Banyak peneliti yang menyatakan bahwa pemerintahan Bush telah  memanfaatkan 
sikap ekstrim Al-Qaeda sehingga terjadi peristiwa 11 September.

Pemerintahan Bush telah mengetahui rencana aksi Al-Qaeda. Namun pemerintahan 
Bush bukan hanya tidak melakukan pencegahan, bahkan ada kemungkinan mereka 
memasang bom di gedung kembar WTC sehingga kehancuran sepasang gedung tersebut 
lebih dramatis (informasi terkait mengenai fakta-fakta gelap peristiwa 11 
September, dapat dibaca dalam majalah Eramuslim Digest edisi 2, The Dark Side 
of 911).

Berbekal "fitnah" tragedi 11 September lah, sesungguhnya sebagai alasan 
pemimpin Amerika untuk melakukan tindakan teroris sesungguhnya dengan menyerang 
Irak, Afghanistan dan negara lain yang "diduga" sebagai tempat persembunyian 
Al-Qaeda. Semua penyerangan dilakukan dengan dalih perang melawan terorisme.

Seperti yang kita dapat duga, lembaga dunia seperti PBB tidak dapat berbuat 
banyak bagi tindakan teroris yang dipimpin Amerika  karena adanya ketidak 
adilan dalam  pada Dewan Keamanan PBB dalam bentuk hak veto.

Begitu juga pada awal tahun 2009, PBB "membisu" dengan kejahatan perang 
(terorisme yang sesungguhnya)  yang dilakukan Israel terhadap Palestina di 
Jalur Gaza, semua karena adanya hak veto.

Di zaman Pemerintah Soekarno, Indonesia pernah keluar dari PBB di tahun 1965 
karena PBB telah menjadi boneka Imperaliasme dan neo-kolonialisme Amerika dan 
sekutunya. Ini terjadi setelah Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap DK 
PBB.

Jauh sebelumnya, pada 30 September 1960, Bung Karno menyampaikan pidato 
kenegaraan di Sidang Umum PBB yang mendapat gemuruh tepuk tangan dan semangat 
yang berkobar-kobar. Pidato yang berlangsung hampir 1 jam, berjudul "To Build 
the World A New" – Membangun Kembali Dunia Yang Baru.

Presiden Soekarno mampu melihat PBB yang saat ini dan akan datang hanya menjadi 
boneka. Banyak negara anggota hanya diam dan pasrah. Oleh karena itu, Soekarno 
mengajak semua elemen anggota PBB agar sigap melihat realita ini.

Berikut salah satu cuplikan pidatonya di SU PBB, 30 September 1960.
"…..Saya katakan pada Tuan-tuan: Janganlah bertindak sebagai alat yang tak tahu 
apa-apa dari imperialisme. Janganlah bertindak sebagai tangan kanan yang buta 
dari kolonialisme. Jika tuan bertindak demikian, maka tuan pasti akan membunuh 
Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, dan dengan begitu tuan akan membunuh 
harapan dari berjuta-juta manusia, yang tiada terhitung itu dan mungkin tuan 
akan menyebabkan hari depan mati dalam kandungan….."

Kesimpulan pidatonya, Bung Karno menyatakan bahwa setelah KAA 1955 di Bandung, 
negara-negara dunia di Asia Afrika telah muncul menjadi kekuatan baru dunia 
ketiga. Karena itu, harus ada reformasi pada tubuh PBB. Hak Veto oleh 5 negara 
yang dapat sewenang-wenang menggunakan vetonya harus dihapus. [pemikiran 
Soekarno terlalu jauh ke depan...tidak ada Presiden yang begitu revolusioner] 
Dan hal yang menarik, Soekarno menyarankan Markas PBB harus dipindahkan dari 
New York ke negara yang tak terpengaruh oleh blok AS maupun Uni Soviet.

Apa yang Bung Karno ucapkan 4 tahun yang lalu, ia tetap konsisten. Setelah 
Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap DK PBB [manefestasi dari 
neo-kolonialsme], maka pada tanggal 7 Januari 1965, Indonesia keluar dari PBB.  
Beberapa bulan kemudian dengan tragedi G30S yang berujung penggulingan Soekarno 
dan setelah Soekarno digulingkan oleh tentara Orba yang menjadi antek 
neo-liberalisme dan imperialisme, Indonesia kembali bergabung dengan PBB.

Saat ini pun para pemimpin negeri masih menjadikan kaum kuffar sebagai "teman 
kepercayaan" dengan taat dan santun tetap menjalankan konsep ekonomi 
neo-liberalisme walaupun dalam masa kampanye dikatakan sebagai konsep ekonomi 
jalan tengah.

Begitu juga pemimpin negeri yang mengaku muslim, tetap taat kepada "Washington 
consensus" . Padahal sewaktu masa kampanye, sempat berkomitmen dengan Amien 
Rais untuk tidak lagi memperhatikan "Washington consensus". Namun apa daya 
teman kepercayaan dari Boediono maupun Sri Mulyani adalah dari IMF dan 
penasehat-penasehat ekonomi lainnya dari kaum kuffar.

Ironis, mereka semua pemimpin negeri ini yang mengaku muslim namun tidak 
memperhatikan firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi teman 
kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak 
henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang 
menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang 
disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami 
terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya" ,  (Ali Imran, 118)

"Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan 
kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka 
berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung 
jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): 
"Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi 
hati. (Ali Imran, 119)

Pada kasus Bom Bali 12 Oktober 2002, intelijen asing dengan komprador intelijen 
lokal memanfaatkan ekstrimisme jihad dari sisa-sisa jaringan JI. Saat itu dua 
buah bom meledak di Bali. Bom pertama meledak di Paddys Café, termasuk berdaya 
ledak rendah (low explosive). Disusul kemudian dengan ledakan bom 
berkekuatansangat tinggi (high explosive) di Sari Club, Kuta.

Saat itu pemerintah Bush tengah gencar merekrut negara-negara lain, salah
satunya Indonesia, agar mau bergabung dalam perang melawan terorisme.

Khawatir akan reaksi umat Islam, pemerintah Megawati kala itu gamang merespon 
ajakan Bush.

Lalu terjadilah Bom Bali sehingga Megawati pun ikut berperan aktif dalam
kampanye perang melawan terorisme yang diusung Amerika. Segera terjadi berbagai 
penangkapan terhadap para aktivis Islam. Muncul pula persepsi di masyarakat 
umum bahwa orang-orang yang menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh, 
termasuk dalam hal politik, maka orang-orang tersebut berpotensi menjadi 
teroris.

Amrozi dan kawan-kawannya telah mengakui membom Paddys Café, yang berdaya ledak 
rendah. Namun mereka menolak sebagai pelaku yang meledakkan bom berkekuatan 
sangat tinggi di Sari Club. "Kami tidak memiliki kemampuan untuk membuat bom 
sedahsyat itu, " ujar Imam Samudera. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara 
(BIN), ZA Maulani menyatakan bahwa yang meledak di Sari Club adalah bom mikro 
nuklir. Sementara yang memiliki akses nuklir hanyalah beberapa negara tertentu, 
seperti Amerika dan Israel.

Joe Vialls, seorang investigator independen dari Australia, juga meyakini bom 
yang meledak di Sari Club adalah mikro nuklir karena ada efek cendawannya.

Dengan kejadian-kejadian tersebut membuat saya yakin dengan peringatan Allah,

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap 
orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik" (Al 
Maaidah: 82).

Apakah kita masih saja ingin "lanjutkan" tidak memperhatikan firman Allah ?

Salam.

Zon di Jonggol
http://mutiarazuhud.wordpress.com

Sumber bacaan:

http://studislam.blogdetik.com/2009/12/10/gerakan-islam-dan-jihad-di-era-tanpa-daulah/

http://nusantaranews.wordpress.com/2009/01/04/indonesia-ancam-keluar-dari-pbb-mungkinkah/

http://www.detiknews.com/read/2009/05/03/013039/1125278/700/andi-3-syarat-pan-sudah-dipraktekkan-demokrat

Kirim email ke