Bismillahirrahmaanirrahim

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

 

Tulisan ini, hanyalah berupa pengalaman pribadi saja selama
saya menginjakkan kaki saya di ranah bumi para Kinanah, bumi anbiya dan negeri
seribu merara, negeri Cleopatranya semenjak awal September 1989.
Pengalaman-pengalaman awal-awal masa kedatangan saya, dulu sudah pernah saya 
tuangkan
dalam sebuah tulisan saya, bagaimana basa-basi, mujamalah, watak-watak orang
Mesir, bagaimana kondisi mahasiswa/I asing di Mesir, Al Azhar khususnya. Dan
tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan dahulu, dimana saat ini saya
menceritakan kondisi yang saya rasakan saat ini.

 

Masa-masa kedatangan saya di awal September 1989, mahasiswa asing,
terutama Indonesia
masih sangat sedikit, apalagi mahasiswinya. Mahasiswi mustajiddah(baru) saja
hanya berjumlah 9 orang. Dan saya sangat bersyukur tatkala itu diantara 9 orang
tersebut, saya satu-satunya yang naik ketingkat dua, sementara yang lain, harus
mengulang kembali. Itu bukan karena saya lebih pintar dari mereka, atau mereka
lebih bodoh dari saya lho,..bukan..tapi memang di Mesir ini ada hal-hal yang
diluar dugaan manusia terjadi, kadang jauh diluar prediksi manusia itu sendiri,
terkadang juga kerajinan, keikhlasan, sikap hati, ketawadhu’an, tidak sombong 
sepertinya
masalah hati, sangat berperan penting di Mesir ini.

 

Berbeda dengan zaman-zaman beberapa tahun setelah saya,
mahasiswi sudah mulai banyak, ratusan sampai ribuan, dan tingkat
kelulusannyapun mulai banyak.

 

Aneh bin ajaib saya rasakan, untuk priode kuliyah, atau
tamhidi I dan II di Al Azhar itu, terutama Tamhidi untuk bisa menulis di S2
AlAzhar itu selama 2thn berturut-turut, alhamdulillah lulus pada satu kali
putaran ujian saja, tak perlu harus diulang sampai dua kalinya. Namun teramat
disayangkan justru ketika disaat menulislah saya menemukan alang merintang,
yang sangat memperlambat skripsi saya selesai, dan utama dari keterlambatan
itu, kemungkinan besar disebabkan oleh kesibukan saya mengurus keempat
anak-anak saya yang jarak umur mereka rapat, dimana saya disibukkan dengan
segala macam aktifitas Dharma Wanita Persatuan(DWP), kala itu, yang mana hampir
4 thn berturut-turut saya masuk dalam jajaran kepengurusan, dan setelah priode
saya, local staff tidak lagi masuk dalam jajaran kepengurusan. 

 

Masa-masa dari 2002-2006 adalah masa-masa dimana selain
aktif dalam organisasi, saya disibukkan dengan aktif diskusi, Tanya jawab,
sampai berdebat habis-habisan di dunia maya, dunia milits, dan ini sangat
menguras tenaga, waktu dan pikiran saya, namun saya ikhlas, semua demi
berkembang, dan tersalurkannya juga ilmu dari Al Azhar yang saya dapatkan,
meski karena itu, akhirnya masa penulisan skripsi saya jadi terlambat, dimana
semenjak awal 2000 saya sudah tercatat menjadi PNS. Waktu untuk mengabdikan
ilmu, juga urusan kepegawaian buat PNS inipun tersita selama 3 tahun. Karena
itulah S2 sayapun baru bisa rampung pada akhir Desember 2006, sangat lama
sekali.

 

Selesai S2, saya harus mengabdi lagi ke Indonesia, itu
dikarenakan status saya masih tetap PNS, tidak langsung daftar S3, baru pada
akhir 2007 baru saya bisa kembali lagi ambil tugas belajar . Namun untuk urusan
S3nya saja memakan waktu 1 thn lebih. Awal 2009 baru saya tercatat resmi
sebagai mahasiswi program S3. Dan masa inipun saya disibukkan harus mementingkan
anak-anak saya, karena mereka sudah mulai menanjak remaja, mulai ada Ujian
Nasional, jadi pikiran saya terkuras buat anak-anak, mempersiapkan UN mereka. 

 

Saya tidak mengajar anak-anak, tidak pula mereka selalu
berada diketiak saya, yang harus saya tuntun terus. Tidak, tetapi selalu saya
awasi dari kejauhan, saya biarkan mereka mandiri, namun segala kebutuhan mereka
terpenuhi, masa-masa mereka ujian, dengan tanpa pembantu saya harus menyiapkan
segala urusan RT, nyuci, masak, jemur, gosok, ngepel rumah, itu sudah merupakan
tugas rutin saya sehari-hari, sampaipun detik ini. 

 

Anak-anak harus sarapan dirumah, sebelum berangkat
kesekolah. Dan syukurnya ada suami yang sangat baik dan pengertian membantu
saya mempersiapkan sikecil kami yang luar biasa manjanya, padahal dia dah bisa
mandi sendiri, pakaian sendiri, dan sarapan sendiri, tetapi tetap saja mau
disiapin oleh Baba, terutama mamanya, kalau saja mamanya tak dilihatnya lagi
didapur. Anak pertama kedua lebih dekat dengan babanya, anak ketiga dan keempat
lebih dekat ke mamanya

 

Pulang sekolah mereka harus makan siang dulu, meskipun
mereka tetap saja ada jajan disekolah ataupun membawa bekal dari rumah. Bagi
saya kesehatan mereka sangat penting diperhatikan, dan ini saya perhatikan
semenjak awal kehamilan. Dalam 1 minggu saja terlambat datang tamu bulanan,
sudah periksa test kehamilan, karena saya tahu betul, saya tak pernah
terlambat, datang bulannya teratur, kalau terlambat 5 hari saja, saya dah
merasakan ada kehamilan disana, karena itu gizi untuk otak dan badannya memang
saya perhatikan semenjak awal lagi, saya pelajari apa-apa yang harus
dipersiapkan seorang ibu hamil, buat kesehatan jasmani dan ruhani anak dalam
kandungannya, saya harus menghilangkan rasa mual, menghilangkan kemalasan dan
keegoisan diri saya dengan melawan rasa sakit dan mual-mual yang dah pasti
semua ibu hamil merasakan mual dan sakit, sesak dada, nafas, saat-saat
kehamilan itu. 

 

Saya berfikir simple saja, kalau anak-anak sakit, kan biaya lagi, atau
anak bodoh, harus biaya lagi buat meles privatkan mereka secara khusus, mana
pikiran lagi, dimana waktupun terkuras karena sakit atau lemah daya tangkap
tersebut. 

 

Untuk mengajari anak-anak tulis baca Arab dan latin saja,
terutama bacaan shalat dan AlQurannyapun harus kami ortunya sendiri, disamping
karena secara phisikologinya juga memandang biaya juga, tetapi utamanya karena
phisikolog saja, makanya dalam hal AlQuran, tulis baca Arab latin dasar, memang
kami khususkan, harus dari kami sebagai orang tua mereka.

 

Lika-liku urusan didunia maya, urusan organisasi, urusan RT
utamanya memang membuat kuliyah saya , maksudnya penulisan skripsi, dan juga
disertasi saya berjalan lambat apa adanya, berjalan bagaikan air mengalir saja.
Saya tak memaksakan diri harus segera berhasil, harus segera rampung, karena
pikiran utama saya sebenarnya untuk anak-anak, karena mereka adalah amanah dan
tanggung jawab orang tua. Dan saya tetap juga aktif menulis, organisasi, karena
itu juga merupakan tanggung jawab keilmuwan saya, juga sebagai bagian dari
masyarakat. 

 

Kita adalah makhluk social, bukan makhluk yang hidup dihutan
sendirian saja. Ada
hak-hak orang lain, masyarakat dari diri kita, dan itu saya perhatikan juga.
Dan saya juga merasakan membutuhkan masyarakat, butuh pergaulan, tidak harus
terkuras pikiran buat  kerjaan, kuliyah,
atau anak-anak dan suami saja. Saya sadar betul manusia itu adalah makhluk
social, yang memang harus bermasyarakat.

 

Setiap awal-awal kami memiliki bayi dan anak-anak masih
kecil-kecil, jujur saja, waktu buat shalat tahajjud, dan mengulang hafalan
AlQuran saya jadi sangat-sangat berkurang. Hati saya sebenarnya sedih kala itu,
karena kebiasaan tahajjud dan mengulang hafalan AlQuran sudah terlatih semenjak
saya duduk dibangku SMP, terutamanya semenjak saya masuk pesantren Diniyyah 
Puteri
Padang Panjang. 

 

Hidup dalam lingkungan pesantren, membuat saya menjadi
perempuan yang tahu akan makna dekat pada sang khaliq, makna bermasyarakat,
karena kita harus memandang kewajiban dan hak-hak selain hak-hak diri kita
sendiri, karena itu, saya suka hidup dimana dalam rumah itu banyak orangnya,
meski saya suka satu kamar sendirian, namun dalam rumah itu banyak
kamar-kamarnya, yang membuat saya tetaplah hidup bermasyarakat, tetap
mengingat, kita manusia bukan hidup sendiri didunia ini. Kita saling butuh dan
dibutuhkan.

 

Kebiasaan beribadah sebagaimana saat-saat masih belum
menikah seperti itu jadi jarang, hati serasa ada yang hilang, seakan hidup tak
sempurna lagi, namun saya ikhlaskan saja, tokh..melayani anak dan suami juga
ibadah, sebagai tugas utama istri adalah urusan RT saya pikir, jadi yah,
diniatkan tetap ibadah saja, walaupun tetap lain perasaan itu. Ibadah shalat
khusus kepada Allah, tetap saja beda rasanya, meski semua atifitas sehari-hari
tetap diniatkan ibadah juga. 

 

Alhamdulillah setelah sikecil anak kami Muhammad sudah masuk
SD, waktu seperti dulu lagi, mulai bisa ibadah pada malam hari, mengulang
hafalan AlQuran sudah mulai saya rasakan kembali lagi seperti masa-masa dulu.
Dan ternyata kedamaian hati, ketenangan itu berada tatkala kita benar-benar
banyak berinteraksi dengan Allah Ta’ala, via surat cintaNya, via menghadap 
langsung
kepadaNya. 

 

Dan bukan berarti selama ini, saya tak merasa ketenangan,
tidak,..tapi memang ada sesuatu yang saya rasakan, sulit untuk diungkapkan.
Rasa Cinta itu bersemi kembali, tatkala kita bersunyi-sunyi diri denganNya.
Manusia dua insan saja,  kalau
berdua-duaan tanpa ada kehadiran pihak ketiga saja, serasa dunia ini milik
mereka berdua, alangkah indahnya perasaan itu, bila kita rasakan bersama Allah
Ta’ala, jauh lebih indah dari berduaan dengan siapapun.

 

Saya juga mulai mengaktifkan diri pada kegiatan
kemahasiswaan, berkumpul bersama-sama mahasiswa/i Al Azhar, yang notabene
mereka masih muda-muda, cantik-cantik, tampan-tampan, alim, dan baik hati. Saya
melihat mahasiswi/a sekarang masih muda-muda, kreatif, inovatif, pintar, lucu,
dan lugu, utamanya ajaran secara tak langsung dari para dosen-dosen Al Azhar,
sisi keikhlasan, keilmuwan mulai turun dan mengalir kedarah sebahagian besar
mahasiswa/i Al Azhar. 

 

Kelebihan belajar di Al Azhar ini, itulah dia, khazanah ilmu
klasik, ilmu ulama salaf, ilmunya langsung didapat dari turun temurun dari para
ulama, tabi’in, sahabat 
radhiallahu’anhum, Rasulullah shalllallahu’alaihi wasallam. Dan ini
tentu sulit didapatkan dari universitas manapun. Banyak juga saya melihat para
mahasiswa/i selain mereka matang dalam keilmuwan khususnya ilmu agama mereka,
mereka juga mengikuti talaqqi AlQuran langsung dari pembimbing Arab, hafalan
AlQuran mereka juga jadi sangat bagus, luar biasa. 

 

Dan yang menarik perhatian saya ketika saya beberapa kali berangkat
satu bis dengan  mahasiswa/i Al Azhar,
kebiasaan orang Mesir yang membaca AlQuran, menghafal AlQuran didalam bis,
rupanya sudah mendarah daging ditubuh mahasiswa/i Indonesia yang menuntut ilmu
dinegeri bumi Kinanah ini. 

 

Alhamdulillah. Suami sayapun, masih tetap terbiasa,
menghafal AlQuran didalam bis saat akan berangkat kekantornya. Dan saya sangat
suka, naik bis, taxi di Mesir ini, mereka selalu memutar AlQuran, atau pun
radio, berisikan berita saja, jarang yang diputar lagu-lagu, kondisi ini tidak
berubah sudah 20 tahun lebih lamanya saya berada di Mesir, dan terbalik 
sebagaimana
yang saya rasakan di Indonesia, khususnya jalan Padang-Bukittinggi, malah makin
parah lagi, sekarang bis angkot dalam kota tak hentinya diputar lagu-lagu dari
awal sampai ketempat tujuan, yang kadang memekakkan telinga saya, mana bau
asappun tak hentinya, mau tak mau, karena sering didengar itu lagu di angkot,
saya jadi hafal tuh lagu-lagu Indonesia, tanpa perlu sengaja dihafal, dia dah
terekam sendiri di otak saya, karena tanpa kita sengaja, atau tanpa kita
inginkanpun, toh..terdengar juga di telinga saya, wajar saja jadi hafal, karena
telinga saya kan
tetap beraktifitas menerima informasi darimanapun dianya.

 

 Disini jarang, atau
bahkan tak saya rasakan lagu-lagu memekakkan telinga, dan bau asap rokok itu. 
Ada sih yang memutar
lagu(kemungkinan), ada juga, tapi satu diantara sekian ribu bis/taxi. Sepanjang
saya naik taxi, ataupun bis, bau asap rokok dan lagu2 memekakkan telinga itu,
sangat sulit saya temukan. Allahu’alam. 

 

Demikianlah sekelumit dari pengalaman saya, yang memang saya
“Mencintai” sebahagian besar mahasiswa/i Al Azhar yang walaupun mereka selalu
hidup dalam kesederhanaan, bahkan kesulitan sekalipun, ada yang hanya makan
pakai telor saja/ikan teri kecil saja selama berhari-hari, atau bahkan ada yang
mungkin lebih parah dari itu, kekuliyah dengan bis yang bersempitan, tangan
bergelantungan, dengan bau keringatnya orang Mesir (yang tak mandi pagi 
tentunya,
yang mandi pagi saja masih kadang bau keringatnya), namun mereka tetap saja
nampak bahagia, tenang, senyum, ikhlas melakukan aktivitas sehari-hari, walau
tanpa bayaran sekalipun(sikap keikhlasan ini adalah pantulan dari cahaya sikap
ulama Al Azhar yang hakiki).

 

Sementara disana saya sering melihat pesta meriah dengan
kemewahan. Suatu pemandangan yang sangat miris dan kontras. Saya sampai bilang
kesuami saya. :”Uda,..makan bersama-sama mahasiswa/i dengan makanan seadanya,
bahkan mungkin makan pakai telor ceplok sekalipun, hati ini jauh lebih
berbahagia, ketimbang makan ditempat dan bersama-sama mereka yang mewah. 

 

Wassalamu’alaikum. Cairo,
Dokki, 24 Mei 2010. Rahima
Wasssalamu'alaikum. Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.(Doqqi,Cairo) 





 "Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi 
manusia lainnya".


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke