Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng.. Kalau
sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah... (That simple ?! )

Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, 
menikah adalah persatuan dua manusia.. pria dan wanita. Dari anatomi 
saja sudah tidak sebangun.. apalagi urusan jiwa dan hatinya.

Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya 
akan
lancar.. Lalu apa?! MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk 
memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah 
yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya. 

Kedengarannya seeh indah, tapi kenyataannya ?!
Harus ada 'Komunikasi dua arah..', 'Ada kerelaan mendengar kritik..', 
'Ada keikhlasan meminta maaf..', 'Ada ketulusan melupakan kesalahan..' , 
dan 'Keberanian untuk mengemukakan pendapat..'. 

Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, 
bukan
rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil 
undangan yang memacetkan jalan.

MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal 
pesiar yang gemerlap memanggil-manggil. .

MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu 
ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan 
hanyalah
bunga.

Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa.. 
bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah 
perencanaan 
berbulan- bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, 
apalagi
kegemaran minum kopi yang sama...

MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda. 
Tanpa 
mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami oranglain... ?! 
Tanpa
bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan 
pasangan
hidup... ?!

MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam 
samudra, serta jiwa besar untuk 'Menerima' dan 'Memaafkan'.

Kesalahan terbesar kita dalam memilih pasangan adalah kita lebih 
mementingkan dengan siapa kita menikah bukan seperti apa orang yang akan kita 
nikahi. Kita lebih melihat dari "xxx" orang tersebut bukan kualitas 
dari seseorang.........

Kepada para teman-teman yang telah membacanya mohon dimaafkan apabila ada 
kalimat yang tidak mengena dihati kalian semua...

wassalam...


Robby Nuzly, S.Si.,Apt
Direktorat Pengawasan Produksi
Produk Terapetik dan PKRT
Badan Pengawas Obat dan Mananan
JL. Percetakan Negara No. 23 Jakarta
E-mail:[EMAIL PROTECTED]



 
---------------------------------
Any questions?  Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke