(dikutip dari Multiply)
Dr. Amarullah Siregar Dokter Naturopati Indonesia
Apr 18, '10 10:52 PM
Naturopati, masih menjadi ilmu pengobatan yang belum banyak dikenal di
Indonesia. Bahkan sempat dipandang sinis oleh dokter-dokter yang belum
mengenalnya. dr Amarullah Hasanuddin Siregar menjadi ahli naturopati dan
menjadi satu-satunya dokter yang menerapkan cara pengobatan itu. Naturopati
sesuai dengan asal katanya, nature [alami] dan path [lintasan] diartikan
sebagai suatu cara pengobatan dengan cara memperbaiki jalan alami tubuh.
Sebenarnya, di luar negeri, cara pengobatan ini sudah lama dikenal. Naturopati
muncul seiring dengan timbulnya masalah pada cara penanganan penyakit pada ilmu
kedokteran lama. Rene Dubos, seorang Profesor Rockfeler University, mengatakan
bahwa masyarakat Amerika Serikat tak akan lebih sehat dengan mengonsumsi
obat-obatan, bahkan akan mati lebih muda dibanding orangtua meraka.
dr Amarullah, secara kebetulan mengenal naturopati saat studi di Inggris untuk
spesialis jantung. Di akhir masa studinya, ia ikut praktek di klinik dan
menangani beberapa pasien. Ternyata banyak pasien yang meminta saran untuk
ditunjukkan naturopat [ahli naturopati] mana yang cocok untuknya, setelah
pengobatan selesai. Mendapat petanyaan itu ia marah, karena masih ada arogansi
sebagai dokter dan ketidaktahuannya. Dalam bayangannya, naturopat itu seperti
terkun [dokter setengah dukun] yang dulu sempat heboh saat kasus Simon Gunawan.
Lama-kelamaan terbersit dalam pikirannya, “Masak negara maju seperti Inggris
percaya kayak gituan? Itulah yang mendorong aku ke perpustakaan,” jelasnya. Di
perpustakaan itu, ia menemukan buku-buku tentang naturopati. Kenallah ia dengan
ilmu kedokteran yang tugasnya memperbaiki jalan alami tubuh itu. Ia pun
menyadari, sebagai spesialis jantung, ia tak bisa menyelesaikan masalah jantung
secara tuntas karena tak mengena pada sumbernya. Pasien jantung biasanya diberi
obat yang macam-macam untuk mencegah serangan jantung. Tetapi, obat-obatan itu
justru menimbulkan masalah baru lagi. Sementara sumber masalah, jalan alami
yang mengakibatkan penyakit jantung tidak terselesaikan.
Ketertarikannya pada naturopati, membuatnya ingin mendalami dari orang yang
ahli. Kemudian, oleh salah satu dokter di tempatnya belajar, ia
direkomendasikan untuk mendalami naturopati ke Amerika. “Di situlah aku semakin
mendalami naturopati, dan semakin menyadari betapa besarnya Allah. Banyak
kasus-kasus yang sudah mentok, tetapi bahan-bahan alami bisa membuatnya sehat
kembali,” ujarnya.
Belajar mendalami naturopati membawanya pada suatu kesimpulan bahwa sebenarnya
cara naturopati itu cara hidup Rasulullah Saw. Ia bertekad untuk mempelajari
bagaimana Rasulullah Saw dulu menerapkan perilaku hidup sehat. Kebetulan, ia
juga dipertemukan dengan Islamic Medical Doctor, sebuah asosiasi dokter-okter
muslim di Florida. Banyak kajian-kajian ilmiah tentang bagaimana cara hidup
Rasulullah Saw yang diberikan kepadanya. Akhirnya, ia memilih naturopati dengan
berbagai spesifikasi menjadi profesinya. Konsekuensinya, ia harus meninggalkan
dokter anak dan spesialis jantung, yang menurut banyak orang, adalah ladang
penghasilan yang besar. Karena itu ada yang menganggapnya gila, sudah mendapat
posisi yang enak, malah ingin menjadi terkun. Tetapi, semua anggapan itu tak
menyurutkan niatnya.
Dua tahun tak bergaji
Setelah kembali, pulang ke Indonesia, ada kendala yang membuatnya selama dua
tahun luntang-lantung dan tak mendapat gaji. dr Amarullah mengisahkan, dulu,
sewaktu berangkat ke Inggris, ia sedang bertugas di Sumatera Utara. Sesuai
dengan peraturannya, setelah selesai, ia harus kembali ke induknya itu. Namun
demikian, setelah melapor ke Departemen Kesehatan, pejabat Dep-Kes bilang bahwa
ilmu yang dikuasai tidak cocok jika harus ditempatkan di daerah. Menurut
pejabat itu, posisi yang paling pas untuknya adalah di pusat, Jakarta.
Berdasarkan prosedur yang berlaku, ia harus meminta surat “lolos butuh” dari
Dinas Kesehatan Daerah Sumatera Utara.
Surat “lolos butuh” sudah diperoleh, dan sudah resmi keluar dari Daerah
Sumatera Utara. Ternyata, sampai di Jakarta masih menunggu penempatan.
Ditawarkan ke litbang, tidak bisa, ke direktorat pelayanan medik dan pelayanan
kesehatan masyarakat, juga tidak bisa. “Dua tahun lebih nggak menerima gaji.
Gaji di daerah sudah distop, sementara di Jakarta masih belum ada penempatan.
Sebenarnya pihak Dep-Kes sudah mengerti, tetapi masih bingung menempatkan di
mana.”
Akhirnya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil.
Tetapi, surat pengunduran dirinya tak diterima. Statusnya menjadi tidak jelas,
pegawai negeri bukan, karena tak ada penempatan. Keluar dari pegawai negeri
juga tidak, karena belum ada surat keputusan. Di tengah kebingungan posisinya,
ia berinisiatif untuk mengurus ijin praktek. Ijin praktek pun juga sulit
keluar. Ijin praktek bisa dikeluarkan jika ada rekomendasi dari induk
spesialisnya. Padahal di Indonesia belum ada spesialis naturopati. Ijin praktek
dokter jantung tidak diterimanya, “Kalau aku melayani anak-anak, berarti
malpraktek dong.” Setelah dipertimbangkan, ijin praktek yang keluar adalah
sebagai dokter umum. “Bodo amat, semua bisa ditangani. Yang penting aku bisa
praktek,” kenangnya.
Tekad dr Amarullah untuk terus menekuni naturopati membuahkan hasil. Ia
akhirnya diminta menjadi konsultan, membantu pemerintah dalam pembuatan
peraturan mengenai pengobatan tradisional dan pengobatan komplementer. Saat
ini, ia diminta menyusun semacam guideline sebagai konsultan ahli untuk WHO
dari Dep-Kes. “Aku bilang kepada direktur di Direktorat, sekarang bayaranku
lebih mahal dibanding menjadi dokter pegawai negeri. Kalau dulu Ibu tinggal
perintah, sekarang, Ibu harus meminta ke saya,” katanya sambil tersenyum. Ia
ditawari kembali untuk mengurus posisinya sebagai pegawai negeri, tetapi tidak
mau, karena sudah terlanjur menyukai profesi yang sekarang, bebas, tak ada yang
mengikat.
dr Amarullah sempat diberi wejangan dari mendiang ayahnya, kalau memang harus
bekerja di luar negeri dan tidak kembali, ayahnya rela. Ia menjawab, “Ah, nggak
Yah. Ayah sejak awal sudah mengingatkan, iman, ilmu, dan amal. Lebih baik, aku
mengamalkan ini di negeri sendiri, meski secara materi kurang, tetapi kepuasan
melayani terasa beda,” kenangnya. Melihat tekadnya itu, ayahnya mengatakan agar
selalu bersabat. Perkataan ayahnya tidak salah, ilmu yang dikuasainya itu bisa
disebarluaskan setelah diperbolehkan mengajar di perguruan tinggi oleh Dep-Kes.
Direktur Pasca Sarjana Universitas Indonesia sudah memintanya, namun, Fakultas
Kedokteran belum siap. Ia tidak gegabah menjadikan naturopati menjadi
spesialis, meski sejak tahun 80-an sudah menjadi cabang spesialis di luar
negeri. Paling tidak, saat ini sudah menjadi mata ajar para dokter.
Belajar sampai Madinah
Ada kisah menarik saat dr Amarullah mendalami cara hidup Rasulullah Saw sebagai
dasar dari naturopati. Pada tahun 2004, ia diberi kesempatan Allah untuk
menunaikan ibadah haji, dan kebetulan ustad Syafiq sebagai pembimbingnya. Ia
merasa nyaman dibimbing Ustad Syafiq. Terjadi banyak diskusi antara ia
dengannya. Akhirnya Ustad Syafiq mengetahui minatnya. Waktu haji itu belum
terjadi apa-apa, karena sibuk menjalankan rukun haji.
Tahun berikutnya, ia melaksanakan umrah dan meminta kepada travel yang sama
untuk dibimbing Ustad Syafiq lagi. Saat umrah itu tidak banyak kegiatan yang
harus ia jalani. Ustad Syafiq mengajaknya ke suatu tempat. “Ke mana Ustad?”
tanyanya. “Sudahlah ikut saja, akan saya tunjukan sesuatu kepada Anda,” jawab
Ustad Syafiq. Ternyata, ia dibawa ke sebuah perpustakaan di Masjid Nabawi.
Ustad Syafiq punya akses ke perpustakaan itu karena ia berstatus mahasiswa.
Dari banyak deretan buku, diambilnya satu untuk ditunjukkan kepada dr
Amarullah, dibaca dan diterjemahkannya. Ternyata buku itu tentang hidup
Rasulullah Saw. Ustad Syafiq bilang bahwa Rasulullah Saw dulu kalau tidur
begini. Ia terkejut, apa yang dipraktekkan Rasulullah Saw ternyata sama seperti
teori sleep medicine, cara tidur yang banyak dianjurkan pakar kesehatan. Tidur
seperti itu akan meningkatkan growth hormone yang berfungsi untuk merestorasi
sel. Sejak saat itu ia bertekad, bagaimanapun ia
harus mempelajari buku-buku itu.
“Setiap tahun, aku berdoa untuk mendapat rezeki agar bisa umrah.” Tak seperti
umrah pada umumnya, ia meminta satu minggu penuh berada di Madinah bersama
ustad Syafiq untuk mempelajari buku-buku itu. Ada 40 buku tentang Rasulullah
Saw, meski tak semuanya tentang perilaku sehat Rasulullah, tetapi perilaku
ibadahnya juga sangat berguna buatnya. Ia juga membawa buku-buku untuk
dicocokkan dengan buku-buku di perpustakaan itu. Ustad Syafiq juga menguasai
ilmu hadits dan mahzab sehingga bisa diajak berdiskusi. Hubungan dengan Ustad
Syafiq berlanjut sampai sekarang. “Terkadang aku memintanya untuk datang ke
Indonesia, berdiskusi dengan teman-teman yang ada di sini.”
dr Amarullah tertarik juga membuat buku tentang naturopati ini, tetapi karena
kesibukannya, niat tersebut belum kesampaian sampai sekarang. Pernah juga ada
yang menawari untuk menulis bukunya. Ada seseorang dari salah satu majalah di
Jakarta yang tertarik membuatnya, sudah diskusi banyak dengannya, tetapi buku
itu belum juga bisa terwujud. “Mungkin karena sama-sama sibuk.”
Pembahasan tentang kesehatan dalam Islam yang hanya satu sisi ini, sangat luas.
Ia memperkirakan, kalau sudah terwujud dalam buku, bisa ada tiga jilid buku.
Bukan dari cara hidup Rasulullah Saw yang cocok dengan teori kesehatan
sekarang, tetapi juga bagaimana cara ibadahnya juga bisa dijelaskan secara ilmu
pengetahuan. “Sadarkah kita bahwa shalat kita yang seperti patok ayam itu tidak
baik buat sendi-sendi? Sering yang kita lihat, hanya dari sisi spiritualnya
saja. Padahal tuma’ninah itu pun secara kesehatan bisa dijelaskan manfaatnya.”
Ia punya keinginan agar cara hidup sehat ala Rasulullah ini bisa diketahui
banyak orang. Selain melalui pembuatan buku, ia juga berharap pada peran media
untuk menyebarkannya.
sumber:
http://nonigenetic.com/blog/dr-amarullah-siregar-dokter-naturopati-indonesia/
[Non-text portions of this message have been removed]