hilang di Bosnia dan Herzegovina sejak pecah perang pada 
awal dekade terakhir. Machovic berkata kepada Kantor Berita  Kuwait (KUNA) 
bahwa jumlah keseluruhan orang yang hilang di semua negara bekas 
Yugoslavia ini mencapai 40 ribu orang, 80 persen di antaranya adalah kaum 
Muslim Bosnia.
Sementara itu , umat Islam di Turkistan Timur (versi China Xianjiang) 
terus ditindak oleh pemerintah Komunis China. Diperkirakan korban jiwa 
dalam kerusuhan di kota Urumqi, China, antara Muslim dengan suku Han China 
mencapai 600 hingga 800 orang tewa, kata Wakil Presiden Kongres Uighur 
Dunia, Asgar Can, Rabu (8/07).

Pihak berwenang Cina di Provinsi Xinjiang telah mengeluarkan pengumuman 
bahwa setiap warga atau pekerja Uighur apabila ditemukan tidak makan siang 
selama bulan Ramadhan bisa kehilangan pekerjaan mereka. Ini adalah bagian 
dari kampanye pemerintah daerah di Xinjiang, tempat kelompok Muslim 
Uighur, untuk memaksa orang-orang Uighur untuk tidak melakukan ritual 
keagamaan mereka selama bulan puasa Ramadan.

Dukungan Barat terhadap Negara Zionis Israel
Kebijakan imperialisme AS juga ditunjukkan dengan dukungan yang 
membabi-buta negara itu terhadap tindakan keji Israel. Ketika terjadi 
agresi Israel ke Gaza (yang berakhir pada Januari 2009) Obama tidak 
memberikan reaksi apa-apa. Tak keluar dari mulutnya meski hanya sebuah 
kata untuk menunjukkan rasa simpati kepada para korban apalagi mengutuk 
Israel.
Bagi Obama seolah-olah di sana tidak terjadi apa-apa. Padahal ada lebih 
1.300 orang meninggal dunia dalam hitungan hari. Kawasan Gaza juga hancur 
porak-poranda. Obama malah berkata: “Amerika berpegang teguh pada keamanan 
Israel. Dan kita akan terus mendukung hak Israel untuk mempertahankan diri 
melawan ancaman yang sah.” Inikah yang disebut mutual respect?

Pengkhianatan  Penguasa Negeri Islam 
Hari ke-19 serangan brutal Israel ke Gaza, lebih dari 1.001 meninggal 
sebagai syuhada, 4.600 terluka, lebih dari 350 korban adalah anak-anak dan 
80 wanita (Aljazeera; 14/01/2008). Korban terus berjatuhan, tapi para 
penguasa Arab pengkhianat masih sibuk membahas solusi melalui KTT Doha, 
KTT Kuwait, KTT Riyad dan beberapa KTT lagi. Padahal solusinya sudah jelas 
dan mereka sudah tahu. Tidak perlu KTT. Kirim tentara, buka pinta Rafah 
untuk jihad fi sabilillah menghancurkan Israel. Itulah perintah Islam. 
Jika tidak mereka semuanya adalah pengecut dan pengkhianat.
Surat kabar Israel “Haaretz” mengatakan Rabu (9/12) bahwa Mesir telah 
memulai pembangunan tembok baja yang besar di sepanjang perbatasan dengan 
Gaza, untuk menghentikan terowongan penyelundupan di wilayah ini. Surat 
kabar tersebut mengutip dari beberapa sumber Mesir yang mengatakan bahwa 
panjang tembok itu antara sembilan sampai sepuluh kilometer di kedalaman 
berkisar antara 20 hingga 30 meter di bawah tanah, sehingga sulit membuat 
lubang, sekalipun memakai alat pelebur.

Alih-alih menyatakan perang dengan Israel dan memutuskan hubungan dengan 
AS yang menjajah negeri Islam, penguasa negeri Islam malah bekerja sama 
dengan dua negara itu. Situs www.alokab.com mengutip dari surat kabar 
Israel Haaretz (Selasa 10/11) yang mengungkap adanya kerja sama rahasia 
militer Israel dan Yordania. Tujuan kerja sama militer ini melatih operasi 
penyelamatan di daerah Beit Ciin. Kerja sama militer seperti ini telah 
sering berlangsung dalam kategori kerja sama militer yang sangat rahasia.
Angkatan Laut dan Udara Turki, Israel dan Amerika Serikat mengadakan 
latihan militer gabungan di Mediterania. Latihan gabungan ini diberi nama 
dengan “Reliant Mermaid X”. Latihan tersebut berlangsung 17-21 Agustus 
dengan tujuan untuk praktek koordinasi pencarian darurat dan operasi 
penyelamatan.

Pada April 2009, Presiden AS Barack Obama dan Raja Arab Saudi Abdullah 
membahas kerja sama mengenai cara mengatasi krisis ekonomi global dan 
upaya bersama memerangi terorisme, dalam pembicaraan langsung pertama 
mereka di sela pertemuan puncak G20, demikian Gedung Putih. Obama kembali 
menyampaikan dukungannya pada gagasan Arab Saudi bagi penciptaan 
perdamaian Arab-Israel yang hampir macet sejak proses itu diluncurkan pada 
2002. “Para pemimpin itu menyampaikan kembali hubungan kuat dan lama di 
antara kedua negara tersebut,” kata Gedung Putih dalam satu pernyataan.

Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat sepakat memperbaharui komitmen 
dan meningkatkan hubungan kedua negara ke tahap yang lebih tinggi dan 
kerja sama di segala bidang termasuk perang melawan terorisme. Demikian 
dikemukakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Hotel Shangri-La, 
Singapura, Ahad (15/11), seusai melakukan pertemuan dengan Presiden AS 
Barack Obama.

Intervensi Barat dan Politik Adu Domba di Yaman, Sudan, Pakistan, dan 
Somalia.
Intervensi dan adu domba menjadi ciri utama dari kebijakan imperialisme 
Barat. Di Pakistan, AS mendorong pemerintah Pakistan untuk memerangi 
mujahidin Taliban. AS menggunakan tentara Pakistan untuk memerangi 
Taliban. Pengkondisian pun dilakukan dengan melakukan melakukan pemboman 
di markas tentara atau polisi Pakistan yang kemudian dituduhkan kepada 
Taliban. Rakyat sipil pun dikorbankan dengan pembomanan di tempat-tempat 
umum, lagi-lagi yang disalahkan adalah Taliban. Hal ini kemudian memicu 
konflik horizontal di Pakistan, antara sesama umat Islam dan antara 
tentara Pakistan dengan Taliban.

Hizbut Tahrir wilayah Pakistan, pada 25/11/2009 mengadakan demontrasi di 
Islamabad, di luar Club Wartawan, mengkritik kezaliman para penguasa yang 
menjadi antek dan hanya melayani kepentingan Amerika. Para demonstran 
mengecam keterlibatan pemerintah serta sikapnya yang membiarkan Amerika 
melaksanakan operasi pemboman di negeri ini, dengan menggunakan perusahaan 
mereka sendiri, seperti perusahaan Blackwater. Para demonstran menuntut 
diakhirinya keberadaan Amerika dan mengakhiri perang, “fitnah” di 
Waziristan dengan cara mendirikan negara Khilafah yang akan memobolisasi 
pasukan untuk menyapu bersih Tentara Salib.

Perang melawan terorisme pimpinan Amerika memasuki fase baru pada bulan 
Desember 2009 ketika aksi militer dialihkan dari Afghanistan ke Yaman. 
Amerika Serikat meluncurkan rudal-rudal jelajah yang dilakukan dengan 
bantuan pasukan pemerintah Yaman, dengan menggunakan tank-tank, 
helikopter-helikopter dan artileri yang menyerbu desa-desa di pegunungan 
yang diduga menyembunyikan jaringan Al-Qaeda Osama bin Laden.

Tampaknya serangan-serangan yang dilakukan Amerika di Yaman sesuai dalam 
tujuan-tujuan Amerika untuk mengontrol Teluk Aden setelah mereka gagal 
mengalahkan rezim Somalia dan dikarenakan kepentingan-kepentingan 
strategis umum Amerika di Afrika. Sebagaimana ketidakmampuan pemerintah 
Sudan  untuk menangani apa yang awalnya adalah perbedaan-perbedaan 
kesukuan di negeri mereka maka Amerika kemudian campur tangan dan kemudian 
menggunakan konflik itu untuk mencapai tujuan pengendalian kekayaan minyak 
Sudan. Tampaknya Amerika menggunakan ketidakmampuan rezim Yaman untuk 
menangani masalah-masalah dalam negeri untuk ikut campur dalam urusan 
negeri itu dan kemudian berada secara permanen di perairan strategis di 
Aden.

Standar Ganda Penegakan HAM : Penjara Guantanamo, Abu Ghuraib dan Penjara 
Rahasia
Obama telah berjanji menutup Penjara Guantanamo. Tapi terbukti hingga saat 
ini penjara Guantanamo masih belum ditutup. Obama malah menyatakan banyak 
kendala untuk menutup penjara yang mengerikan ini. Banyak yang berharap 
penyiksaan pengadilan militer dihentikan. Namun, tahanan Guantanamo tetap 
dipenjarakan, dipindah ke tempat lain. Dia juga memutuskan melanjutkan 
pengadilan militer yang kontroversial. Meskipun dia telah membuat banyak 
retorika bahwa CIA telah dilarang melakukan penyiksaan, Obama memutuskan 
tidak menuntut siapapun yang telah melakukan penyiksaan di masa lampau dan 
tidak terikat dengan aturan bukti-bukti penyiksaan di tempat lain.
Pada bulan Agustus, media juga mengungkap kekejian yang dilakukan oleh 
CIA.  Badan intelijen ini menggunakan beberapa teknik interogasi “tidak 
berperikemanusiaan” yang digunakan oleh CIA terhadap tahanan dalam 
kampanye War on Teror pada zaman mantan Presiden George W Bush. Dokumen 
rahasia yang dipublikasikan, menunjukkan penyidik CIA mengancam akan 
membunuh anak-anak seorang tahanan dan memaksa orang yang dicurigai 
sebagai teroris untuk melihat ibunya diperkosa di depannya.

Dukungan Barat terhadap Rezim Represif Negeri Islam
Sikap hipokrit kebijakan luar negeri Barat tampak dari dukungan mereka 
terhadap pemerintah otoriter di negeri Islam seperti Mesir, Suriah, Saudi 
Arabia dan Uzbekistan. Di satu sisi bicara HAM, sisi lain malah mendukung 
rezim yang dikenal berperilaku kejam terhadap rakyatnya. Presiden Obama 
tetap juga mendukung penguasa tiran dan kriminal di negeri-negeri Islam 
sebagaimana pendahulunya.
Dalam wawancara dengan BBC, Obama menggambarkan Mubarak – Raja Firaun 
Mesir yang menyiksa dan mendzalimi penentang-penentangnya- dengan 
mengatakan: “Mubarak merupakan koalisi pendukung yang kuat bagi Amerika 
Serikat…. Dia telah menjadi kekuatan untuk menjaga stabilitas dan 
memberikan kebaikan di kawasan Timur Tengah“. Obama juga memuji Mubarak 
yang konsisten mendukung perdamaian dengan Israel termasuk memblokade 
rakyat Gaza untuk mendapat bantuan dan dana kemanusiaan.

Menguatnya Islamophobia di Barat 
Lebih 57 persen rakyat Swiss, lewat referendum Minggu (29/11) memilih 
untuk melarang pembangunan menara-menara masjid. Negara itu dengan 
terang-terangan telah bergabung dengan gelombang sentimen anti-Islam yang 
semakin menyebar ke seluruh Eropa. Perancis melarang hijab (jilbab), 
Perdana Menteri Italia Berlusconi menuduh Islam adalah peradaban yang 
rendah, sementara Menlu Inggris Jack Straw menyerang niqab (cadar), dan 
seterusnya.

Apa yang terjadi di Barat bukanlah sekadar pelarangan menara atau jilbab, 
tapi sebuah bentuk nyata dari pertarungan peradaban (clash of 
civilization). Hal ini tampak nyata dari alasan-alasan yang dikemukan oleh 
pihak-pihak yang menolak menara masjid. Yang mereka tolak adalah ajaran 
Islam yang memang merupakan sebuah ideologi dengan sistem hukum yang 
didasarkan pada akidah Islam. Pendukung pelarangan menara itu menyebut 
pembangunan menara akan mencerminkan pertumbuhan sebuah ideologi dan 
sistem hukum yang tidak sejalan dengan demokrasi Swiss.
Walhasil nasib umat Islam tidak akan berubah selama umat tidak memiliki 
Khilafah Islam yang akan menerapkan syariah Islam. Khilafah adalah 
pemersatu dan pelindung umat dari penjajahan Barat. Khilafah juga akan 
membebaskan umat dari seluruh persoalan kehidupan mereka dengan menerapkan 
syariah Islam dalam segala aspek.  Karena itu, perjuangan penegakan 
Khilafah semakin relevan dan penting untuk membangkitkan umat menuju masa 
depan yang lebih baik. (Farid Wadjdi)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke