Menyikapi Cita-cita Seorang Pelajar Oleh Drs. ZAENAL ABIDIN SEORANG siswa atau pelajar di mana pun dia mengikuti pendidikan baik di tingkat dasar menengah maupun pendidikan tinggi, tidak mungkin terlepas dari sebuah harapan bagi keberadaan dirinya di saat mereka sudah tamat dari jenjang pendidikan terakhir. Katakanlah tamat dari sebuah SLTA (SMU, SMK, madrasah aliyah atau yang sederajat) maupun perguruan tinggi D-II, D-III (diploma II, diploma III) atau starata satu (S-I). Harapan yang dimaksud tentu adalah sebuah cita-cita. Secara faktual, setiap orang. Kendati demikian, tidak semua orang menyatakan keinginan hidupnya kelak secara terang-terangan, namun ada juga yang sejak dini suka secara blak-blakan menyatakannya. Kita ambil contoh putra putri kita yang baru duduk di taman kanak-kanak (TK). Andaikan mereka kita tanya apa gerangan cita-citamu nak? dengan jawaban yang polos dan apa adanya mereka akan menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda. Mungkin ada yang menjawab ingin menjadi penerbang, ingin mejadi dokter spesialis anak, ingin menjadi konglomerat, ingin menjadi ulama besar atau bahkan ada juga yang bercita-cita kelak bila dia sudah dewasa ingin menjadi seorang presiden. Adapun yang tidak dinyatakan secara terbuka, biasanya ia hanya berujar berkenan dengan harapannya nanti disimpan dalam hati. Perbedaan antara cita-cita dan doa Namun demikian, terlepas apakah seseorang menyatakan atau tidak terhadap obsesi tentang keinginan hidupnya di kemudian hari, penulis berpendapat bahwa cita-cita, harapan, obsesi atau apa pun namanya pada hakikatnya adalah doa. Bedanya, kalau doa yang selama ini kita kenal adalah suatu permohonan dari kita sebagai seorang makhluk kepada Allah sang Maha Pencipta. Baik dilakukan secara sembunyi, misalnya di luar suasana sebelum atau sesudah melaksanakan salat fardu, secara resmi sambil menengadahkan kedua tangan, secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah dan lain-lain. Amalan itulah yang memiliki muatan ibadah, sebagaimana sabda Nabi saw bahwa doa adalah inti ibadah, sudah barang tentu akan mendapatkan pahala karenanya. Sedangkan cita-cita biasanya tersimpan dalam hati walau ada kalanya terucap melalui bibir. Mengapa saya katakan demikian? Biasanya setiap keinginan seseorang akan sesuatu hampir 99% terkabulkan entah cepat atau lambat. Oleh karena itu, berharap sesuatu yang secara spontanitas tampaknya tidak mengandung nilai-nilai ibadah dan inilah yang membedakan antara cita-cita dan berdoa secara formal. Namun, tetap akan Allah kabulkan jika Dia berkehndak. Hal itu dapatlah kita maklumi, mengingat Allah Azza Wajalla Zat Yang Maha Menepati Janjinya telah berfirman sebagaimana yang terkandung dalam Alquran Surat 40 ayat ke-60 yang artinya, "Dan Tuhanmu berfirman, berdoalah kepada-Ku, niscaya Ku-erkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." Kata menyembah-Ku di atas, menurut Alquran dan terjemahnya, Departemen Agama RI, adalah berdoa kepada-Ku. Yang berarti pula orang yang tidak suka bahkan tidak pernah berdoa kepada Allah karena didasari kesombongan maka mereka itulah yang akan dihinakan kelak di akhirat, naudzubillah. Oleh karena itu, seorang pelajaratau kita semua pada umumnya, harus pandai-pandai menyikapi sebuah cita-cita sekalipun baru sebatas kerenteg dina hate (terbersit dalam hati). boleh jadi apa yang kita dambakan adalah sebuah permohonan kepada Yang Mahakuasa sehingga boleh jadi hal tersebut akan terkabul karenanya. Jika persoalannya begitu, mungkin pada diri kita timbul pertanyaan berkenaan dengan firman Allah di atas, mengapa kok saya setiap hari berdoa dikala sedang salat, setelah salat fardu terutama. Demikian pula setelah salat tahajud, salat hajat, berpuasa Senin Kamis, dan lain-lain, tetapi rasanya Tuhan belum mengabulkan doaku juga yah? Jika diri kita sudah terhantui pikiran-pikiran seperti itu, khawatir kita akan terjebak pada suatu kecenderungan berburuk sangka (suuzon) kepada Allah. Padahal, kita wajib meyakini bahwa Allah tidak akan pernah menyalahi akan janjinya sebagaimana firmannya dalam Alquran Surat 3 (Al-Imron) Ayat 194, "...bahwa sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji." Lalu, bagaimanakah kiat supaya kita terhindar dari pebuatan yang merugikan diri kita sendiri tanpa kita sadari itu? jawabannya adalah biasakan setiap kita melakukan amal-amal yang baik, baik yang sunat terutama yang fardu untuk senantiasa menjalankannya dengan hati yang ikhlas. Jauhkan hati kita dari sifat-sifat tak terpuji seperti ria (beramal kebaikan karena didasarkan ingin mendapatkan pujian dari orang lain, agar dipercaya orang lain, dicintai orang lain, dan karena ingin dilihat orang lain), ujub (punya anggapan bahwa segala keuntungan yang diperoleh, baik rezeki maupun kepangkatan merupakan hasil usahanya semata-mata. Ia tidak menyadari bahwa hal itu adalah karunia dari Allah dan perbuatan tercela lainnya. Perbanyaklah bersyukur atas segala karunia yang telah Allah berikan dan kita rasakan nikmat yang demikian banyak tak ternilai ini, agar kita senantiasa terjaga dari berbagai perbuatan yang tidak terpuji, seperti suuzon terhadap Allah tadi. Selanjutnya, kita harus memahami bahwa dikabulkannya setiap doa para hamba Allah tidak akan sekaligus sekarang berdoa pada saat itu juga dapat merasakannya seperti orang yang makan cabai. Terakhir dalam kajian yang serba singkat ini saya berpesan terutama penulis tujukan kepada seluruh siswa/i, ikhwan/akhwat dari seluruh tingkatan pendidikan, sejak pendidikan dasar SD atau madrasah ibtidaiyah), menengah (SLTP/SMU/SMK atau MTs/madrasah aliyah) atau pendidikan tinggi adik-adik mahasiswa di mana pun saudara berada mengajak untuk senantiasa memiliki keinginan atau cita-cita yang luhur dan mulia. Janganlah sedikit pun saudara berharap sesuatu yang tidak baik, baik menurut norma sosial masyarakat, norma-norma hukum negara terlebih menurut norma agama. Bila harapan itu berupa doa senantiasa Allah kabulkan, padahal apa yang diharapkan tadi sesuatu yang kurang baik kan jadi berabe juga. Akan tetapi, bercita-citalah sejak dini dengan cita-cita yang baik serta tidak lupa akan ketentuan Allah di atas khususnya mengenai tahapan dikabulkannya setiap doa hamba-Nya. Wallahu A'lam bi ash-shawab. *** Penulis adalah guru Madrasah di Bandung.
http://asia.groups.yahoo.com/group/bintangpelajar/ “Tiada hari tanpa belajar, tiada prestasi tanpa dikejar” --------------------------------- To help you stay safe and secure online, we've developed the all new Yahoo! Security Centre. [Non-text portions of this message have been removed] **** HELP ME ! Gemuk ? Insomnia ? Phobia ? Psikosomatis ? Relapse ? Trauma ? Takut ? Cemas ? Sedih ? Depresi ? Stress ? Kurus ? Marah ? Kebiasaan Buruk ? Pengalaman Negatif ? Dll. ? di SERVO aja...! TESTIMONIAL Dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52. Hadi (37 tahun) ....... Saya perfeksionis. Ketika Ada pekerjaan yang kurang sempurna hasilnya, saya selalu merasa tidak tenang dan tegang. Saya akan menghabiskan hampir seluruh waktu saya untuk menyempurnakan dan memikirkan pekerjaan tersebut. ...... hasil yang saya rasakan sekarang adalah perasaan lebih gembira. Saya merasa lebih rileks menghadapi segala sesuatu yang terjadi, tidak ada lagi beban yang berlebihan yang saya rasakan dan saya lebih mudah tersenyum. Cinthya (23 tahun) Saya menjalani Servo Therapy demi membenahi insomnia yang saya derita. Biasanya saya tidak bisa tidur sebelum memasuki waktu subuh. Setelah diterapi, saya mulai bisa tidur dengan teratur, sekitar jam 10 malam. Terapi kedua dilakukan dua minggu kemudian. Kali ini untuk menyembuhkan fobia darah. Biasanya, kalau melihat darah saya langsung tidak tahan dan merasa pusing sekali. Kini saya sudah menikmati hasilnya setelah diterapi, tidak lagi merasa takut dan tidak pusing lagi saat melihat darah. .............. Kristin (30 tahun) Pada bulan April 2005 lalu, saya menjalani terapi dengan tujuan ingin menurunkan berat badan. Sebelum di Servo, berat badan saya mencapai 71 kg. Saya sebelumnya sudah mencoba beberapa cara, tapi tidak berhasil. Pernah juga mencoba mengonsumsi obat untuk melangsingkan tubuh, kemudian berat badan saya berhasil turun, namun kembali bertambah berat lagi setelah berhenti mengonsumsinya. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba metode ini. .......... Sekarang, bobot tubuh saya sudah turun menjadi 66 kg. Saya tidak lagi merasa tergoda untuk ngemil dan melahap gorengan. SERVO CENTER - VISI GLOBAL INDONESIA Pusat Pemrograman Diri dan Prestasi 021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257 Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
