Rahimarahim Rahim Kalau saja ayahku masih hidup...tapi dia tlah tiada setahun
aku berada di Cairo, bahkan jasad terakhirnyapun tak bisa kulihat. Aku hanya
mendengar dari saudara-saudaraku, kalau detik-detik terakhir hidupnya beliau
sering mengingat namaku. Adikku Upik,..dipanggilnya juga Ima...
Bahkan terakhir sekali wasiatnya dengan memberikan amanah seluruh buku aku yang
jagain, karena beliau tahu semenjak kecil aku adalah pecinta buku, dan suka
membereskan buku-bukunya, badannya hampir tiap hari kupijit, terutama sepulang
dari kantor, yah..aku tak pernah sekalipun kena pukul oleh beliau
almarhum,..sungguh aku merindukannya.Selagi Orang Tua Masih Ada.....
[HQ]Seorang lelaki tua yang baru ditinggal mati isterinya tinggal bersama
anaknya, Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta cucunya, Viva yang baru
berusia enam tahun. Keadaan lelaki tua itu sudah uzur, jari-jemarinya
senantiasa gemetar dan pandangannya semakin hari semakin buram. Malam pertama
pindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama. Lelaki tua itu merasa
kurang nyaman menikmati hidangan di meja makan. Dia merasa amat canggung
menggunakan sendok dan garpu. Selama ini dia gemar bersila, tapi di rumah
anaknya dia tiada pilihan. Cukup sukar dirasakannya, sehingga seringkali
makanan tersebut tumpah. Sebenarnya dia merasa malu seperti itu di depan anak
menantu, tetapi dia gagal menahannya. Oleh karena kerap sekali dilirik menantu,
selera makannyapun hilang. Dan tatkala dia memegang gelas minuman, pegangannya
terlepas. Praaaaaannnnngggggg!! Bertaburanlah serpihan gelas di lantai. Pak tua
menjadi serba salah. Dia bangun, mencoba memungut serpihan gelas itu, tapi
Arwan melarangnya. Rina cemberut, mukanya masam. Viva merasa kasihan melihat
kakeknya, tapi dia hanya dapat melihat untuk kemudian meneruskan makannya.
"Esok ayah tak boleh makan bersama kita," Viva mendengar ibunya berkata pada
kakeknya, ketika kakeknya beranjak masuk ke dalam kamar. Arwan hanya membisu.
Sempat anak kecil itu memandang tajam ke dalam mata ayahnya. Demi memenuhi
tuntutan Rina, Arwan membelikan sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan
di sudut ruang makan. Di situlah ayahnya menikmati hidangan sendirian,
sedangkan anak menantunya makan di meja
makan. Viva juga dilarang apabila dia merengek ingin makan bersama kakeknya.
Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibnya diperlakukan demikian. Ketika
itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan. Dia terkenang mendiang
isterinya. Lalu perlahan-lahan dia berbisik: "Miah... buruk benar layanan anak
kita pada abang." Sejak itu, lelaki tua merasa tidak betah tinggal di situ.
Setiap hari dia dihardik karena menumpahkan sisa makanan. Dia diperlakukan
seperti budak. Pernah dia terpikir untuk lari dari situ, tetapi begitu dia
teringat cucunya, dia pun menahan diri. Dia tidak mau melukai hati cucunya.
Biarlah dia menahan diri dicaci dan dihina anak menantu. Suatu malam, Viva
terperanjat melihat kakeknya makan menggunakan piring kayu, begitu juga gelas
minuman yang dibuat dari bambu. Dia mencoba mengingat-ingat, di manakah dia
pernah melihat piring seperti itu. "Oh! Ya..." bisiknya. Viva teringat, semasa
berkunjung ke rumah sahabat papanya dia melihat
tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka menggunakan piring yang
sama! "Tak akan ada lagi yang pecah, kalau tidak begitu, nanti habis piring dan
mangkuk ibu," kata Rina apabila anaknya bertanya. Waktu terus berlalu. Walaupun
makanan berserakan setiap kali waktu makan, tiada lagi piring atau gelas yang
pecah. Apabila Viva memandang kakeknya yang sedang menyuap makanan,
kedua-duanya hanya berbalas senyum. Seminggu kemudian, sewaktu pulang bekerja,
Arwan dan Rina terperanjat melihat anak mereka sedang bermain dengan
kepingan-kepingan kayu. Viva seperti sedang membuat sesuatu. Ada palu, gergaji
dan pisau di sisinya. "Sedang membuat apa sayang? Berbahaya main benda-benda
seperti ini," kata Arwan menegur manja anaknya. Dia sedikit heran bagaimana
anaknya dapat mengeluarkan peralatan itu, padahal ia menyimpannya di dalam
gudang. "Mau bikin piring, mangkuk dan gelas untuk Ayah dan Ibu. Bila Viva
besar nanti, supaya tak susah mencarinya, tak usah ke
pasar beli piring seperti untuk Kakek," kata Viva. Begitu mendengar jawaban
anaknya, Arwan terkejut. Perasaan Rina terusik. Kelopak mata kedua-duanya
basah. Jawaban Viva menusuk seluruh jantung, terasa seperti diiris pisau.
Mereka tersentak, selama ini mereka telah berbuat salah ! Malam itu Arwan
menuntun tangan ayahnya ke meja makan. Rina menyendokkan nasi dan menuangkan
minuman ke dalam gelas. Nasi yang tumpah tidak dihiraukan lagi. Viva beberapa
kali memandang ibunya, kemudian ayah dan terakhir wajah kakeknya. Dia tidak
bertanya, cuma tersenyum saja, bahagia dapat duduk bersebelahan lagi dengan
kakeknya di meja makan. Lelaki tua itu juga tidak tahu kenapa anak menantunya
tiba-tiba berubah. "Esok Viva mau buang piring kayu dan gelas bambu itu" kata
Viva pada ayahnya setelah selesai makan. Arwan hanya mengangguk, tetapi dadanya
masih terasa sesak. ADAB TERHADAP ORG TUA 1. Bersikaplah secara baik, pergauli
mereka dengan cara yang baik pula, yakni dalam
berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang
tua melakukan suatu hal tertentu. 2. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau
kekesalan, meski hanya sekadar dengan ucapan ‘uh’. Sebaliknya, bersikaplah
rendah hati, dan jangan angkuh. 3. Jangan bersuara lebih keras dari suara
mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berhohong saat
beraduargumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang
tidur, selain itu,jangan sekali-kali meremehkan mereka. 4. Berterima kasih atau
bersyukurlah kepada keduanya, utamakan keridhaan keduanya, dibandingkan
keridhaan kita diri sendiri, keridhaan istri atau anak-anak kita. 5. Lakukanlah
perbuatan baik terhadap mereka, dahulukan kepentingan mereka dan berusahalah
‘memaksa diri’ untuk mencari keridhaan mereka. 6. Rawatlah mereka bila sudah
tua, bersikaplah lemahlembut dan berupayalah membuat mereka berbahagia, menjaga
mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan
hal-hal yang mereka sukai. 7. Berikanlah nafkah kepada mereka, bila memang
dibutuhkan. Allah berfirman: “Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling
berhak menerimanya adalah orang tua, lalu karib kerabat yang terdekat”
(Al-Baqarah : 215) 8. Mintalah ijin kepada keduanya, bila hendak bepergian,
termasuk untuk melaksanakan haji, kalau bukan haji wajib, demikian juga untuk
berjihad, bila hukumnya fardhu kifayah. 9. Mendoakan mereka, seperti disebutkan
dalam Al-Qur’an: وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً “Dan
ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana
menyayangiku di masa kecil” (Al-Isra : 24)[8]Durasi: 2:55
Wasssalamu'alaikum. Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.(Doqqi,Cairo)
"Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi
manusia lainnya".
[Non-text portions of this message have been removed]