SURAT PEMBACA - Redaksi Yth. 
      Pada hari Minggu tanggal 25 Maret yang lalu kami melepaskan dan 
memberangkatkan tante kami yang
      terkasih ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
      Kami mengadakan ibadah di rumah duka yang juga adalah kediaman kakak 
tertua saya di Cipinang Baru,
      Rawamangun.
      Semenjak pukul 09.15 pagi ada seorang wanita yang datang. 
      Dia duduk di ruang dalam dekat dengan salah seorang tamu yang kebetulan 
sedang berbincang dengan saya. 

      Walaupun tidak ada dari keluarga kami yang mengenalnya, kami tidak 
bertanya apa-apa. 

      Semua beranggapan bahwa tentu dia adalah saudara/ kenalan tante yang 
belum pernah kami temui. 

      Banyak kejadian kecil yang sebetulnya sudah mencurigakan. 

      Misalnya, ketika orang tersebut tidak dapat menyanyikan lagu-lagu pujian 
gereja yang dinyanyikan. 

      Atau ketika tas milik seorang tamu yang mendadak pindah dari kursi lipat 
ke sofa dan sudah ditutupi bantal dan berada
      dekat dengan tempat wanita ini mendadak pindah duduk.
      Hebatnya, wanita ini bahkan mengikuti acara sampai ketempat pemakaman.

      Ia naik mobil dari kantor kakak saya. 

      Kepada supir dia mengaku sebagai tetangga. 

      Dia juga mengajak tiga orang saudara kami untuk semobil dengannya. 

      Ketika ditanya dia kembali mengaku sebagai tetangga tapi gelagapan ketika 
ditanya rumahnya yang mana. 

      Pertama ia berlogat Jawa, namun lama kelamaan logat aslinya keluar, dan 
saudara kami mengenalinya sebagai logat dari Sulawesi Selatan. 

      Bahkan ia pun sempat mengajak wanita ini berbicara dengan logat tersebut. 

      Di dalam mobil dia sempat memegang-megang HP milik salah seorang saudara 
saya. 

      Yang kemudian cepat-cepat diambil lagi oleh sang pemilik. 

      Sayangnya memang saat itu tidak ada yang berprasangka buruk.
      Mengingat acara yang berlangsung adalah acara yang sarat dengan suasana 
duka. 
      Sepulang dari pemakaman kami kembali ke rumah untuk berdoa mengucap 
syukur atas prosesi yang dapat
      berlangsung lancar, sekaligus makan siang bersama.
      Ketika itulah, karna merasa yang hadir semua adalah keluarga dekat, saya 
pun meletakan tas di sebuah kursi yang tidak terlalu mencolok tempatnya. 

      Saya sempat mengambil uang untuk membeli minuman ringan untuk anak dan 
keponakan saya.

      Sesudah itu saya lalu ikut mengambil makan siang dan makan di tempat yang 
berbeda. 

      Cukup aneh bahwa saya tidak terpikir untuk melihat/ mengecek tas saya, 
padahal ini bukan kebiasaan saya.
      Tidak lama kemudian, suami saya bertanya tentang digital camera kami. 

      Saya pun bergerak mengambil tas.
      Ternyata dompet dan PDA saya sudah tidak ada.

      Setelah bertanya-tanya tentang siapa yang kira-kira duduk di dekat tas 
tersebut, seseorang mendeksrikspikan wanita tadi. 

      Kami pun lalu saling bertanya apakah ada yang mengenalnya. 

      Ternyata tidak ada. 

      Kemudian saya ingat bahwa beberapa kali fotografer memotret ke arah kami 
(saya duduk hanya berbeda satu orang dengannya sepanjang ibadah). 

      Kami lalu mengecek digital camera masing-masing. 

      Dan ditemukanlah foto wanita ini dalam beberapa jepretan foto. 

      Bahkan ada satu yang hanya dia sendiri. 

      Wanita ini bertubuh sedang, wajah agak lebar dan tirus, berambut hitam 
dan sedikit sisa cat pewarna coklat, rambut di atas bahu, tapi dijepit 
kebelakang, kulit kuning langsat dan saat itu memakai kemeja hitam celana krem 
dan scraf lebar juga berwarna hitam.
      Memakai tas dengan merek LV. 

      Setelah melakukan sedikit pengecekan ternyata wanita ini pun mengambil 
uang sumbangan kedukaan dari RT padahal uang tersebut tersimpan di kamar atas. 

      Ia memang sempat berkata akan ke toilet yang letaknya pas di sebelah 
tangga. 

      Ada yang melihat namun lagi-lagi, semua tidak ada yang berprasangka.
      Saya, dan tentunya keluarga besar saya, sangat heran dengan 
'keprofesionalannya. 

      Wanita ini bahkan mengisi buku tamu. 

      Dan membaur di antara pelayat di tempat pemakaman. 

      Karenanya saya ingin menghimbau agar tetap berhati-hati dan waspada 
ditengah suasana duka. 

      Tegur atau sapa orang yang tidak anda kenal, lebih baik dianggap lupa 
saudara daripada disusupi. 

      Ini mungkin modus operandi baru yang dilakukan oleh orang-orang yang 
sudah mati hati nuraninya. 

      Dengan ini bagi dealer/ toko HP, khususnya merek O2, berhati-hatilah 
apabila ada yang hendak menjual O2 ATOM Pure dengan nomer imei 357553002564208 
karna jelas itu adalah barang curian. 

      Dan bagi anda sang pencuri (yang mungkin tidak menyangka bahwa dirinya 
akan 'terekam' secara digital, jelas dan detail)
      bersiap-siaplah, karna sejak tanggal tersebut di atas foto-foto anda 
sudah kami sebarkan melalui jaringan milis sebanyak yang bisa kami posting.

      Foto-foto tersebut pun akan saya perlihatkan pada pihak kepolisian. 

      Saya juga berharap seandainya ada stasiun TV yang tertarik untuk 
menayangkan foto kriminal ini.
      Anda bisa menghubungi Kompas/Suara Pembaruan untuk melihat wajahnya. 

      Bagi yang mengenal wanita ini, Kompas/Suara Pembaruan mempunyai 
nomor-nomor telpon kami yang bisa dihubungi.
      Mungkin kerugian materi yang hilang tidak terlalu besar, namun kejahatan 
yang dilakukan ditengah ibadah dan disaat keluarga tengah berduka sungguh 
biadab.
      Secara pribadi, saya sudah memaafkan anda, tapi untuk setiap kesalahan 
dan kejahatan, anda harus menanggung
      akibat dan resiko yang timbul, bagi dari hukum manusia, terlebih lagi 
hukum Tuhan.


      Alexandra Silitonga 

      Pantai Mutiara - Pluit

      PS.
      Tolong sebarkan/ forward email ini ke milis yang anda bisa posting supaya 
jangan ada lagi korban.

     
             
     
____________________________________________________
  IncrediMail - Email has finally evolved - Click Here


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke