Abdullah Bin Hudzafah as-Sahmiy -radhiallaahu 'anhu-
Jumat, 04 Juni 04

(Dipaksa Mencium Kepala Kaisar, Asalkan Tawanan Kaum Muslimin Bebas )

"Sudah sepatutnya setiap Muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy 
dan saya adalah orang pertama yang melakukannya" (Umar bin al-Kaththab)

Pemeran cerita kita kali ini adalah salah seorang sahabat yang bernama Abdullah 
bin Hudzafah as-Sahmiy.
Boleh saja sejarah tidak mengangkat pembicaraan tentang tokoh ini sebagaimana 
telah berjuta-juta orang arab sebelumnya yang tidak pernah diangkat. Akan 
tetapi Islam yang agung telah menakdirkan Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy 
bertemu dengan para pembesar dunia pada zaman itu; Kisra Persia dan Kaisar 
Romawi. Kisah ini kemudian diabadikan oleh sejarah sepanjang zaman.
Kisahnya bersama Kisra raja persia terjadi pada tahun ke-enam Hijriyyah ketika 
Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam berkeinginan mengirimkan sekelompok para 
sahabatnya untuk mengantarkan surat kepada raja-raja 'Ajam (non Arab). Surat 
tersebut berisi ajakan beliau kepada mereka untuk memeluk Islam. Dan Rasul 
Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sangat menyadari bahwa tugas ini amat berbahaya.

Para utusan itu akan pergi ke negeri nun jauh yang belum pernah menjalin 
perjanjian sebelumnya. Mereka tidak mengerti bahasanya dan tidak mengetahui 
tabi'at-tabi'at rajanya. Kemudian mereka akan mengajak raja-raja itu untuk 
meninggalkan agamanya dan berpisah dengan kebesaran dan kerajaannya serta 
memeluk agama suatu kaum yang beberapa di antara mereka adalah penduduk wilayah 
yang tunduk terhadap kekuasaan mereka.

Ini adalah perjalanan yang berbahaya. Yang pergi dalam perjalanan itu akan 
dianggap hilang dan yang bisa kembali pulang seolah-olah dilahirkan kembali.
Untuk itu Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya dan berpidato di hadapan 
mereka. Setelah memuji dan menyanjung Allah, bersyahadat lalu berkata:

(Amma ba'du, Sesungguhnya aku ingin mengutus sebagian kamu kepada raja-raja 
'Ajam, maka janganlah kamu membantah kepadaku sebagaimana bani Israil membantah 
kepada Isa bin Maryam).

Maka para sahabat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam berkata, "Wahai 
Rasulullah, kami siap melaksanakan apa yang engkau kehendaki, maka utuslah kami 
dengan sesuka hati engkau."
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam memilih enam orang sahabatnya untuk 
menyampaikan surat-suratnya kepada raja-raja Arab dan 'Ajam, dan di antara 
ke-enam orang tersebut adalah 'Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy, ia dipilih 
untuk menyampaikan surat Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam kepada Kisra Persia.

'Abdullah bin Hudzafah menyiapkan kendaraannya dan berpamitan dengan istri dan 
anaknya, lalu bergerak melaksanakan tugasnya dengan turun dan naik gunung, 
sendirian tidak ada yang menemaninya kecuali Allah, hingga ia sampai ke negeri 
Persia, kemudian ia meminta izin masuk untuk menemui sang kisra dan menyerahkan 
surat kepadanya.

Sang kisrapun memerintahkan agar istananya dihiasi dan memanggil 
pembesar-pembesar Persia untuk hadir di kerajaannya, Kemudian 'Abdullah bin 
Hudzafah dipersilahkan masuk.
Abdullah bin Hudzafah menemui penguasa Persia itu dengan pakaian tipis yang 
membalut tubuhnya yang dirangkap jubahnya yang kasar, tampak padanya 
kesederhanaan orang Arab.
Namun ia sangat percaya diri, berdiri tegap, nampak pada penampilannya 
kewibawaan Islam dan bercokol dalam hatinya kebesaran Iman.

Ketika Kisra melihatnya sedang menghadapnya, ia menunjuk salah seorang 
ajudannya untuk mengambil surat dari tangannya, maka Abdullah berkata, "Tidak!, 
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam menyuruhku supaya aku menyerahkan 
surat ini langsung ke tanganmu dan aku tidak akan mengingkari perintah 
Rasulullah."
Lalu Kisra berkata, "Biarkan ia mendekat kepadaku." dan setelah ia mendekat 
kepadanya, Kisra mengambil surat dari tangannya.
Kemudian Kisra memanggil juru tulis arab dari negeri penduduk Hirah dan 
menyuruhnya supaya membuka surat dan membacanya di hadapannya. Dan ternyata di 
dalamnya,

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad utusan 
Allah kepada Kisra pembesar Persia, kesejahteraanlah bagi orang yang mengikuti 
petunjuk..."

Ketika Kisra mendengar sepotong surat ini, maka menyalalah kemarahan di 
dadanya, mukanya merah dan otot lehernya melembung besar, karena Rasulullah 
Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam memulai dengan menyebutkan…?, lalu ia menarik 
surat dari tangan juru tulisnya dan merobek-robeknya tanpa mengetahui apa yang 
tertulis dalam surat itu, lalu ia berteriak: Apakah ia menulis surat kepadaku 
dengan seperti ini, sedangkan ia adalah hambaku!!"

Lalu ia menyuruh supaya Abdullah bin Hudzafah dikeluarkan dari singgasananya, 
lalu ia dikeluarkan.
Abdullah bin Hudzafah keluar dari kerajaan Kisra, dan ia tidak tahu apa yang 
akan ditakdirkan oleh Allah kepadanya...dibunuh atau dibiarkan pergi?.
Akan tetapi ia masih bisa berkata, "Demi Allah aku tidak perduli terhadap 
keadaanku setelah aku menyampaikan surat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa 
Sallam ." dan ia menaiki kendaraannya dan pergi.

Dan ketika Kisra telah reda dari marah, ia menyuruh supaya Abdullah dipanggil 
masuk kembali kepadanya, namun Abdullah tidak ditemukan... lalu mereka 
mencarinya akan tetapi mereka tidak menemukan jejaknya... Hingga mereka mencari 
di jalan yang menuju ke negeri arab dan mereka menemukannya namun ia telah jauh.

Dan ketika Abdullah menemui Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam ia menceritakan 
apa yang terjadi tentang Kisra dan surat yang dirobek olehnya, Rasul langsung 
berkata, "Mudah-mudahan Allah merobek-robek kerajaan-nya."

Adapun Kisra, ia telah menulis surat kepada Badzan wakilnya yang ditugaskan di 
Yaman, "Utuslah dua orang prajuritmu yang kuat-kuat kepada orang yang muncul di 
Hijaz ini, dan perintahkanlah keduanya agar membawanya kepadaku...", maka 
Badzan mengutus dua orang terbaiknya kepada Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa 
Sallam, ia juga membekali surat untuk diberikan kepadanya, di dalam surat itu 
ia menyuruhnya supaya beliau berangkat bersama kedua orang itu untuk menemui 
Kisra dengan segera...Dan ia meminta dari kedua orang itu untuk mendengar 
khabar Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan memata-matainya, dan menyampaikan 
berita yang diperolehnya kepadanya.

Kedua orang itu segera berangkat sehingga mereka sampai ke Thaif dan menjumpai 
para pedagang Quraisy, lalu keduanya bertanya kepada mereka tentang Muhammad 
Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam, maka mereka menjawab, "Ia berada di Yatsrib!."

Kemudian para pedagang itu bergegas menuju ke Mekkah dengan riang untuk 
menyampaikan khabar gembira, mereka mengucapkan selamat bagi orang-orang 
Quraisy sambil berkata, "Bersenang-senanglah kalian, karena Kisra telah 
menangani Muhammad dan kalian bakal aman dari kejahatannya."

Adapun kedua orang tadi, mereka telah pergi menuju kota Madinah dan bertemu 
Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam, dan memberikan surat Badzan kepadanya, dan 
keduanya berkata kepada beliau, Sesungguhnya raja diraja Kisra telah menulis 
surat kepada raja kami Badzan supaya ia mengutus orang kepadamu, orang itu akan 
membawamu kepadanya... Dan kami telah mendatangimu supaya kamu pergi bersama 
kami kepadanya, jika kamu menuruti kami, kami akan memberi tahu Kisra tentang 
sesuatu yang berguna bagi kamu dan ia akan menahan siksaannya darimu, dan jika 
kamu tidak mau, maka ia adalah orang yang kamu telah tahu keganasannya, 
kekerasannya dan kemampuannya untuk membinasakanmu dan kaummu. Maka Rasul 
Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam tersenyum dan berkata kepada keduanya, "Hari ini, 
kembalilah kamu berdua ke tempat tendamu dan datanglah kamu berdua besok ke 
sini."

Dan keesokan harinya keduanya datang kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam 
dan mereka berkata kepadanya, "Apakah kamu telah siap untuk berangkat bersama 
kami kepada Kisra?" Beliau berkata kepada mereka berdua, "Kamu berdua tidak 
akan menemukan Kisra setelah hari ini... Allah telah membinasakannya, anaknya 
(Syirwaih) telah membunuhnya pada malam ini... di bulan ini..." Maka keduanya 
mencermati wajah Nabi dan mulai nampaklah keheranan di wajah mereka, dan 
keduanya berkata, "Apakah anda sadar apa yang anda katakan? bolehkah kami 
menulis hal itu kepada Badzan? Beliau menjawab, "Ya, dan katakan kepadanya 
Bahwa agamaku akan sampai ke seluruh kekuasaan Kisra, dan jika kamu masuk Islam 
aku akan memberikan apa yang kamu kuasai, dan aku jadikan kamu raja atas 
kaummu."

Kedua orang itu keluar dari Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan pulang 
menemui Badzan dan menyampaikan khabar; maka Badzan berkata, "Jika apa yang 
dikatakan Muhammad benar, maka ia adalah seorang nabi, dan jika tidak benar, 
maka kita akan pikirkan lagi nanti."

Tidak lama kemudian datanglah surat Syirwaih kepada Badzan, ia berkata dalam 
surat itu, "Amma ba'du, aku telah membunuh Kisra, dan aku tidak membunuhnya 
kecuali karena balas dendam untuk kaumku, ia telah banyak membunuh 
pembesar-pembesar mereka, memboyong perempuan-perempuan mereka dan menjarah 
harta mereka, jika suratku ini telah datang kepadamu, maka jadilah kamu dan 
kaummu orang-orang yang taat kepadaku."

Ketika Badzan membaca surat Syirwaih, ia tidak melanjutkan bacaannya, akan 
tetapi ia melemparkannya ke sampingnya dan ia menyatakan masuk Islam, dan 
begitu pula orang-orangnya dari Persia yang ada di Yaman semua masuk Islam.
Ini adalah kisah pertemuan Abdullah bin Hudzafah dan Kisra raja Persia.

Lalu bagaimana pertemuannya dengan Kaisar pembesar Romawi?

Pertemuannya dengan Kaisar adalah terjadi pada zaman khalifah Umar bin 
al-Khaththab radliyallâhu 'anhu pada saat itu ia mempunyai kisah yang sangat 
indah...

Pada tahun kesembilan hijriyah Umar bin al-Khaththab mengutus pasukan untuk 
memerangi Romawi, dan diantaranya Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy. Kaisar 
pembesar Romawi sendiri telah mendengar khabar tentang pasukan-pasukan kaum 
muslimin yang mempunyai kebenaran iman, kekokohan aqidah dan keteguhan jiwa 
dalam menegakkan jalan Allah dan Rasul-Nya.

Maka Kaisar menyuruh pasukannya bahwa jika mereka mendapatkan tawanan dari kaum 
muslimin, supaya mereka tidak membunuhnya dan membawa kepadanya dalam keadaan 
hidup... Dan Allah memang telah berkehendak bahwa Abdullah bin Hudzafah 
as-Sahmiy jatuh tertawan oleh pasukan Romawi, lalu mereka membawanya kepada 
rajanya, dan mereka berkata, "Dia termasuk sahabat Muhammad yang lebih dahulu 
memeluk agamanya, dan ia telah menjadi tawanan kami, lalu kami hadirkan ia 
kepada engkau."
Raja Romawi menatap Abdullah bin Hudzafah agak lama dan berkata, "Aku akan 
menawari kamu sesuatu!"

Ia berkata, "Apa itu?"
Maka ia berkata, "Aku tawari kamu untuk masuk Nasrani...jika kamu menerima aku 
akan membebaskan kamu, dan aku beri kamu kedudukan. Maka tawanan itu berkata 
dengan lantang dan yakin, Tidak!...Kematian adalah seribu kali lebih aku cintai 
daripada apa yang kamu tawarkan kepadaku itu!"
Maka Kaisar berkata, "Sungguh aku melihatmu sebagai orang pemberani...Jika kamu 
menerima tawaranku, aku beri kamu jabatan dan aku bagi kerajaanku kepadamu.
Maka tawanan yang terikat itu tersenyum dan berkata, "Demi Allah jika kamu 
memberiku semua apa yang kamu miliki dan semua apa yang dimiliki orang-orang 
arab supaya aku meninggalkan agama Muhammad dalam sekejap mata, aku tidak akan 
melakukannya!"
Ia berkata, "Kalau begitu aku akan membunuhmu."
Ia berkata, "Terserah kamu." Kemudian ia menyalibnya, dan ia berkata kepada 
para ahli panahnya dengan bahasa romawi "Panahlah dekat tangannya, sambil ia 
menawarinya untuk masuk nasrani, dan Abdullah menolaknya.
Lalu ia berkata, "Panahlah dekat kakinya." Dan ia menawarkan kepadanya supaya 
ia meninggalkan agama Muhammad, tetapi ia menolak.

Setelah itu Kaisar menyuruh supaya mereka berhenti menyakitinya, dan supaya 
menurunkannya dari kayu salib, kemudian ia meminta supaya didatangkannya panci 
besar, lalu panci itu diisi dengan minyak dan diletakkan di atas api sehingga 
minyak itu mendidih, lalu kaisar meminta supaya didatangkan dua orang tawanan 
dari kaum muslimin, lalu ia menyuruh supaya salah seorang dari keduanya 
diceburkan di dalamnya, maka bertebaranlah dagingnya dan tulangnya nampak 
menganga.

Lalu Kaisar menengok ke arah Abdullah bin Hudzafah dan mengajaknya untuk 
memeluk agama Nasrani, akan tetapi tawaran itu ditolaknya dengan amat keras, 
bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Dan setelah Kaisar telah putus asa, ia menyuruh supaya Abdullah diceburkan di 
panci yang dipakai untuk menceburkan kedua sahabatnya. Dan ketika ia telah 
didekatkan dengan panci itu, keluarlah air matanya, maka berkatalah orang-orang 
Kaisar kepada rajanya, "Ia menangis!"

Maka Kaisar menyangka bahwa ia telah jera dan berkata, Kembalikan ia kepadaku." 
Ketika ia telah sampai di depannya, Kaisar menawarinya untuk memeluk agama 
Nasrani dan ia menolak, maka Kaisar berkata, "Sialan kamu, lalu apa yang 
membuatmu menangis?"

Ia menjawab, "Yang membuatku menangis adalah bahwa aku berkata kepada diriku, 
'Kamu diceburkan di panci ini sekarang lalu jiwamu melayang, dan sesunggungnya 
aku menginginkan kalau aku mempunyai nyawa sejumlah rambutku lalu diceburkan 
semuanya di panci ini di dalam jalan Allah.'"
Maka berkatalah Kaisar durjana itu, "Maukah kamu mencium kepalaku dan aku 
membebaskanmu?"
Maka Abdullah berkata, beserta semua tawanan muslim juga?"
Kaisar berkata, "Dan semua tawanan muslim juga." Abdullah berkata, Aku bergumam 
dalam hati, Aku mencium kepala salah satu dari musuh Allah lalu ia 
membebaskanku dan tawanan muslim semuanya, tidak masalah bagiku."

Lalu ia mendekatinya dan mencium kepalanya, maka raja Romawi itu menyuruh 
supaya tawanan-tawanan muslim dikumpulkan dan diserahkannya kepadanya, maka 
diserahkanlah mereka kepadanya.

Abdullah bin Hudzafah datang kepada Umar bin al-Khaththab radliyallâhu 'anhu 
dan menceritakan kisahnya, maka sangat bergembiralah al-Faruq, dan ketika 
beliau melihat tawanan-tawanan, beliau berkata, "Setiap orang islam selayaknya 
mencium kepala Abdullah bin Hudzafah... dan aku orang pertama yang 
melakukannya!" Lalu beliau berdiri dan mencium kepalanya....

http://www.alsofwah.or.id/

Kirim email ke