Di Kaki Langit Cinta
Oleh : Sri Wulandari

Bandara Schiphol. Langit masih basah ketika aku mendarat di sana. Inilah
gerbang utama memasuki negara Belanda. Sebuah negera kecil yang 350 tahun
lampau menguasai negeriku, Indonesia.

Bertahun-tahun yang lewat, aku pernah menyimpan mimpi, kelak akan menginjak
kaki di negeri ini, menghirup udaranya, menikmati aroma kehidupannya,
bersanding dengan seseorang pria tinggi kurus, berkulit putih, berambut
pirang, dan bermata coklat. Bertahun-tahun aku menyimpan harapan padanya.
Aku memupuk mimpi melahirkan anak-anaknya dan membesarkannya di negeri ini,
negeri nenek moyangnya. Tapi mimpi itu tinggal sekelebat, runtuh dalam
hitungan waktu yang tak jelas. Aku kehilangan mimpi. Terkubur di dasar
sanubariku, tanpa hendak kuinginkan lagi.

Lelaki itu bernama Ronald, dia berasal dari Vlaardingen. Aku mengenalnya
dari sebuah ruang percakapan di dunia maya, delapan tahun yang silam. Dia
menyapaku terlebih dahulu. Bertanya siapa  diriku dan asal usulku. Meski
dunia maya menawarkan kebohongan dan kepalsuan, aku jujur kepadanya,
mengungkapkan jati diriku kepadanya. Dan, kurasa dia pun demikian.

"Kamu benar dari Indonesia?" dia bertanya lagi separuh tak percaya. Kujawab
benar bahwa aku berasal dari Indonesia, sebuah negeri kepulauan yang luas,
yang kaya pemandangan  alam, yang kaya akan hasil bumi, sehingga nenek
moyangnya tertarik untuk menguasai negeriku. "Bagaimana keadaan di sana
sekarang?" tulisnya.

Aku tahu arah pertanyaannya, saat itu baru saja terjadi perubahan suhu
politik di negeriku. Keadaan begitu panas dan sangat mencekam. Mei 1998,
kejayaan Orde Baru tumbang dalam sekejap. Puluhan ribu mahasiswa didukung
para pegiat politik dan masyarakat bergabung menduduki gedung DPR/MPR.
Sebelumnya rentetan unjukrasa mahasiswa selalu terjadi, kerap kali diakhiri
ricuh dengan aparat keamanan.

Puncaknya, saat Universitas Trisakti melakukan unjukrasa, kericuhan dengan
aparat tak terhindari. Entah, sniper siapa yang bertindak, empat mahasiswa
tewas tertembus peluru. Aku berada di sana, menjadi saksi atas peristiwa
akbar itu.

Detik demi detik begitu mencekam. Kematian empat mahasiswa itu menjadi
tumbal perlawanan rakyat yang tak terelakkan. Rusuh massal tak terhindarkan,
amuk massa terjadi di mana-mana, bahkan diwarnai perjarahan dan pembakaran.
Kepulan asap hitam mewarnai langit Jakarta. Serombongan orang berlari
menjunjung barang-barang, entah milik siapa. Hari itu, nilai-nilai
kemanusiaan tak lagi memiliki arti. Harkat dan martabat manusia melorot
hingga titik nadir. Di gedung DPR/MPR, tokoh yang dulu mencalonkan Soeharto
sebagai presiden justru mengeluarkan pernyataan meminta Soeharto mundur,
karena terbukti rakyat tak menghendakinya lagi. Sementara penjabat lainnya,
terpaksa mengijinkan mahasiswa memasuki gedung DPR/MPR. Sejak itu mereka
menduduki gedung DPR/MPR dan menyatakan  bersedia mundur apabila tuntutan
mereka dipenuhi.

Peristiwa itu kurekam dengan baik, kusajikan dalam laporan utama di tabloid,
tempatku bekerja. Peristiwa itu telah menyedot energiku, nyaris sepanjang
malam aku tak tidur. Detik demi detik, menunggu perubahan. Klimaksnya,
Soeharto menyatakan mundur sebagai presiden dan BJ Habibie menggantikan
dirinya. Aku juga mengalami klimaks, disergap keletihan yang luar biasa. Aku
pun memutuskan untuk cuti selama satu minggu, berdiam diri di rumah dan
menutup diri terhadap beragam arus informasi. Kuhibur diri dengan
mengunjungi komunitas chat room di dunia maya. Hingga aku bertemu dengan
Ronald.

Ronald banyak bertanya tentang situasi dan kondisi politik di negeriku serta
dampaknya terhadap rakyat. Dia juga bertanya apa betul ada kasus pemerkosaan
massal yang menimpa etnis minoritas. Aku tidak tahu, begitu kujawab. Itu
karena memang aku tidak tahu. Aku tidak pernah bertemu dengan salah satu
korban pemerkosaan itu. Yang kutahu, adanya korban pemerkosaan diungkapkan
oleh LSM, crisis center, dan para pegiat politik. Sebagai reporter, aku
kesulitan menemukan jati diri sang korban pemerkosaan. Kalaupun ada
testimoni di Komnas HAM atau di kantor sebuah LSM, itu bukan keluar dari
mulut korban secara langsung, melainkan saksi kedua, saksi ketiga, dan
orang-orang yang mengaku mendengar cerita tentang saudaranya yang diperkosa.

Lanjutannya :
http://tamancinta.blogspot.com/2006/11/di-kaki-langit-cinta.html

Salam dan Tetap Semangat!

~ Yogha
http://AffiliateProgram.Co.Nr - FREE Affiliate Porgrams Directory

Kirim email ke