Hadapi Kapitalisme dengan Muamalah Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia Menghadapi kezaliman Kapitalisme (Yahudi) tak harus pakai kekerasan. Dengan beredarnya koin dirham pecahan kecil, geliat muamalah kian tegak, kapitalisme pasti runtuh.
[image: Belanja Sembako dengan Dirham Perak]Rabu, 14 April 2010, terdapat dua peristiwa monumental di pesisir Ibukota RI, yaitu Perisriwa Tg. Priok jilid II (Mbah Priok) di Kecamatan Koja, dan Peristiwa Beredarnya Daniq (1/6) dan Nisfu (1/2) dirham di Kecamatan Cilincing. Kedua peristiwa ini tentu tidak ada kaitannya satu dengan yang lain. Tetapi keduanya akan tercatat dalam sejarah karena merupakan bentuk dari perlawanan terhadap kezaliman kapitalis, dengan pintu gerbangnya, pelabuhan. Sehingga pesisir merupakan daerah yang strategis dan menjadi 'pertarungan' antara kapitalisme melawan muamalah. Bila di Kecamatan Koja, kapitalisme dihadapi dengan kekerasan berdarah, maka di Kecamatan Cilincing kezaliman ini dihadapi dengan muamalah. Peristiwa sosialisasi koin daniq dan nisfu dirham yang dilakukan oleh Wakala al Faqi bertujuan agar tegaknya muamalah di masyarakat menjadi lebih semarak. Pedagang bisa memberi uang kembalian sisa belanja dengan dirham pecahan kecil. Juga pemilik dirham lebih leluasa berbelanja, meski dalam transaksi kecil senilai 1 daniq (Rp 5.500-an). Sehingga *at Tijara* (jual beli) jadi lebih hidup dan membebaskan umat dari riba. [image: Belanja dengan Dirham Perak]Saat sosialisasi, koin-koin ini langsung menarik hati umat. Sebut saja akhi Deni dan akhi Arief yang langsung menukar uang kertas mereka dengan daniq dan nisfu dirham, katanya untuk diperkenalkan kepada teman-temannya. Beberapa orang lainnya juga langsung menukar dirham pecahan kecil ini. Tapi karena stok di wakala masih sedikit, maka penukaran dibatasi maksimal 2 dirham, yaitu 2 nisfu dirham dan 6 daniq dirham. Maklum, koin-koin ini diperuntukan bagi kebutuhan Festival Hari Pasaran (FHP) yang diadakan di Cilincing. [image: Terima Dirham Perak]FHP di Kampung Nelayan Cilincing akhirnya terselenggara pada hari Ahad, 2 Mei 2010, untuk menyemarakan kembali muamalah di pasar ini. Agar dapat mendongkrak sirsulasi dirham maka dibagikanlah zakat dan shadaqoh senilai 37 dirham kepada 36 keluarga mustahik, yaitu dhuafa dan anak yatim. Sedianya FHP akan diadakan di dua kecamatan, yaitu Cilincing dan Koja. Akan tetapi Ustadz Ade Nuryaman, amir Niyabah Jamaah Hizbullah Jakarta Utara belum siap, karena ada acara Dauroh al Aqsha. Sehingga FHP selanjutnya ditetapkan di Kampung Nelayan Marunda. Total zakat dan shadaqaoh yang dibagikan berjumlah 75 dirham, berasal dari Baitulmal Nusantara (BMN). Untuk mengadakan FHP tersebut, muhtasib cukup bermodalkan foto kopi brosur kegiatan dan musyawarah dengan pedagang serta tokoh masyarakat setempat. Cara ini murah, mudah, cepat dan meriah! Selain untuk menghidupkan muamalah tijara di FHP, koin daniq dan nisfu dirham terbukti berguna untuk memakmurkan shadaqoh, serta memudahkan kaum dhuafa untuk mengumpulkan dirham. [sf] Sumber : http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Hadapi.Kapitalisme.dengan.Muamalah/344/id [Non-text portions of this message have been removed]

