Barkah binti Tsa'labah/ Aiman Al-Baraqa (Bahasa Arab لم 
يتم إيجاد أي 
عنوان مطابق) Ia 
seorang Ibu susuan Muhammad  dan Salah seorang sahabat nabi. Nama lengkapnya 
adalah Barkah binti Tsa'labah bin 'Amr bin Hishn bin Malik bin Salamah bin 'Amr 
bin Nu'man berasal dari Habsyi (sekarang Ethiopia).
[sunting] Biografi

Ummu Aiman adalah seorang hamba sahaya yang diwariskan kepada Muhammad oleh 
ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib. Ummu Aiman mengasuh Muhammad sampai usia 
dewasa. Dia dimerdekakan setelah Muhammad menikah dengan Khadijah binti 
Khuwailid, kemudian dinikahi oleh 'Ubaid bin Al-Harits dari suku Khazraj. Dari 
pernikahannya dengan 'Ubaid, lahirlah Aiman. Aiman ikut hijrah dan berjihad 
bersama Muhammad dan gugur sebagai syahid dalam Perang Hunain.

Muhammad sangat menghormati Ummu Aiman. Suatu ketika beliau mengunjunginya dan 
berkata, "Wahai Ibu!" Beliau juga pernah berkata, "Wanita ini adalah anggota 
keluargaku yang masih tersisa." Pada kesempatan lain beliau juga pernah 
berkata, "Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku (wafat)."

http://id.wikipedia.org/

Ummu Aiman mengasuh Muhammad kecil dengan penuh kelembutan. Setelah Muhammad 
diangkat menjadi rasul, beliau pernah berkata, "Barang siapa yang ingin menikah 
dengan wanita ahli surga, maka hendaklah ia menikahi Ummu Aiman." Mendengar 
sabda beliau, Zaid bin Haritsah segera menikahinya. Dari pernikahannya dengan 
Zaid, lahirlah Usamah bin Zaid, lelaki kesayangan Muhammad.

Ketika Allah memerintahkan kaum muslim untuk hijrah ke Madinah, Ummu Aiman 
termasuk angkatan pertama yang turut hijrah ke Madinah. Dia melakukan hijrah 
dengan berjalan kaki, tanpa bekal, dan dalam keadaan puasa walaupun cuaca saat 
itu sangat panas, sehingga ia mengalami kehausan yang sangat. Selanjutnya, 
Allah memberikan kemurahan kepadanya dengan menurunkan dari langit satu timba 
air dengan tali timba yang berwarna putih. Dia pun meminumnya sampai puas.

Dalam sebuah riwayat, Ummu Aiman berkata, "Sesudah minum air itu, aku tidak 
merasakan haus lagi. Meskipun aku berpuasa di tengah hari yang biasanya aku 
merasa haus, kini aku tidak merasakan haus setelah minum air itu. Sejak saat 
itu, jika aku berpuasa pada hari yang sangat panas, aku tidak pernah merasakan 
haus."

Muhammad memperlakukan Ummu Aiman layaknya ibu beliau sendiri. Suatu saat Ummu 
Aiman mendatangi beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, bawalah aku." Beliau 
berkata, "Aku akan membawamu di atas anak unta." Ia berkata lagi, "Wahai 
Rasulullah, anak unta tidak sanggup menahan bebanku. Aku tidak mau." Beliau 
berkata, "Aku tidak mau membawamu, kecuali di atas anak unta." Rasulullah 
memang ingin mencandai Ummu Aiman, karena setiap unta itu pastilah anak unta 
yang lain. Begitulah Rasulullah, bahkan dalam bercanda pun, beliau tetap 
mengatakan sesuatu yang benar.

Ummu Aiman adalah wanita yang cedal (susah berbicara). Suatu ketika Ummu Aiman 
datang kepada Muhammad dan berkata, "Salaamun laa 'alaikum" (Semoga keselamatan 
tidak terlimpahkan kepadamu). Muhammad pun memaklumi ucapan salamnya itu, 
karena yang dia maksudkan sebenarnya adalah, "Assalamu 'alaikum" (Semoga 
keselamatan tetap terlimpahkan kepadamu).

Di samping sifat-sifatnya yang terpuji, Ummu Aiman juga seorang wanita yang 
selalu ingin bergabung bersama pahlawan Islam dalam memerangi musuh-musuh Allah 
SWT untuk meninggikan kalimat-Nya, kendatipun usianya sudah tua. Dia ikut di 
medan perang Uhud. Di sana dia berusaha memanah sekuat kemampuannya, memberi 
minum pasukan yang kehausan, dan mengobati mereka yang terluka. Dia juga turut 
menyertai Muhammad dalam Perang Khaibar.

Setelah Muhammad wafat, Abu Bakar berkata kepada Umar, "Marilah kita 
mengunjungi Ummu Aiman sebagaimana Muhammad juga pernah mengunjunginya." Namun 
mereka berdua mendapati Ummu Aiman sedang menangis. Abu Bakar dan Umar 
bertanya, "Apa yang membuatmu menangis? Bukankah tempat di sisi Allah lebih 
baik bagi Rasul-Nya?" Ummu Aiman menjawab, "Aku menangis bukan karena tidak 
tahu bahwa tempat di sisi Allah adalah lebih baik bagi Muhammad. Aku menangis 
karena wahyu sudah terputus dari langit." Mendengar jawaban itu Abu Bakar dan 
Umar pun ikut menangis bersamanya.

Ummu Aiman wafat pada masa khalifah Utsman bin Affan, bertepatan 20 hari 
setelah wafatnya Umar. Semoga Allah mencurahkan rahmat-nya kepada Ummu Aiman, 
wanita yang berhijrah dengan berjalan kaki dalam keadaan puasa, inang pengasuh 
Muhammad.




Kirim email ke