Review tahun 2009: Perspektif Muslim Eropa 



Thursday, 14 January 2010 
 
mediaumat.com- Dalam beberapa kali, Eropa secara umum dilihat sebagai 
sebuah benua yang sukses dalam hal multi budaya, masyarakat dan agama. 
Tetapi apakah hal ini benar-benar terjadi pada tahun 2009? Bagi ratusan 
ribu Muslim yang tinggal di Eropa, tahun 2009 bukanlah tahun yang baik. 
Dari mulai pelarangan menara mesjid di Swiss hingga adanya kemungkinan 
pelarangan burkha di Perancis, umat Islam mengeluh bahwa adat dan tradisi 
mereka menjadi sering dipertanyakan oleh partai-partai politik ekstrem 
kanan, yang pada tahun 2009 menjadi terkenal di seluruh benua Eropa. Tapi 
apa dampak dari apa yang disebut sentimen anti-Islam itu bagi kaum Muslim 
yang tinggal di Eropa? Dan apakah kaum Muslim seharusnya bertanggung jawab 
untuk hal itu atau hanya menjadi korban dari sikap itu?
 
Januari:  Geert Wilders dicap sebagai 'rasis'
Pada awal tahun 2009 pada bulan Januari, seorang anggota partai ekstrem 
kanan yang merupakan anggota parlemen Belanda, Geert Wilders,  didakwa 
oleh Pengadilan Amsterdam menghasut rasisme dengan film pendeknya, Fitna..
Film yang berdusarasi 14 menit itu, yang ternyata telah menjadikan Wilders 
yang controversial itu menjadi tokoh yang dikenal secara internasional, 
terkait dengan kekerasan Quran terhadap orang-orang Yahudi dan Kristen dan 
mendesak umat Islam untuk "merobek" apa yang dia sebut sebagai ayat-ayat 
kekerasan dari Quran.
 
Februari: Geert Wilders ditolak masuk ke Inggris
Satu bulan kemudian pada bulan Februari dua anggota parlemen Inggris 
mengundang Wilders untuk memutar filmnya di Westminster, tapi dua hari 
sebelum pertunjukkan itu, Menlu Inggris Jacqui Smith melarangnya memasuki 
Inggris.
 
Wilders tetap saja menentang larangan itu dan masuk melalui Bandara 
Heathrow London. Ia kemudian dengan cepat ditahan oleh petugas Patroli 
Perbatasan dan dikirim kembali ke Belanda.
Keputusan untuk melarang Wilders memasuki Inggris itu kemudian berubah 
seratus delapan puluh derajat pada bulan Oktober ketika para analis 
mengatakan bahwa filmnya, dan reaksinya  itu bisa diterima, sesuatu yang 
telah menunjukkan perubahan sikap terhadap Islam di Eropa.
Mei: Kerusuhan imigran Muslim di Athena
 
Pada bulan Mei, jalan-jalan di ibukota Yunani Athena,menjadi lokasi 
kerusuhan dari para pendemo yang marah.
Puluhan mobil hancur dan 14 orang dirawat di rumah sakit karena luka 
setelah terjadi protes oleh imigran Muslim, yang marah karena adanya 
penodaan Quran oleh polisi Yunani. Diduga bahwa ada seorang polisi Yunani 
yang merobek-robek Al-Quran ketika dia memeriksa surat-surat identitas 
seorang imigran Irak di Athena.
 
Pada saat itu media Yunani melaporkan pemrotes itu sebagai para perusuh, 
padahal mereka mengatakan bahwa mereka hanya memprotes diakhirinya rasisme 
dan terjadinya penganiayaan terhadap kepercayaan mereka.
"Bagi kami umat Islam hal  ini adalah yang terburuk. Anda bisa bunuh 
keluarga saya, tapi bagi kami hal ini adalah keyakinan kami. Kami (muslim) 
telah ada di Yunani selama 22 tahun dan orang-orang Yunani juga tinggal di 
Mesir dan hal seperti ini belum pernah terjadi." Kata Mohsen Khalil, 
seorang muslim pengunjuk rasa yang tinggal di ibukota Yunani, Athena.
 
Juni:  Kelompok-kelompok Ekstrem kanan mendapatkan keuntungan di seluruh 
Eropa
 
Pada  Pemilihan Eropa di awal Juni, banyak partai ekstrem kanan yang 
mendapat perolehan suara di seluruh Eropa.
Catatan rendahnya  jumlah suara pemilih -  berbarengan dengan apa yang 
dikatakan para analis sebagai hukuman publik atas cara pemerintah dalam 
menangani krisis ekonomi -  malah membuat banyak pemilih mengalihkan 
pilihan mereka kepada partai-partai ekstrem kanan.
Tapi partai-partai politik itulah juga yang mendorong anti-imigrasi dan 
kebijakan euro-sentris yang telah mengancam kebiasaan-kebiasaan dari 
banyak kaum Muslim Eropa.
 
Graham Watson, pemimpin Kelompok Liberal di Parlemen Eropa, membantah 
kekhawatiran bahwa kelompok ekstrem kanan akan memiliki pengaruh besar di 
parlemen Eropa, namun mengatakan bahwa disayangkan bahwa para pemilih 
mengalihkan kesetiaan mereka.
"Kita semua telah mengambil pelajaran dari depresi ekonomi tahun 1930an. 
Kita semua punya kewajiban untuk mencegah hal semacam itu terjadi lagi. 
Saya tidak percaya bahwa kelompok ekstrem kanan akan memiliki pengaruh 
besar dalam kebijakan parlemen ini. Tapi saya menyesali kenyataan bahwa 
hal ini adalah akibat dari depresi ekonomi - dan mungkin karena kegagalan 
para imigran itu untuk berintegrasi ke dalam masyarakat kita dalam cara 
yang seharusnya -  sehingga telah menyebabkan kenaikan dalam hal 
representasi bagi partai-partai yang mempropagandakan kebencian dan 
xenophobia (kebencian atas orang asing). " ujar Watson.
 
Di Belanda, partainya Geert Wilders memenangkan lebih dari 15 persen suara 
di Negara itu. Sementara di Austria, pemenangnya adalah Partai Kebebasan 
(Freedom Party), yang berkampanye pada platform anti-Islam, sehingga 
berhasil menggandakan suara sejak pemilu 2004 menjadi 13 persen.
 
Partai ekstrem kanan Hungaria, partai Jobbik, yang menggambarkan dirinya 
sebagai partai anti-imigran dan telah meminta polisi untuk menindak 
orang-orang Gipsi, memenangkan tiga kursi dari 22 tempat di negara itu 
pada pemilihan parlemen Eropa, hanya selisih satu suara dari partai 
Sosialis yang berkuasa .
Hasil yang sama juga menunjukkan Nick Griffin, pemimpin partai ektrem 
kanan Inggris, Partai Nasional Inggris (BNP), telah memenangkan kursi 
kedua bagi partai itu di parlemen.
 
Tapi di sini di Inggris berita tentang kemenangan BNP tidak diterima oleh 
sebagian besar masyarakat
Pemimpin partai itu diberi kesempatan berbicara pada sebuah acara talk 
show politik BBC pada bulan Oktober tetapi disambut oleh para demonstran, 
yang mengatakan Griffin seharusnya tidak diberi kesempatan atas apa yang 
disebut sebagai  'panggung politik'. Banyak dari para pemrotes juga 
mengatakan bahwa mereka khawatir akan terjadi kenaikan serangan 
Islamofobia di seluruh Inggris.
 
Juli: Marwa El Sherbiny - tanda akan datangnya sesuatu?
Kekerasan anti-Muslim tampaknya terus meningkat, dengan laporan media 
nasional yang menyebutkan serentetan serangan pembakaran atas 
masjid-masjid di Inggris, pembakaran sebuah toko amal Islam dan tuduhan 
bahwa sebagian Muslim Inggris bahkan mendapat surat ancaman dari para 
aktivis ekstrem kanan..
 
Tapi mungkin insiden yang paling serius terjadi pada bulan Juli, ketika 
terungkap bahwa sejumlah orang dituduh terlibat dalam jaringan tersangka 
ekstremis kanan yang memiliki akses hingga 300 senjata dan 80 bom, yang 
ditemukan oleh detektif anti-terorisme.
Sekitar waktu yang sama Presiden Perancis Nicholas Sarkozy membuat marah 
banyak umat Islam di seluruh Eropa ketika mengatakan bahwa burkha tidak 
diterima di Perancis dan bahwa hal itu adalah cermin penindasan.

"Burqa tidak akan dapat diterima di wilayah Republik Perancis. Kami tidak 
bisa menerima bahwa di negara kami, sebagian perempuan menjadi 
terpenjarakan di balik jeruji besi, terpisah dari segala kehidupan sosial, 
dan kehilangan identitas. Hal itu bukanlah prinsip yang dimiliki oleh 
Republik Perancis mengenai martabat perempuan. "kata Sarkozy.
Pernyataan itu secara telah membuat marah banyak umat Islam yang 
mengatakan bahwa komentar itu hanya akan membuat stigma atas Islam.
Souhail Boughdiri, seorang guru matematika yang tinggal di Marseille, 
Perancis, mengatakan bahwa komentar yang dibuat oleh Sarkozy itu telah 
merugikan cara hidup kaum Muslim Eropa.
 
"Saya dulunya adalah seorang profesor di sebuah sekolah menengah umum. Dua 
orang gadis muda di kelas saya yang memakai burka diusir. Saya mencoba 
segalanya untuk membuat mereka tetap bertahan di sekolah tetapi sekolah 
memutuskan untuk mengusir mereka juga. Saat ini, kedua gadis muda itu 
masih tidak bisa pergi ke sekolah. " jelas Boughdiri.
Hingga saat ini, memang benar untuk mengatakan bahwa serangan Anti-Islam 
terus meningkat, tetapi insiden yang terjadi pada bulan Juli lah yang 
mendapat kecaman internasional yang luas
Marwa El Sherbiny, yang dijuluki sebagai syuhada jilbab, ditusuk 18 kali 
hingga tewas ketika terjadi dengar pendapat di pengadilan di kota Dresden 
Jerman oleh seorang pria yang dia bersaksi atasnya karena pelecehan verbal 
Islamofobia yang dilakukan pria itu.

El Sherbini, yang pada saat itu sedang hamil tua, sejak saat itu telah 
menjadi simbol terjadinya penganiayaan bagi semakin banyak umat Islam, 
yang kasusnya menyebabkan demonstrasi di jalan-jalan seluruh dunia sebagai 
protes atas pertumbuhan Islamofobia di Barat.
Ratusan pengunjuk rasa berkumpul di Dresden pada saat kematian Sherbiny 
untuk mengekspresikan kemarahan mereka. Yahya Farouk, seorang warga negara 
Kanada yang pergi ke Jerman untuk menghadiri demonstrasi tersebut, 
mengatakan bahwa rasisme masih menjadi masalah bagi negara.
 
"Jerman adalah negara yang seharusnya bangga atas fakta bahwa negara itu 
memiliki budaya terpadu dan bahwa rasisme tidak ada lagi. Penduduk Jerman 
beranggapan bahwa setelah apa yang terjadi di masa lalu tidak akan ada 
lagi rasisme. Tetapi jika Anda melihat apa yang terjadi dua minggu yang 
lalu itu anda akan melihat bahwa rasisme masih merupakan isu yang sangat 
mencolok di Jerman dan hal ini tidak diberi perhatian yang cukup. " kata 
Farouk.
 
November:  Kontroversi Menara Mesjid di Swiss
Pada bulan November,  pemerintah Swiss meloloskan undang-undang larangan 
menara Masjid, dalam dalam sesuatu yang banyak dikecam sebagai serangan 
terhadap budaya Islam baik oleh kaum Muslim maupun non-Muslim.
 
Partai sayap kanan Partai Rakyat Swiss (People's Party) telah memaksakan 
diadakannya  referendum mengenai masalah itu setelah berhasil mengumpulkan 
100.000 tanda tangan dalam waktu 18 bulan. Hal ini kemudian diikuti 
kampanye yang kasar oleh kelompok-kelompok ekstrem kanan, yang menggunakan 
poster-poster yang  dianggap "rasis" oleh kelompok-kelompok  HAM, untuk 
mendorong rakyat Swiss memberikan suara untuk membuat larangan itu.
 
Bahkan Komite HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut kampanye melawan 
menara itu sebagai "diskriminatif" dan mengatakan bahwa Swiss akan 
melanggar hukum internasional jika larangan itu dilaksanakan.
Swiss, seperti banyak negara-negara Eropa lain  yang telah mengambil 
langkah-langkah serupa yang  dilihat sebagai anti-Islam, telah lama 
dianggap sebagai Negara yang cukup moderat. Tapi para pengamat mengatakan 
sekarang ada kekhawatiran tentang apa yang dilihat sebagai penyebaran 
'Islam radikal' di Eropa dan banyak kelompok-kelompok sayap kanan 
anti-imigrasi, yang suka menakut-nakuti hal itu.
 
Hasilnya adalah bahwa komunitas Muslim di Eropa kini malah khawatir bahwa 
alih-alih memadamkan radikalisme Islam, munculnya kebijakan vokal yang 
membuat komunitas Muslim dan imigrasi sebagai sasaran ini  mungkin malah 
akan membuat perasaan anti-Islam di seluruh benua Eropa sebagai sesuatu 
yang normal. (paltelegraph/reza)

sumber : mediaumat.com



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke