Maryam Brack (Aktivis Muslimah HT Australia): Ingin Hijrah ke Indonesia 



Monday, 01 March 2010 


Maryam Brack
Aktivis Muslimah HT Australia

Yang terbayang di pikiran Brack sebelumnya, Islam hanya mengatur masalah 
akidah dan ibadah. Ternyata Islam adalah way of life, dan mengatur segala 
hal.
Bagi aktivis Muslimah di Australia, Maryam Brack cukup dikenal. Ia adalah 
satu dari aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Australia yang sering terlibat 
diskusi maupun debat terkait dengan kewajiban kaum Muslim untuk selalu 
terikat dengan hukum syara dalam menyelesaikan berbagai masalah yang 
menimpa kaum Muslim. 

Melihat aktivitasnya itu, orang yang baru mengenalnya tidak akan menyangka 
kalau ia adalah mualaf yang lahir dari keluarga non Muslim. Usianya kini 
35 tahun dengan didampingi seorang suami dan enam orang anak.
Sebelumnya ia beragama Katolik. Brack sangat beruntung, orang tuanya tidak 
mempermasalahkan keputusannya untuk masuk Islam. Bahkan saudara 
laki-lakinya ada yang masuk Islam pula. Padahal ibunya, ketika masih 
gadis, pada usia 16-27 tahun pernah menjadi seorang biarawati. 


Negeri Istimewa
Saat itu, tepatnya pada 1992, ia mengunjungi Indonesia selama tiga bulan. 
Dari Lombok hingga Sumatera, ia melihat pemandangan yang indah dan 
penduduknya yang ramah, mereka shalat berjamaah dan melakukan berbagai 
aktivitas keagamaan lainnya. 
“Indonesia, negeri istimewa yang kemudian saya cintai, “ ujarnya. 
Ucapannya itu dibuktikan dengan mempelajari Islam dan bahkan langsung 
masuk Islam ketika dilamar oleh lelaki Muslim Indonesia. 

“Beberapa bulan setelah menikah barulah saya benar-benar memahami dan 
menerima secara totalitas akidah Islam,” aku sarjana lulusan University of 
Western Sydney yang masuk Islam dan menikah pada usia 18 tahun itu.
Ramadhan pertamanya pun dialami di Indonesia. Itulah pengalaman pertamanya 
saat menjadi mualaf. “Oleh karena itu Indonesia memainkan peranan penting 
bagi saya, sehingga saya bisa menjadi Muslimah,” ujarnya. 

Setelah kembali ke Australia, kemudian ia mendapat kesempatan untuk 
menyelami Islam lebih dalam lagi dengan bimbingan seorang sister 
(Muslimah) asal Melayu. Mereka terus berdiskusi mengenai Islam dan sister 
itu menjelaskan kepada Brack seputar akidah dan ibadah. Sedangkan saudara 
laki-lakinya memperdalam Islam di Indonesia.
“Alhamdulillah, ia adalah guru Islam saya yang sangat membantu dalam 
pengembangan pemahaman, akidah dan identitas Islam saya selama tahap awal 
keislaman saya menjadi Muslimah. Dan untuk itu semua saya selalu sangat 
berterima kasih kepadanya,” kenang Brack.

Mengenal HT 
Brack memahami Islam hanya mengatur masalah akidah dan ibadah, tidak 
terbayang dibenaknya bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang konfrehensip 
mengatur segala aspek kehidupan manusia termasuk politik dan ekonomi. 
Sampai pada akhirnya ia mengenal Hizbut Tahrir dari saudara lelakinya itu. 

“Saya mengenal HT dari keluarga saya sendiri. Setelah ia dan istrinya 
mengaji kepada Ustadz Abdur Rahman Al Baghdadi di Bogor pada 1995 atau 
1996. Mereka kembali ke Sydney, Australia membagi pemahamannya kepada 
keluarga dan teman-temannya,” ujar Brack.

“Pemahaman saya terhadap Islam sebelum mengenal HT adalah sebatas 
pemahaman spiritual. Kesadaran saya terkait ideologi dan politik Islam 
tidak sekuat setelah saya mengenal HT”. 
Brack menyatakan bahwa  sebetulnya itu bukan pengalaman pertamanya saja 
mengenal HT tetapi pengalaman pertama semua sister HT generasi pertama di 
Australia. Dan pada umumnya brother dan sister di Australia mengenal HT 
dari brother dan sister asal Indonesia. 
Ia tertarik kepada HT karena solusi yang ditawarkan itu kukuh, jernih, dan 
menyeluruh diambil khas dari sudut pandang Islam. Pemikiran yang ideologis 
yang HT adopsi dan emban membuatnya  menjadi mampu melihat Islam dalam 
cara yang tidak pernah ia ketahui dan pahami sebelumnya. 

“Hal itu benar-benar memberi inspirasi kepada saya, dari yang tadinya 
hanya memahami Islam sebatas spiritualitas belaka sekarang memahami Islam 
lebih dari itu karena ternyata Islam pun mengatur masalah politik, yang 
mengatur urusan manusia di berbagai aspek kehidupannya secara sistematik,” 
bebernya. 
Sehingga dengan senang hati ia berkomitmen bergabung dengan HT untuk 
berjuang agar diterapkannya kembali syariah Islam secara kaffah dalam 
bingkai khilafah di negeri-negeri kaum Muslim dengan aktivitas politik 
tanpa kekerasan.

Studi Banding
Dakwah di Australia bergerak maju dengan berbagai tahapan yang berbeda. 
Dan ia turut dalam berbagai tahapan tersebut. Pada tahapan awal, dakwah di 
Sydney bagi Muslimah HT sangat alot dan sangat membutuhkan banyak 
kesabaran. 
Karena memang hanya ada beberapa orang saja Muslimah yang mengemban ide 
ini pada saat itu. Komunitas Muslim di Sydney memang kecil, dibangun oleh 
generasi pertama atau kedua imigran dari berbagai keluarga imigran yang 
datang dari berbagai penjuru dunia  namun yang paling dominan adalah 
imigran dari Turki dan Libanon. 

Agar dakwah ini dapat terorganisir dan berkembang dengan baik maka mereka 
membutuhkan tambahan dukungan, bantuan, dan bimbingan. Maka saat itu ia 
terbang ke Indonesia dengan ditemani suami dan dua anaknya saya untuk 
mencari bantuan tersebut. 
Dan Alhamdulillah apa yang dicarinya ia dapatkan. Pelajaran dan pengalaman 
berorganisasi Muslimah HT Indonesia ia adaptasikan di Sydney. “Kami 
berkonsentrasi untuk mengembangkan dakwah ini kepada komunitas Indonesia 
atau kepada orang-orang yang berbahasa Inggris.” 
Waktu terus berlalu, kemudian lahirlah generasi kedua dari Muslim 
Australia yang menjalankan dakwah ini. Generasi kedua ini begitu kuat pula 
memegang ide-ide yang diserukan oleh HT. Alhamdulillah, sampai saat ini 
Brack dan generasi awal lainnya  dapat menyaksikan para Muslimah HT yang 
benar-benar lahir dari generasi kedua Muslim Australia.

Ia dan sister lainnya selalu berusaha mengondisikan agar Muslim Australia 
siap menjadi bagian dari warga Khilafah kelak. Namun ia memandang peluang 
tegaknya Khilafah itu untuk saat ini bukan di Australia. 
Brack melihat, sekarang peluang itu sangat terbuka lebar di Indonesia. 
“Kaum Muslim di Barat dan di Dunia Islam melihat kepada Indonesia sebagai 
negeri yang sangat besar potensi dan kesempatannya untuk meraih tujuan 
tersebut,” tandasnya.
Ia pun mengaku sangat kagum melihat perjuangan yang dilakukan oleh HTI dan 
Muslimah HTI yang secara terbuka di tengah-tengah masyarakat menentang 
sekulerisme, liberalisme, dan kapitalisme.

Ia pun optimis, Insya Allah, perang pemikirian tersebut akan terus 
membesar siang dan malam hingga runtuh dan dicampakkannya  ideologi 
kapitalisme sebagaimana dialami oleh ideologi komunisme. 
“Saya sangat berharap pada saatnya nanti ketika saya harus hijrah ke 
Indonesia, hijrah sebagai warga negara Khilafah Islamiyah. Insya Allah,” 
pungkasnya. Aamiin.[] joko prasetyo


sumber : mediaumat.com




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke