Artikel Tokoh Islam :

Sa'id bin Amir -radhiallaahu 'anhu-
Jumat, 04 Juni 04

Sa'id bin Amir adalah orang yang membeli akhirat dengan dunia, dan ia lebih 
mementingkan Allah dan Rasul-Nya atas selain-Nya. (Ahli sejarah).

Adalah seorang anak muda Sa'id bin Amir Al-Jumahi salah satu dari beribu-ribu 
orang yang tertarik untuk pergi menuju daerah Tan'im di luar kota Makkah, dalam 
rangka menghadiri panggilan pembesar-pembesar Quraisy, untuk menyaksikan 
hukuman mati yang akan ditimpakan kepada Khubaib bin 'Adiy, salah seorang 
sahabat Muhammad yang diculik oleh mereka.

Kepiawaian dan postur tubuhnya yang gagah, ia mendapatkan kedudukan yang lebih 
dari pada orang-orang, sehingga ia dapat duduk berdampingan dengan 
pembesar-pembesar Quraisy, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, 
dan orang-orang yang mempunyai wibawa lainnya.
Dengan demikian ia dapat melihat dengan jelas tawanan Quraisy yang terikat 
dengan tali, suara gemuruh perempuan, anak-anak dan remaja senantiasa mendorong 
tawanan itu menuju arena kematian, karena kaum Quraisy ingin membalas Muhammad 
atas kematian orang-orangnya ketika perang Badar dengan cara membunuhnya.

Ketika rombongan yang garang ini dengan tawanannya, sampai di tempat yang telah 
disediakan, anak muda Sa'id bin Amir Al-Jumahi berdiri tegak memandangi Khubaib 
yang sedang diarak menuju kayu penyaliban, dan ia mendengar suaranya yang teguh 
dan tenang di antara teriakan wanita-wanita dan anak-anak, Khubaib berkata, 
"Izinkan saya untuk shalat dua raka'at sebelum pembunuhanku ini jika kalian 
berkenan."

Kemudian ia memandanginya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat dan shalat dua 
raka'at, alangkah bagusnya dan indahnya shalatnya itu...

Kemudia ia melihat, Khubaib seandainya menghadap pembesar-pembesar kaum dan 
berkata, "Demi Allah! Jjika kalian tidak menyangka bahwa saya memperpanjang 
shalat karena takut mati, tentu saya telah memperbanyak shalat..."

Kemudian ia melihat kaumnya dengan mata kepalanya, mereka memotong-motong 
Khubaib dalam keadaan hidup, mereka memotongnya sepotong demi sepotong, sambil 
berkata, "Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu dan kamu 
selamat?", maka ia menjawab- sementara darah mengucur dari badannya, "Demi 
Allah! Saya tidak suka bersenang-senang dan berkumpul bersama istri dan anak 
sedangkan Muhammad tertusuk duri" . Maka orang-orang melambaikan tangannya ke 
atas, dan teriakan mereka semakin keras, "Bunuh!-bunuh...!."

Kemudian Sa'id bin Amir melihat Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit dari 
atas kayu salib, dan berkata, "Ya Allah ya Tuhan kami! Hitunglah mereka dan 
bunuhlah mereka satu persatu serta janganlah Engkau tinggalkan satupun dari 
mereka", kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak 
terhitung lagi bekas tebasan pedang dan tusukan tombak.

Orang-orang Quraisy telah kembali ke Makkah, dan mereka telah melupakan 
kejadian Khubaib dan pembunuhannya karena banyak kejadian-kejadian setelahnya.
Akan tetapi anak muda Sa'id bin Amir Al-Jumahi tidak bisa menghilangkan 
bayangan Khubaib dari pandangannya walau sekejap mata.

Ia memimpikannya ketika sedang tidur, dan melihatnya dengan khayalan ketika 
matanya terbuka, Khubaib senantiasa terbayang di hadapannya sedang melakukan 
shalat dua raka'at dengan tenang di depan kayu salib, dan ia mendengar rintihan 
suaranya di telinganya, ketika Khubaib berdo'a untuk kebinasaan orang-orang 
Quraisy, maka ia takut kalau ia tersambar petir atau ketiban batu dari langit.

Khubaib telah mengajari Sa'id sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. 
Ia mengajarinya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah aqidah dan jihad di jalan 
aqidah itu hingga akhir hayat.
Ia mengajarinya juga bahwa iman yang kokoh akan membuat keajaiban dan 
kemu'jizatan.
Dan ia mengajarinya sesuatu yang lain, yaitu bahwa sesungguhnya seorang 
laki-laki yang dicintai oleh para sahabatnya dengan kecintaan yang sedemikian 
rupa, tidak lain adalah nabi yang mendapat mandat dari langit.

Semenjak itu Allah membukakan dada Sa'id bin Amir untuk Islam, lalu ia berdiri 
di hadapan orang banyak dan memproklamirkan kebebasannya dari dosa-dosa 
Quraisy, berhala-berhala dan patung-patung mereka, dan menyatakan ikrarnya 
terhadap agama Allah.

Sa'id bin Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah , 
dan ia ikut serta dalam perang Khaibar dan peperangan-peperangan setelahnya.

Dan ketika Nabi yang mulia dipanggil menghadap Tuhannya, -saat itu beliau sudah 
meridhainya- ia mengabdikan diri dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah 
Abu Bakar dan Umar, dan hidup bagaikan contoh satu-satunya bagi orang mu'min 
yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan 
pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat badannya.

Kedua khalifah Rasulullah telah mengetahui tentang kejujuran dan ketakwaan 
Sa'id bin Amir, keduanya mendengar nasihat-nasihatnya dan memperhatikan 
pendapatnya.
Pada awal kekhilafahan Umar, ia menemuinya dan berkata, "Wahai Umar, aku 
berwasiat kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia, dan 
janganlah kamu takut kepada manusia dalam urusan Allah, dan janganlah ucapanmu 
bertentangan dengan perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik 
adalah yang sesuai dengan perbuatan...

Wahai Umar, hadapkanlah wajahmu untuk orang yang Allah serahkan urusannya 
kepadamu, baik orang-orang muslim yang jauh atau yang dekat, cintailah mereka 
sebagaimana kamu mencintai dirimu dan keluargamu, dan bencilah untuk mereka 
sesuatu yang kamu benci bagi dirimu dan keluargamu, dan tundukkanlah beban 
menjadi kebenaran dan janganlah kamu takut celaan orang yang mencela dalam 
urusan Allah.

Maka Umar berkata, Siapakah yang mampu menjalankan itu wahai Sa'id?!."
Ia menjawab, "Orang laki-laki sepertimu mampu melakukannya, yaitu di antara 
orang-orang yang Allah serahkan urusan umat Muhammad kepadanya, dan tidak ada 
seorangpun perantara antara ia dan Allah."

Setelah itu Umar mengajak Sa'id untuk membantunya dan berkata, "Wahai Sa'id; 
Kami menugaskan kamu sebagai gubernur atas penduduk Himsh." maka ia berkata, 
Hai Umar!: Aku ingatkan dirimu terhadap Allah; Janganlah kamu menjerumuskanku 
ke dalam fitnah. Maka Umar marah dan berkata, Celaka kalian, kalian menaruh 
urusan ini di atas pundakku, lalu kalian berlepas diri dariku!!. Demi Allah aku 
tidak akan melepasmu." Kemudian ia mengangkatnya menjadi gubernur di Himsh, dan 
beliau berkata, "Kami akan memberi kamu gaji." Sa'id berkata, "Untuk apa gaji 
itu wahai Amirul mu'minin? karena pemberian untukku dari baitul mal telah 
melebihi kebutuhanku." Kemudian ia berangkat ke Himsh.

Tidak lama kemudian datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul 
mu'minin, maka beliau berkata kepada mereka, "Tuliskan nama-nama orang fakir 
kalian, supaya aku dapat menutup kebutuhan mereka." Maka mereka menyodorkan 
selembar tulisan, yang di dalamnya ada Fulan, fulan dan Sa'id bin Amir. Umar 
bertanya: Siapakah Sa'id bin Amir ini?." Mereka menjawab, "Gubernur kami." Umar 
berkata, "Gubernurmu fakir?" Mereka berkata, "Benar, dan demi Allah sudah 
beberapa hari di rumahnya tidak ada api." Maka Umar menangis hingga janggutnya 
basah oleh air mata, kemudian beliau mengambil seribu dinar dan menaruhnya 
dalam kantong kecil dan berkata, Sampaikan salamku, dan katakan kepadanya 
Amirul mu'minin memberi anda harta ini, supaya anda dapat menutup kebutuhan 
anda."

Saat para utusan itu mendatangi Sa'id dengan membawa kantong, lalu Sa'id 
membukanya ternyata di dalamnya ada uang dinar, lalu ia meletakkannya jauh dari 
dirinya dan berkata: (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya 
kami akan dikembalikan kepada-Nya)- seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit 
atau ada suatu bahaya di hadapannya, hingga keluarlah istrinya dengan wajah 
kebingungan dan berkata, "Ada apa wahai Sa'id?!, Apakah Amirul mu'minin 
meninggal dunia?. Ia berkata, "Bahkan lebih besar dari itu." Istrinya berkata, 
"Apakah orang-orang muslim dalam bahaya?" Ia menjawab, "Bahkan lebih besar dari 
itu." Istrinya berkata, "Apa yang lebih besar dari itu?" Ia menjawab, "Dunia 
telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah datang ke 
rumahku." Istrinya berkata, "Bebaskanlah dirimu darinya." -saat itu istrinya 
tidak mengetahui tentang uang-uang dinar itu sama sekali-. Ia berkata, "Apakah 
kamu mau membantu aku untuk itu?" Istrinya menjawab, "Ya!" Lalu ia mengambil 
uang-uang dinar dan memasukkannya ke dalam kantong-kantong kecil kemudian ia 
membagikannya kepada orang-orang muslim yang fakir.

Tidak lama kemudian Umar bin al-Khattab ? datang ke negeri Syam untuk melihat 
keadaan, dan ketika beliau singgah di Himsh -waktu itu disebut dengan 
'Al-Kuwaifah' yaitu bentuk kecil dari kalimat Al-Kufah-, karena memang Himsh 
menyerupainya baik dalam bentuknya atau banyaknya keluhan dari penduduk akan 
pejabat-pejabat dan penguasa-penguasanya. Ketika beliau singgah di negeri itu, 
penduduknya menyambut dan menyalaminya, maka beliau berkata kepada mereka, 
"Bagaimana pendapat kalian tentang gubernur kalian?"

Maka mereka mengadukan kepadanya tentang empat hal, yang masing-masing lebih 
besar dari yang lainnya. Umar berkata, Maka aku kumpulkan dia dengan mereka, 
dan aku berdo'a kepada Allah supaya Dia tidak menyimpangkan dugaanku 
terhadapnya, karena aku sebenarnya menaruh kepercayaan yang sangat besar 
kepadanya. Dan ketika mereka dan gubernurnya telah berkumpul di hadapanku, aku 
berkata, "Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?"

Mereka menjawab, "Beliau tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah 
siang." Maka aku berkata, "Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa'id?." Maka ia 
terdiam sebentar, kemudian berkata, "Demi Allah sesungguhnya aku tidak ingin 
mengucapkan hal itu, namun kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku 
tidak mempunyai pembantu, maka aku setiap pagi membuat adonan, kemudian aku 
tunggu sebentar sehingga adonan itu menjadi mengembang, kemudian aku buat 
adonan itu menjadi roti untuk mereka, kemudian aku berwudlu dan keluar menemui 
orang-orang." Umar berkata, "Lalu aku berkata kepada mereka, "Apa lagi yang 
anda keluhkan darinya?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya beliau tidak menerima 
tamu pada malam hari." Aku berkata, "Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa'id?" 
Ia menjawab, "Sesungguhnya Demi Allah aku tidak suka untuk mengumumkan ini 
juga, aku telah menjadikan siang hari untuk mereka dan malam hari untuk Allah 
Azza wa Jalla." Aku berkata, "Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?"

Mereka menjawab, "Sesungguhnya beliau tidak keluar menemui kami satu hari dalam 
sebulan." Aku berkata, "Dan apa ini wahai Sa'id?" Ia menjawab, "Aku tidak 
mempunyai pembantu wahai Amirul mu'minin, dan aku tidak mempunyai baju kecuali 
yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan aku 
menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada 
sore hari." Kemudian aku berkata: "Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?" 
Mereka menjawab, "Beliau sering pingsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang 
duduk dimajlisnya." Lalu aku berkata, "Dan apa ini wahai Sa'id?" Maka ia 
menjawab, "Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku 
masih musyrik, dan aku melihat orang-orang Quraisy memotong-motong badannya 
sambil berkata, "Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu?" maka ia 
berkata, "Demi Allah aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, 
sementara Muhammad tertusuk duri...Dan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu 
dan bagaimana aku tidak menolongnya, kecuali aku menyangka bahwa Allah tidak 
mengampuni aku... maka akupun jatuh pingsan."

Seketika itu Umar berkata, "Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan 
dugaanku terhadapnya." Kemudian beliau memberikan seribu dinar kepadanya, dan 
ketika istrinya melihatnya ia berkata kepadanya, "Segala puji bagi Allah yang 
telah membebaskan kami dari pekerjaan berat untukmu, belilah bahan makanan dan 
sewalah seorang pembantu untuk kami", Maka ia berkata kepada istrinya, "Apakah 
kamu menginginkan sesuatu yang lebih baik dari itu?" Istrinya menjawab, "Apa 
itu?" Ia berkata, "Kita berikan dinar itu kepada yang mendatangkannya kepada 
kita, pada saat kita lebih membutuhkannya." Istrinya berkata, "Apa itu?", Ia 
menjawab, "Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah dengan pinjaman yang baik." 
Istrinya berkata, "Benar, dan semoga kamu dibalas dengan kebaikan." Maka 
sebelum ia meninggalkan tempat duduknya dinar-dinar itu telah berada dalam 
kantong-kantong kecil, dan ia berkata kepada salah seorang keluarganya, 
"Berikanlah ini kepada jandanya fulan. dan kepada anak-anak yatimnya fulan, dan 
kepada orang-orang miskin keluarga fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan".


Mudah-mudahan Allah meridhai Sa'id bin Amir al-Jumahi, karena ia adalah 
termasuk orang-orang yang mendahulukan(orang lain) atas dirinya walaupun 
dirinya sangat membutuhkan.(1)

(1). Untuk tambahan tentang biografi Sa'id bin Amr al-Jumahi, lihatlah: 
Al-Tahdzib:4/51, Ibnu `Asakir:6/145-147, Shifat al-Shafwah:1/273, Hilyatul 
auliya':1/244, Tarih al-Islam:2/35, Al-Ishabah:3/326, Nasab Quraisy:399. 

http://www.alsofwah.or.id/

Kirim email ke