-----Original Message-----
From: Geis Chalifah <geischalifah@ yahoo.com>
---------- Forwarded message ----------
From: Syamsi Ali
Date: 2010/4/26
Subject: [Imsa] Penderitaan Mereka adalah Inspirasi Hidayah
Penderitaan Mereka adalah Inspirasi Hidayah
M. Syamsi Ali
Dua minggu lalu, selepas jum’at saya menemukan secarik kerta di atas meja
kantor saya di Islamic Cultural Center of New York. Isinya kira-kira berbunyi
‘I have been trying to reach you but never had a good luck! Would you please
call me back? Karen’.
Berhubung karena berbagai kesibukan lainnya, saya menunda menelpon balik Karen
higga dua hari lalu. ‘Oh….thank you so much for getting back to me!’, jawabnya
ketika saya perkenalkan diri dari Islamic Center of New York. ‘I am really
sorry for delaying to call you back’, kata saya, sambil menanyakan siapa dan
apa latar belakang sang penelpon.
‘Hi, I am sorry! My name is Karen Henderson, and I am a professor at the NYU
(New York University)’, katanya.
‘And so what I can do for you?’ tanyaku. Dia kemudian menanyakan jika saya ada
beberapa menit untuk berbicara lewat telpon. ‘Yes, certainly I have, just for
you, professor!’ candaku. ‘Oh.. that is so kind of you!’, jawabnya.
Karen kemudian bercerita panjang mengenai dirinya, latar belakang keluarganya,
profesinya, dan bahkan status sosialnya.
‘I am a professor teaching sociology at the New York University’, demikian dia
memulai. Namun menurutnya lagi, sebagai sosiolog, dia tidak saja mengajar di
universitas tapi juga melakukan berbagai penelitian di berbagai tempat,
termasuk luar negeri. Karen sudah pernah mengunjungi banyak negara untuk tujuan
penelitiannya, termasuk dua negara yang justeru disebutnya sebagai sumber
inspirasi. Yaitu Pakistan dan Afghanistan.
‘I spent more than 3 years in those countries, and mostly in villages’,
katanya. ‘During those three years, I have a lot memories about the people.
They are simply amazing’, lanjutnya.
Tidak terasa Karen berbicara di telpon hampir 20 menit. Sementara saya hanya
mendengarkan dengan serius dan tanpa menyela sekalipun. Selain karena cara
Karen berbicara sangat menarik, informative dan disampaikan dalam bahasa yang
jelas, saya menjadi lebih tertarik mendengar. Mungkin karena dia adalah seorang
professor, jadi dalam berbicara dia sangat sistimatis dan eloquent.
‘Karen, that is a very interesting story. I am sure what you did experience in
Pakistan I did as well. I lived in Pakistan 7 years, and had an opportunity to
visit many of those areas you did mention’, kataku.
‘But what did you want to tell me out this story?’, tanyaku lagi
Nampaknya Karena menarik napas, lalu menjawab. Tapi kali ini dengan suara
lembut dan agak lamban. ‘Sir, I wanted to know further Islam, the religion of
those people. They are sweet people, and I think I have inspired by them in
many ways’, katanya.
Tapi karena waktu yang tidak terlalu mengizinkan untuk saya banyak berbicara
lewat telpon, saya meminta Karen untuk datang ke Islamic Center keesokan
harinya (Sabtu lalu). Diapun menyetujui dan disepakatilah pukul 1:30 siang,
persis jam ketika saya mengajar di kelas khusus non Muslim, Islamic Forum for
non Muslims.
Keesokan harinya, Sabtu, saya tiba agak telat. Sekitar pukul 12 siang saya
tiba, dan pihak security menyampaikan bahwa dari tadi ada seorang wanita
menunggu saya. ‘She is the mosque’ (maksudnya di ruang shalat wanita). Saya
segera meminta security untuk memanggil wanita tersebut ke kantor untuk menemui
saya.
Tak lama kemudian datangnya seorang wanita dengan pakaian ala Asia Selatan
(India Pakistan). Sepasang shalwar dan Gamiz, lengkap dengan penutup kepala ala
kerudung Benazir Bhutto. ‘Hi, sorry for coming earlier! I can wait at the
mosque, if you are still busy with other things’, kata wanita baya umur 40-an
tahun itu. Dia jelas Amerika berkulit putih, kemungkinan keturunan Jerman.
‘Not at all, professor! I am free for you’, jawabku sambil tersenyum. ‘Have
your seat, but let me go around the school for five minutes’, mintaku untuk
sekedar melihat-lihat weekend school program hari itu.
Setelah selesai melihat-lihat beberapa kelas pada hari itu, saya kembali ke
kantor. ‘I am sorry Professor!’, sapaku. ‘Please do call me by name, Karen!’,
pintanya sambil tersenyum. ‘You know, I like to address people respectfully,
and I really did not know how to address you’, kataku. ‘In some countries,
people love to be known with their professional title. But I know Americans are
not’, lanjutku sambil ketawa kecil.
Kita kemudian hanyut dalam pembicaraan dalam berbagai hal, mulai dari isu
hangat tentang kartun Nabi Muhammad SAW di sebuah komedi kartun Amerika, hingga
kepada asal usul Karen itu sendiri. ‘I am a Jew by birth. My Parents are Jews,
but you know, especially my father, he doesn’t believe in the religion any
more’, katanya. Bahkan menurutnya, ayahnya itu seringkali menilai konsep tuhan
sebagai sekedar alat repression (menekan) sepanjang sejarah manusia.
Namun menurut Karen, walaupun tidak percaya agama dan mengaku tidak percaya
tuhan, ayahnya masih juga merayakan hari-hari besar Yahudi, seperti Hanukkah,
Sabbath, dll. ‘These celebrations, as most Jews do, are no more than heritage
traditions’, jelasnya. ‘Judaism is think not a religion, in the sense that it
is more about culture and family’, sambungnya lagi.
Dalam hatiku saya mengatakan bahwa semua itu bukan baru bagi saya. Sekitar 60
persen atau lebih Yahudi di Amerika Serikat adalah dari kalangan sekte ‘Reform’
(Pembaharu). Mereka ini ternyata telah melakukan reformasi mendasar dalam agama
mereka, termasuk dalam hal-hal akidah atau keyakinan. Sekte Reform misalnya
sama sekali tidak percaya lagi kepada kehidupan akhirat. Saya masih teringat
dalam sebuah diskusi di gereja Marble Collegiate tahun lalu tentang konsep
kehidupan. Pembicaranya adalah saya dan seorang Pastor dan Rabbi dari Central
Synagogue Manhattan. Ketika kita telah sampai kepada isu hari Akhirat, Rabbi
tersebut mengaku tidak percaya.
Tiba-tiba salah seorang hadirin yang juga murid muallaf saya keturunan Rusia
berdiri dan bertanya ‘And so, if you don’t believe in the life after death, why
you have to go to your synagogue, worship, wearing yarmukka, giving charity,
etc.? Why do you think it is necessary to be honest, be helpful to others? And
why we have to avoid things we must avoid?’, tanyanya panjang lebar.
Sang Rabbi hanya tersenyum dan menjawab singkat ‘we do all those because that
what we have to be and do’.
Mendengar jawaban sang Rabbi, semua hadirin hanya tersenyum, dan bahkan banyak
yang tertawa.
Kembali ke Karen, kita kemudian hanyut dalam dialog tentang konsep kebahagiaan.
Menurutnya, sebagai seorang sosiolog, dia telah melakukan banyak penelitian
dalam berbagai hal yang berkaitan dengan bidangnya. Pernah ke Amerika Latin,
Afrika, beberapa negara Eropa, dan juga Asia, termasuk Asia Selatan. ‘But one
thing I have to tell, those Pakistanis and Afghanis are simply amazing people’,
katanya. ‘What really amazed about them?’ tanyaku.
‘Many, their religiosity and commitment to the religion, among others. But I
think the most amazing about them is their strength and enduring in nature in
their daily life’, katanya panjang lebar. ‘I am amazed how these people are so
strong and looking happy despite the very challenging life that they are in’,
jelasnya lagi.
Saya tidak pernah menyangka kalau Karen tiba-tiba meneteskan airmata di
tengah-tengah pembicaraan kami. Dia seorang professor yang senior, walau masih
belia dalam umur. Tapi juga pengalamannya yang luar biasa, menjadikan saya
lebih banyak mendengar. Di tengah-tengah membicarakan ‘kesulitan hidup’
orang-orang Afghanistan dan Pakistan, khususnya di daerah pegunungan-pegunung
an, dia meneteskan airmata tapi sambil melemparkan senyum. ‘I am sorry, I am
very emotional with this story?’, katanya.
Segera saya ambil kendali. Saya bercerita tentang konsep kebahagiaan menurut
ajaran Islam. Bahkan berbicara panjang lebar tentang kehidupan dunia sementara,
dan bagaimana Islam mengajarkan kehidupan akhirat itu sendiri. ‘No matter how
do you live your life here, it is temporary and unfulfilling. There must be
some where, sometime where we will live eternally and all dreams and wishes
will be fulfilled’, jelasku. ‘This belief gives us an immense strength and
determination to live our lives at fullest, no matter how circumstances may
surround that life itself’.
Tanpa terasa adzan Dhuhr dikumandangkan. Saya pun segera berhenti berbicara.
Nampaknya Karen paham bahwa ketika adzan didengarkan maka kita seharusnya
mendengarkan dan menjawab. Mungkin dia sendiri tidak paham apa yang seharusnya
diucapkan, tapi dia tersenyum ketika saya meminta maaf berhenti berbicara.
Setelah adzan saya melanjutkan sedikit, lalu saya tanya kepada Karen. ‘And so,
what really makes you calling me the other day?’
‘I want to tell you that my mind constantly remember those people. My memory
reminds me about how they happy are, while we Americans with all this fancy
life, lacking of happiness..!’, katanya seolah marah.
‘And so what makes you contacting me? I mean why do you have to come and
discuss with me?’ pancingku lagi.
Karen merubah posisi duduknya, tapi nampak sangat serius lalu berkata ‘I’ve
thought this for long time. But I really don’t know what to do and how to
proceed it. I wanted to become a Muslim!’, katanya mantap.
Saya segera menjelaskan bahwa untuk menjadi Muslim itu sebenarnya sangat mudah.
Yang susah adalah proses menemukan hidayah. Jadi nampaknya anda sudah melalui
prose situ, dan kini sudah menuju kepada jenjang akhir. ‘My question to you is
are you really convinced that this is the religion that you believe to be the
Truth?’, kataku lagi.
‘Yes, certainly no doubt!’, jawabnya tegas.
Saya segera memanggil salah seorang guru weekend school wanita untuk
mengajarkan kepada Karen mengambil wudhu. Ternyata dia sudah bias wudhu dan
shalat, hanya belum hafal bacaan-bacaan shalat tersebut.
Selepas shalat Dhuhur, Karen saya tuntun melafalkan ‘Ash-hadu an laa ilaaha
illa Allah wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah’, dengan penuh khusyu’ dan
diikuti pekikan takbir ratusan jama’ah yang hadir.
Hanya doa yang menyertai semoga Karen Henderson dijaga dan dikuatkan dalam
iman, tumbuh menjadi pejuang Islam di bidangnya sebagai professor ilmi-ilmu
social di salah satu universitas bergengsi di AS. Amin!
New York, 26 April 2010
[Non-text portions of this message have been removed]