cerpen          
           
      
      Kartu                     Pos
                    Ikun                     Eska
                
              
                                                        
  Burung-burung                   putih dalam kartu pos bergambar : Karang-Wang 
2000
                  ===============================================
                  Di sini, kini aku tinggal!
                  -lili-
    
    
  
              
            
                                                                      Tulisnya. 
 Tak ada kalimat lain. Hanya langit biru, serumpun hutan, sebangun  kastil, dan 
atap-atap pabrik di latar belakang, sejalan lurus  menyilang hilang pada garis 
pandang berhias ribuan burung putih  se-landscape lukisan Widayat:  Seribu 
Kuntul.
  
                  
                  
              
            
                               Di pojok bawah,                   pada sudut 
sebelah kanan, terbubuh nama: Karang-Wang 2000 dalam                   huruf 
letter glotic, pada sebalik kabar yang ditulisnya.
    
  
              
            
                                                                               
              
                                                                        Lalu  
pintu kastil itu terbuka. Lonceng berdenyar delapan pagi. Hutan  menguning 
matahari. Dengan blazer  tosca perempuan itu  tersenyum padaku.
  
                  
                  
              
            
                                                                       "Kau     
                belum bangun, bukan? Kau memang pemalas, tak pernah punya pagi."
                             "Tapi                     aku mencintaimu, Lili."
    
  
                
              
            
                                    Ia                   terus berjalan 
menyusuri setapak yang akan mengantarnya pada jalan                   
menyilang. Detaknya pada kerikil mengagetkan burung yang                   
segera menolehnya.
  
                  
                  
              
            
                                                              "Selamat          
         pagi, karyawati," sapa burung-burung putih itu.
  
                          "Ini  pagi yang cerah untuk berkerja bukan? Kami pun 
akan segera terbang ke  hutan itu memanen buah-buahan. Tuhan mencintai mereka 
yang  suka bekerja."
  
                  
                  
              
            
                                           Ia sampai                   di 
pinggiran jalan menyilang. Deru suara bus menjelas telinga.                   
Ia melambai. Bus menyembul dari garis arah  jalan yang hilang.Pintunya          
         terbuka dalam kontrol tombol sopirnya. Ia sempat sekilas berpaling     
              padaku.
    
  
              
            
                                            
                  "Keindahan adalah kehidupan                   yang 
sesungguhnya. Bukan sebuah panggung sandiwara, sepotong puisi                   
atau sekisah cerita sastra!"
    
  
              
            
                                            
                                                Ia  melompat dalam bus yang 
menunggunya. Bus itu pun kemudian melaju  disusul bus-bus yang lainnya dengan 
setanda nama-nama pabrik di  tubuhnya.
  
                  
                  
              
            
                                                                                
       "Tapi  aku mencintaimu, Lili."
  
                  
                  
              
            
                                                            Bus                 
  itu berpacu. Mengecil. Asapnya menghapus jejak gambarnya. Tinggal             
      langit biru, serumpun hutan, sebangun kastil, dan atap-                   
atap pabrik di latar belakang, sejalan lurus menyilang hilang                   
pada garis pandang berhias ribuan burung putih  se-landscape                   
lukisan Widayat: Seribu Kuntul.
    
   
              
            
                                            
                               Di  pojok bawah, pada sudut sebelah kanan, 
terbubuh nama: Karang-Wang 2000  dalam huruf letter glotic. Aku                 
  terpana.
    
  
              
            
                                                                               
              
                                                         Diluar malam           
        menggugurkan daun-daun menyiapkan ranjang mati. Hari akan melengkapkan  
                 tahun sebelum akhirnya pergi.1
  
                  
                  
              
            
                                                                                
         Mungkin  benar: Hidup untuk memburu hidup. Dunia bukan tempat 
mengobrol tapi  tempat mempertahankan diri untuk  tidak                     
jadi kere 2 - -aku teringat                     perempuan penjual sate di sudut 
kota Tenggarong dalam cerita                     Mira Sato.
    
  
                
              
            
                                                                                
                 Dan                     kau pun tengah memburu hidup, Lili. 
Melewati sejumlah kota,                     dan kini kau tiba di Karang-Wang. 
  
                    
                     Adakah                     selalu kau kirimkan selembar 
kartu pos sebuah kota                     di mana kamu berada bagi sebuah masa 
lalumu?
    
  
                
              
            
                                                                                
     Entah  kenapa, Lili, dengan kecut hati harus kubilang : kenangan ternyata  
hanya perkara yang lucu3.                     Mungkin  aku  mulai  setuju 
--sebagaimana,                     N Joaquin-- bahwa tak ada yang lebih penting 
daripada hidup                     itu sendiri. Daripada kehidupan itu sendiri.
    
  
                  
              
            
                                                        Tidak,                  
 tidak juga seni. Tidak juga kesusasteraan. Bahkan tidak juga bahasa.           
        Mungkin aku mulai gentar: Bayangku akan hilang sebelum salju3.
    
  
              
            
                                                                                
         "Tapi  aku mencintaimu, Lili."
    
  
                
              
            
                                 Kartu                   pos tak berubah 
gambar, hanya langit biru, serumpun hutan, sebangun                   kastil, 
dan atap-atap pabrik di latar belakang,  sejalan lurus                   
menyilang hilang di garis pandang, berhias ribuan burung putih                  
 se-landscape lukisan Widayat: Seribu Kuntul.
  
                  
                  
              
            
                                                                   Aku          
           melihatnya dalam sebuah pertunjukkan sandiwara amatir. Ia muncul     
                dalam gaun hitam yang duka: untuk sebuah upacara pernikahan     
                Perak.4 Ia                     menunggu sambil menghitung 
detak-detik jam. Lalu lelaki itu                     muncul dalam lelah yang 
larut. Mereka berpandangan sejenak.
    
  
                
              
            
                                             
            
                                                              Selebihnya        
           adalah capai yang kesal. Dan pertengkaran itu tak bisa kueja 
semuanya.                   Ia lebih memukau dalam caranya  mempermainkan 
jari-jemari,                   mengerjapkan mata, mangangkat bahu.
    
  
              
            
                                                               
                                 Di                     belakang panggung kami 
kemudian bercakap. Beberapa hari kemudian                     aku menelpon. 
Seterusnya aku sering mengajaknya ngobrol. Tapi                     kami tak 
pernah sepakat.
    
  
                
              
            
                                                                                
                         Dan  begitulah hari berlalu.
    
  
              
            
                                                  
                    Dan begitulah kartu pos itu                     tiba di 
apartemenku: berhuruf letter glotic, bertera sebuah                     kota 
dan sore berkilat di dalamnya. Deru bus itu kembali                     
menyeru. Muncul dari garis menyilang di kaki atap-atap pabrik.                  
   Berhenti pada setapak dan ia turun. Wajahnya lelah dalam                     
nafas yang lega.
    
  
                  
              
            
            "Berfikirlah.               Dan terus berfikir! Untuk memberi arti 
pada pilihan yang sejenak ini!"               ia berpaling dengan selempar 
senyum yang sinis mengingatkanku pada               Descartes.
  
              
              
                                                                               
Langkahnya                     terjaga oleh kepak yang menyentak dari ribuan 
burung putih yang                     tiba-tiba terangkat dari rumpun hutan di 
latar                     belakang. Ia menunggu. Sampai burung-burung itu 
mendarati rumputan,                     mendarati pagar kastilnya, mematuki 
rumpun bunga-bunga.
    
  
                
              
            
                               "Selamat                   sore pekerja wanita," 
sapa burung-burung itu. 
                  "Setelah lelah adalah istirah, sebab hidup masih panjang."
    
  
              
            
                                                  
                    Dan wanita itu tersenyum.                     Memasuki 
kastilnya. Menutup pintu.
    
  
                  
              
            
                                                                                
                                                                                
       Kemudian  senja.
    
  
              
            
                                                                    
                           Lampu  mewarna tirai jendela. Mewarna tirai pintu. 
Mewarna rumpun bunga-bunga.  Sebelum malam membekapkan dinginnya pada kartu pos 
yang  mengigil di tanganku:
    
  
                
              
            
                                                                               
Di                     sini, kini aku tinggal!
                                                          -lili-
    
  
                
              
            
                                                            Hanya               
      langit biru. Serumpun hutan. Sebangun kastil. Atap-atap pabrik.           
          Jalan lurus menyilang.  Ribuan                     burung putih.  
                                      
                    
                    Dan  di  pojok bawah, pada sudut sebelah kanan, terbubuh 
nama:  Karang-Wang 2000 dalam huruf letter glotic.
  
    
  ***
                    
              
            
                                                               
                    Kartu pos bergambar: Wanita                     telanjang, 
dari Natali
                    ==================================
                    Tak usah menerka di mana kini aku tiba! Aku tak yakin, 
fantasimu                     sanggup membangun gambaran nyata tempat kini aku 
berada. Bahkan,                     kartu pos ini, yang gambarnya aku ambil 
dengan kamera Leica                     belumlah mewakili semesta di mana aku 
menikmatinya bersama cahaya                     matahari yang meleleh seperti 
lilin.
    
  
                
              
            
                                                               Di sini siang    
                 lebih panjang daripada malam. Dan kau tak akan mendapati senja 
                    keemasan sebagaimana cerita Mira Sato: Senja dan Sajak 
Cinta.5
    
                       
                  Di sini senja                     adalah langit yang memutih 
putih. Yang berangsur kelabu. Dan                     sebelum gelap 
memerangkap, lampu akan menyelamatkan pemandangan                     matamu 
dari kebutaan sekitar.
    
   
                  Lampu-lampu                     yang beraneka warna. Yang 
berserak dari sudut ke sudut. Yang                     entah bagaimana 
mengaturnya, mempesonakan dalam menciptakan                     batas gelap dan 
terang. Dan kau akan mendapatkan malam yang                     berwarna ungu, 
berwarna biru, berwarna hijau, berwarna apa saja                     yang 
membercak pada lanskap hitam warna malam dari lampu-lampu                     
yang dipasang.
    
   
                  Dan dari jendela                     yang terbuka, dari 
pintu-pintu yang terbuka, kau akan mendapatkan                     musik yang 
lirih-lirih suaranya. Kau bisa mendengar Mark Knoffler                     pada 
sebuah jendela. Kau bisa mendengar Mozart pada sebuah pintu.                    
 Dan kau pasti terkejut bila mendapatkan Evi Tamala.
    
   
                  Ia ada pula                     di sini. Ini adalah kota di 
mana orang memiliki dirinya sendiri.                     Dan karena tidak ingin 
terganggu, maka orang pun tidak mengganggu.
    
  
                  Perempuan                     itu pun tidak terganggu. Pun 
tidak menganggu.
    
   
                  Aku duduk di                     bangku sebuah taman, di 
pinggir trotoar. Malam hangat. Ia seperti                     muncul dari 
ketiadaan. Langkahnya jenjang seperti angsa. (Ah,                     sudahlah 
tak perlu kuceritakan ini. Dari long-shot gambar yang                     kini 
kau punya, kau pasti lebih bisa mengimajinasikannya.)
    
   
                  Ia sesaat                     menyibakkan rambutnya sebelum 
shutter kutekan. Ia tampak kaget                     dan berpaling padaku. Aku 
mengangguk. Ia tersenyum. Ia menghampiri.                     Kami kemudian 
ngobrol.
    
  
                  Seterusnya,                     kau bisa menerkanya. Aku 
diajak menginap di apartemen yang dia                     sewa. Dan dari 
jendela di lantai 35 aku memandang lukisan cahaya                     yang 
lebih abstrak dari yang pernah aku jumpa.
    
   
                  Betapa indahnya.                     Betapa mempesonanya.
                    Ya, ini adalah sebuah                     kota yang indah. 
Sebuah kota yang mempesona. Ketika Tuhan memilih                     artinya 
sendiri.
    
  
                  Salam.
                    Natali.
                    PS: Katakan pada Noulita, ia tak perlu cemburu! Aku tetap 
mencintainya                     sebagai kenangan.6
  
    
                        *** 
                  
              
            
                                                            
  Kartu                     pos bergambar: Kereta Kaca di dasar laut dan 
tulisan cakar ayam                     spidol merah; Fuck You!
                    
===============================================================

  Aku tak tahu siapa yang mengirim kartu pos ini. Di sebalik gambar             
        hanya ada nama dan alamatku. Tak ada tulisan lain. Dan di atas gambar   
                  aslinya, ada tulisan cakar ayam dengan spidol merah yang 
tergesa:                     Fuck You!
  
                    
                
              
                                                                    Gambar itu 
bagus sekali.                       Sayang, ia menjadi cacat oleh geram dari 
tulisan. Dari ruang                       tajam yang tercipta, detil yang 
muncul, pastilah foto ini                       dibuat oleh tangan dan alat 
yang profesional.
      
   
                  
                
              
                                                      Tapi siapa yang telah     
                  mengirimnya?
      
   
                  
                
              
                                                      Kalau kartu pos ini 
dikirim                       oleh perusahaan jasa rekreasi yang menerbitkan, 
pastilah tulisan                       cakar ayam itu tak ada. Atau paling 
tidak, pastilah ada informasi                       yang membujuk tentang 
rekreasi bawah laut dengan kereta itu.
      
  
                  
                
              
                                                       Ya, kartu pos ini 
diterbitkan                       oleh perusahaan jasa rekreasi. Dan dengan 
huruf-huruf kecilnya                       dijelaskan bahwa kartu ini tidak 
dijual dan hanya dibagikan                       kepada peserta rekreasi kereta 
itu. Ataukah ada seseorang                       kawan yang pernah mengikutinya 
dan ingin menyombongkannya                       kepadaku? Tapi kenapa mesti 
ada tulisan; fuck you, di situ?
      
  
                  
                
              
                                                      Ah, entahlah. Apa mau     
                  si pengirim kartu. Dan                       sambil menonton 
berita siang di televisi, aku masih menimang-nimang                       kartu 
pos itu: Sebuah foto kereta bawah laut dengan seluruh                       
kaca sebagai gerbongnya. Di kanan kiri kereta --dan relnya                      
 yang memanjang--, terumbu karang, ikan-ikan kecil, ikan-ikan                   
    besar, bahkan Paus juga, menjadi ornamennya. Dan dengan huruf-huruf         
              kecil warna emas, yang begitu sesuai dengan latar hijau --mungkin 
                      kelabu-- dijanjikan ganti rugi kecelakan sebesar 
kelipatan                       satu milyar dari ongkos rekreasi yang dua 
milyar dalam satuan                       dolar.
      
  
                  
                
              
                                  Adakah orang                     yang 
bersedia membuang uang untuk sebuah rekreasi yang sedemikian                    
 besar? Mungkin ada. Setidaknya, pastilah tak ada penawaran apabila             
        memang tak ada permintaan. Begitulah hukum ekonomi tradisional.
  
                    
                
              
                                                       
                      Dan lagi, mungkin itu justru membuat semacam penanda dari 
                      wujud sebuah kekayaan oligarkis. Sebuah kenyataan yang 
hanya                       bisa dimiliki oleh segelintir orang karena harganya 
yang tak                       terjangkau. Seperi harga sebuah pulau atau 
sebuah lukisan,                       meski keindahan sebenarnya bisa saja 
muncul pada keramik dari                       Kasongan yang barangkali besok 
pecah.
      
  
                    
                
              
                                                                    Dan agaknya 
orang tak                       perlu takut dengan kecelakaan kereta bawah laut 
itu. Jaminan                       ganti rugi dari wujud kecelakaan yang 
sekecil-kecilnya, agaknya                       sangat melegakan. Satu milyar 
dolar dari dua milyar dolar.                       Aku tak tahu bagaimana 
menyebutnya. Yang jelas hanyalah, betapa                       mahalnya luka 
atau nyawa dari orang-orang kaya.
      
  
                  
                
              
                                                                    Luka. 
Nyawa. Orang kaya.                       Apa bedanya --sebetulnya-- dari luka, 
nyawa, orang lain? Entahlah.
      
  
                  
                
              
                                                                    Aku 
terhenyak dari lamunanku                       tentang rekreasi bawah laut itu 
ketika televisi menyiarkan                       berita tabrakan kereta api. 
Ini sudah untuk kesekian kalinya                       tabrakan kereta api 
terjadi sepanjang tahun ini. Beberapa                       bulan lalu, 
disebabkan rambu yang tidak bekerja. Bulan yang                       lalunya 
lagi jadwal yang tak terkonfirmasi.
      
   
                  
                
              
                                  Lalu kekeliruan                     menggeser 
jalur. Pernah pula dijelaskan sebagai sabotase politik.                     
Tapi tak pernah semua itu dijelaskan secara terang. Selalu pejabat-pejabat      
               itu menghindar dengan penjelasan yang klise; "Masih dalam        
             penyelidikkan!"
  
                    
                
              
                                                                     
                      Dan orang tak pernah tahu,                       kapan 
penyelidikan itu selesai. Orang malah lebih dulu tahu                       
bahwa telah ada tabrakan kereta api lagi. Presenter itu juga                    
   tak menjelaskan sebab-sebab kecelakaan. Ia hanya menginformasikan            
           sejumlah korban belum teridentifikasikan. 
  
                            
                      Dan ia menambahkan, bahwa demi menjaga keselamatan umum, 
kantor                       berita tempat ia bekerja telah melakukan kampanye 
dengan menyebarkan                       ribuan kartu pos bergambar kereta api 
dan anjuran untuk berhati-hati.
      
      
                      
                
              
                                                 Tanganku                     
bergetar. Kartu pos di tanganku melayang. Jatuh.
      
  
                
              
                                                
                    "Fuck you!" gumamku. Entah untuk siapa.
                    
      
  ***
      
   
                
              
                                                                        1.      
               Kwartrin Musim Gugur (I); sajak Goenawan Mohamad dalam kumpulan  
                   Asmaradana.
                    2. Selingan Perjalanan; cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam 
kumpulan                     Manusia Kamar
                    3. Sajak tanpa judul Goenawan Mohamad dalam kumpulan 
Asmaradana
                    4. Lakon panggung karya John Bowen.
                    5. Cerita ke 1 dari cerpen Suatu Malam Aku Jatuh Cinta dari 
                    Seno Gumira Ajidarma. (MATRA, Januari 1990)
                    6. Potongan dialog Tokoh Murni dalam lakon Mahkamah karya 
Asrul                     Sani.
    
  
                
              
            
                                                                                
                           ceritanet©listonp

http://asia.groups.yahoo.com/group/bintangpelajar/  
  “Tiada hari tanpa belajar, tiada prestasi tanpa dikejar”
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



*****

1. Anda ingin meningkatkan Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan 
Karyawan Anda ? 

Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO, 
merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta 
Bisnis, Edisi  41 / III / Agustus 2005. 

2. Anda mencari Narasumber / Pembicara tentang Motivasi, Manajemen Diri dan 
Prestasi, ServoPower, ServoTherapy, HypnoTherapy ?

3. Anda mencari Penasihat Karir, Pelatih Pribadi (Personal Coach) ? 

4. Anda ingin menghilangkan Hambatan Sukses Anda seperti Insomnia ? Trauma ? 
Phobia ? Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? 
Depresi ? Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ?

Testimonies di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52.
Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/servo-testimonies/<<<

*****

Hubungi Sdr. Iwan S. di :
(021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257

SERVO CENTER
Pusat Pemrograman Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi
Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya
Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148.
>>>http://servocenter.wordpress.com/<<<

*****

1. Talkshow Interaktif tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi :

   a. Radio MSTRI  104,2 FM, Setiap Kamis Sore, Jam 16.00 - 17.00
   b. Radio PESONA 103,8 FM, Setiap Rabu Malam, Jam 19.00 - 20.00
      Setiap Minggu Pertama, Awal Bulan

2. Anda ingin mengkonsultasikan masalah Pribadi Anda ?
   Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/140/<<< 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke