Dalam buku "Kasfus Syubahat" karangan ulama-ulama Wahabi, cetakan "An Nur" 
Nejdi, dapat diambil sejarah paham Wahabi ini ialah :

Muhammad bin Abdul Wahab berasal dari qabilah Banu Tamim, lahir 1115 H., wafat 
tahun 1206 H.

Kalau sekarang ini tahun 1431H / 2010M,  maka Muhammad bin Abdul Wahab wafat 
sudah 225 tahun yang lalu.

Mula-mula ia belajar agama di Makkah dan di Madinah. Di antara gurunya di 
Makkah terdapat nama Syeikh Muhammad Sulaiman al Kurdi,  Syeikh Abdul Wahab 
(bapaknya sendiri) dan kakaknya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab.

Guru-gurunya semua termasuk bapak dan kakaknya adalah ulama-ulama Ahlussunnah 
wal Jama'ah. Hal ini dapat dibaca dalam, buku "As Shawa'iqul Ilahiyah firraddi 
al Wahabiyah" (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi),  karangan 
kakaknya. Sulaiman bin Abdul Wahab.

Menurut Ustadz Hasan Khazbyk dalam suatu karangannya dikatakan, bahwa Muhammad 
bin Abdul Wahab pada ketika mudanya banyak membaca, buku-buku karangan Ibnu 
Taimiyah dan lain-lain pemuka.

Perantara tahun wafat Ibnu Taimiyah (728H)  dan Muhammad bin Abdul Wahab 
(1206H) adalah 478 tahun.  Ibnu Taimiyah meninggal di Syria sedang Muhammad bin 
Abdul Wahab meninggal di Nejdi.

Menurut buku  "Kasfus Syubahat" tersebut, yang berasal dari tulisan cucu-cucu 
dari keluarga Muhammad bin Abdul Wahab, yaitu Abdul Lathif bin Ibrahim Ali 
Syeikh, bahwa,

Muhammad bin Abdul Wahab lahir di suatu desa bernama "Ainiyah" pada tahun 1115 
H. Ia belajar agama kepada bapaknya, karena bapaknya, adalah ulama /Qadhi di 
negeri `Ainiyah itu.
Setelah ia mencapai usia dewasa ia pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji 
dan kembali ke `Ainiyah sesudah mengerjakan haji.
Kemudian Muhammad bin Abdul Wahab datang lagi ke Makkah dan Madinah yang kedua 
kali. Lama ia tinggal menuntut ilmu di Makkah dan Madinah.

Katanya, pada kali yang kedua inilah ia banyak melihat di Madinah 
amal-amal/ibadat-ibadat orang Islam di hadapan makam Nabi yang berlainan dari 
Syari'at Islam, menurut kacamatanya.

Kemudian ia pindah ke Basrah dan menyiarkan fatwanya yang ganjil-ganjil tetapi 
ia segera diusir oleh pengusaha dan dikeluarkan dari kota Basrah.

Kemudian Muhammad bin Abdul Wahab pergi ke Hassa dan berguru lagi di situ 
dengan Syeikh Abdullah bin Abdul Lathif, seorang ulama di Hassa. Ketika itu.  
Kemudian ia pindah ke Huraimalah, suatu desa kecil di negeri Nejdi.

Mula-mula ia menyiarkan fatwanya yang ganjil-ganjil di negerinya sendiri, yaitu 
di `Ain yah. Tetapi Raja di negeri itu namanya Utsman bin Ahmad bin Ma'mar yang 
mulanya menolong tetapi setelah mendengar fatwa-fatwanya lalu mengusir dan 
bahkan berusaha membunuhnya.

Kemudian ia pindah ke Dur'iyah. Raja Dur'iyah bernama Muhammad bin Sa'ud 
menolong Muhammad bin Abdul Wahab dalam penyiaran paham-pahamnya. Maka 
bersatulah dua orang "Muhammad", yang berlain kepentingan, yaitu Muhammad bin 
Abdul Wahab dan Muhammad bin Sa'ud.
Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran 
pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa'ud membutuhkan seorang ulama yang dapat 
mengisi rakyatnya dengan ideology yang keras, demi untuk memperkokoh 
pemerintahan dan kekuasaannya.

Maka bersatulah antara paham agama dengan raja, sebagai bersatunya paham Syi'ah 
di Iran dengan Syah Iran dan bersatunya paham Syi'ah Imamiyah di Yaman dengan 
"Imam" yang menguasai Yaman (sebelum Republik).

Demikian tersebut dalam buku "Kasfus Syubahat" cetakan percetakan "An Nur" 
Riyadh.

Jelas dari uraian ini bahwa paham Muhammad bin Abdul Wahab tidak diterima di 
Basrah juga tidak diterima di "Ainiyah, sehingga ia diusir dari kedua tempat 
itu oleh penguasa.
Tetapi dengan pertolongan Muhammad bin Sa'ud di kota Dur'iyah banyak jugalah 
pengikut-pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang terdiri dari orang-orang padang 
pasir, sehingga menjadi kekuasaan yang tidak dapat diabaikan oleh Turki dan 
Syarif-Syarif di Makkah ketika itu.

Pada suatu ketika mereka mengirim delegasinya ke Makkah menemui Syarif Makkah, 
yaitu Syazif Mas'ud sambil mengerjakan haji. Delegasi ini menyiarkan 
fatwa-fatwa Wahabiyah yang ganjil-ganjil, di Makkah.

Syarif Mas'ud menangkapi orang-orang ini dan bahkan membunuh sebahagiannya, 
tetapi sebagiannya lolos dan pulang memberikan laporan kepada Muhammad bin 
Sa'ud.

Dari mulai tanggal ini berkobarlah permusuhan antara kaum Wahabi di Nejdi 
dengan Syarif-syarif (penguasa-penguasa di Makkah).

Dalam hal ini Syarif Mas'ud membuat suatu kesalahan karena ia menangkap orang 
haji dan membunuh mereka, padahal Tuhan telah berfirman dalam Al Qur'an, bahwa 
"Barangsiapa masuk Makkah adalah aman" (Surat Ali Imran:97). Seharusnya kalau 
ia tidak sesuai dengan paham Wahabi ia boleh mengusir saja orang tanpa membunuh.

Tetapi dalam sejarah ini dapat diambil pula, bahwa Raja Makkah ketika itu tidak 
menyukai paham Wahabi, serupa dengan Raja-raja di Basrah dan di `Ainiyah.

Muhammad bin Abdul Wahab biasa memfatwakan bahwa orang-orang di Makkah itu 
banyak yang kafir, karena mereka membolehkan mendo'a dengan tawassul di hadapan 
makam nabi, membolehkan berkunjung dari jauh menziarahi makam Nabi, mendo'a 
menghadap ke makam Nabi, memuji-muji Nabi dengan membaca nazhasn Burdah "Amin 
Tadza", membaca shalawat Dalailul Khairat yang berlebih-lebihan memuji Nabi, 
membaca kisah-kisah Maulud Barzanji dan akhirnya mereka dikafirkan karena tidak 
mau mengikut Muhammad bin Abdul Wahab.

Terebut dalam sejarah, bahwa suatu kali terjadi perdebatan antara Muhammad bin 
Abdul Wahab dengan saudaranya Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal 
kafir-mengkafirkan ini.

Sulaiman bertanya kepada adiknya: "Berapa, rukun Islam"
Muhammad menjawab:  "lima".
Sulaiman:  Tetapi kamu menjadikan 6!
Muhammad:  Apa, ?
Sulaiman:  Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah
mu'min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
Muhammad    : Terdiam dan marah.

Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi 
Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku "As 
Shawa'iqul Ilahiyah firraddi `alal Wahabiyah" yang tersebut di atas tadi.

Dari buku ini kita dapat melihat fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab yang 
ganjil-ganjil dan baru-baru.

Tertulis juga dalam buku ini sejarah perdebatan seorang laki-laki dengan 
Muhammad bin Abdul Wahab.
Seorang laki-laki bertanya : "Berapa orang yang dibebaskan Tuhan dalam bulan 
Ramadhan?"
Muhammad bin Abdul Wahab  : "Seratus ribu".
Laki-laki itu bertanya lagi : "Pada akhir malam bulan Ramadhan berapa?"
Muhammad bin Abdul Wahab menjawab : "Pada akhir bulan Ramadhan dibebaskan Tuban 
sebanyak yang telah dibebaskannya tiap-tiap malam Ramadhan". (Jawaban ini 
sesuai dengan sebuah hadits Nabi).
Laki-laki ini bertanya lagi : "Dari mana diambil orang Islam sebanyak itu 
padahal murid kamu tidak sampai sebanyak itu?" Muhammad bin Abdul Wahab marah 
dan berusaha menangkap orang itu.

Dari riwayat ini dapat dipetik suatu hal, yaitu bahwa Muhammad bin Abdul Wahab 
pada permulaan fatwa-fatwanya banyak sekali mengkafirkan orang-orang yang tidak 
mau menerima fatwanya.

Muhammad bin Abdul Wahab sejak membuka fatwanya di Dur'iyah tidak mau ke Makkah 
dan Madinah lagi, karena ia tidak sudi melihat orang-orang membuat "ma'shiat" 
di Makkah dan di Madinah, katanya.

Yang dikatakannya, "makshiat" itu ialah berbondong-bondong pergi ziarah ke 
makam Nabi, mendo'a dengan bertawassul dengan "jah" Nabi, mendo'a dengan 
menghadap ke makam Nabi (bukan ke Qiblat), adanya kubbah-kubbah di atas 
pekuburan mu'ala di Mekkah, di Baqi'i di Madinah, di pekuburan Uhud di Madinah 
juga dan ditempat maulud Nabi di Suq al leil di Mekkah ini semua menurut 
Muhammad bin Abdul Wahab; amalan syirik atau sekurangnya membawa kepada syirik.

Kaum Wahabi sudah dua kali menguasai Hijaz.

Yang pertama pada tahun 1803 M. sampai dengan 1813 M.

Yang kedua setelah keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani yang diupayakan oleh  
Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) dan "pengaruh"  Terrence E. 
Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai 
Lawrence of Arabia, atau dengan kata lain kaum Wahabi menguasai Hijaz untuk 
kedua kalinya mulai tahun 1925 M. sampai sekarang.

Sumber:  I'tiqad Ahlussunah Wal Jamaah, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah 
Baru


salam


Zon at Jonggol
http://mutiarazuhud.wordpress.com

Kirim email ke