17 Agustus: Masih adakah nasionalisme?
Oleh: Pieter da Santo *

Sampai ketemu lagi

" ..... Muting, Digul, .... Banda ...., dan kawan kita Tjipto Mangunkusumo
berangkat, membawa keluarganya, diiringi oleh isterinya yang berani dan
berbesar hati, meninggalkan kita, yang buat beberapa tahun lamanya berdiri
didamping-sisinya, dengan persamaan azas, persamaan tujuan dan persamaan
tindak.

Buat ke-tiga kalinya maka Tjipto masuk kedalam hidup pembuangan, menjalankan
hukuman yang dijatuhkan padanya oleh hak-hak luar biasa daripada kaum yang
memerintah. Buat ke-tiga kalinya ia mempersembahkan pengorbanannya terhadap
pada Tanah Air dan Bangsa yang ia abdikan, dengan kepala yang tegak dan hati
yang besar... " (Ir. Sukarno, Di bawah Revolusi, 1963 - hal.41).

Tjipto telah mengorbankan segala-galanya. Ditinggalkan semuanya termasuk
usaha tabib/praktek dokter yang ditekuninya. Dari tempat yang begitu jauh,
di tanah pembuangan, di ufuk timur tanah air Indonesianya dia menulis surat
kepada kawan-kawannya di Jawa : " kita tak boleh melupakan ikhtiar walau
bagaimanapun kecilnya, untuk membikin indahnya hari kemudian menjadi
seindah-indahnya. Kita akan menunjukkan kepada anak-cucu dan keturunan kita
bahwa hidup kita ialah bukan hidup yang sia-sia, bahwa hidup kita ialah
hidup yang berjuang ".

Dalam zaman penjajahan lebih dari dua-ribu orang yang dibuang di Tanah
Merah, di tengah-tengah hutan belantara Boven Digul di selatan Papua/Irian.
Di sana banyak yang meregang nyawa dimakan malaria dan penyakit lainnya,
kelaparan dan kedinginan dan lain sebagainya. Itulah secuil cerita yang
diangkat dari sekian banyak cerita tentang perjuangan para pahlawan bangsa
yang semuanya kini telah tiada.

Apakah pengorbanan pahlawan kita Dr. Tjipto Mangunkusumo dan kawan-kawannya
maupun angkatan sesudah itu, akan sia-sia ?Redup sinarnya mentari Indonesia

Setelah bergerak sendiri-sendiri, tercerai-berai, di sana dan di sini, dalam
perjuangan melawan penjajahan di daerahnya masing-masing, maka bagi
Indonesia fajar persatuan itu mulai merekah bercahaya pada awal abad
duapuluh. Berdirinya Budi Utomo, Mei 1908 merupakan hari lahirnya
nasionalisme Indonesia, saat kaum terpelajar bumi-putera mulai menyadari
akan pentingnya kesadaran bersama, bersatupadu untuk melepaskan diri dari
penjajahan. Perasaan senasib, sepenanggungan dan sependeritaan yang meluas
di mana-mana ketika itu telah menyatukan kepentingan kedaerahan dan kesukuan
menjadi kepentingan nasional yang harus sama-sama diperjuangkan dan
nasionalisme adalah rohnya!

Waktu berjalan terus, roh dan semangat nasionalisme itu terus menyala-nyala
ibarat dian yang tak kunjung padam. Bubarlah Yong Java, Yong Sumatera, Yong
Celebes (Sulawesi), Yong Ambon dll. untuk akhirnya semua merapat dalam satu
tekad yang sama melalui Sumpah Pemuda, Oktober 1928; satu bangsa, satu
tanah-air, satu bahasa, INDONESIA.

Di timur matahari mulai bercahaya, fajar sudah menyingsing, pagi pun
datanglah. Puncak perjuangan nasionalisme Indonesia itu terwujudlah dalam
arti yang sebenarnya. Pada hari itu, Jumat, 17 Agustus 1945, pkl. 10.00 di
Pegangsaan Timur 56 Jakarta lahirlah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Proklamasi kemerdekaan itu dikumandangkan ke segala penjuru, biar dunia tahu
bahwa Indonesia sudah merdeka. Kami sekarang adalah "tuan dan pemilik "
tanah air ini. Kami terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari
Sangir-Taulud sampai Rote ; satu bangsa, satu tanah-air, satu bahasa,
INDONESIA !

Peristiwa dan kejadian-kejadian sesudah itu bergerak naik-turun, mengikuti
pasang surutnya alun dan gelombang peristiwa sejarah. Dalam perjalanannya,
negara yang masih muda itu hampir saja terkubur akibat politik devide et
impera-nya Belanda. Muncul Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, Negara
Jawa Barat, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatera Timur, dan
lain sebagainya. Tetapi satu hal adalah pasti, matahari nasionalisme tidak
pernah tenggelam. Tanggal 17 Agustus 1950 negara-negara bagian itu lebur
menyatu dan tegaklah kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945.

Cobaan-cobaan lain yang tak kalah beratnya datang pula silih berganti
melanda negara yang masih sangat muda ini. Semuanya bermaksud ingin
menenggelamkan Republik Indonesia. Tetapi jiwa nasionalisme tidak pernah
pudar. Satu daerah diganggu, semua merasakan sakitnya. Harga kemerdekaan
mulai dibayar. Patah tumbuh hilang berganti, esa hilang dua terbilang.
Masyarakat Aceh misalnya, rela menjual harta-bendanya demi sebuah pesawat
terbang yang harus disumbangkan membantu perjuangan yang sedang berkobar
dengan gegap-gempitanya di tanah Jawa.

Batu sandungan itu belum seluruhnya tersingkir. Daerah-daerah mulai
bergolak. Jawa Barat dengan Karto Suwiryo-nya; MMC (Merapi-Merbabu Complex)
dengan batalion 426-nya - Madiun dengan Muso-nya, Sulawesi Selatan dengan
Kahar Muzakar-nya - Kalimantan Selatan dengan Ibnu Hajar-nya, Aceh dengan
Daud Beureuweh-nya - Maluku Selatan dengan Soumokil dan Manusama-nya;
disusul pula dengan Permesta/PRRI, juga Pemberontakan Komunis 1965. Dan
terhadap semuanya ini seluruh potensi bangsa bergerak, bahu-membahu,
bergandengan tangan, membabat dan membasminya. Tidak pernah dihitung berapa
mahalnya harga yang harus dibayar. Jiwa dan semangat nasionalisme Indonesia
adalah segala-galanya.

Tidak juga ada pertanyaan, kau Jawa ataukah Sumatera ; Kalimantan atau
Sulawesi, kau Ambon ataukah Batak, Madura atau Timor, Palembang atau
Makasar, Padang ataukah Manado. Tidak juga ditanya, apa kau Islam atau
Kristen; Hindu-Budha atau kafir. Jiwa dan semangat nasionalisme Indonesia
muncul dari batu tempaan yang sama, suatu kawah candra-dimuka, kawah api dan
belerang, asap dan mesiu, ratap-tangis dan air-mata. Nasionalisme semacam
mantera sakti yang menyulut selaksa jiwa. Untuk itulah setiap 17 Agustus
kita menunduk dan merenung, lantas mendongak dan bangkit, menatap "arti
kemerdekaan" yang telah diberikan kepada kita oleh Sang Khalik, yang
hari-hari ini kita hadirkan kembali.Kemudian dari pada itu

Alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mulai dengan kata-kata itu
: "... Kemudian dari pada itu...."! Kata-kata bertuah itu membangkitkan
pertanyaan buat kita angkatan ini : apakah semangat dan jiwa kebangsaan
serta nasionalisme Indonesia itu masih dimaknai juga sebagai pengalaman masa
lalu? Pancasila sudah mulai berat untuk diucapkan, tampak-nya mulai
dilupakan secara perlahan-lahan. Nilai-nilai universal seperti
libe-ralisasi, demokrasi, HAM dan lain-lain jauh lebih penting dan perlu
diperha-tikan ketimbang nilai-nilai budaya lokal dan nasional. Memang "Musim
Telah Berganti", begitu kata Rosihan Anwar tentang judul bukunya itu.

Masih bisa diterima kalau seorang anak SMA lupa di benua mana terletak
Pantai Gading atau Madagaskar atau Helsinki atau Honduras atau Vanuatu atau
Trinidad-Tobago, tetapi tidak bisa dimaafkan kalau dia tidak tahu di mana
letak Pakanbaru, Tomohon, Putusibau, Berastagi, Tual atau Saumlaki. Lebih
celaka lagi kalau anak sekolah di Kupang tidak tahu Ibu kota Kabupaten
Lembata atau Mbay dan Ebulobo serta Egon itu ada dimana! Pengalaman penulis
sendiri yang pernah ditanyakan, siapakah itu Cak Doko, Herewilla dan P da
Cunha sehingga ada nama-nama jalan itu di Kupang!

Arus globalisasi, revolusi informasi dan perkembangan teknologi yang begitu
pesat datang melanda membuat sejarah adalah masa lalu yang tak layak lagi
untuk dipikir, apalagi didiskusikan. Itu hanyalah mimpi dan ilusinya orang
tua-tua.

Tampaknya kata-kata bersayapnya Mr. Moh. Yamin yang begitu menggugah dan
memukau pada waktu penulis duduk di bangku SMA tahun 60-an sudah tidak punya
makna lagi. Penggalan tulisan dalam bukunya Proklamasi dan Konstitusi begitu
berarti : "... kelihatanlah di-anak benua kepulauan austronesia, perjuangan
bambu runcing melawan kapal terbang, meriam dan tommy-gun, pertempuran anak
rakyat yang baru belajar menembak dengan serdadu yang baru memenangkan
perang dunia," sudah tidak ada artinya buat kami sekarang. Mana mungkin
bambu runcing bisa menang sama peluru? Itu tidak masuk akal! Nasionalisme,
bagi sebagian besar generasi sekarang sudah tidak menganggapnya penting
lagi.

Menjadi sempurnalah semuanya itu ketika kita berada dalam "alam reformasi"
sekarang ini, yang lebih banyak membenarkan diri sendiri, menuntut dan
menuntut, daripada memberi. Otonomi daerah menjadi "kartu as"-nya. Terserah
lu disana mau jadi apa, tidak ada urusan dengan kami di sini. Lu mau banjir
ke, mau gempa ke, mau tsunami ke, mau lumpur panas ke, itu urusan lu! Siapa
suruh lu tebang dan bakar hutan? Siapa suruh lu bor gas-alam dekat kota?

Semuanya menjadi sangat kompleks, dan hasilnya tanpa disadari atas semua
erosi itu, secara perlahan-lahan telah menelan dan mengikis sedikit demi
sedikit paham dan nilai-nilai nasionalisme yang pernah kita miliki.
Akibatnya, kita sepertinya kehilangan jati diri karena ketidakpedulian kita
terhadap persoalan-persoalan nasional kita. Ada berapa puluh truk dari
propinsi tetangga yang ngebut ke Aceh atau Yogya atau Bantul atau
Pangandaraan atau Sidoarjo membantu sesama yang menderita dilanda bencana?
Ada berapa banyak kapal dari propinsi seberang lautan yang berlayar dengan
"kecepatan penuh, voelkracht" membawa bahan-bahan yang diperlukan buat
sesama di daerah-daerah bencana? Refleks pertama bahkan yang tiba paling
awal di daerah bencana adalah dari luar. Bahkan gempa Yogya sendiri, Jakarta
masih mempersoalkan apakah ini kita namakan saja sebagai bencana nasional
ataukah bencana daerah, bencana lokal! Massya'Allah.

Nasionalisme nampaknya hanya sambil lalu saja. Nasionalisme tampaknya hanya
dalam tataran slogan, simbol dan reklame belaka. Ia penuh retorika.
Penyampaian keprihatinan dan turut berduka-cita kepada yang tertimpa
bencana, yang datangnya hampir dari setiap propinsi, memenuhi halaman koran
seantero republik dan cuma itu, dan titik.

Memang, kondisi seperti ini bila dibiarkan akan melenyapkan untuk
selama-lamanya solidaritas sosial suatu bangsa yang sangat dibutuhkan di
saat-saat kritis. Di NTT saja kalau kabupaten ini atau itu berteriak tentang
mau mati saja karena kelaparan, penyakit dan lain-lain, maka itu adalah
urusan Jakarta dan Kupang. Kami juga ada persoalan sendiri koq, kami juga
masih babak-belur, uang yang kami minta dari Jakarta belum datang-datang
juga, persoalan kami banyak dan oleh karena itu urus diri masing-masing
sajalah. Kita lebih banyak berpikir profitable. Memang, nasionalisme jilid 2
tampaknya sulit akan terbit lagi.

Atau apakah nasionalisme yang kita maksud dan kenangkan pada setiap tanggal
17 Agustus itu cukup dengan demonstrasi panjat pinang, lari karung atau
menembak balon, mengecat tembok dan trotoar, buat pigura ini, pigura itu dan
selesai? Masih adakah getar-getar heroik yang bisa kita tangkap lagi dalam
semangat kebangsaan yang harusnya tidak boleh luntur? Syukur kalau hal itu
dapat meluruskan kembali tekad yang telah menyimpang dari niat suci
berbangsa dan bernegara, sesuai dengan cita-cita para pendiri negara ini.

Terlepas dari kebenaran tuduhan ini tugas kita adalah membuktikan bahwa kita
masih suatu bangsa yang memiliki harga diri, solidaritas dan lain
sebagainya. Semangat nasionalismenya belum luntur benar dan itu harus
ditunjukkan, dipraktekan. Mampukah kita?

"...........

................."

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaan-mu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang

untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata
.......................................................

(Penggalan sajak : Antara Kerawang - Bekasi, Chairil Anwar).

Kita sekaranglah yang harus menjawab. Hai kamu yang telah mendahului kami,
kamu yang kini tinggal tulang-tulang berserakan, yakin hakku'lyakinlah bahwa
tiada pengorbanan yang sia-sia, tiada pengorbanan yang tidak berfaedah,
tiada pengorbanan yang terbuang, no sacrifices is wasted.

Kami juga akan terus-menerus mengulangi lagi kata-kata Danton, itu pemimpin
Revolusi Perancis, yang berkata kepada dirinya sendiri waktu ia dengan
gontai, melangkah menuju ketianggantungan : "Audace, Danton. Toujours de
l'audace" - beranikan dirimu, Danton. Jangan kau takut!

* Penulis, staf pengajar Undana, Kupang

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 





*****

HELP ME !

Institusi / Corporate : 

1. Anda mencari Motivator di acara Family Gathering, Inhouse Training 
perusahaan Anda ? 

Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO, 
merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta 
Bisnis, Edisi  41 / III / Agustus 2005. 

2. Anda ingin rekrut SDM yang Kompeten dan Bersemangat tinggi ?


Media / Event Organizer :

1. Anda mencari Narasumber/Pembicara tentang Motivasi, Manajemen Diri dan 
Prestasi, ServoPower, ServoTherapy, HypnoTherapy ?

2. Program Barter : Anda memerlukan Voucher Pemrograman / Terapi untuk 
dibagikan ke Komunitas Anda ? 


Personal :

1. Anda mencari Personal Coach untuk Karir / Profesi Anda ? 

2. Anda pengen menghilangkan Hambatan Sukses seperti Insomnia ? Trauma ? Phobia 
? Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? Depresi ? 
Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ?

Testimonies pernah dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 
52. Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/servo-testimonies/<<<

*****

SERVO CENTER
Pusat Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi
Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya
Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148.
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257
>>>http://servocenter.wordpress.com/<<<

Talkshow Interaktif tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi :

1. Radio MSTRI  104,2 FM, Setiap Kamis Sore, Jam 16.00 - 17.00
2. Radio PESONA 103,8 FM, Setiap Rabu Malam, Jam 19.00 - 20.00
   Setiap Minggu Pertama, Awal Bulan 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke