Kisah Nyata Anggota-Anggota Dewan yang berbicara tentang "EMAIL";
 
 SAMARINDA, 20 February 2007.
 
 "PERNAH PUNYA, TAPI DIJUAL";
 Anggota DPRD Gagap Teknologi, E-mail Disangka Barang
 
 ANGGOTA DPRD Samarinda ternyata tergolong ketinggalan kemajuan dan gagap 
 teknologi, khususnya dalam pemanfaatan surat elektronik (electronic mail
 atau e-mail) dalam berkomunikasi. Teknologi yang memanfaatkan komputer
 dan jaringan internet dan sudah dikenal bahkan oleh pelajar SMM ini 
 bahkan tidak dikenal sebagian anggota Dewan. Sehingga ketika ditanya
 sudahkah punya e-mail, jawabannya justru mengundang tawa.
 
 "Saya pernah punya, tapi sudah dijual," ujar Didik Sugiarto, anggota
 Komisi D dari Fraksi AKU dengan gaya meyakinkan seolah-olah e-mail
 adalah barang berwujud fisik yang bisa dipindahtangankan.
 
 Wakil Ketua Dewan, Hairul Anwar setali tiga uang. Awalnya jawabannya
 terasa wajar, namun belakangan sama sekali tidak 'nyambung. 
 "Secara pribadi saya belum memilikinya. Bukannya saya tidak mampu untuk
 memilikinya, namun saya masih cinta produk dalam negeri," katanya
 seolah-seolah e-mail adalah barang dari luar negeri. "Buat apa kita 
 membanggakan produk luar, lihat saja HP (handphone) saya masih model
 lama," tuturnya sok yakin.
 
 Tak hanya Didik dan Hairul, 9 anggota Dewan lainnya pun tak kenal atau
 tidak punya e-mail. Jika itu terjadi di generasi tua seperti 
 H Nichlan yang usianya sudah 70-an, mungkin masih wajar. Namun yang
 muda-muda seperti Sukardi Surbakti dan Blasius Watu pun tak menyentuh
 sarana informasi yang efisien dan efektif ini. Begitu juga A Marcus
 Incau, Mardiah Mulyani, Sabri, Riyanto Rais, Arifin Idris dan Hamzah. 
 
 Padahal mereka sebenarnya tak harus memiliki computer dan langganan
 internet secara pribadi, sebab lembaga legislatif ini pasti bisa
 menyediakannya. Baik secara fraksi maupun komisi. Bila memiliki e-mail,
 interaksi dengan masyarakat secara umum dan konstituen partainya bisa
 lebih berkembang dan aktif.
 
 Berikut tanggapan anggota Dewan saat ditanya apakah punya e-mail, dan
 apakah mereka paham kegunaannya di era informasi sekarang?? 
 
 H Nichan: Apa itu email? Saya belum punya e-mail karena masih kurang
 paham teknologi macam itu. Kalau keinginan punya ada, cuma
 untuk mengoperasikan komputer saja saya mesti tanya sana sini. Di
 lingkungan Dewan ini sebenarnya sudah ada, tapi sampai sekarang tidak 
 dioperasikan karena tidak ada yang menggunakan.
 
 Didik Sugiarto: Saya dulu pernah punya e-mail, namun saya jual.
 
 Blasius Watu: Sekarang ini belum punya, sebab saya tidak ingin punya
 nafsu besar untuk memilikinya namun tidak ada waktu untuk melihatnya. 
 
 Riyanto Rais: E-mail memang perlu dan ini akan menjadi masukan buat kami
 untuk secepatnya mengadakan internet di tempat kami. Dulu
 sempat pasang di secretariat tapi nggak tahu kemudian tidak bisa di
 akses lagi. 
 
 Sedangkan Sabri dan Sukardi Surbakti yang mengakui memang penting
 memiliki e-mail, dan keinginan membuatnya, namun di rumah
 keduanya tidak ada akses telepon. "Di Palaran memang belum ada," kata
 Sukardi menyebut domisilinya.
 
 
 best regrads,
 
 
 
 Yoan djebher



 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke