Membicarakan tentang IBU? Kita harus bijaksana dan sangat hati-hati, sebab 
surga ada di telapak kakinya.
  
  Oh Ibu ....
  Engkau adalah insan yang termulia di muka bumi ini
  Jasamu tiada terkira, terlebih hanya memberi dan tak pernah meminta
  Dekapan kasih sayang dan tutur katamu nan lembut adalah penyejuk hatiku
  
  Terlampir sebuah cerpen di bawah.
  
  LA.
  
                                                      Menu Makan Malam          
                                                                                
                           Cerpen Kadek Sonia Piscayanti
  
  
  Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi
  Ibu  bersumpah untuk membangun keluarganya di atas meja makan. Ia terobsesi  
mewujudkan keluarga yang bahagia melalui media makan bersama. Maka, ia  
menghabiskan hidupnya di dapur, memasak beribu-ribu bahkan berjuta-juta  menu 
makanan hanya untuk menghidangkan menu masakan yang berbeda-beda  setiap 
harinya. Ia memiliki jutaan daftar menu makan malam di lemari  dapurnya. Daftar 
itu tersusun rapi di dalam sebuah buku folio usang  setebal dua kali lipat 
kamus besar Bahasa Indonesia, berurut dari menu  masakan berawal dengan huruf A 
hingga Z. Ia menyusun sendiri kamus itu  sejak usia perkawinannya satu hari 
hingga kini menginjak usia 25 tahun.  Di sebelah kamus resep masakan itu, 
bertumpuk-tumpuk pula resep masakan  dari daerah Jawa, Madura, Padang, bahkan 
masakan China. Belum lagi  kliping resep masakan dari tabloid-tabloid wanita 
yang setebal kamus  Oxford Advanced Learner.
  
  
  Isi kepala Ibu memang berbeda dengan  ibu lain. Dalam kepalanya seolah hanya 
ada tiga kata, menu makan malam.  Setiap detik, setiap helaan napasnya, 
pikirannya adalah menu-menu  masakan untuk makan malam saja. Makan malam itulah 
ritual resmi yang  secara tersirat dibikinnya dan dibuatnya tetap lestari 
hingga saat ini.  Meskipun, ketiga anaknya telah beranjak dewasa, ia tak pernah 
surut  mempersiapkan makan malam sedemikian rupa sama seperti ketika ia  
melakukannya pertama, sejak usia pernikahannya masih satu hari.
  
  
  Keluarga  ini tumbuh bersama di meja makan. Mereka telah akrab dengan 
kebiasaan  bercerita di meja makan sambil menikmati menu-menu masakan Ibu. 
Mereka  berbicara tentang apa saja di meja makan. Mereka duduk bersama dan  
saling mendengarkan cerita masing-masing. Tak peduli apakah  
peristiwa-peristiwa itu nyambung atau tidak, penting bagi yang lain  atau 
tidak, pokoknya bercerita. Yang lain boleh menanggapi, memberi  komentar atau 
menyuruh diam kalau tak menarik. Muka-muka kusut,  tertekan, banyak masalah, 
stres, depresi, marah, kecewa, terpukul,  putus asa, cemas, dan sebagainya, 
bisa ditangkap dari suasana di atas  meja makan. Sebaliknya muka-muka ceria, 
riang, berseri, berbunga-bunga,  jatuh cinta, juga bisa diprediksi dari ritual 
makan bersama ini. Ibu  yang paling tahu semuanya.
  
  
  Ia memang punya kepentingan terhadap  keajegan tradisi makan bersama ini. 
Satu kepentingan saja dalam  hidupnya, memastikan semua anggota keluarganya 
dalam keadaan yang ia  harapkan. Bagi Ibu, sehari saja ritual ini dilewatkan, 
ia akan  kehilangan momen untuk mengetahui masalah keluarganya. Tak ada yang  
bisa disembunyikan dari momen kebersamaan ini. Dan kehilangan momen itu  ia 
rasakan seperti kegagalan hidup yang menakutkan. Ia tak mau itu  terjadi dan ia 
berusaha keras untuk membuat itu tak terjadi.
  
  
  Ia  tak berani membayangkan kehilangan momen itu. Sungguh pun tahu, ia  pasti 
menghadapinya suatu saat nanti, ia merasa takkan pernah  benar-benar siap untuk 
itu. Yang agak melegakan, semua anggota  keluarganya telah terbiasa dengan 
tradisi itu dan mereka seolah  menyadari bahwa Ibu mereka memerlukan sebuah 
suasana untuk  menjadikannya "ada". Semua orang tahu dan memakluminya. Maka 
semua  orang berusaha membuatnya merasa "ada" dengan mengikuti ritual itu.  
Namun, kadang beberapa dari mereka menganggap tradisi ini membosankan.
  
  ***
  
  Jam  empat pagi. Ibu telah memasak di dapur. Ia menyiapkan sarapan dengan  
sangat serius. Ibu tak pernah menganggap memasak adalah kegiatan remeh.  Ia tak 
pernah percaya bahwa seorang istri yang tak pernah memasak untuk  keluarganya 
adalah seorang Ibu yang baik. Jika ada yang meremehkan  pekerjaan memasak, Ibu 
akan menangkisnya dengan satu argumen: masakan  yang diberkahi Tuhan adalah 
masakan yang lahir dari tangan seorang Ibu  yang menghadirkan cinta dan kasih 
sayangnya pada setiap zat rasa  masakan yang dibikinnya. Ibu meyakini bahwa 
makanan adalah bahasa cinta  seorang Ibu kepada keluarganya, seperti jembatan 
yang menghubungkan  batin antarmanusia. Sampai di sini, anak-anaknya akan 
berhenti  mendengar penjelasan yang sudah mereka hapal di luar kepala. Ibu 
takkan  berhenti bicara kalau kedamaiannya diusik. Dan yang bisa  
menghentikannya hanya dirinya sendiri.
  
  
  Sarapan tiba. Ibu  menyiapkan sarapan di dapur. Ia menyiapkan menu sesuai 
dengan yang  tertera di daftar menu di lemari makanan. Telur dadar, sayur hijau 
dan  sambal kecap. Ada lima orang di keluarganya. Semua orang memiliki  selera 
berbeda-beda. Suaminya suka telur yang tak matang benar, agak  asin, tanpa 
cabe. Aries suka telur yang benar-benar tergoreng kering,  dan harus pedas. 
Pisca, suka makanan serba manis. Telur dadarnya harus  setengah matang dengan 
kecap manis dan sedikit vitsin. Sedangkan  Canestra, tak suka pada kuning 
telur. Sebelum didadar, kuning telur  harus dipisahkan dulu dari putihnya. Jika 
tidak dibuatkan yang sesuai  dengan pesanannya, ia bisa mogok makan. 
Berhari-hari.
  
  
  Bagaimana  dengan Ibu? Ibu bahkan tak pernah macam-macam. Telur dadarnya 
adalah  yang standar, tidak ada perlakuan khusus. Ia boleh makan apa saja, yang 
 penting makan, jadilah.
  
  
  Pukul 07.05. Telur dadar setengah matang  asin, telur dadar pedas, telur 
manis dengan vitsin, dan telur tanpa  kuning, berikut sayur hijau dan sambal 
kecap telah terhidang. Semua  telah menghadapi hidangan masing-masing sesuai 
pesanan. Makan pagi  biasanya tak ada yang terlalu banyak bicara. Semua sibuk 
dengan rencana  masing-masing di kepalanya. Kelihatannya, tak ada yang ingin 
berbagi.  Aries kini sudah bekerja di sebuah kantor pemerintah, menjadi tenaga  
honor daerah. Ia harus tiba di kantor setidaknya pada tujuh dua lima,  karena 
ada apel setiap tujuh tigapuluh. Pisca harus ke kampus. Ia duduk  di semester 
tujuh kini. Tampaknya sedang tak bisa diganggu oleh siapa  pun. Wajahnya 
menunjukkan demikian. Mungkin akan bertemu dengan dosen  pembimbing atau entah 
apa, tapi mukanya keruh. Mungkin banyak  persoalan, tapi Ibu cuma bisa 
memandang saja. Sedang Canestra masih di  SMA. Ia tampak paling santai. 
Tangannya memegang komik. Komik Jepang.  Makan sambil membaca adalah
 kebiasaannya. Sang Bapak, duduk diam sambil  mengunyah makanan tanpa bersuara 
dan tanpa menoleh pada yang lain. Pria  yang berhenti bekerja beberapa tahun 
lalu itu tampak lambat  menyelesaikan makannya. Ia menikmati masakan itu, atau 
tidak peduli?  Tak ada yang tahu.
  
  
  Satu per satu mereka meninggalkan ruang  makan. Hanya piring-piring kotor 
yang tersisa di meja makan. Ibu  membawanya ke dapur, mencuci piring-piring itu 
sampai bersih dan  mengelap meja makan. Ritual berikutnya adalah menyerahkan 
anggaran  belanja ke pasar hari itu kepada suaminya. Saat-saat inilah yang 
paling  ia benci seumur hidupnya. Ia benci menerima uang dari suaminya yang  
selalu tampak tak rela dan tak percaya.
  
  
  Akhirnya, memang  bahan-bahan menu itu dipangkas seenak udelnya, ia tak mau 
tahu apa pun.  Ujung-ujungnya ia cuma memberi sepuluh ribu saja untuk semua 
itu. Tentu  saja kurang dari anggaran yang seharusnya, dua puluh ribu. Untuk 
itu  semua, maka otomatis menu berubah; tak ada ayam bumbu rujak, tak ada  
capcay, yang ada tinggal perkedel jagung dan tempe. Sayur hijau,  katanya, 
bolehlah. Yang penting sayur, dan murah. Ah…
  
  
  Ibu  berjalan ke pasar dengan gontai. Hari itu Jumat. Hari pendek. Anak-anak  
akan pulang lebih cepat dari biasa. Ia mempercepat langkahnya. Tak  mudah 
membagi waktu, kadang pekerjaan teramat banyaknya sampai-sampai  tak ada waktu 
untuk melakukan hal lain selain urusan dapur. Kadang ia  berpikir ada sesuatu 
yang memang penting untuk dilakukan tapi itu akan  mengabaikan urusan dapur dan 
itu berarti pula mengabaikan selera  anak-anaknya. Itu tidak mungkin. Tak ada 
yang mengerti selera  anak-anaknya kecuali dia.
  
  
  Tapi kadang ia bosan berurusan dengan  menu-menu. Ia telah mencoba semua menu 
yang ada di buku-buku masakan,  ia telah mencoba semua resep masakan di teve, 
dan ia kehabisan ide  suatu ketika. Ia mencatat menu-menu yang sudah pernah 
dibikinnya.  Serba-serbi sambal: sambal goreng krecek, sambal goreng hati, 
sambal  godog, sambal kentang, sambal bawang, sambal kecicang, sambal serai,  
dll. Aneka ca, semacam: ca sawi, ca kangkung, ca bayam, ca tauge, ca  bunga 
kol, dll. Semua jenis perkedel dan gorengan kering: perkedel  ketimun, perkedel 
kentang, perkedel jagung, pastel kentang, kroket  kentang, dan seterusnya. 
Sampai makanan golongan menengah dilihat dari  mahalnya bahan pokok semacam: 
babi kecap, gulai kare ayam, gulai udang,  sate bumbu rujak, opor ayam, sup 
kaki ayam dengan jamur tiongkok,  dendeng sapi, kepiting goreng. Juga 
serba-serbi makanan China semacam:  shiobak, koloke, fuyung hai, ang sio hie, 
hao mie, tao mie, dan  seterusnya. Daftar ini masih akan bertambah
 panjang kalau disebutkan  serba-serbi pepes, serba-serbi urap, atau 
serba-serbi ikan.
  
  
  Semua  menu sudah dicobanya habis tak bersisa, tapi sepertinya masih saja ada 
 sesuatu yang kurang. Ia pun lebih kerap berkreasi, satu menu masakan  
kadang-kadang dipadu dengan menu masakan lain, misalnya pepes tempe,  gulai 
pakis, sate tahu, dan sebagainya. Tapi masih saja menu-menu itu  terasa tak 
cukup untuk membuat variasi menu yang berbeda setiap  harinya. Karena itulah 
yang akan membuat keluarganya betah dan  merindukan makan malam.
  
  
  Ia pernah merasa ingin berhenti saja  memikirkan menu-menu itu, tapi suaminya 
akan berkata, "Kau telah  memilih menjadi perempuan biasa-biasa saja, tidak 
bekerja dan melayani  keluarga. Bahkan kau bersumpah akan membangun keluarga di 
atas meja  makan, kenapa tidak kau pikirkan sebelumnya?"
  
  
  Ibu merenungkan  kata-kata suaminya. Ada yang salah terhadap 
penilaian-penilaian. Ada  yang tak adil di dalamnya. Hampir selalu, yang 
menjadi korban adalah  mereka yang dinilai, mereka yang tertuduh, mereka yang 
melakukan  sesuatu tapi dinilai salah dan dianggap biasa-biasa saja. Tapi apa  
sesungguhnya yang terjadi dengan biasa dan tak biasa? Apa yang  menentukan yang 
biasa dan yang tak biasa? Menjadi Ibu adalah sangat  luar luar luar biasa. 
Apakah seorang ibu rumah tangga yang mencurahkan  seluruh hidupnya untuk 
keluarga lebih biasa daripada seorang ibu yang  tak pernah sekalipun berpikir 
tentang keluarganya, meski ia punya tujuh  perusahaan dan kaya raya? Lagipula, 
itu cuma perasaan, bukan  angka-angka dalam matematika, namanya juga perasaan. 
Tercium bau  hangus. Ibu tersentak dari lamunannya. Tempenya gosong.
  
  
  Ia  menyudahi goreng-menggoreng tempe itu. Lalu dengan bergegas ia  menyambar 
sekeranjang cucian kotor, mulai mencuci. Anaknya datang satu  per satu. Ibu 
belum selesai mencuci. Ia agak tergesa karena harus  menyiapkan makan siang 
untuk anak-anaknya. Setelah menyiapkan makan  siang, ia kembali bekerja, 
menyelesaikan cucian.
  
  
  Makan siang Ibu  adalah jam 3 sore. Setelah itu, ia tidur dua jam. Sehabis 
jam 5 sore,  sehabis tidur siangnya, ia harus menyiapkan makan malam. Sehabis 
makan  malam, jangan kira ia selesai. Ada Bapak yang setiap hari minta  
dipijit, tapi setiap hari mengeluh pijitan Ibu tak pernah mengalami  kemajuan. 
Ah…
  
  
  Dia melakukannya selama sisa hidupnya. Ia berkutat  dengan semua itu selama 
puluhan tahun, tak pernah ada yang memujinya,  dan ia pun tak ingin dipuji, 
tapi itukah yang disebut perempuan biasa?
  
  
  Suatu ketika, sebuah peristiwa datang mengusik keluarga itu.
  Hari  itu Selasa, ketika sebuah perubahan memperkenalkan dirinya kepada  
keluarga itu. Aries menolak makan bersama. Ia tentu punya alasan di  balik aksi 
mogoknya. Tapi tak ada yang tahu apa alasan Aries.
  
  
  Ibu  kecewa. Menu makan malamnya tak dicicipi selama tiga hari  
berturut-turut. Ini adalah beban mental bagi seorang Ibu. Ia bukanlah  orang 
yang suka memaksa, tapi selalu membaca dari tanda-tanda dan suka  juga 
menebak-nebak. Sialnya, Aries tak pernah memiliki cukup waktu  untuk 
menjelaskan semua itu. Ia tampak begitu sibuk. Kadang ia bahkan  terlihat 
menyibukkan diri, menghindar dari Ibu. Ia menomorduakan ritual  makan malam 
mereka. Ibu menangis, ia merasa segala usahanya untuk  membangun tradisi makan 
malam ini sia-sia saja. Salahkah jika ia  berusaha membikin sesuatu yang kelak 
retak menjadi abadi? Mungkin  memang salah, tapi dulu tak seorang pun cukup 
berani menunjukkan di  mana letak salahnya, tak seorang pun tega mengecewakan 
Ibu. Tapi Aries,  kini telah membuatnya kecewa secara nyata.
  
  
  Suasana menjadi semakin keruh ketika di hari kelima, keenam dan ketujuh, 
Aries juga absen makan malam.
  Ibu  bertindak. Ia masuk ke kamar si sulung, lalu, mungkin, bicara di sana.  
Pisca dan Canestra duduk di depan tivi, tidak mendengar apa-apa.
  
  
  Satu jam kemudian, Ibu keluar dengan wajah murung, tapi dibikin agar 
kelihatan berseri. Ia tampak aneh.
  "Aku  tahu selama ini kita tak pernah jujur dengan makan malam itu.  
Satu-satunya yang jujur hanya dia. Kita semua sudah bosan, ya kan? Ibu  juga. 
Dan mulai saat ini, tidak ada lagi kebohongan apa pun. Tinggalkan  saja jika 
kalian memang tak setuju. Ibu juga sudah lelah memikirkan  menu-menu makan 
malam untuk kalian. Ibu ingin merasa tidak perlu  menyiapkannya untuk kalian. 
Ibu akan mencoba. Selamat bersenang-senang!"
  
  
  Ibu  terlihat enteng menyelesaikan persoalannya. Bapak menyusul Ibu ke  
kamar. Mudah-mudahan mereka bercinta. Ah ya mereka sepertinya tak  pernah 
bercinta lagi sejak beberapa tahun ini. Padahal itu perlu,  terutama bagi Ibu 
yang lelah luar biasa. Fisik dan jiwa.
  
  
  Pisca  menyelinap masuk ke kamar Aries, meninggalkan Canestra yang masih 
asyik  nonton tivi. Ia sungguh ingin tahu, apa yang dibicarakan Ibu dan Aries,  
sehingga Ibu keluar dengan wajah aneh, murung tapi dipaksakan berseri.  Pisca 
bertanya, "Ada apa?" Aries tak menjawab, namun tiba-tiba menangis  dan 
menenggelamkan wajahnya di bawah bantal. Dengan sesenggukan, ia  berkata, 
"Untuk apa lagi mempertahankan sebuah kepalsuan di depan Ibu?  Salah satu dari 
kita semua telah mengkhianati Ibu, untuk apa lagi semua  ini dipertahankan?"
  
  
  Pisca menangkap ucapan kakaknya dengan  jelas, namun ia tak mengerti, dan tak 
ingin mengerti, karena semua itu  terlalu menyedihkan baginya. Apalagi yang 
lebih menyedihkan ketika tahu  seseorang telah berkhianat kepada Ibu? Siapa pun 
dia, Pisca tak ingin  tahu. Ia tak ingin mendendam, apalagi terhadap 
keluarganya sendiri.  Tapi, bukankah Ibu selalu tahu apa yang terjadi? Semua 
pertanyaan  bertumpuk-tumpuk di kepalanya.
  
  
  Sesuatu yang kelak retak, yang  Ibu pernah berusaha membikinnya abadi, kini 
sudah benar-benar retak  berkeping-keping dan tak mungkin disatukan lagi. Sejak 
saat itu, makan  malam bersama tidak rutin lagi bagi mereka. Hanya Ibu yang 
masih betah  di sana. Sesekali Pisca atau Canestra mendampinginya. Mungkin tiba 
saat  ketika ia benar-benar rindu makan malam bersama.
  
  
  Sialnya, Bapak  benar-benar tak memahami persoalan dengan baik. Ia sok bijak 
dan  pandai. Kata-katanya sungguh tak tepat untuk menggambarkan seluruh  
keadaan ini.
  
  
  "Benar kan, Ibumu memang perempuan biasa-biasa saja. Ia bahkan menganggap hal 
remeh ini sebagai kiamat dalam hidupnya!"
  Pisca meradang. Ia merasa Bapak yang sombong itu harus dihentikan.
  
  
  "Apa  yang biasa? Apa yang tak biasa? Bapak juga laki-laki biasa, yang tak  
bisa seperti Ibu. Bapak jauh lebih biasa dari Ibu. Ibu, setidaknya  berusaha 
membikin tradisi agar kita tahu arti kebersamaan sekalipun di  atas meja makan. 
Tapi lihatlah Bapak yang hanya suka mengejek tapi tak  pernah melakukan apa 
pun, bahkan tak pernah berusaha melakukan apa pun!"
  
  
  Bapak  diam. Dia kelihatan tersinggung. Tapi Pisca suka dan puas membuatnya  
tersinggung. Pisca memutuskan untuk menemui Ibu. Ibu menyambutnya  dengan 
senyum. Ia tahu Pisca akan berbicara soal Bapak, soal biasa dan  tak biasa. Ibu 
mencegahnya bicara lebih dulu, "Begini. Bapak benar soal  Ibu yang biasa-biasa 
saja. Ini sudah seharusnya. Ibu menerima semua  itu, bukan karena Ibu pasrah 
tapi Ibu mengerti betul kalian semua dan  juga persoalan ini. Ibu memang 
perempuan biasa, tak ingin menjadi yang  tak biasa. Ibu mencintai Bapak, kalian 
semua. Ibu tak bisa memberi  uang, maka Ibu cuma memberi kemampuan Ibu memasak, 
itu pun jika kalian  mau menikmatinya."
  
  
  "Tapi Bu, ini penghinaan. Masalah makan malam  itu bukan masalah sekadar, 
bukan masalah remeh temeh. Sebesar itu usaha  Ibu membangun tradisi kebersamaan 
di keluarga kita, tapi Bapak bahkan  menganggapnya tak ada. Kita belajar satu 
sama lain di meja makan itu,  kita memutuskan hidup kita di atas meja makan 
itu, dan ingat, ketika  Bapak berhenti bekerja di kantor karena penyelewengan 
dana yang sangat  memalukan itu, yang menolong Bapak adalah kita, juga di atas 
meja makan  itu."
  
  
  "Bapak kini sedang merasa kesepian, ia kehilangan  saat-saat terbaiknya, itu 
hal tersulit yang pernah ditemuinya. Kita  harus memahami itu."
  
  
  Dari beranda, Bapak mendengar semua  percakapan itu. Ia berpikir bahwa 
istrinya memang baik, pengertian dan  sabar, tapi sungguh ia sangat biasa, dan 
yang terpenting, tak  menggairahkan. ***
  Singaraja, 8 November 2005
  
  

arie du <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                              
    
sekedar renungan ... mohon maaf bila sudah pernah membaca ..
   
  -adu-
   
  Titip Ibuku ya Allah 

"Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja..." 
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat.  
 
Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang Karyawan disebuah Perusahaan 
Tambang., tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah. 
"Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa." 
pintaku  pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Punketika 
Ibu  mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang  dan 
kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil  keringatku. 
Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. 

Kenapa  Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang  
fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel  yang 
kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan  cenderung untuk 
bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku  ingin membahagiakan malah 
membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak  akan pernah mengatakan apa-apa 

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Bu, maafin aku kalau telah 
menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ?" 

Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana.  Terbata-bata Ibu 
berkata, "Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi  membutuhkan Ibu. Kalian sudah 
dewasa, sudah bisa menghidupi diri  sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan 
sarapan untuk kalian, Ibu  tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa 
kalian lakukan  sendiri" 

Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani 
putra-putrinya  adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari  
sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua  menjadi sedih 
karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri  melihat arti kebahagiaan 
dari sudut pandang masing-masing. 

Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam 
usiaku sekarang ? 
Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada 
Ibu.   
Ibu menjawab 
"Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian 
tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. 
Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat   Ibu. 
Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu. 

Setelah  dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu  
kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan  kebahagiaan 
di situlah kebahagiaan orang tua." 

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap 
"Ampunkan  aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang 
kuberikan  kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu." 
Betapa  sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita  
karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk  "cuti" dari 
pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu.  Tapi tidak! Ibuku 
seorang yang idealis, 
 
 
Menata  keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang  
ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu  bangun 
dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur  menyiapkan 
sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi... 

Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah 
membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ? 

"Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. " 
Kali  ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat  
mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya  lekat-lekat dan 
kuucapkan "terimakasih Ibu, aku beruntung sekali  memiliki Ibu yang baik hati, 
ijinkan aku membahagiakan Ibu...". 

Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku  ini milikmu, Ibu... Aku 
masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang  belum bisa menjabarkan arti 
kebahagiaan buat Dirimu.. 
Sahabat..  tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "aku  
sayang padamu... ", namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk  menyampaikan 
rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai  karena Allah. Ayo 
kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai  kita ... Ibu dan ayah 
walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah  tiada. 

Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia. 

Wallaahua'lam 

"Ya Allah,cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu..." 
dan  jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul  
khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana  ia 
menyayangi aku selagi aku kecil" 

"Titip Ibuku ya Allah"
     

---------------------------------
Get your email and see which of your friends are online - Right on the  new 
Yahoo.com  
      
                                    


http://asia.groups.yahoo.com/group/bintangpelajar/  
  “Tiada hari tanpa belajar, tiada prestasi tanpa dikejar”
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



*****

1. Anda ingin meningkatkan Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan 
Karyawan Anda ? 

Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO, 
merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta 
Bisnis, Edisi  41 / III / Agustus 2005. 

2. Anda mencari Narasumber / Pembicara tentang Motivasi, Manajemen Diri dan 
Prestasi, ServoPower, ServoTherapy, HypnoTherapy ?

3. Anda mencari Penasihat Karir, Pelatih Pribadi (Personal Coach) ? 

4. Anda ingin menghilangkan Hambatan Sukses Anda seperti Insomnia ? Trauma ? 
Phobia ? Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? 
Depresi ? Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ?

Testimonies di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52.
Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/servo-testimonies/<<<

*****

Hubungi Sdr. Iwan S. di :
(021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257

SERVO CENTER
Pusat Pemrograman Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi
Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya
Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148.
>>>http://servocenter.wordpress.com/<<<

*****

1. Talkshow Interaktif tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi :

   a. Radio MSTRI  104,2 FM, Setiap Kamis Sore, Jam 16.00 - 17.00
   b. Radio PESONA 103,8 FM, Setiap Rabu Malam, Jam 19.00 - 20.00
      Setiap Minggu Pertama, Awal Bulan

2. Anda ingin mengkonsultasikan masalah Pribadi Anda ?
   Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/140/<<< 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke