áÓáÇã Úáíßã æ ÑÍãÉ Çááå æ ÈÑßÇÊå

FYI,

Mari Kita Tempatkan Masalah Katering Haji Pada Proporsi yang sebenarnya
Jangan sampai menjadi Wacana yang Negatif yang cendrung Fitnah dan menjadi
konsumsi POLITIK

Wasalam,
Zlk

Wawancara Nur Samad Kamba
Jangan Berantem Sendiri, Mereka Yang Salah

[image: Lokasi Katering AnA for Development East Menurut Nur Samad Kamba
(GATRA/Nordin Hidayat)] Kalau ditanya, siapa yang paling mengetahui detil
kasus katering haji di Arafah, Dr. Nur Samad Kamba orangnya. Konsul Haji di
Jeddah yang ditunjuk sejak November 2005 itu, juga menjabat Ketua Panitia
Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi. Pria kelahiran Pinrang,
Sulawesi Selatan, 48 tahun lalu inilah yang menandatangani kontrak dengan
Pangeran Abdul Aziz bin Nawaf bin Abdul Aziz, Direktur Utama AnA for
Development East.

Doktor filsafat dari Universitas Al-Azhar Mesir ini biasanya akrab dengan
media. Tapi sejak tragedi Arafah meledak, dia menghilang bagai ditelan bumi.
Duta Besar pun sampai mengeluh, kok Nur Samad menghilang. Kamis menjelang
tengah malam, pekan lalu, Nur Samad bersedia menerima Asrori S. Karni dan
Nordin Hidayat dari *Gatra*. Berikut petikan perbincangan di ruang kerjanya,
di Distrik Andalus, Jeddah, yang berlangsung lebih dua jam:

*Bagaimana logikanya, katering 189 ribu jamaah yang tadinya diurus 75 Maktab
dialihkan hanya ke satu perusahaan AnA?*
Cara kerja AnA Development dan Muasasah Asia tenggara sebenarnya sama saja.
Toh Muasasah juga mendelegasikan katering ke 75 maktab. Maktab lalu
mensubkontrakkan ke dapur-dapur dan merekrut para tukang masak yang banyak
di Makkah. Bukan AnA menggantikan 75 maktab, tapi menggantikan fungsi
Muasasah. Kami kontraknya kan dengan Muasasah, bukan maktab. AnA ini
rencananya juga menyerahkan ke maktab-maktab. Dia punya tukang masak yang
akan masak di 75 dapur maktab di Mina. Satu dapur langsung kirim ke Arafah.
Begitu dijelaskan dalam presentasinya. Entahlah kenapa semua nggak jalan.

*Bagaimana Anda yakin, AnA akan bisa bekerja sama dengan maktab. Bukankah
maktab ini kelompok bisnis pesaing AnA? Apa ini tak diantisipasi sebelumnya?
*
Dapur di maktab itu fasilitas pemerintah, bukan milik Muasasah. Dapur itu
fasilitas milik Departemen Keuangan. Muasasah itu menyewa di sana dan bayar
listrik. Jadi saya percaya, tempat itu bisa dipakai. Apalagi ada perintah
dari Kementerian Haji agar Muasasah mempermudah akses bagi AnA.

*Tersumbatnya pasokan makanan ke Arafah itu karena kemampuan produksi yang
rendah atau hambatan distribusi?*
Kamis jam 12.00 siang (sehari sebelum wukuf), saya cek ke dapur 75 maktab di
Mina. Ada kegiatan memasak. Dapur ngebul. Hanya 5 maktab yang saat itu belum
aktif. Jam 15.00 sore, saya lapor Amirul Haj, insya Allah makanan normal.
Jam 17.00 saya keliling lagi di Mina, masakan sudah matang. Kami perkirakan
jam 19.00 sudah masuk Arafah. Kami tunggu di Arafah, ternyata tak
sampai-sampai, saya balik ke Mina lagi. Mereka bilang, piring alumuniumnya
dihambat masuk oleh polisi. Piring baru masuk dapur jam 23.00. Ini berakibat
domino bagi keterlambatan semua. (Makanan pertama sampai Arafah pada jam
03.00 dini hari, hanya ke 4 Maktab, *Red*).

Jadi akses masuk dihambat. Kalau teorinya jalan, mekanismenya seperti ini,
begitu jamaah datang, langsung dibagi satu kotak berisi cangkir, 10 sachet
teh, kopi, dan gula, untuk bekal 5 hari. Air panas di dapur Arafah yang
ditaruh oleh AnA. Lalu nasi disupali dari Mina. Apa yang terjadi? Dia nggak
dikasih akses masuk ke Arafah untuk buat dapur. Pengakuan mereka, ada
fasilitas AnA yang dirusak, seperti pipa air, dan lain-lain.

*Kok ada yang berani menghambat perusahaan milik pangeran?*
Di sini, kalau bagian atas oke, bawahnya *nggak* oke, susah. Amir sendiri
setelah dilapori mengadu ke Mendagri. Dia disuruh menghubungi Komandan
Pengamanan Haji. Di sana dibilang, itu urusan Kementerian Haji. Sampai sana,
dibilang, ini urusan Muasasah. Amir aja dipingpong. Jam 22.00 malam baru
kelar. Amir sampai bilang, perusahaan saya saja dipingpong, bagaimana rakyat
biasa. Makanya dia nggak diam, dia akan balas. Lihat aja minggu depan. Saya
*nggak* tahu bentuknya. Itu urusan dalam negeri orang. Bagi saya yang
penting, duit kita harus kembali. Karena ini duit jamaah. AnA sudah memberi
kesanggupan mengembalikannya.

*Jadi, Anda melihat keruwetan ini juga dipengaruhi faktor internal Saudi?*
Justru kekeruhan itu ada di pihak pemerintahan sini. Itu sebabnya, kalau mau
copot Nursamad Kamba, itu gampang. Saya sebagai PNS *ndak* masalah. Tapi
bangsa ini jangan berantem ke dalam. Keluar dong! *Wong* mereka yang salah
kok kita yang berantem sendiri. Misinya harus dipikirkan. Jangan hanya
berwacana mundur-mundur.

Dia (Menteri Haji Saudi) setuju, lalu kita tanda tangani kontrak. Kalau kita
sudah tanda tangan, kita terikat komitmen sesuai kontrak yang ada. Lalu
tiba-tiba dia bilang, itu ilegal. *Gimana* dong? Lalu kita disuruh kembali
ke Muasasah. Jadi, saya itu ditarik ke AnA, terus ditarik ke Muasasah. Itu
masing-masing kuat loh, menggunakan kekuatan.

Kalau kita mau bicara reformasi haji kita, jangan lupa melibatkan regulasi
di sini yang kadang tidak konsisten. Aturan kadang berubah. Reformasi haji
kita di dalam negeri sudah bagus, tapi di sini nggak klop. Perlu pengaturan
yang rinci. Selam ini kita dantang langsung menandatangani. Mestinya kita
dahului dengan mengajukan permintaan kita. Sebelum dicapai, kita nggak tanda
tangan. Kasus ini jangan dilihat secara parsial.

*Apakah keluhan kondisi internal Saudi ini juga dirasakan negara lain?*
Saya pernah dibilangi wartawan *Arab News* waktu wawancara via telepon,
kalau Anda berhasil di sini, implikasinya kepada seluruh negara lain luar
biasa besarnya. Akan jadi acuan negara lain. Walaupun sudah banyak negara
lain nggak diurus Muasasah. Iran, India, Pakistan, Turki sudah mengurus
sendiri.

Ke depan, akan lebih mengarah profesionalisme. Seluruh tugas pokok Muasasah
sekarang bisa dilakukan perusahaan secara profesional. Tinggal mampu
bersaing atau tidak. Semoga semua uji coba ini ada manfaat besar bagi bangsa
kita. Kami yang jadi korban *nggak* masalah, *nggak* ada artinya.

*Ke depan, apa yang akan Anda lakukan?*
Ganti rugi harus ada. Dari AnA atau pemerintah. Terserah mendagri, atau mau
diangkat ke tingkat Raja. Dana kita sudah masuk 70%, SR 33 juta. Paling
tidak, itu harus kembali. Baik dengan cara lunak atau keras, cara persuasif
atau jalur pengadilan. Tapi kita coba persuasif dulu.

Saya bilang ke Pak Menteri Agama, tahun depan kita tender saja. Kita sudah
pegangan kawat Mendagri Saudi, bahwa itu berhak dilakukan selama itu
keinginan misi haji. Siapa saja boleh. Seperti catering di Madinah, kan
sudah kita lakukan perbaikan.

*Kok nggak dari tahun ini tender terbuka?*
Bagaimana mungkin? Muasasah bilang, ini punya saya. Ini kalau bukan Amir
yang mengajukan proposal, *nggak* bisa keluar dari cengkeraman Muasasah.

*Waktu kasus Armina meledak, Anda ke mana? Kok menghilang?*
Saya di dapur dan saya stres. Saya betul-betul stres. Saya *nggak* tahu apa
yang harus saya lakukan. Tapi saya menunggu di dapur. Rasanya saya pengen
masak begitu loh. Sampai larut malam. Jam 03.00 saya ditelepon Pak Amirul
Haj. Saya ngomong *nggak* ketahuan apa omongan saya. Dia berkesimpulan Nur
Samad stres. Biarin aja dia mau ke mana. Dia bilang, saya dokter, saya tahu
Nur Samad stres. Itu baru belakangan dia ceritakan.

Saya tahu jamaah marah pada saya. Seluruh Indonesia marah pada saya.
Mestinya saya diam, jangan melakukan sesuatu untuk mentolelir. Kalau sudah
reda, kita bicara secara obyektif, kita evaluasi. Toh ini kita kita harapkan
bisa memberi kontribusi dalam perbaikan penyelengaran ke dapan. Juga
perbaikan posisi tawar kita dengan orang Saudi.

Yang lebih penting bagi saya posisi tawar. Selama ini kita hanya didikte
Muasasah. Saya pernah bilang, hubungan Muasasah dengan kita itu seperti
majikan dengan klereknya. Sejak saya mahasiswa di Kairo, saya tak pernah
merasa orang Arab Saudi lebih superior kepada saya.


Sumber : http://www.gatra.com/artikel.php?id=101189


[Non-text portions of this message have been removed]



*****

Apakah Anda memiliki trauma masa lalu yang kelam ?

Apakah Anda mengalami hal yang sangat menyakitkan ?

Atau Anda memiliki pengalaman buruk yang tidak terlupakan ?

dan hingga sekarang masih meninggalkan “luka” yang sangat dalam ?

Dalam rangka ulang tahun sebuah televisi swasta, Servo Center bekerja sama 
dengan televisi swasta tersebut, bermaksud mengangkat “kisah nyata” seperti 
tragedi keluarga, musibah, pengalaman yang tidak terlupakan ke layar kaca.

Jika Anda berniat keluar dari keterpurukan dan menemukan solusi,
Sekaligus bersedia membagikan pengalaman tersebut kepada pemirsa.
Sehingga Andapun dapat menolong ribuan orang yang menghadapi problem serupa dan 
memberikan inspirasi bagi mereka yang belum pernah ataupun yang sedang 
mengalaminya.

Silahkan menghubungi Servo Center di (021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257, 
Sekarang !

Apabila kisah Anda layak untuk ditayangkan, Anda akan kami hubungi segera dan 
sebagai penghargaan Anda akan dicarikan solusi, konsultasi / terapi problem 
Anda secara gratis. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke