sebuah artikel yang sangat bagus.
  di sisi lain, dengan banyaknya bantuan buat anak-anak korban gempa di  Bantul 
itu tentu sangat besar manfaatnya. artinya jati diri anak-anak  tersebut tetap 
ada sama mereka dan tak akan pernah tercerabut oleh apa  dan siapa pun. dengan 
begitu tugas dan kewajiban untuk menghilangkan  taruma yang ada pada mereka 
tidak lagi menjadi terlalu berat.
  
  LA.
  
  Wednesday, 26 July 2006, Kolom - Analisis
Jagat Anak Pasca Gempa 
  
  Oleh : Bakdi Soemanto           
       
  
  TATKALA  anak-anak Indonesia merayakan hari Anak Nasional yang kebetulan 
jatuh  pada Hari Minggu, 23 Juli 2006, pagi itu, saya meminjam buku tentang  
jagat anak dari seorang ahli ilmu jiwa anak, Detty Aryanti. Buku itu  berjudul 
The Secret of Childhood karangan Maria Montessori (1974). Buku  itu sudah kuna 
tetapi judulnya menggetarkan, terutama karena menyebut  jagat masa kanak adalah 
the secret, Sang Rahasia. 
  
  
    Buku itu mengingatkan saya kepada sebuah sajak karangan penyair Kahlil  
Gibran tentang Anak. Baris pertama sajak itu tertulis: “Anakmu bukan  anakmu”. 
Jika anak yang jelas-jelas dilahirkan oleh seorang ibu dan  ternyata ibu itu 
tidak “berhak” mengatakan bahwa si orok adalah  anaknya, apalagi orang lain: 
guru, tetangga, institusi atau negara  sekalipun. Dalam sajak yang pernah 
dilarang pada era Soeharto, karena  mempunyai pesan kebebasan bocah, Gibran 
menandaskan bahwa anak  ibaratnya sebuah anak panah. Orangtua adalah busurnya. 
Jika anak panah  lepas dari busur, ia akan melesat jauh ke muka. Orang tuanya 
tidak akan  bisa mengunjungi anak di masa depannya sendiri, betapa pun lewat 
mimpi.
  
  
    Di sini tampak, orangtua, apalagi institusi, negara, tidak bisa  memiliki 
anak. Orang Jawa mengatakan bahwa anak adalah titipan Gusti  Allah. George 
Norton menandaskan: “God makes beautiful kids, we just  take care of them”. 
Tuhan menciptakan anak-anak yang manis dan  lucu-lucu; kita hanya bertugas 
menjaganya.
  
  
    Pada era pasca gempa, tampak bahwa anak-anak juga menjadi korban.  Sebagai 
korban, mereka bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga  penderitaan 
mental. Mereka mengalami traumatik yang sangat, syok berat,  lebih-lebih yang 
ditinggal orangtua mereka. Bahkan, banyak yang menjadi  sebatang kara: kedua 
orangtua dan saudara-saudaranya menjadi korban.
  
  
    Pada masa recovery dan kebangkitan, banyak orang memberikan perhatian.  
Pada saat perhatian itu mulai diwujudkan, mulai tampak jati diri dari  yang 
memberi perhatian itu. Dengan kata lain, tujuan tersembunyi di  balik empati 
yang menyejukkan tampak jelas. Ada pamrih yang ngendon  dalam hati mereka. 
Adapun tujuan yang tidak tampak alias the hidden  objectives sangat 
bermacam-macam. Ada yang menanamkan sejak dini  kecintaan kepada parpol 
tertentu. Ada pula yang melihat anak-anak yang  sedang sangat menderita sebagai 
lahan tak bertuan untuk dibajak dan  dibujuk masuk ke dalam keyakinan mereka. 
Mereka diberi iming-iming  bermacam-macam. Iming-iming itu ibarat jala yang 
bisa menjerat  anak-anak itu.
  
  
    Tentu saja, ini adalah kisah pasca gempa yang paling menyedihkan. Jika  
yang menjadi sasaran adalah orang dewasa, ya sudahlah. Tinggal berapa  tahun 
lagi usia mereka. Biarlah kebutuhan mereka dipenuhi tetapi dengan  imbalan 
bahwa mereka masuk ke dalam jaringan parpol atau keyakinan  orang-orang yang 
membagi sepotong roti, selembar sarung atau segelar  tikar. Orang-orang dewasa 
itu, kelak, setelah suasana lebih temata,  akan bisa menilai kembali apa yang 
telah terjadi pada diri mereka.  Mereka akan mulai berdialog dengan batin 
sendiri, pada malam hari yang  sunyi, disaksikan sejuta bintang di langit, 
tentang hal-hal yang  mungkin tak sesuai dengan nuraninya.
  
  
    Akan tetapi, bagaimana jika sasarannya anak-anak? Apalagi, anak-anak  yang 
sedang menderita, ya fisik, ya mental. Mereka memerlukan kesegaran  suasana 
bukan pemaksaan-pemaksaan dengan dalih mendisiplinkan atau apa  pun.
  
  
    Anak yang sedang syok dan trauma, sama dengan orang dewasa, kehilangan  
orientasi. Ini persis seperti ditunjukkan oleh lakon-lakon absurd yang  ditulis 
pada saat Hitler ngobrak-abrik Eropa. Dalam situasi seperti  itu, ketika 
anak-anak sedang ‘linglung’, pasukan rahasia Nazi Jerman,  merekrut anak-anak 
itu, dengan dalih menyelamatkan mereka dari syok,  untuk dijadikan mata-mata. 
Dengan diberi pakaian pathfinder atau  pramuka, anak-anak memata-matai tetangga 
bahkan orang tuanya sendiri.  Mereka dibawa masuk bahkan disekap di dalam kamar 
dan diindoktrinasi,  bahkan lengkap dengan ancaman-ancaman. Anak-anak itu 
mengalami trauma  dua kali. Yang mengerikan, trauma yang datang kedua kali ini 
lebih  menekan sebab si anak tidak berani mengatakan kepada orang tuanya  
sendiri. Demikian, tamatlah jagad anak di Eropa dan Perang Dunia Kedua  itu.
  
  
    Seorang anak, demikian Maria Mantessori menulis dalam buku itu adalah:  
“sepenuhnya orang asing di dalam masyarakat orang dewasa” (192).  “Kerajaan 
anak-anak bukan dari dunia ini” (193). Oleh karena itu, jika  anak diminta 
melukis, akan sangat mungkin anak menggambar langit dengan  warna merah, laut 
ungu, daunan pohonan hitam... Mengapa terjadi  demikian? Sebab, itulah 
jagatnya. Ia memang orang asing bagi logika  linier orang dewasa yang 
terstruktur.
  
  
    Kemurnian pikiran anak yang demikian ini harus dijaga, jika kita  
mengharapkan masa depan bangsa ini lebih sehat. Kalau orangtua  
mengindoktrinasikan wawasannya sendiri kepada anak tanpa memahami jagat  
mereka, sama saja kita menyiapkan jagat yang bobrok seperti jagat yang  kita 
tempati sekarang.
  
  
    Maria Mantessori, selanjutnya menulis bahwa seorang anak datang ke  dunia 
sebagai seorang manusia yang asosial. Maksudnya, tidak  memperdulikan 
sekelilingnya. Kita bisa melihat sendiri, di  tengah-tengah kekhusukan ibadat, 
seorang anak tiba-tiba melepaskan  jengkelnya dengan menangis kuat-kuat tatkala 
merasakan haus dan butuh  ASI ibunya. Ia memang belum mampu menyesuaikan diri 
dengan  lingkungannya. Oleh karena itu, seorang anak dikatakan sebagai “a  
disturber of the accepted order”, yang maksudnya, pengganggu tatanan  yang 
mapan.
  
  
    Mengapa hal itu terjadi? Sebab, dibandingkan dengan orang dewasa,  seorang 
anak jauh lebih aktif. Orang bisa menyaksikan tatkala dalam  penerbangan jarak 
jauh: London-Jakarta, beberapa orang anak lari-lari  dalam kabin pesawat. 
Orang-orang ngeri melihatnya bahkan jengkel dengan  orangtua mereka mengapa 
membiarkannya saja. Akan tetapi, William  Wordsworth menulis: “The Child is 
Father of The Man”, yang terjemahan  bebasnya: Anak adalah Guru setelah kita 
dewasa. Apanya yang akan  diajarkan kepada kita yang hebat-hebat ini? Kejujuran 
dan kemurniannya.  Pada pasca gempa, ketakjujuran bermunculan sangat jelas. 
Sementara itu,  dengan dalih menyelamatkan anak dari trauma, orang-orang 
politik dan  kaum moralis, mengajari anak mengikuti mau mereka. Dengan cara 
seperti  ini, benarkah mereka menyelamatkan dan mengobati anak dari trauma.  
Ataukah mereka menciptakan tekanan batin baru bagi anak-anak yang  sangat 
menderita. Mungkin, yang paling tepat apabila proses penyembuhan  itu
 ditempuh dengan lebih sederhana dengan cara membiarkan anak-anak  bermain-main 
dan bergembira. Dari sana, anak akan bangkit kedirian dan  kemandiriannya dan 
kelak akan melesat sendiri ke masa depannya.
  
  
     Anak, kata Gibran, adalah Putra Sang Masa Depan. ****
  
  (Penulis, Guru Besar FIB-UGM)-n.    
  
  
  

http://asia.groups.yahoo.com/group/bintangpelajar/
“Tiada hari tanpa belajar, tiada prestasi tanpa dikejar”
                
---------------------------------
 All new Yahoo! Mail "The new Interface is stunning in its simplicity and ease 
of use." - PC Magazine

[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/WktRrD/lOaOAA/yQLSAA/asSolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

*****

HELP ME !

1. Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan karyawan Anda menurun ? di 
ServoPower aja !

Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO, 
merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta 
Bisnis, Edisi  41 / III / Agustus 2005. 

2. Anda ingin rekrut SDM yang Kompeten dan Bersemangat tinggi ? di 
ServoRecruitment aja ! 

3. Anda mencari Partner Kerja, Pembicara / Narasumber, Personal Coach,  
Motivator tentang Manajemen Diri, Pemrograman Prestasi, ServoPower, 
ServoTherapy, HypnoTherapy ? di ServoCenter aja ! 

4. Anda pengen menghilangkan Hambatan Sukses seperti Insomnia ? Trauma ? Phobia 
? Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? Depresi ? 
Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ? di ServoTherapy 
aja !

Testimonies pernah dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 
52. Klik aja >>>http://servocenter.blog.com/ServoTestimonies/<<<

5. Anda pengen belajar Hipnotis ? atau menjadi seorang ServoTherapist ? atau 
menjadi pemilik Klinik Servo ? di ServoCenter aja ! 

6. Anda pengen memberi hadiah kepada Karyawan Anda, Staf Anda ataupun orang 
yang Anda sayangi ? di ServoPrint aja !

Print-out artikel ini atau teruskan keberadaan milis ini !

*****

SERVO CENTER
Pusat Pelatihan Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi
Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya
Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148.
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257

Anda pengen Solusi, di SERVO CENTER aja !
Klik aja >>>http://servocenter.blog.com/<<<

*****

HELP YOU !

1. Anda ingin berbagi pengalaman tentang keberhasilan Anda mengatasi masalah ? 
Klik aja >>>http://servocenter.blog.com/817488/#cmts<<<

2. Anda ingin Testimonial / Kesaksian tentang ServoPower/ServoTherapy ? Klik 
aja >>>http://servocenter.blog.com/760208/#cmts<<< 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke